Kisah Inspirasi Tentang Persahabatan "Aku, Wulan dan Kila"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita inspiratif ini dituliskan oleh Putri Nurul Azizah salah seorang siswi di SMPN 1 Srono dengan judul tulisannya ialah "Aku, Wulan dan Kila". Semoga dengan hadirnya cerita ini memberikan ungkapan dan pemahaman yang baik kepada segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

“Kila menangis!” teriak Rina membuatku dan Wulan membalikkan badan ke belakang. Aku hanya tertawa geli melihat wajah Rina yang ketakutan sambil melingkarkan tangannya ke leher Kila.
“Apaan sih? Lebay banget. Kila itu kan anaknya humoris paling juga dia bercanda ya kan Kila?” ujarku sambil terus memakan kripik singkong yang kubeli dari kantin.
“Betul kata Sindi,” Wulan mengiyakan perkataanku.
“Kil, Kila, Kil kamu nggak apa-apakan?” tanya Vita memastikan.

Sedetik setelah Vita bertanya Kila langsung berlari menuju ke kelas. Kami hanya mengangkat pundak menyatakan kalau kami tidak tahu-menahu tentang Kila.

“Ada apa sih sebenernya?” tanyaku kepada Wulan ketika kaki kami memasuki
lantai kelas.

Ketika melihat kami Kila pun segera menarik tangan Rina dan menjauhi kelas.
Sementara itu kami hanya melongo bingung.

“Kila gila ya?” pertanyaan Rosa membuatku mengangguk.
“Husssh... nggak boleh berkata seperti itu nggak baik. Kila kan temen kita.

Bagaimana pun sifatnya kita nggak boleh berburuk sangka,” ceramah Vita. Membuatku dan lainnya hanya mendengus kesal.

“Kita susul mereka yuk!” ajak Wulan.
“Kemana?” tanya Rosa.
“Aku tahu kemana perginya mereka,” aku segera berlari dan berhenti di tempat yang tidak lain dan tidak bukan adalah..... TOILET! Tidak ada tempat yang lebih baik untuk acara tangis-menangis selain toilet.

Lima menit kami menanti di luar sambil memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Setelah itu Kila dan Rina keluar dari toilet. Bagaikan polisi, aku segera menghadang Rina dan membiarkan Kila pergi terlebih dahulu.

“Ada apa sebenarnya?” tanyaku menginterogasi Rina.
“Gimana ya? Aku nggak berani bilang kata Kila nggak boleh di bilangin sama
siapa-siapa.” ujar Rina membuatku naik pitam.
“Jangan buat aku marah! Cepat bilang!” gertakku sambil bercanda.

“Hehehehe..... jangan marah dong. Oke aku kasih tau. Tapi intinya aja ya..... kata Kila tadi yang membuatnya menangis itu kamu sama kamu,” Rina menunjuk aku dan Wulan.
“Terus katanya kalau kalian tetap seperti itu kalian bakal dikeluarin dari grup ini,” ucap Rina lalu pergi tanpa pamit.

Aku dan Wulan saling berpandangan, bingung, emang kami salah apa kok mau dikeluarin dari grup ini?
“Ada apa sih sebenarnya? Ngomong kok nggak jelas,” gerutuku.
“Gila mungkin. Eh kamu berani nggak kalau kamu dikeluarin dari grup kita ini?”
tanya Wulan.
“Ngapain takut, dikeluarin ya keluar. Toh aku nggak minta makan sama dia.
Emang kalau aku nggak temenan sama dia, terus aku nggak makan, aku bakalan mati?
Ya nggak lah. Lagian Kila itu anaknya seenaknya sendiri yang ginilah yang gitulah.
Rempong!” gerutuku panjang lebar.
“Betul katamu! Daripada kita mikirin itu, lebih baik kita mikirin kado apa yang
bagus untuk diberikan sama Vita, bener kan?” ujar Wulan membuatku tersenyum.

“Huuuuuuuh!!! Akhirnya aku menemukannya!” jeritku sambil melompat-lompat
gembira.
“Emang Vita mau sama barang kayak gini? Inikan barang bekas,” tanya Wulan.
“Tema kita apa tadi?” tanyaku.
“Barang yang kita sayangi!” teriak kami.
“Walaupun ini barang bekas tapi barang ini sangat berharga. Entah dia mau apa tidak yang penting kita udah ngasih kado. Dan lagi pula nggak mungkin kan dia nggak menerimanya kalau udah diberi ya harus diterima dong,” ucapku seraya mengambil selotip untuk merekatkan kertas kado pembungkus boneka kecil kesayanganku. Hal yang sama pun dilakukan oleh Wulan.

Setelah bermenit-menit kami bergulat dengan selotip dan kertas kado akhirnya Wulan pun pamit pulang sambil memasukkan kadonya dalam saku celananya.

“Dia beneran menyayangi gantungan kunci itu. Hmmmmmmmmm.....” gumamku. Aku tidak sabar untuk melihat ekspresi Vita saat dia tahu apa yang ada dalam pembungkus kado.

Keesokan harinya...

Aku melihat Vita sedang duduk manis dibangkunya sambil melambaikan tangannya ke arahku saat aku mulai memasuki kelas.

“Cieeeeeee..... ada yang lagi ultah ni...” godaku membuat Vita tersipu malu.
“Nih ada kado buat ka...” belum selesai aku bicara ada yang sengaja melempar kadoku.
“Jangan pernah berharap kamu bisa memberi kado ulang tahun untuk Vita!” Kila
datang dengan muka merah.
“Asal kamu tahu ya... aku memberi kado ini untuk Vita, bukan untukmu!!”
suaraku tidak kalah kerasnya dengan suara Kila, tidak peduli apa yang dikatakan
orang lain. Hari ini Kila sudah keterlaluan.
“Heeey... Vita itu sahabatku, kalau kamu berselisih denganku maka kau tidak
boleh menyapa Vita!” geramnya.
“Apa hakmu disini?! Mengatur-ngatur orang kayak bos. Yang memulai masalah itu kamu bukan aku! Yang seharusnya tidak menyapa itu kamu bukan aku!” aku mulai ingin secepatnya pergi dari sini.
“Dasar bodoh!” ucapan terakhir Kila membuatku ingat sesuatu. Aku dan Wulan pernah berkata kasar kepada Kila. Tapi aku lupa apa yang kukatakan waktu itu.

Aku segera memberitahu Wulan dan berdiskusi untuk mengetahui rencana selanjutnya.

“Kita minta maaf yuk!” ajak Wulan.
“Gimana aku mau minta maaf, kan baru aja aku dan Kila perang dunia ketiga,” ujarku.
“Mau gimana lagi? Udah deh nggak ada cara lain, minta maaf aja deh. Hapus keegoisanmu itu!” Wulan menyeret tanganku dan pergi ke bangku Kila.Mata Kila kenyatakan dia tidak suka kalau aku ada di dekatnya.
“Kil kami minta maaf ya... kami mengaku salah. Kami tau kami tidak seharusnya berkata kasar kepadamu. Tolong maafkan kami ya pliiis!!!” ujar Wulan memelas.
“Aku juga minta maaf Kil,” ucapku.
“Aku bisa memaafkan kalian, tapi janji jangan diulangi lagi kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun. Okeee?” kami mengangguk segera setelah Kila mengatakan hal tersebut.

Kamipun berpelukan berharap persahabatan kami tidak akan terpecah karena masalah sepele.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

6 Responses to "Kisah Inspirasi Tentang Persahabatan "Aku, Wulan dan Kila""

  1. Waaaaaaah temenku satu ini kreatif bangettt. Bagus loohhh. Semangat putrii^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih yy. Semangat juga buat kamu

      Hapus
    2. Makasih yy. Semangat juga buat kamu

      Hapus
  2. Waaaaaaah temenku satu ini kreatif bangettt. Bagus loohhh. Semangat putrii^_^

    BalasHapus
  3. Waaaaaah putriiii baguss sekali semangat yaaa

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel