Cerita Inspiratif "Dibalik Kesuksesan"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan-tulisan ini membagikan inspirasi kepada segenap pembaca yang ditulis dengan judul "Cerita Dibalik Kesuksesan". Adapun penulis dalam kisah ini ialah Ni Luh Rismayanti.

Begini, Kisahnya..

Di bawah sinar mentari pagi, seorang anak kecil berjalan-jalan menuju rumah temannya untuk bermain bulu tangkis. Bulu tangkis merupakan permainan kesukaannya. Walaupun ia hanya memiliki satu tangan yaitu tangan kiri saja, tetapi itu tidak menurunkan semangatnya untuk tetap bermain bulu tangkis.

Tak lama kemudian anak kecil itu, sampai di salah satu rumah temannya, disana ia mengajak teman-temannya untuk bermain bulu tangkis bersama-sama. Banyak teman-teman Hendra yang menghinanya karena keadaan fisiknya itu.

Tapi ia tak pernah menghiraukan hal itu, dia akan berusaha dan terus berlatih demi cita-citanya menjadi seorang atlet bulu tangkis. “Hendra, aku tidak yakin kamu bisa menjadi atlet bulu tangkis, masak seorang atlet tangannya buntung,” kata salah seorang temannya.

Tanganku memang satu tapi semangat dan usahaku seribu, aku yakin jika aku serius melakukannya aku pasti bisa menggapai cita-citaku,” katanya pada teman yang suka mengejeknya itu.

Walaupun banyak sekali ejekan yang Hendra terima, tapi ayah tercintanya selalu menemaninya kapan pun ia membutuhkan. Walaupun ibu Hendra telah meninggal saat Hendra baru dilahirkan. Tapi itu tidak membuatnya patah semangat, karena ia yakin dengan ia bisa menjadi atlet bulu tangkis seperti Simon Santoso dan Susi Susanti, ia akan bisa membuat ibunya bahagia di atas sana.

Hanya ayah yang Hendra punya dalam hidupnya, dengan semangat dan nasehat yang selalu diberikan oleh ayahnya itu, ia menjadi anak yang tegar, kuat, dan disiplin. Walaupun ayahnya terkadang merasa sedih melihat kondisi anaknya.

Tapi ayahnya yakin ada rencana Tuhan yang amat luar biasa untuk putranya yang luar biasa juga. Setelah masuk sekolah SMP, caci maki dan bulian kembali menghampiri Hendra. Semua teman-teman Hendra yang berada di sekolah tersebut memandangi Hendra dengan lekat-lekat. Sampai Hendra tak berani memalingkan matanya.

Eeehh, lihat orang itu, masak ia tidak punya tangan mau sekolah,” kata salah satu temannya yang sedang duduk di sekitar taman dekat parkir motor ayah Hendra.

Tetapi telinga Hendra telah terbiasa mendengarkan hal semacam itu. Tapi dengan kemahiran Hendra bermain bulu tangkis, banyak teman-temannya di sekolahnya tidak menyangka orang yang hanya memilki satu tangan ia bisa bermain sehebat itu. Mulai saat itu ada beberapa siswa yang ingin berteman dengan Hendra.

Tapi siswa putra banyak yang tidak suka kepada Hendra. Tapi ia tidak pernah takut di benci orang selama ia berada di posisi yang benar. Setelah beberapa lama bersekolah SMP, ia mulai aktif mengikuti lomba bulu tangkis, baik dari ajang antar sekolah, kecamatan bahkan sampai tingkat provinsi.

Banyak juga juara yang ia dapatkan dari lomba bulu tangkis. Mulai saat itu Hendra dikenal oleh guru-gurunya di sekolah. Tapi banyak juga guru yang tidak menyangka bahwa Hendra seorang siswa yang hanya memiliki satu tangan bisa bermain bulu tangkis dengan hebat sampai mendapat juara. Tapi semakin Hendra aktif di sekolah teman-teman yang suka meledeknya itu menjadi tambah benci kepadanya.

Sampai pada saat pulang sekolah, Hendra diajar oleh beberapa teman sekolahnya yang suka meledeknya itu. Karena memiliki keterbatasan fisik dia pun tidak bisa melawan teman- temannya itu. Ia terpaksa babak belur karena dikroyok oleh teman-temannya itu. Tapi untung saja ada orang yang melihat dan membantu Hendra.

Hei, apa-apaan kalian, kenapa kalian bertengkar disisni?,” kata seorang bapak yang sedang membawa rumput. Mereka semua pun terdiam sementara Hendra sudah terbaring lemas di tanah dengan wajah yang biru. Bapak itu pun segera menolong Hendra dan membantunya untuk berdiri.

Kalian benar-benar tidak mempunyai rasa kasihan, kalian beraninya main kroyokan apalagi dengan orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti dia,” kata bapak itu sambil membangunkan Hendra. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa terdiam karena merasa bosan mereka semuanya pergi meninggalkan Hendra dan bapak itu.

Kamu tidak kenapa Nak,” tanya bapak kepada Hendra.

Tidak Pak, hanya terasa sakit di kaki,” kata Hendra sambil memijit-mijit kakinya. Karena merasa kasihan bapak itu pun mengobati luka Hendra. Hendra sangat berterima kasih kepada bapak itu.

Pak terima kasih banyak, kalau tidak ada bapak saya tidak tau apa yang terjadi,” kata Hendra. “Sama-sama Nak, lain kali hati-hati yaa tapi kamu harus tetap semangat,” kata bapak itu sambil memeluk tubuh Hendra.

“Terima kasih banyak Pak,” kata Hendra sambil membalas pelukan bapak itu. Dengan kaki yang sakit Hendra berusaha untuk pulang ke rumah, sampai di rumah ia melihat ayahnya yang sedang menyabit di samping rumahnya.

Permisi ayah, Hendra sudah pulang,” katanya sambil menghampiri ayahnya yang sedang
menyabit.

Hendra, kenapa kamu kok babak belur begitu?,” kata ayahnya sambil menaruh sabitnya dan memegang tubuh Hendra.

Tidak Pak, hanya jatuh tadi di sekolah,” katanya. Walaupun sebenarnya ia berbohong.

Kenapa bisa jatuh?,” tanya ayahnya kembali.

Soalnya tadi Hendra bermain bulu tangkis yah,” katanya dengan berusaha menyakinkan ayahnya.

Ayahnya pun segera masuk ke rumah dan mengobati luka anaknya. Ayahnya pun meminta Hendra untuk beristirahat, supaya cepat sembuh. Keesokan harinya Hendra sudah bisa masuk sekolah walaupun masih terasa sakit di kakinya.

Sampai di sekolah semua temannya menanyakan tentang dirinya. Tapi ia berusaha menyakinkan teman-temannya bahwa ia baik- baik saja.

Setelah beberapa hari, salah satu guru Hendra menghampiri Hendra saat ia berada di kelas.

Hendra, sini sebentar,” kata guru itu pada Hendra.

Iya pak ada apa?,” tanya Hendra sambil menghampiri guru itu.

Pak guru itu pun memberitahukan bahwa dekat-dekat ini akan ada lomba bulu tangkis tingkat nasional. Mendengar hal itu, Hendra sangat semangat. Walaupun kondisi kakinya yang masih sakit akibat di kroyok oleh teman-temannya.

Mulai saat itu ia terus berlatih, tak pandang panas dingin. Karena ia sangat berharap bisa menjadi juara dan bisa bertemu dengan Simon Santoso dan Susi Susanti. Ia ingin sekali bisa bermain bulu tangkis bersama mereka berdua. Semangat dan dukungan yang diberikan oleh ayahnya selalu membuat ia kuat dan selalu berusaha dalam keadaan apapun.

Tak terasa hari demi hari telah terlewatkan, tak terasa lomba yang akan diikuti oleh Hendra tinggal dua hari lagi. Dalam hari itu ia sibuk untuk menyiapkan barang-barang yang diperlukan dalam perlombaan itu. Ia selalu berdoa semoga Tuhan selalu melindunginya.

“Hendra apakah ada yang masih kurang?,” tanya ayahnya sambil menaruh sepiring singkong di meja.

“Tidak ayah semuanya sudah siap tinggal menunggu tiket pesawat saja,” katanya sambil memasukan beberapa barang ke dalam tasnya. “Semangat teruslah berusaha ayah yakin kamu bisa menjadi juara nasional,” katanya kembali.

“Iya ayah, Hendra janji akan membawakan ayah piala,” kata Hendra sambil tersenyum.

Keesokan harinya, tepatnya pukul 4 pagi Hendra sudah berangkat ke bandara dan siap-siap untuk mengikuti lomba. Dengan dukungan dari ayah, para guru, dan teman-temannya di sekolah ia berangkat dengan penuh semangat.

Sampai di bandara ia naik pesawat menuju Jakarta, ini adalah pertama kali ia bisa naik pesawat dengan gratis. Semua penumpang sangat terkejut ketika Hendra mengatakan bahwa ia akan mengikuti lomba bulu tangkis di Jakarta.

Setelah sampai di Jakarta ia langsung menuju hotel tempat ia menginap sebelum melakukan pertandingan. Dalam hatinya ia sangat bersemangat. Sampai tiba waktunya ia menghadapi lomba bulu tangkis tingkat nasional. Semangatnya bertambah ketika ia melihat atlet idolanya itu, yaitu Susi Susanti dan Simon Santoso.

Dalam pertengahan Hendra sempat mengalami cedera, karena tangan kirinya sangat lemas. Tapi dengan teriakan dari kedua atlet idolanya itu ia berusaha untuk bangkit. Sampai pertandingan pun selesai, ia pun sangat tegang menunggu pengumuman juaranya.

Tak di sangka-sangka nama Hendra yang nama lengkapnya Hendra Gunawan berasil meraih mendali emas dan sekaligus menjadi pemenang dalam pertandingan itu. Tak terasa air matanya terjatuh saat ia mendengar namanya dipanggil menjadi juara.

Hal yang membuatnya makin terharu ketika kedua atlet idolanya itu memeluknya dan memberikan ucapan selamat.

Hendra selamat yaa, kakak bangga sama kamu,” kata kedua atlet ganteng dan cantik itu. Hendra tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa memeluk erat tubuh kedua idolanya dan berfoto bersama. Setelah pemberian hadiah selesai, Hendra memberi kabar kepada keluarga dan gurunya bahwa ia telah berasil menjadi pemenang dalam pertandingan tersebut.

Mendengar hal itu mereka semua sangat senang.

Hendra maukah kamu bermain bulu tangkis bersama kami berdua,” kata Simon Santoso dan Susi Susanti sambil membawa raket dan sebuah bola.

Mau kak,” jawabnya dengan semangat.

Melihat semangat yang dimiliki oleh Hendra kedua atlet muda itu sangat terharu dan semakin yakin bahwa apapun yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan bisa terwujud serta tak peduli sempurna atau tidak. Karena kehebatannya bermain bulu tangkis ia pun diajak oleh Susi Susanti dan Simon Santoso pergi ke Jepang untuk bertanding bulu tangkis.

Hendra pun menyetujui hal itu. Kedua atlet itu yakin bahwa Hendra adalah generasi penerus mereka berdua. Sampai sekarang Hendra menjadi anak yang terkenal dan bisa menjadi motivator bagi banyak orang bahkan sampai ke luar negeri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerita Inspiratif "Dibalik Kesuksesan""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel