Cerpen Inspiratif "Indonesia masa kini"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita pendek yang seringkali disingkat dengan cerpen merupakan karya Putri Permata Jaya, salah satu mahasiswi di Universitas Airlangga. Cerita pendek kali ini berjudul Indonesia masa kini, Indonesia yang seperti apa?.

Begini, Cerpen Inspiratifnya.....

Hari masih gelap, matahari belum menampakkan wajahnya, sang bulan pun masih enggan meninggalkan langit malam. Bunga bunga masih tertidur lelap berselimutkan mahkota warna warni mereka.

Hari itu udara terasa sangat dingin dan menyayat kulit, jam baru menunjukkan pukul 4 pagi, waktu dimana semua orang seharusnya masih berada di alam mimpi, terlelap berselimutkan kehangatan di atas kasur yang empuk untuk mengistirahatkan badan yang telah lelah akibat seharian bekerja. 

Namun sayangnya, tidak semua orang dapat merasakan kenyamanan seperti itu, di tengah gelapnya malam di pinggir sebuah sungai kecil tampak seorang anak laki laki kecil sedang membasuh wajahnya. Tubuh hitam kecilnya tidak dilindungi apa apa kecuali sebuah sarung yang setia melekat pada badannya. Martinus Bere nama anak kecil itu, ia biasa disapa Tinus. Usianya baru 11  tahun dan kini ia duduk di kelas  5 SD. 

Setiap pagi, pada jam yang sama Tinus harus memulai harinya. Ia tinggal di sebuah desa kecil di provinsi Nusa Tenggara Timur, sebuah desa yang terpencil  dan tidak dikenal yang terletak di ujung timur Negara Indonesia. Setiap harinya Tinus harus melakukan berbagai aktivitas sebelum ke sekolah, ia harus mengambil air di sungai yang jaraknya sangat jauh, memberi makan ternak, mencari kayu bakar, dan membantu ibunya memasak dan berkebun. Setelah semuanya selesai dilakukan barulah Tinus dapat mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.

Tinus termasuk salah satu anak yang beruntung masih dapat merasakan indahnya bangku sekolah,  tidak sedikit anak anak sebaya Tinus yang sudah harus bekerja dan mencari uang untuk menghidupi keluarganya. Oleh karena itu Tinus sangat menyayangi ibunya yang telah berjuang keras menyekolahkannya.

Ia bertekat akan belajar dengan giat agar dapat bekerja dengan layak dan membahagiakan ibunya. Ia masih ingat, pergulatan batin yang dialami ibunya, saat gurunya datang ke rumahnya dan meminta ibunya untuk menyekolahkan dirinya.

Ibunya bimbang, bukan karena ingin bersantai di rumah sembari menyuruh Tinus bekerja, bukan juga karena ia tidak menyayangi Tinus. Bukan. Sama sekali bukan itu. Jikalau tubuh tua rentanya masih sanggup, ia akan melakukan apa saja untuk membahagiakan putri satu satunya tersebut.

Sepeninggal suaminya, Bu Maria harus bekerja sendiri membanting tulang untuk menghidupi keluarganya, sayangnya kini ia tak lagi sekuat dulu, tubuh tuanya tak mau lagi diajak bekerja berat, sehingga bantuan Tinus adalah satu satunya jaan agar mereka bisa makan sehari hari. Itu pun kadang mereka bisa makan, kadang tidak. Maka, jika harus membayar biaya sekolah, dari mana ia akan mendapat uang?.

Untungnya, Tinus mendapat guru yang baik hati, guru tersebut membantu mengajukan beasiswa untuk Tinus sehingga ia bisa bersekolah secara gratis. Betapa bahagia hatinya, bisa menimba Ilmu bersama teman temannya di sekolah.

“ Tinus, kenapa kamu melamun, sudah jam begini belum siap siap, apa kau tidak takut terlambat?”
Tinus tersadar dari lamunannya ketika Lina temannya menyapanya,
“ Iya, ini saya sudah hampir selesai siap siap, tinggal berangkat saja ke sekolah”
“ Tunggu, saya juga sebentar lagi selesai, ayo kita berangkat ke sekolah sama sama”

Tinus tersenyum, ia segera mengganti seragamnya , kemudian dengan sabar ia menunggu Lina bersiap, sesekali ia membuka buku catatannya yang nampak sudah kusam dan lecek, dengan serius ia susuri satu demi satu kata yang tertulis di sana , terkadang ia termenung, mungkin berusaha mencerna arti dan makna  dari kalimat kalimat tersebut.

“ Saya sudah selesai, ayo kita berangkat” kata Lina sambil membereskan pakaiannya 
“Ayo, kalau kita terlambat, ibu guru cantik bisa marah dengan kita”

Tinus dan Lina kemudian segera berangkat ke sekolah, waktu masih menunjukkan pukul 6, namun mereka harus bergegas ke sekolah, sekolah mereka terletak di kaki bukit, dari tempat mereka, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan menuruni dan mendaki gunung, dan hal tersebut harus mereka lakukan setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah. Mereka berdua berjalan sambil menyanyikan lagu -lagu yang mungkin sangat tepat menggambarkan kehidupan mereka sekarang. Tanpa mereka sadari, akhirnya mereka tiba di sekolah mereka.

“Tinus, Lina, akhirnya kalian datang juga, untung saja ibu guru belum masuk, kalau tidak kalian bisa kena hukuman”
“ Bu Guru belum mengajar?, kita berdua beruntung” sahut Tinus 
“ Kalian sudah mengerjakan tugas yang Ibu guru berikan kemarin?”
“ Saya sudah coba mengerjakan, tapi saya bingung……Ibu guru menyuruh kita menulis  tentang Indonesia saat ini dan perbedaannya dengan masa sebelumnya , saya kurang mengerti apa yang ibu guru maksudkan”
“ Apa yang kamu tidak mengerti Lina?” Tanya Berto teman mereka
“ Saya tidak mengerti, memangnya Indonesia saat  ini berbeda dengan sebelumnya?, bedanya di mana?, saya rasa Indonesia dari jaman dulu sama saja, dari saya kecil sampai sekarang makan nya tetap jagung, rumah kita tetap beratap bebak, jalanan desa kita masih berbatu dan berlumpur, listrik dan air pun belum ada , kata ayah saya dari ayah kecil juga sama seperti itu”
“ Iya, saja juga sebenarnya bingung, saya sudah tanya  pada mama, tapi mama juga bingung, katanya dari sejak dia lahir, Indonesia sama saja bentuknya, tidak ada yang berubah” kata Linus
Tiba tiba Tinus tertawa, hal ini membuat teman temannya bingung,
“ Kenapa kamu tertawa?, ah…pasti kamu sudah mengerjakan tugas kan, anak pintar memang beda, kemarikan bukumu…aku ingin lihat ” kata Lina
“ Ah!, tidak….sebenarnya saya juga kurang mengerti, jadi saya merasa lucu karena tidak ada yang paham maksud ibu guru, artinya kita semua belum mengerjakan tugas dari bu guru. ”
“ Gawat, bu guru sudah datang, ayo cepat duduk!”

Anak anak yang tadinya asyik bercengkrama segera duduk di bangku mereka masing masing. Ibu guru memasuki kelas, Anak anak yang tadinya riuh langsung diam dan duduk manis menunggu guru mereka memulai pelajaran. 

Guru mereka bernama Melati Puspita, anak anak biasa memanggilnya bu Melati. Usinya masih muda, baru berusia sekitar 22 an, ia bukan guru tetap di sekolah itu, ia hanya melaksanakan praktek  mengajar di sekolah itu, ia adalah guru lulusan dari pulau Jawa. Namun meski harus ditugaskan untuk   praktek mengajar di sebuah dusun terpencil, bu Melati sangat menikmati pekerjaannya, ia sudah jatuh hati pada anak anak itu sejak kali pertama ia mengajar mereka. Anak anak yang polos, namun memiliki semangat yang tinggi untuk bersekolah telah menggugah hatinya sebagai seorang guru. Ia sangat menyayangi anak didiknya, dan mereka pun demikian, di ruang kelas  beralaskan tanah dan beratapkan rumbia inilah, ia mengajar Tinus dan kawan kawannya yang berjumlah 5 orang yang kini duduk di kelas 5 SD.

“ Selamat pagi anak anak” sapa bu Melati 
“ Selamat pagi ibu guru”
“ Bagaimana kabar kalian, apakah kalian mengikuti saran bu guru untuk menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara dengan teman kalian?”
“ Kabar kami baik bu, kami mengikuti saran ibu untuk memakai Bahasa Indonesia saat bercakap cakap ” jawab mereka serempak.
“ Bagus sekali. Ibu tahu kalian bisa, kalian murid murid yang pintar, penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional kita sangat penting, agar nanti ketika kalian keluar dari desa ini kalian bisa berkomunikasi dengan orang di luar sana. Nah,  sekarang sebelum kita memulai pelajaran. Ibu minta kalian mengumpulkan tugas yang ibu berikan kemarin, Tinus, tolong kumpulkan tugas teman temanmu”

Namun anak anak tersebut hanya diam, Tinus yang juga adalah ketua kelas  pun  tidak beranjak dari tempat duduknya. Hal ini membuat bu Melati menjadi heran,

“ Kenapa kalian tidak mengumpulkan tugas?, apa kalian lupa mengerjakannya?” tanya bu Melati lembut. Anak anak itu menggeleng pelan.
“ Lalu, kenapa kalian tidak mengumpulkannya?”

Anak anak tersebut hanya menunduk dan  terdiam, bu Melati menghela napas pelan, Ia tahu dengan pasti anak anak didiknya tidak pernah lalai mengerjakan tugas karena malas atau lupa, meskipun tanpa listrik dan hanya ditemani lampu minyak, tugas mereka selalu selesai, tak pernah ada alasan keluar dari mulut mereka kalau mereka tidak mengerjakan tugas, pasti ada permasalahan lain yang membuat mereka tidak bisa mengerjakan tugas.

“ Ibu guru tidak marah pada kalian, tapi ibu ingin tahu alasan kalian tidak mengerjakan tugas yang ibu berikan. Ibu tahu kalian semua adalah  anak yang rajin, jadi pasti ada alasan kalian tidak bisa mengerjakan tugas yang ibu berikan ”
Tinus mengangkat tangannya,
“ Ya, Ada apa Tinus?”
“Ibu guru, sebenarnya kami tidak mengerjakan tugas karena kami tidak mengerti” kata Tinus, teman temannya langsung  mengangguk setuju,
“Apa yang kalian tidak pahami dari tugas yang ibu berikan, bukankah hal tersebut sangat mudah?, kalian hanya perlu membandingkan dan menceritakan Indonesia saat  ini bila dibandingkan dengan masa dulu, kalian bisa bertanya pada orangtua, keluarga, atau tetangga kalian”
“ Tapi, kami tidak paham bu, kami sudah coba Tanya orang tua dan orang orang tapi katanya Indonesia sama saja bu , dari dulu kita hidup susah .Tidak ada yang beda, sampai sekarang kerja cari makan susah, air  bersih susah, sekolah susah, listrik tidak ada, jalan belum ada. Jadi saya disuruh tulis kalau Indonesia saat  ini sama saja dengan zaman dulu” jelas Lina panjang lebar.
“ Saya juga sudah Tanya mama saya, ibu. Katanya yang berubah hanya didirikannya  sekolah ini saja, itu juga kami harus jalan jauh sekali tiap hari ke sekolah” tambah Linus
“Kami juga sama bu” kata Berto dan Tini
“ Bu, kata ayah saya ada yang berubah, sekarang sudah ada ibu guru cantik yang mengajar kami”
Anak anak langsung menyoraki Tinus, yang diteriaki hanya tersenyum kecil, begitu juga dengan bu Melati.

Saat ini perasaannya campur aduk, Ia kecewa, sedih, terharu, marah, senang, semuanya bercampur jadi satu. Ia baru saja menyadari sebuah fakta tentang anak anak didiknya, bahwa mereka tengah berjuang , jauh lebih keras dari apa yang ia bayangkan sebelumnya. Tiba tiba Ia teringat pada anak anak orang kaya di kota tempatnya berasal. Bagaimana setiap hari mereka sarapan dengan roti dan susu, dimandikan dan diurusi oleh pembantu, diantar ke sekolah, diberikan uang jajan, dilimpahi  dengan buku buku pelajaran, diberi les ini dan itu.. Namun, masih saja sering ia dapati anak anak tersebut membolos, tidak belajar dan malah bermain Game, bermain gadget yang sudah menemani mereka sejak masih bayi.

Tidak terbayang sudah berapa banyak rupiah melayang sia sia. Matanya tertuju pada anak anak di depannya, Tubuh Kurus hitam yang berbalutkan seragam merah putih yang sudah robek, kaki yang tidak memakai alas sepatu. Tidak bisa ia bayangkan tiap hari  sepasang kaki kecil itu harus berjalan menaiki dan menuruni gunung demi bersekolah. Tidak dapat ia bayangkan perut kecil mereka yang harus bertahan setiap hari menahan lapar, tubuh kecil yang setiap pagi harus menerima dinginnya angin yang menusuk tulang. Mata yang harus mampu bertahan membaca di tengah gelapnya malam, di tengah ngantuk dan lelah setelah bekerja membantu orang tua sepulang sekolah.

Ia Masih ingat, saat dulu ia mengunjungi rumah anak anak di desa satu per satu, bagaimana ia ditolak dan bahkan dimarahi saat meminta para orang tua menyekolahkan anak mereka, ia sadar bahwa yang ditakutkan para orangtua adalah masalah biaya dan keselamatan anak mereka. Dan akhirnya, hanya 5 orang murid inilah yang berhasil ia kumpulkan.

Tiba tiba ia menjadi kesal pada dirinya sendiri. Mengapa ia memberikan anak anak ini tugas menceritakan Indonesia saat ini, mengapa ia menyuruh mereka untuk membandingkan keadaan Indonesia?, jawaban macam apa yang sebenarnya ia harapkan dari anak anak kecil  ini?, anak anak yang tidak pernah sekalipun  merasakan nikmatnya hidup dengan layak, merasakan perut mereka kenyang, mengenakan pakaian dan tinggal di rumah yang layak manisnya es cream, lembutnya roti dan selai, nasi hangat beserta lauk yang baru dimasak, Handphone dan internet, TV dan video game, buku buku cerita, jalan jalan di Mall, belanja, naik kendaraan, serta mainan mainan yang ada .

Tiba tiba saja lututnya lemas, semua hal hal yang biasanya ia anggap remeh kini terasa sangat  amat berharga, Ia Merindukan orang tuanya, Melati ingin sekali segera pulang dan menceritakan bagaimana ia telah disadarkan oleh makluk makluk kecil ini. Anak anak yang mungkin bahkan tidak pernah disadari keberadaannya, anak anak yang berjuang melawan kerasnya dunia. Air matanya mengalir menuruni pipinya, ia tidak mampu lagi menahan gejolak hatinya, ia marah pada pemerintah seolah  tidak pernah peduli akan nasib anak anak ini, ia sedih dan terharu melihat perjuangan mereka selama ini, ia kecewa pada dirinya yang terkadang tidak menghargai apa yang ia miliki dan selalu meminta lebih. 

“ Ibu, kenapa ibu menangis?, apakah ibu marah pada kami?” Tanya Tinus, ia dan teman temannya maju ke depan kelas dan memeluk erat guru mereka.

Tangis Melati pecah saat anak anak itu memeluk dirinya, ia dapat merasakan kasih sayang yang begitu besar, harapan, cita cita, dan kerasnya hidup yang telah mereka jalani. Sekian lamanya Melati hanya dapat menangis dalam pelukan murid muridnya.  Tidak lama kemudian tangisnya berhenti. Ia tersenyum  lembut  pada murid muridnya.

“ Ibu tidak marah pada kalian, ibu sangat sayang pada kalian”
“ kami juga sayang ibu” jawab murid muridnya
“ Bu, lalu kenapa ibu menangis?, apa ibu kecewa pada kami?” tampaknya Lina belum puas akan jawaban gurunya tadi.
“ Ibu…..Ibu hanya merindukan rumah”, Melati berusaha mengelak, ia tidak mungkin dapat mengatakan perasaannya pada anak anak ini.
“ Oh ya, tadi kalian bilang pada ibu, kalian tidak dapat mengerjakan tugas karena kalian tidak tahu harus menulis apa, apa kalian mau mendengarkan cerita ibu tentang Indonesia saat  ini?” Tanya Melati, meskipun kini ia sendiri ragu dengan pemahamannya tentang Indonesia, sebenarnya apa itu Indonesia?, apakah hanya kota kota besar?, apakah hanya kota kota yang sudah maju?. Apa yang harus ia ceritakan pada anaka anak ini?
“ Kami mau bu….” Jawab anak anak itu serempak. Mereka kembali ke tempat duduk mereka masing masing.

Melati menghapus air matanya dan memulai ceritanya, anak anak itu terdiam dan dengan serius memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir gurunya itu.

“Indonesia adalah Negara yang berada di benua Asia, tepatnya di asia tenggara. Indonesia terdiri atas 5 pulau besar dan  berpuluh puluh ribu pulau lainnya. Indonesia sangat terkenal akan keadaan alamnya dan satwa satwa serta keragaman  bahasa, adat, dan sukunya. Indonesia terus mengalami perkembangan sejak kemerdekaan pada tahun 1945 dan kini telah menjadi salah satu Negara yang diakui oleh dunia.”
“ Bu, Perkembangan yang seperti apa?” Tini mengangkat tangannya
“ Perkembangan yang terjadi sangat pesat, baik di bidang teknologi, transportasi dan lain sebagainya. Ibu akan menunjukkan pada kalian”

Melati mengeluarkan tablet miliknya, ia memanggil murid muridnya untuk mendekat , ia kemudian membuka gambar gambar yang sudah ia simpan.

“ Wah, bu guru hebat, bagaimana caranya muncul gambar di alat ini?” Tanya Linus
“ Iya, kami baru pertama kali melihat yang seperti ini, cantik sekali gambarnya” sahut Tini
Anak- anak itu segera berkumpul mengelilingi gurunya, bu melati tersenyum melihat kepolosan anak anak itu,
“ Ini namanya tablet, gunanya untuk menyimpan gambar atau tulisan, ini adalah salah satu perubahan yang ibu katakn tadi, saat ini di Indonesia orang orang tidak lagi menyimpan gambar dan tulisan dengan menulis atau melukis, mereka memakai alat ini. Lalu ini namanya pesawat, ini adalah kemajuan di bidang teknologi, sekarang manusia bisa pergi ke mana mana dengan sangat cepat, lalu ada juga televisi yang dapat mengeluarkan gambar dan suara, juga dengan hp orang bisa mengirim kabar dengan cepat”

Satu per satu gambar  Ia ditunjukkan, ada gambar pesawat, mall, bangunan bangunan megah, televisi, video game, Hp, dan lain sebagainya. Dengan sabar Melati menjelaskan satu per satu hal hal tersebut, anak anak itu sangat kagum akan hal hal baru yang mereka lihat, tidak henti hentinya mereka bertanya, dengan sabar bu Melati menjawab semua pertanyaan itu. lalu tiba tiba Berto bertanya,

“ Bu, tadi ibu bilang itu adalah perubahan yang terjadi di Indonesia, hal hal itu adalah gambaran Indonesia saat ini, lalu kenapa hal hal itu tidak ada di sini, kenapa kami baru sekarang mengetahui hal hal itu?, bahkan kami tdak pernah merasakan makanan makanan yang ibu katakan tadi. Apakah desa ini bukan termasuk  Indonesia?”

Melati terdiam, berusaha mencari kata kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Apa yang Berto katakan memang benar, apakah desa ini bukan Indonesia?, sehingga tidak layak untuk menerima bantuan dan pembangunan. Apakah desa ini  bukan Indonesia?, sehingga kehidupan mereka sangat berbeda bagai bumi dan langit dengan kota besar. Lalu yang dimaksud Indonesia itu  yang seperti apa?.

“ Berto, tentu saja Desa Ini adalah Indonesia. Hanya saja desa ini belum saatnya menerima perubahan. Oleh karena itu, berto dan teman teman semua harus belajar dengan giat untuk mempersiapkan desa ini untuk menerima pembaharuan” Akhirnya kata kata itu yang Melati katakan pada anak anak itu. Berto dan teman temannya mengangguk pelan, 
“ Bu, berarti Indonesia saat ini sangat berkembang dan berbeda ya bu dibandingkan dulu ….ada bangunan tinggi, burung besi, mall, jalan jalan besar, mobil, televisi, hp dan masih banyak lagi…..Indonesia ternyata sangat hebat ya bu” kata Tinus 

Melati tersenyum. Ya. Indonesia saat  ini sangat hebat, sangat berkembang dibandingkan sebelumnya, gedung gedung tinggi, industry, teknologi, mobil mobil mewah , mall, fasilitas fasilitas, perdagangan dan hal hal lainnya. Namun sayangnya, hanya segelintir orang yang menikmati hal itu. Hanya sebagian daerah yang menerima perubahan itu, pantaskah hal tersebut digunakan untuk menunjukkan keadaan Indonesia saat  ini?, Indonesia yang seperti apa?, bukankah Indonesia adalah “ SATU”, Bhineka Tunggal Ika, semboyan itulah yang selalu dikumandangkan di mana- mana, lalu Indonesia yang katanya satu ini adalah Indonesia yang seperti Apa?. Indonesia saat  ini masih penuh dengan ketimpangan social, pertengkaran, ketidakadilan sosial, dan SARA. Indonesia saat  ini masih  penuh dengan kerusuhan dan pembakaran hutan, pembunuhan dan penyiksaan, pertengkaran dan permusuhan antar agama, ras, golongan. Indonesia saat  ini masih berjuang mencapai kemajuan.

Masih banyak hal yang perlu dibenahi dari Indonesia, masih banyak kaum yang perlu disadarkan akan pentingnya persatuan, masih banyak pikiran yang harus diluruskan, Indonesia masih berjuang mencapai kesatuan Negara agar pantas dan layak menyandang predikat Negara kesatuan, agar semboyan Bhineka Tunggal Ika tak lagi sekedar diserukan tanpa makna.

“ Baik anak- anak, karena tadi ibu sudah banyak bercerita tentang Indonesia saat ini, ibu minta kalian sekarang ceritakan pada ibu perasaan kalian dan pendapat kalian tentang Indonesia saat  Ini. Apakah kalian siap?”
“ Iya bu…” Jawab anak anak itu serempak
“ Kalau begitu ibu minta Tina untuk bercerita pertama kali”

Tina maju ke depan kelas, dengan bangga ia bercerita,

“ Indonesia saat  ini sangat berkembang, banyak hal hal baru yang tidak pernah Tina lihat sebelumnya.Tina sangat senang saat melihat gambar yang ibu guru tunjukkan, Tina bangga jadi anak Indonesia. Harapan Tina saat ini….Tina ingin makan ice cream dan menonton televisi” Tina tersenyum memamerkan giginya yang berderet rapi. Melati dan anak anak lainnya bersorak dan bertepuk tangan

“ Bagus sekali Tina, sekarang gilitan Berto”
“ Saya baru tahu kalau ada burung besi bisa terbang di langit, saya ingin sekali bisa naik burung besi itu….terus Indonesia saat  ini kalau menurut saya berbeda sekalu dengan dulu, sayang di sini belum ada perubahan itu, tapi seperti pesan bu Guru, kami akan berjuang menmajukan desa kami ini” kata berto
“ Bagus, Kamu harus belajar yang rajin supaya bisa membawa perubahan ke desa ini, apa kau mengerti?, selanjutnya giliran Linus”
Berto mengangguk dengan semangat, Linus maju dan mulai bercerita,
“Indonesia saat  ini sangat bagus sekali, banyak mobil mobil di jalan, saya ingin bisa menyetir, terus bawa ibu jalan jalan, bersama dengan teman teman” Linus tersenyum malu malu.
Melati tertawa kecil, “ Ibu tunggu ya, janjinya. Baik, selanjutnya Lina”
“ Indonesia saat  ini…..Hmm, saya tidak tahu karena tidak pernah merasakannya, tapi saya yakin pasti hebat sekali. Saya ingin bisa main di kolam renang, jadi tidak usah takut terbawa arus sungai lagi, saya juga ingin seperti bu Guru, bisa mengajar dan membagikan ilmu untuk semua orang”

Anak anak bertepuk tangan, akhirnya tiba giliran Tinus, ia maju ke depan kelas sambil tersenyum. Begitu sampai ke depan kelas ia menatap wajah teman temannya satu persatu dan terakhir ia menatap wajah Melati, guru yang sangat ia sayangi itu. Tinus menarik napas, semua yang ada di ruangan kelas itu menatap Tinus dan menunggu apa yang akan ia lakukan. Tiba tiba sebuah lagu mengalun dari bibirnya, lagu  berjudul Bolelebo yang menceritakan bahwa seberapapun indahnya  tempat atau tanah yang lain, tanah timor ( tanah kita) lebih baik. Lagu itu berisi ungkapan kecintaan nya akan daerah asalnya tersebut.

Bolelebo ita nusa lelebo
Malole simalole
Ita nusa lemalole
Bolelebo baradimu lelebo
Ie ta’do ie baradimu rihi ie
Bolelebo Tanah Timor lelebo
Baik Tidak baik
Tanah Timor lebih baik

Lagu itu mengalun lembut menggetarkan perasaan setiap orang yang ada di ruangan itu. Setelah lagu itu selesai ia nyanyikan, Tinus bercerita dengan suara pelan.

“Indonesia saat ini  ini begitu berkembang, saya sangat senang ibu guru datang ke desa kami. Lewat ibu saya bisa mengenal dunia luar. Ternyata ada begitu banyak hal yang sangat indah, menakjubkan dan jauh dari bayangan saya. Saja juga sadar kalau Indonesia saat ini belum merata perkembangannya, kami di sini hidup jauh dari semua yang tadi ibu ceritakan. Kami tidak mengenal hal hal tersebut, tetapi….walaupun kami hidup susah, walaupun kami berjuang keras untuk hidup, meskipun kami diperlakukan berbeda, tapi…..tanah kami yang terbaik. Kami sangat sayang pada tanah kami, dan kami akan berjuang untuk Indonesia“

Tinus menunduk kemudian melanjutkan,
“ Harapan saya, saat saya besar nanti…. Saya ingin mewujudkan Indonesia yang sebenarnya, saya ingin ketika saya ditanya saya dapat menceritakan bagaimana Indonesia saat  ini yang sebenarnya, bukan Indonesia milik segelintir orang, tetapi Indonesia yang menjadi milik kita semua. Saya cinta Indonesia”
…………………… ……………………………………… …………………………….. ………………………….. ……
“ Itulah yang dikatakan Oleh Tinus, anak kecil yang jauh dari semua kehidupan yang kita rasakan sekarang. Anak yang terus berjuang dan percaya akan datangnya perubahan, anak yang sangat saya banggakan”

Melati tersenyum usai  bercerita , ia baru saja diminta bercerita tentang pengalamannya sebagai guru pedalaman dalam sebuah acara seminar. Semua yang hadir menghela napas, mereka turut terbawa dan merasakan apa yang Melati rasakan. Mereka kagum pada sosok Tinus kecil dan teman temannya, mereka yang tetap cinta Indonesia walau mereka tak pernah merasakan seperti apa perkembangan Indonesia.

“ Saya yakin dan percaya,  di masa depan nanti , Tinus akan berdiri di sini, bukan sebagai anak desa yang tidak tahu apa apa, melainkan sebagai pemimpin yang akan memimpin kita semua dan membawa kita pada perubahan. Namun sayangnya, sampai saat ini ada satu hal yang mengganjal di hati saya, saya belum bisa menemukan arti Indonesia saat ini yang sesungguhnya, Indonesia yang seperti apa??, jadi menurut anda, bagaimana Indonesia saat  ini, Indonesia yang seperti apa ?” Melati mengakhiri ceritanya dengan sebuah pertanyaan.

Dan hadirin yang ada pun terdiam, sunyi senyap….larut dalam satu pikiran yang sama, memikirkan jawaban atas pertanyaan Melati. Indonesia yang seperti apa?. Tamat

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen Inspiratif "Indonesia masa kini""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel