Kisah Cinta "Cerita Yang Purna"

KisahTerbaik.Com- Untaian cerita nyata tentang kisah cinta ini berjudul "Cerita yang Purna". Yang ditulisken oleh Almira AP. Semoga kisah ini dapat menginspirasi bagi siapapun yang membacanya dan dapat dijadikan pelajaran untuk kita semua..

Begini, Kisah Cintanya...

Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tsb agar kamu kembali berharap kepada-Nya” ~HR. Imam Syafi’i

Tidak akan berujung lah berharap kepada manusia yang memang sudah seharusnya tidak kita harapkan. Berujung penyesalan yang menyesakkan itulah yang mayoritas dirasakan oleh seseorang yang berharap terlampau lebih kepada manusia lain. Manusia loh. Dia hanya hasil tumbuh dari seonggok daging dan sifatnya adalah fana’. Masih banyak manusia-manusia lain yang secara nyata haruslah kita agungkan setelah Allah SWT yaitu misalnya Rasulullah SAW.

Manusia kekasih Allah yang memiliki budi perangai yang sangat mulia bahkan waktu sebelum wafat beliau, yang ada difikiran beliau adalah nasib kaum nya sepeninggalnya. Aku kan. Aku termasuk kaum Nabi Muhammad SAW, yang bahkan sebelum aku ada di dunia, beliau sudah mengkhawatirkan kondisiku.

How silly I was TT...

Seperti yang terjadi saat ini, seakan tamparan halus namun menusuk, aku begitu berharap kepada kekasihku yang seharusnya dalam Islam, tidak boleh ada hubungan tak resmi sebelum pernikahan. Tiada minggu tanpa aku kecewa menjalani hubunganku selama hampir 11 bulan bersama orang yang saat ini bahkan kubenci. Aku kelimpangan. Tak tahu arah saat bersamanya. Aku bergitu berharap padanya, terbuai akan janji-janji manis dan busuk juga dusta tergabung didalamnya. Aku pernah sangat mencintainya.. Sampai sampai diriku sendiri tak lagi kupedulikan.

Aku rela bahkan berlari-lari membelikan makan untuknya. Aku rela merogoh uang bulanan dari ayahku demi kebahagiannya membelikan makan pagi, siang, sore. Pulsa yang habis pun sampai-sampai aku belikan. Pikirkan saja berapa uang rutin yang aku korbankan untuknya. Itu uang ayahku. Entah sebanyak dosa apa yang aku lakukan atas amanat uang dari orang tua ini.

I was dumb.

Ketika berjalan menyusuri lorong pertokoan pun yang kuingat hanyalah dirinya. Pastilah akan terbesit keinginanku untuk membelikannya sesuatu. Barang yang kubelikan memang murah tapi aku tulus memberikannya.

Dan kau tahu..

Dia tak pernah suka atas barang pemberianku yang katanya tidak berguna. Dia katakan itu secara langsung tanpa ada bahasa halus atau bahasa-bahasa lain yang sekirangnya tidak menyinggungku. Dia katakan itu secara blak-blakan. Kau tahu kan apa yang terjadi selanjutnya? Ketika aku begitu bahagia memberikannya dan setelah beberapa lama dikatakan tidak berguna, aku bagaikan jatuh terhempas setelah terbang menari-nari di angkasa setelah merasa diri bagaikan pahlawan.

Betapa tulusnya aku memberikannya meskipun murah dan tak bermanfaat untuk saat ini, tidak pernah digubris olehnya. Betapa peluh aku korbankan untuk kekenyangannya, entah dia bahagia atau tidak bahkan mungkin biasa saja, mengatakan ‘terimakasih’ pun jarang. Aku juga pernah begadang bersamanya, membantunya mengerjakan tugas. Dia memintaku untuk tetap terjaga, memintaku untuk hadir menemaninya. Kami berbagi tugasnya.

Saat itu aku begitu bahagia karena bisa menenangkan kekasihku atas tugasnya. Namun aku lupa, ada orangtua yang berharap akan kemudahanku dalam bersekolah untuk mencapai nilai yang baik. Aku lupa akan keberadaan orang tua. Aku justru asyik dengan kekasihku yang bahkan kata-katanya semua adalah dusta. Semua dusta dan aku bgeitu berharap. Ya, berharap bahwa suatu saat dia juga akan datang kepadaku ketika aku membutuhkannya. Salahkah aku jika kebaikanku ingin dibalas?

Ah tidak. Tidak dibalas pun tidak apa. Namun kenyataannya dia hanya menjawab, kapan-kapan. Dua iringan kata yang tak ada rasa cinta didalamnya. Tidak ada pengorbanan. Apalagi ketika ditambahkan, tidak mau. Kau tahu kan betapa aku sakit nian saat itu?

I lost my friends because of him.
I rejected them because I had him.
What I had was only him.
So you know when I do need help.. What kind of people whom I need the most?
He was not there when I need some part of my lost-friends.

Aku kehilangan sahabatku karena dia. Ketika dia begitu melarangku untuk tidak kelayapan bersama kawan-kawanku dan aku begitu mematuhinya karena pernah cinta kepadanya. Saat itu aku bahagia. Bahagia ketika dia mencemaskanku ketika kepergianku bersama sahabat-sahabatku yang lain. Sosok ayah yang kutemui ada pada dirinya. Hal yang membuatku makin jatuh kepadanya.

Tapi dia seakan tidak bertanggung jawab akan hal itu. Dia tidak membiarkanku pulang larut tanpanya apalagi jalan-jalan bersama sahabat-sahabatku. Apalagi ketika salah satu sahabatku sedang dalam keterpurukan, aku biasa saja. Bagiku dia, kekasihku, lebih penting. Jadi aku mengindahkan sahabatku itu untuk tetap bersama kekasihku lewat chat.

Padahal perkenalanku dengan sahabat dibandingkan dengan kekasih adalah lebih dahulu berkenalan dan merasa cocok dengan sahabat sendiri. Dan ketika aku membutuhkan sosok sahabat disampingku, dia tidak ada. Nyesek kan? Ok ada. Tapi lebih banyak tidak ada. Dia hilang. Dia seakan menggambarkan kepadaku bahwa kata-kata cintanya adalah dusta.

Karena aku mempunyai kekasih, aku mengindahkan sahabatku.

Meskipun kata-kata penolakan tidak mau membantuku yang dilayangkan kepadaku berulang kali, tidak serta merta menghancurkan dinding cinta kokohku saat itu. Aku tidak peduli mau dia baik atau memperlakukanku dengan buruk. Aku selalu yakin dialah yang terbaik. Aku hanya berfikir dan mengingat akan semua hal baik yang pernah dia lakukan padaku. Romantis. Dan aku tetap mencintainya. Tak ada pikiran buruk melintas dalam pikiranku tentangnya. Aku pernah mencintainya. Sangat. Sesederhana itu.

Jika hari ini anda MEMBENCI seseorang itu setengah mati, itu bermakna, anda pernah MENCINTAINYA suatu ketika dahulu.

Rasa cinta dan benci memang berbeda sangat tipis iyakan? Sampai aku sendiri mungkin masih feel loved when I see him. Tapi tidak... Aku bukanlah yang aku yang dahulu. Aku berubah karena dia, kekasihku. Aku pernah gila karena dia. Aku pernah menjadi bukan aku karena dia. Aku pernah bodoh, sangat bodoh, karena jatuh cinta dengannya. Sampai saat ini, aku bahkan tak tahu, seberapa menyesal karena aku terlalu berharap kepadanya. Pengharapan yang terlalu besar akhirnya kandas habis ditengah jalan setelah aku menemukan sesuatu yang menyakitkan. Entah harus kumulai darimana... TT.

Karena jatuh cinta sebelum pernikahan adalah ujian yang BERAT.

Pada sore itu kutemukan sms balasan setelah sms-ku yang berulangkali kulayangkan namun tak terbalas setelah sore itu. Dia mengatakan:

Maaf.. Aku udah taubat gamau lagi mendekati zina. Mulai sekarang kita jangan ada hubungan apa-apa. Kalau Allah takdirkan, insyaAllah kita jodoh. Makasih.”

Aku tidak marah menerima sms itu. Tidak pernah sekalipun kemarahan terlintas dalam benakku. Aku bersyukur kalau akhirnya rasa tobat itu muncul dalam diri kita masing-masing. Aku pun rindu menjadi diriku yang dahulu saat itu..

Sampai akhirnya.. Ketika kutemukan sesuatu yang membuatku seakan kehilangan nyawa selama beberapa menit. Meskipun kata taubat sudah diucapkan oleh dia, dia masih menggoda wanita lain. Menanyakan apakah si wanita itu sudah ada yang punya belum, mengirimkan emoticon tersenyum yang bahkan untukku jarang atau tidak pernah diberi akhir-akhir ini kecuali aku minta, menanyakan wanita itu sedang apa yang bahkan semua pertanyaannya jauh dari apa yang biasa kuterima saat ber-chat ria dengannya.

Memang jawaban ‘Oh. Yaudah. Gpp. Kapan-kapan’ yang selalu menghantui tiap balasannya untukku. Tapi jawabannya berbeda untuknya. Entah kenapa aku sedih. Sangat sangat sedih menyalahkan dia yang telah datang dalam hidupku. Aku menangis. Lagi. Susah tidur. Tak ada nafsu makan. Sepertinya aku sadar bagaimana rasanya dan kecewanya orang yang bahkan memilih mengakhiri hidupnya karena perlakuan kekasihnya terhadapnya.

TT...
I was torn apart inside.

Aku percaya dia adalah lelaki yang baik. Selalu kudoakan untuk kesehatan dan kesuksesannya entah dia melakukan hal yang sama untukku, mendoakan aku. Mungkin tidak pernah. Aku sadar kalau aku begitu teramat mencintainya. Sedangkan dia? Aku hampir tidak percaya apakah dia akan mencintaiku seperti yang biasa dulu dia ucapkan kepadaku setelah pertemuan dia dengan wanita lain. Wanita yang lebih tinggi, cantik, putih, sekelas, setiap hari dia temui.

Ahh, aku nyesek TT...

Tak tahukah dia, siang malam aku selalu cemburu kepada orang-orang yang bisa bertemu dengannya setiap saat. Aku juga iri kepada mereka yang bisa mengobrol kepadanya. Sedangkan aku? Aku harus berkorban tenaga dan biaya hanya untuk mendapati dia sehat atau tidak. Tak tahukan dia juga, aku yang paling khawatir setelah ibumu ketika kamu sakit. Pikiranku melayang-layang tak karuan. Hanya bisa berdoa. Sungguh aku pernah sangat mencintaimu.. Dulu.

Hal terbodoh yang pernah aku lakukan.
Pertama. Lupa kepada Allah sedangkan Dia selalu mengingatku.
Kedua. Ingat kepada manusia, sedangkan Dia melupakanku.

Ayolah dia bukanlah lelaki yang harus aku tangisi berulang kali. Dia telah mengecewakanmu. Membuatku menangis. (masih) menebar pesona kepada wanita lain yang jelas-jelas dia tahu bahwa ada wanita lain dibelakangnya yang sungguh mencintainya. Tapi dia mengabaikan wanita itu. Ya dia mengabaikanmu. Mungkin ini pertanda dari Allah SWT bahwa Dia sangat mencemburui diriku yang menempatkan cinta kepada selain-Nya.

Akan selalu ada seseorang yang lebih dari aku, entah fisiknya, entah perilakunya, entah ketaatan pada agamanya, aku hanya perlu mencari yang tak peduli dengan itu dan mau bersamaku serta menjadikanku lebih baik dari aku yang terdahulu.

Tapi dari itu semua, aku belajar banyak hal. Sangat banyak. Belajar akan kepolosanku. Kebodohanku. Kesetiaanku. Aku adalah tipe sangat setia. Itu mungkin salah satu kelebihanku. Aku sangat setia dan sekali aku jatuh cinta kepada seseorang, kepada dia contohnya, aku bisa sangat mencintainya. Apalagi dia adalah cinta benar-benar pertamaku. Aku mungkin bahkan sampai rela menyerahkan diriku untuknya. Alhamdulillah, semuanya Allah SWT yang menyadarkanku. Dia bukan seperti yang aku bayangkan. Aku kerap menangis, menyesal sehingga hilang cinta matiku untuknya. Ya cinta biasa.

What if I fall? Oh, but my darling what if you fly?

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Tak usah dipikirkan lagi, dia akan merayu wanita lain mana lagi. Yang perlu kulakukan saat ini adalah terus memperbaiki diri. Mungkin jodohku ada ditempat lain yang juga sedang memperjuangkanku. Tidak perlu mencari karena dia akan datang sendiri dengan kata cinta yang sesungguhnya. Tanpa ada perlawanan akan batin yang terus berteriak karena kekecewaan. Karena batin dan raga sendiri-lah yang akan menyatu berjalan beriringan dengan jodohku di masa depan. Entah dia, mantan kekasihku, atan dengan pria lain di dunia ini.

Aku akan terus berharap dia, jodohku, tidak akan sekalipun membuat air mataku turun. Dia akan setia memelukku dan ada ketika aku membutuhkan pegangan. Tidak bermain dibelakangku. Kami bahagia bersama. Karena sekali aku jatuh cinta lagi kepada seseorang.. Aku akan mencintainya dengan sangat dan akan menjadi pendamping serta sahabat hidup yang setia, insyaAllah, bukan sebagai pemuas nafsu lelaki semata.

Kita melihat matahari, tetapi sebenarnya Matahari itu jauh. Kita tidak melihat Allah, tetapi sebenarnya Allah itu dekat. Maka, berharaplah kepada Allah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Cinta "Cerita Yang Purna""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel