Cerita Nyata " Lembaran Hitam dan Rasa Lelah Yang Panjang"

KisahTerbaik.Com- Cerita yang terlahir dari kisah nyata ini dituliskan oleh Rifka Yesica dengan judul "Lembaran Hitam dan Rasa Lelah Yang Panjang". Dalam kisah ini ia membagikan pengalaman hidup kepada segenap pembaca sekalian.

Begini, Ceritanya...

Bukan tentang perputaran waktu, melainkan pengertian disetiap detiknya. Waktu dalam hidup ini mengajarkanku bahwa tangis itu tawa dan tawa itu tangis. Dari sekian banyak manusia di bumi mengapa harus aku yang merasakannya, tanyaku seakan menentang apa yang telah Tuhan titipkan saat itu.

Beberapa tahun lalu, kabut gelap seakan membungkus kehidupanku. Tuhan seakan menghempas kenyamanan dalam keluargaku. Dia memilih abangku yang nomor dua sebagai bahan uji-Nya. Siapa sangka, ada tumor di bagian rongga dadanya. Yang lebih menyakitkan, ia divonis akan hidup enam bulan lamanya.

Siapa yang harus dikasihani, ia yang pergi atau kami yang ditinggal. Setiap malam Mama selalu menangis dan pasrah, sedangkan Bapak terlihat seperti putus asa. Kami selalu berusaha terlihat kuat, agar ia yang sudah dipenghujung hidupnya pun merasa baik- baik saja.

Abangku pernah berkata saat melihat Mama menangis. Katanya menangis adalah orang yang tak mengenal Tuhan. Ia tetap bersyukur akan apa yang ia dapatkan saat ini. Aku beruntung, Tuhan masih percayakan aku untuk menanggung perkara ini, katanya.

Waktu berjalan begitu cepat sampai kami memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Tuhan memberi jalan yang berbeda. abangku bisa diselamatkan dan menjalankan hidupnya meskipun tidak normal seperti sebelumnya.

Dua tahun setelah masalah itu dapat kami lalui. cobaan menghampiri kami lagi. kali ini, Bapaklah yang dipilih Tuhan. Aku sangat dekat dengan sosok Bapak. Bapak yang memiliki jiwa hangat, mudah mengalah meski memiliki pikiran dan tekanan suara yang keras.

Hari minggu, bapak mulai merasa kesakitan. tengah malam, bapak terus meraung hingga membangunkanku dari tidur. Aku menemai malamnya yang kelam sampai dini hari. Bapak sempat memintaku agar kami berdoa bersama.

Aku menuruti apa maunya. Karena perasaan kesal akan bapak yang selalu meraung kesakitan, aku berkata semua akan baik-baik saja, aku meminta agar bapak menarik nafas dan membuangnya secara teratur.

Sempat terucap dari mulutku bapak tak akan mati karena ini dengan nada tinggi. Rasanya petir dengan tiba-tiba mencengkram seluruh tubuhku. Apa yang aku katakan tidak benar, apalagi bapak dalam kondisi yang tidak baik.

Ketika subuh tiba, bapak dilarikan ke rumah sakit. Dengan tangisan aku menitipkan harap dalam doa agar bapak baik-baik saja. Selama di rumah sakit, aku tak pernah menjenguk bapak, karena aku tak kuat melihat ia berbaring lemah merasakan sakit yang sedang dirasakannya. Sore itu, entah mengapa aku ingin membersihkan rumah setelah aku bermimpi bapak akan pulang.

Terdengar suara tetangga memanggil agar aku dan adik-adik datang ke rumah sakit. Perasaan takut membungkus seluruh tubuhku. Air mata pun jatuh tanpa sadar. Aku melihat bapak sekarat. Hingga aku merasakan kepedihan yang sangat dalam dihari menjelang usiaku yang ke-20 tahun.

Aku kehilangan dia yang menjadi cinta pertama. Sedih sudah menjadi kerabat, gelap sudah menjadi sahabat. Waktu berjalan begitu cepat dan memisahkan aku dengan bapak tanpa disadari. Hingga pada akhirnya tak ada yang lebih tangguh dari kekuatan doa berharap dapat menembus dimensi yang berbeda antara aku dan bapak.

Aku belum bisa mengikhlaskan apa mau Tuhan. Aku harus mendapatkan ucapan selamat ulang tahun bersamaan dengan turut berduka cita di hari yang sama. Aku sudah cukup dewasa akan semua rentetan cerita yang hadir.

Setangguh apapun karang pasti akan runtuh juga. Jika Tuhan memiliki rencana yang indah, maka kucoba untuk ikhlas. Ada hal yang tidak ingin kita lepaskan, ada orang yang tidak ingin kita tinggalkan.

Tugas sederhanaku ialah berlari sekuat kakiku berlari, terbang sekuat sayapku terbang. Pada dasar lembaran hitam ini, kutulis semua rasa lelah yang pernah Tuhan takdirkan. Merekam habis semua kenangan, menjadikannya pembelajaran.

Aku berharap sadar dan kembali kepada kenyataan, bangkit dan melanjutkan hidup yang semestinya berjalan. Mengucap syukur akan kesedihan yang Tuhan titipkan. Saat itu juga Dia mendatangkan kebahagiaan yang tak pernah kuduga, menitipkan apapun diwaktu terbaiknya.

Untuk bapak yang telah pergi. Lelah yang berkepanjangan adalah aku yang menjalankan hari tanpa dirimu. Izinkanlah nafasku memeluk tentangmu. Setiap harinya aku menantikan kepulanganmu seperti biasa.

Sekarang kau telah pulang ke tempat yang berbeda. Aku sampaikan pesan untuk sosok Tuhan pada lembaran hitam ini. Sertai kesedihanku hari ini, dan izinkan aku bahagia esok hari

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Cerita Nyata " Lembaran Hitam dan Rasa Lelah Yang Panjang""

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel