Cerita Inspirasi "Ayahku Temaniku Gapai Mimpiku"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan tentang inspirasi ini dialami melalui pengalaman dengan judul "Ayahku Temaniku Gapai Mimpiku" yang ditulis oleh Ni Luh Rismayanti. Dalam cerita ini ia memberikan gambaran perjuangan keluarga, terutama ayah.

Begini, Cerita Inspirasinya...

Namaku Bunga Lestari, aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku hidup dikeluarga yang sangat miskin. Dari kecil aku selalu diajarkan oleh kedua orang tuaku, apa itu arti kehidupan. Dalam hati aku selalu berkata “betapa nyaman dan enaknya hidup bergelimpang harta, mau makan tidak perlu berpanas-panasan ke ladang untuk mencari singkong, semua tinggal ngambil”.

Aku sering sekali menghayal, jika kelak aku menjadi orang kaya aku akan mengajak keluargaku jalan-jalan ke luar negeri, tinggal di rumah yang bagus, punya kendaraan bagus, dan bisa makan-makanan yang enak, tidak lagi hanya singkong dengan garam.

Tapi aku tidak pernah mengeluh kepada ayah dan ibuku bila di dapur hanya tersedia singkong dengan garam dalam sebuah toples sosis kecil.

Tapi kedua orang tuaku selalu berkata “ jika kamu rajin belajar dan berusaha apa yang kamu inginkan pasti akan bisa kamu gapai dengan mudah, karena satu hal yang perlu kamu ingat Tuhan itu maha ada dan maha segala-galanya yang tidak pernah memandang orang cantik, kaya, miskin, ataupun jelek”. 

Kata-kata itulah yang selalu kutanamkan dalam hatiku, sampai saat ini aku selalu berusaha dengan kuat untuk bisa mencapai impianku itu.

Tak jarang setiap kali aku melihat teman-temanku asyik bermain bersama teman-temannya dan membawa sebuah es cream lezat ditangannya, aku merasa sangat sedih dilahirkan dikeluarga yang hidup dengan bergelimangan kemiskinan.

Tapi aku selalu berusaha kuat di depan kedua adik-adikku, aku sering menangis ketika adik-adikku merasa lapar, karena kadang-kadang ia tidak mau makan dengan singkong dan garam saja.

Kak ini rasanya tidak enak, asin,” kata adikku sambil menjulurkan nasi dari bibir mungilnya itu.

Ketika adikku berkata seperti itu, aku seperti mati kutu, aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku tidak punya uang sepeser pun untuk membelikan roti kedua adik-adikku. Aku merasa kasihan, seorang anak berusia tiga tahun dan lima tahun harus makan-makanan yang tidak bergizi seperti itu.

Iya dik, sini kakak suapin, pasti rasa asin itu akan berubah menjadi rasa yang manis dan enak,” jawabku sambil menjulurkan tangan kananku yang berisi sepotong singkong.

Iya kak, suapin dong supaya rasanya enak,” jawab kedua adikku.

Mendengar kata-kata dari adikku itu, aku terasa tidak ada gunanya sebagai seorang kakak.

Dalam hati aku ingin sekali bisa makan makanan seperti teman-temanku yang lain, seperti nasi beras, dengan lauk pauk walaupun dengan lauk pauk yang sangat sederhana. Tapi sebagai anak sulung, aku tidak ingin membebani ayah dan ibuku dengan hal-hal yang kurang penting seperti itu.

Dalam kehidupan keluargaku yang begitu miris, aku selalu bersyukur masih bisa bersekolah, aku adalah salah satu siswa yang datang dan pulang ke sekolah dengan berjalan kaki dan di sekolah aku juga membantu ibu kantin berjualan, seperti menjual nasi, es, jajan, dan makanan lainnya. Upah yang aku terima pun tidak seberapa, paling banyak adalah Rp. 3000 uang itu aku gunakan untuk keperluan sekolah seperti membeli alat tulis, dan keperluan sekolah lainnya.

Buku tulis pun sering dikasi sama teman-temanku, walaupun begitu, buku tulis bekas itu masih sangat bermanfaat bagi diriku.

Dalam masa sekolahku, aku tidak pernah mengenal yang namanya berbelanja. Karena aku tidak pernah punya uang untuk dipakai uang jajan. Walaupun ayahku sering memberiku uang walaupun jumlahnya hanya seribu rupiah, tapi aku selalu menolaknya karena aku tahu betapa sulitnya ayah dan ibuku untuk mendapatkan uang seribu rupiah. Apalagi detik-detik kelas tiga SMP ibuku menderita sakit dan harus sering dirawat di rumah sakit.

Pada saat itu, aku memilih untuk jarang sekolah karena aku harus membantu ayah untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan ibuku yang lumayan mahal tiap minggunya. Sampai ketika kepala sekolahku datang ke rumah untuk mencari tahu kenapa aku jarang masuk sekolah.

Bunga kenapa belakangan ini kamu jarang sekali bapak lihat ada di sekolah,” Tanya kepala sekolahku.

Sebelumnya saya minta maaf Pak, saya jarang masuk sekolah karena saya harus membantu ayah bekerja, apalagi sekarang ibu saya sedang dirawat di rumah sakit,” jawabku dan berusaha menceritakan semua masalah keluargaku.

Kenapa kamu tidak bilang kalau ibumu sakit sampai dirawat di rumah sakit,”Tanya kepala sekolahku lagi.

Aku merasa sangat bingung untuk menjawabnya.

Maaf sebelumnya pak, sekarang saya bingung untuk melakukan apa, disatu sisi ujian sekolah sudah dekat dan disisi lain saya harus membantu ayah saya mencari uang dan merawat kedua adik saya yang masih sangat kecil,” jawabku lagi, walaupun mulut ini tidak bisa terbuka lagi dan mengucapkan kata-kata.

Bunga bapak sangat bangga memiliki siswa seperti kamu, kamu adalah anak yang berbakti kepada orang tua, bapak yakin suatu saat Tuhan pasti akan memberikan hadiah yang sangat berharga bagimu,” kata kepala sekolahku sambil mengelus rambutku.

Terima kasih banyak Pak, tapi bagaimanapun caranya saya akan berusaha mengatur waktu saya, sehingga saya bisa bersekolah kembali dan mengejar materi pembelajan yang telah saya lewatkan beberapa hari terakhir ini,” jawabku sambil tersenyum kepada kepala sekolahku itu.

Iya bapak yakin kamu bisa, titip salam sama kedua orang tuamu dan rajinlah berdoa semoga ibumu diberikan kesembuhan oleh Tuhan,”.

Setelah mendengar kata-kata itu, aku mulai bersemangat lagi, aku selalu berusaha untuk bisa membantu ayah di rumah dan juga bisa sekolah seperti biasa. Mulai keesokan harinya, aku bangun jam 3.00 Am dan pergi ke tempat orang membuat jajan, disana aku bekerja sebagai tukang bungkus jajan.

Walaupun hal ini tidak diketahui oleh ayahku. Kemuadian sekitar jam 5.00 Am aku pulang dan masak untuk makan sekeluarga. Tidak jarang tangan ini luka karena goresan pisau ketika aku memotong singkong yang nantinya akan dimasak menjadi nasi yang sejujurnya sangat membosankan.

Tapi apa boleh buat hanya singkong yang aku miliki. Setelah memasak aku bergegas rapi-rapi untuk berangkat ke sekolah. Kedua adikku, dititipkan di rumah tetangga sebelah. Sampai di sekolah aku langsung menuju kantin dan membantu ibu kantin berjualan, begitu pula pada saat jam istirahat berlangsung.

Setelah beberapa lama berlangsung ibuku tak juga kunjung sembuh, dan hari ujian sudah di depan mata. Aku merasa sangat kasihan melihat ayahku yang semakin hari semakin kurus karena harus bergadang menjaga ibuku di rumah sakit.

Setifikat rumah telah digadaikan untuk membayar pengobatan ibuku di rumah sakit. Hati ini tambah sedih ketika teman-temanku di sekolah membicarakan tentang sekolah yang akan mereka tuju jika sudah lulus SMP. Sementara aku tidak berani menanyakan hal itu kepada ayahku, apalagi untuk sekolah untuk makan saja kami harus ngutang ke tetangga.

Sampai suatu saat kepala sekolah dan para guruku, menanyakan kepadaku tentang sekolah yang akan aku tuju jika aku sudah lulus SMP. Akan tetapi aku tidak bisa menjawabnya, karena sudah pasti aku tidak bisa melanjutkan sekolah lagi, walaupun dalam hati akau tidak mau putus sekolah, karena aku ingin mengejar mimpiku dan membanggakan semua keluargaku.

Akhirnya kepala sekolah dan guru-guruku pun mengetahui bahwa aku tidak akan melanjutkan ke jenjang SMA/SMK.

Bunga, apakah betul kamu tidak akan melanjutkan sekolah,? Tanya salah seorang guruku.

Benar pak, karena saya tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah, apalagi sekarang ibu saya sedang dirawat di rumah sakit,” jawabku sambil meneteskan air mata.

Kenapa kamu tidak mencari sekolah gratis saja, kan sekarang ada sekolah gratis yang memberikan tanggungan penuh kepada siswanya,” nasehat Guruku itu.

Benar pak ada sekolah seperti itu, saya ingin bersekolah di sana,” jawabku dengan semangat.

Benar, untuk apa juga bapak berbohong,”.

Mulai saat itu aku sangat semangat untuk mencari dan melengkapi persyaratan yang diperlukan untuk bisa bersekolah di sekolah gratis tersebut. Aku pun bergegas datang ke rumah sakit menjenguk ibuku sambil mengatakan tentang informasi sekolah tersebut.

Memang awalnya ayahku kurang yakin tentang hal itu. Tapi dengan semangat dari ibuku, akhirnya ayah memberikan restu untuk aku melamar di sekolah tersebut. Setelah melengkapi semua berkas-berkas yang diperlukan, guruku pun membantu untuk membawakannya sampai ke sekolah tersebut. 

Setelah beberapa minggu tak kunjung juga ada panggilan, pada saat itu aku merasa putus asa dan berkata dalam hati “mungkin aku telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk tidak bisa melanjutkan sekolah lagi”. Tapi kedua adikku yang masih kecil itu selalu berkata

Adik yakin kakak pasti akan diterima di sekolah tersebut”. Begitu pula dengan ayah dan ibuku yang berada di rumah sakit. Selain memikirkan pengumuman sekolah itu, dalam hati aku selalu menangis karena menunggu kedatangan ibuku yang tak kunjung pulang dari rumah sakit.

Apalagi rentenir yang ayah pinjami uang sudah datang ke rumah untuk meminta utang- utang bapak. Wajah strees pun terlihat dari raut ayahku yang bingung mencari uang untuk mengembalikan uang yang dipinjam dan untuk pengobatan ibuku.

Tapi di tengah masalah yang bertubi-tubi itu ada sebuah berita yang sangat mengembirakan, yaitu aku diterima di sekolah gratis itu dan dari pihak rumah sakit pun mengatakan bahwa ibuku sudah boleh pulang dari rumah sakit.

Walaupun ada rasa sedih meninggalkan keluarga yang sangat aku sayangi. Tapi untuk bisa melanjutkan sekolah dan mengejar mimpiku, aku harus rela mengorbankannya.

Anakku, rajinlah berusaha untuk bisa menggapai mimpimu, supaya kamu tidak rugi nanti mendapatkan sekolah gartis seperti itu, ibu janji akan mengunjungimu ke sekolah bersama ayah dan adik-adikmu dan membawakan makanan kesukaanmu,” kata ibuku sambil memeluk erat tubuhku.

Iya Bu, Bunga berjanji akan selalu berusaha melakukan yang terbaik, doakan Bunga ya Bu, semoga di sekolah Bunga bisa menjadi anak yang baik, berprestasi, sehingga bisa membahagiakan ayah, ibu, dan adik-adik,” kataku pada ibu.

Setelah beberapa lama merapikan barang-barang yang diperlukan, semuanya pun telah masuk ke dalam tas yang akan aku bawa ke sekolah. Sekarang tinggal menunggu waktu untuk berangkat ke sekolah.

Di sekolah tersebut, selama satu semester tidak boleh berkomunikasi dengan orang tua. Awalnya memang sangat menyedihkan, setiap malam aku selalu mengingat orang tua dan adik-adikku. Aku selalu memikirkan keadaan ibuku yang baru pulang dari rumah sakit dan beban utang ayah yang sangat besar. Di sekolahku itu hari berlangsung sangat lama, dalam hati aku berkata “Ayah, Ibu, adik bagaimana kabar kalian, apakah kalian sudah makan,”.

Setelah beberapa lama bersekolah disana, suatu hari aku mendapatkan telepun dari ayahku, hati ini amat senang bisa mendengar suara ayah. Tapi kegembiraan itu tak berlangsung lama, tiba-tiba terdengar tangisan ayah di telepun. Akupun menjadi panik dan ikut menangis, ayahku tak sanggup berkata apa-apa.

Ayah, ayah kenapa?, apakah semuanya baik-baik saja?,” tanyaku dengan tangan yang bergetar.

Bunga maafkan ayah,”

Kenapa ini ayah, Bunga takut, cepat katakan apa yang terjadi,” kataku walaupun dalam pikiranku aku yakin pasti ada suatu masalah yang sangat besar.

Bunga ibumu... ibu...ibumu telah pergi,

Apa... ib....ibu pergi,” kata terakhirku dalam telepun itu. Saat itu hatiku sangat kacau pikiranku melayang entah kemana, aku tidak sanggup membayangkan kondisi keluargaku di rumah. Air mata yang keluar tidak bisa kuhentikan. Tak sangka ibuku benar-benar telah pergi meninggalkan aku, ayah, dan kedua adikku.

Setelah mendengar hal tersebut pihak sekolah pun mengantarku pulang. Sampai dirumah aku pun membantu untuk pemakaman ibuku. Mata ayah dan kedua adikku tiba-tiba bengkak, aku tidak berani menyapa ayah, karena aku tahu betapa sedih hatinya sekarang. Setelah sore hari tiba, pemakanan pun selesai dan aku pun telah dijemput oleh pihak sekolah dan harus balik ke sekolah. Dalam hati aku berkata

Aku tidak ingin kesekolah itu lagi,aku masih ingin berada di samping ayah dan adik- adikku”. Tapi ayahku selalu memberika aku semangat sehingga aku bisa bangkit lagi.

Bunga, ini sudah menjadi nasib ibumu, tuhan telah memberikan yang terbaik bagi ibumu, tugasmu sekarang adalah berjuang dengan keras dan raihlah mimpimu, ayah yakin ibumu di atas sana pasti bangga punya anak sepertimu,” kata ayah sambil memeluku.

Setelah mendengar perkataan ayah, aku pun bersemangat lagi untuk sekolah. Sesampainya di sekolah, kata sabar, semangat selalu aku terima dari setiap teman, kakak kelas, dan guru yang lewat di depanku.

Hal itu membuat diriku lebih bersemangat untuk melanjutkan mimpiku ini. Setelah beberapa minggu berlalu, hal yang menggembirakan datang menghampiriku, lomba menulis cerpen yang aku ikuti pun mendapatkan juara, dan hadiahnya pun sangat memuaskan.

Hadiah lombanya itu ada uang pembinaan, piala, dan yang paling membanggakan lagi adalah tiket ke luar negeri, dan tepat sekali tiketnya untuk aku dan sekeluarga. Akan tetapi ada satu tiket yang tersisa, yaitu tiket untuk almarhum ibuku, dan aku pun memutuskan untuk mengajak guru pembinaku.

Ayah dan adik-adikku sangat senang mendengar berita bahagia ini, walaupun kami tidak bisa pergi dengan ibuku, tapi aku yakin di atas sana ibu pasti sedang tersenyum melihat kebahagiannku. Setelah semua persiapan selesai, kami berlima pun menuju bandara karena siap-siap akan berangkat ke Jepang. Wajah ceria sangat terlihat dari kedua adik dan ayahku itu.

Bunga ayah bangga kepadamu, kamu telah bisa mewujudkan mimpimu yang dari dulu kamu impikan untuk mengajak keluargamu jalan-jalan keluar negeri,” kata ayah sambil memeluk tubuhku. Begitu pula dengan kedua adik-adikku.

Iya ayah ini semua berkat doa-doa dari ayah, adik-adik, dan doa ibu yang walaupun ibi tidak bisa ikut bersama kita,” kataku.

Bunga tapi ingat jangan pernah kamu menyombongkan dirimu, baru kamu berasil, selalu ingatlah ke bawah, tetaplah menjadi Bunga yang dulu, yang rajin, kuat, dan rendah hati, ayah bangga padamu,” katanya sambil memeluku.

“Iya ayah terima kasih banyak berkatmu aku bisa mendapatkan semua ini,” kataku sambil memeluk erat tubuh ayah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerita Inspirasi "Ayahku Temaniku Gapai Mimpiku""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel