Cerpen "Suksesmu Bahagiaku"

KisahTerbaik.Com- Penulis dalam cerita pendek atau cerpen ini ialah Intan Asmara dengan judul "Suksesmu Bahagiaku". Semoga hadirnya kisah ini bisa memberikan pelajaran yang berarati bagi segenap pembacanya..

Begini, Cerpennya...

Setiap hari lebaran tiba, Kayla selalu saja menunjukkan ekspresi yang kurang bahagia. Bukan karena tidak suka berkumpul dengan keluarga besarnya atau apa, tapi Kayla merasa kurang bahagia karena ketika berkumpul dengan keluarga besarnya, mereka pasti menceritakan tentang studi mereka yang sudah sampai S2 bahkan ada juga kakak sepupunya yang akan mengambil S3.

Setiap kali mendengar cerita mereka yang seperti itu, ingin sekali rasanya Kayla pergi meninggalkan mereka. Bukannya tidak suka mendengar tentang cerita kesuksesan mereka, tapi tiap kali mereka bercerita tentang kesuksesan mereka, Kayla merasa agak minder.

Apalagi ketika melihat kakaknya yang baru saja menyelesaikan studi S2nya dan akan diwisuda, Kayla semakin merasa minder. Bagaimana tidak, ketika mereka semua asyik menceritakan kisah suksesnya, Kayla hanya bisa diam mendengarnya karena sampai saat ini nilainya hanya pas-pasan dan dia juga tidak pernah meraih prestasi apapun.

Jika dihitung dalam hitungan tahun, Kayla memang belum waktunya wisuda karena sekarang dia masih semester 6. Tapi tiap dia mendengar cerita mereka yang selalu tentang hal itu, rasa mindernya
selalu saja muncul.

2 hari kemudian ketika masih berkumpul, mereka tetap saja menceritakan hal yang sama.

"Arya suruh langsung lanjut ke S3 aja, tante. Mumpung dia masih bisa fokus. Apalagi dia anak pinter kan.", saran mas Toni kepada mama.
"Maunya sih gitu. Tapi biayanya yang nggak kuat. Niatnya Kayla juga tante suruh lanjut S2 sih kalo udah lulus nanti", jelas mama.
"Nggak. Aku nggak mau lanjut S2.", tolak Kayla.
"Bego banget sih kamu, la. Ada kesempatan buat lanjut S2 kok malah nggak mau". Ucap mas Toni. Kayla hanya diam dan langsung pergi meninggalkan mereka.

Di ruang tamu, Kayla duduk diam sambil menangis. Tak lama kemudian, papa menghampirinya. Papa heran ketika melihat Kayla sedang menangis.

"Ada apa, la? Kok nangis?", tanya papa sambil merangkul Kayla. Bukannya menjawab,

Kayla malah semakin menangis di pelukan papa. Papa heran melihatnya dan berusaha untuk menenangkan Kayla. Ketika Kayla sudah agak tenang, papa memintanya untuk bercerita sebenarnya apa yang terjadi. Namun Kayla tetap menolaknya.

Pada suatu hari, tanpa sengaja Kayla mendengar mama sedang asyik ngobrol dengan om Farhan dan membicarakan tentang banyaknya guru SD yang 1 kecamatan dengan mama yang kuliah S2. Tanpa banyak bicara, Kayla langsung menghampiri mereka. Ketika mereka selesai berbicara, Kayla mendekati mama.

"Ma, aku nggak usah lanjut S2 ya. Cukup S1 aja. Aku udah pusing ngerasain kuliah S1 ku yang tiap hari taunya cuma makalah, makalah, dan makalah terus, ma.", ucap Kayla.
"Ya udah deh terserah kamu aja.", jawab mama yang terlihat agak kecewa mendengar keputusan Kayla. Kayla menebak sepertinya mama masih berharap agar dia mau melanjutkan S2.

Beberapa hari kemudian, Kayla pergi ke kontrakannya Fabian. Karena Fabian tidak ada di kontrakan, maka Kayla memutuskan untuk menunggunya di teras. 2 jam kemudian, akhirnya Fabian datang juga. Fabian kaget ketika melihat Kayla sedang duduk di teras.

"Kamu ngapain di sini, la? Kamu ke sini kok nggak bilang ke aku?", tanya Fabian.
"Pingin main aja, bi. Baru pulang dinas ya kamu?", tanya Kayla.
"Iya la. Harusnya kamu bilang ke aku dong kalo mau ke sini. Biar kamu juga nggak nunggu", jelas Fabian. Kayla hanya mengangguk.
"Bi, ikut aku ke taman yuk. Ada yang mau aku bicarakan", ajak Kayla. Fabian hanya mengiyakannya.
Sesampainya di taman...
"Mau ngomongin apa, la?", tanya Fabian.
"Abi pingin kuliah nggak?", tanya Kayla. Fabian sedikit heran mendengarnya.
"Pingin sih, la. Tapi kenapa tiba-tiba kamu tanya soal ini ke aku?", tanya Fabian. Tanpa banyak bicara, Kayla langsung memberikan sebuah amplop kepada Fabian. Ketika dibuka, ternyata amplop itu berisi sebuah kertas kosong.

Fabian semakin bingung dibuatnya.

"Maksudnya apa sih, la? Aku nggak paham", tanya Fabian.
"Aku nggak pingin ngelanjutin kuliahku ke S2, bi. Cukup S1 aja.", jelas Kayla.
"Bego ya kamu? Kamu tau nggak di luar sana tu masih banyak yang pingin kuliah tapi nggak ada biaya, termasuk aku? Sedangkan kamu? Orang tua kamu masih sanggup ngebiayain kuliah kamu, tapi kenapa kamu malah membuang kesempatan itu? Kamu udah bego ya?&", tanya Fabian.
"Kamu adalah orang kedua yang ngatain aku bego setelah tau kalo aku nggak mau lanjut S2, bi. Terserah kamu mau ngomong apa. Aku nggak peduli. Intinya aku nggak pingin lanjut S2. Udah itu", jelas Kayla.

"Maaf kalo ucapanku agak kasar. Kalo boleh tau, kenapa kamu malah menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa lanjut ke S2? Padahal banyak banget teman-temanmu yang cari beasiswa untuk bisa ngelanjutin kuliahnya.", tanya Fabian.
"Emang sih. Mungkin mereka bisa bahagia ketika mereka bisa melanjutkan kuliahnya sampai S2 dan S3. Tapi tidak denganku. Kebahagiaanku tidak terletak di situ. Kebahagiaanku ada di tempat lain", jawab Kayla. Fabian hanya diam.

"Lalu apa maksudmu ngasih kertas kosong ini ke aku?", tanya Fabian.
"Setelah aku bilang ke mama kalo aku nggak mau lanjut S2, sepertinya mama agak kecewa dan berharap agar aku masih mau lanjut S2. Kalo kamu masih punya keinginan untuk kuliah, kamu tulis di kertas kosong itu. Kalo udah selesai kamu tulis, aku bakal kasih kertas itu ke mamaku", jawab Kayla.
"Kenapa kamu kasih ke mamamu?", tanya Fabian.
"Karena aku udah nggak minat buat lanjut S2, sedangkan mama masih sanggup buat ngebiayain aku, jadi aku berikan kesempatan ini ke kamu. Kamu kan masih ada keinginan buat kuliah. Nah aku akan minta ke mama buat ngebiayain kuliahmu sampai selesai. Jadi gajimu tiap bulan paling cuma berkurang dikit buat ngerjain tugas aja", jelas Kayla.

"Tapi ya nggak enak di aku lah, la", ucap Fabian.
"Kamu nggak perlu ngerasa nggak enak, bi. Ya anggap aja kalo kamu itu adalah aku dan mamaku adalah mamamu. Jadi enak kan. Kalo kamu nggak mau nerima, aku bakalan kasih kesempatan ini ke orang lain", jelas Kayla. Mendengar ucapan Kayla, Fabian terlihat tidak rela jika Kayla meminta kertas kosong itu darinya kemudian memberikannya kepada orang lain.

"Tapi usiaku kan udah 24 tahun, la. Masa aku baru mau S1 sih", ucap Fabian.
"Nggak apa-apa kali, bi. Lagian banyak kok pak polisi yang masih kuliah. Kalo kamu nggak mau, aku kasih ke orang lain lho", ancam Kayla sambil mengambil kertas dan amplop itu dari tangan Fabian.
"Jangan la. Tapi kamu serius kan ngasih kesempatan ini ke aku?", tanya Fabian.
"Aku nggak pernah bercanda dalam hal kayak gini", jawab Kayla.
"Makasih banyak ya, la. Aku nggak tau harus ngucapin apa lagi ke kamu. Sekali lagi makasih ya, la", ucap Fabian. Kayla hanya mengangguk.

"Kalo aku boleh tau, kenapa yang pertama kali kamu kasih kesempatan ini adalah aku?", tanya Fabian.
"arena tiap kali mereka bercerita tentang studi mereka, aku selalu saja teringat curhatanmu tentang masalah ekonomi keluargamu yang bikin kamu nggak bisa kuliah dan perjalanan hidupmu sebelum kamu masuk ke SPN sampai kamu jadi polisi seperti sekarang. Ya aku cuma pingin berbagi kebahagiaan aja sih. Aku pingin impianmu untuk kuliah tu bisa terwujud. Udah itu aja", jelas Kayla.
"Sekali lagi makasih banyak ya, la", ucap Fabian.
"Iya bi. Aku seneng kalo bisa lihat kamu sukses", jawab Kayla. Tanpa banyak bicara, Fabian langsung memeluknya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen "Suksesmu Bahagiaku""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel