Kisah Inspiratif "Aku Generasi Unggul Kebanggaan Bangsa Indonesia"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan ini ialah hasil karya dari Adi Dwi Ashari dengan judul "Aku Generasi Unggul Kebanggaan Bangsa Indonesia". Semoga bisa memberikan kisah inspiratif bagi segenap pembaca sekalian.

Beginilah, tulisannya....

Indonesia, negara dengan kekayaan alam dan budaya yang tiada duanya, keberkahan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk kesejahteraan masyarakatnya. Pertama yang mungkin saya tulis adalah kebanggaan saya terhadap bangsa ini, bangsa yang mempunyai predikat negara kepulauan terbesar di dunia dengan populasi mencapai 260 juta jiwa.

Mengapa hal ini yang menjadi dasar penjelasan saya? Ya, kuantitas dan kualitas, sebagai kepulauan terbesar di dunia yang membuat banyaknya populasi manusia yang tersebar di pulau-pulau Indonesia (walaupun persebaran yang tidak merata) dan dari banyakanya populasi ini apakah bisa Indonesia menjadi negara ADIDAYA dengan sumber daya manusia yang berkualitas tetapi masih menjadi minoritas.

Maka dari itu, kuantitas dan kualitas yang sangat unggul sudah sangat cukup untuk membangun negara ini. Mengapa negara lain di Eropa dan Amerika atau tetangga kita Singapura dan Malaysia jauh lebih maju dan unggul dibandingkan kita? Ya, jawaban dasarnya hanya ada di kualitas.

Kuantitas kita memang jauh lebih unggul dari mereka, tapi apakah kualitas kita benar-benar bisa menyaingi mereka?. Menurut BPS tahun 2014, jumlah pemuda di Indonesia dengan rentang usia 16-30 tahun berjumlah 61,8 juta jiwa atau 24,5% dari total penduduk Indonesia.

Jumlah remaja yang begitu banyak pun belum bisa menyelesaikan permasalahan yang ada apalagi membangun Indonesia. Selain itu, pada tahun 2020-2035 yang merupakan era bonus demografi Indonesia diprediksikan jumlah pemuda di Indonesia meningkat hingga 65 persen dari total pendudukan Indonesia.

Seharusnya hal ini merupakan keuntungan bagi bangsa Indonesia untuk mencetak generasi-generasi yang berkualitas, kebanggaan Indonesia. Generasi yang dapat membangun bangsa kearah yang lebih cerah bukan kegelapan yang menyelimuti Indonesia bertahun tahun lamanya.

Generasi unggul bukanlah yang mengerti dan menguasai seluruh kemampuan yang ada. Generasi unggul dapat diartikan sebagai generasi yang unggul di bidang tertentu dan dapat memanfaatkan peluang yang ada menjadi sebuah kebermanfaatan terhadap dirinya maupun lingkungan terlebih Indonesia.

Menjadi generasi unggul apalagi kebanggaan Bangsa Indonesia bukanlah hal yang mudah apabila dipikul sendiri. Menurut saya judul essay ini alangkah lebih baiknya menjadi “Kita Generasi Unggul Kebanggaan Bangsa Indonesia”.

Mengapa? Saya yakin 65 persen dari penduduk Indonesia tersebut merupakan aset bagi bangsa ini dimana merekalah yang memiliki pemikiran-pemikiran kritis yang nantinya dapat menyelesaikan permasalahan yang ada hingga memajukan negara kita tercinta, Indonesia.

“Bahwa sesungguhnya di tangan pemuda lah permasalahan masyarakat akan dipecahkan, dan di dalam pengorbanannya lah suatu bangsa akan tetap hidup dan berkembang”. Aku, apakah mungkin menjadi generasi unggul? Apakah mungkin menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia? Sulit memang menjadi yang unggul apalagi menjadi kebanggaan bangsa, tapi bagi saya itu merupakan keharusan dan merupakan tanggung jawab bagi pemuda bangsa Indonesia.

Saya hanyalah pemuda biasa dengan impian yang selalu ada dan selalu bertambah. Lahir dari ayah dan ibu dari golongan ekonomi rendah yang sama sama berasal dari Indramayu, kabupaten kecil di ujung Jawa Barat.

Besar dari keluarga wirausaha yang tidak pernah mengenal putus asa, mungkin itu sifat yang benar-benar diturunkan oleh orang tua saya. Mandiri dari kecil yang menyebabkan saya mungkin lebih berani dengan hal baru yang menantang.

Sejak kecil saya sudah belajar berwirausaha. Saat TK saya sudah ikut berjualan kue di pasar membantu orang tua. Menginjak sekolah dasar, saya mencoba hal baru, membuat kalender sendiri dan saya jual untuk menambah uang jajan.

Walaupun jiwa wirausaha ada dalam diri saya, akademik dan prestasi masih tetap menjadi tujuan saya. Sejak sekolah dasar kelas 1 sampai kelas 6, saya selalu menjadi unggulan dengan menyandang peringkat 1. Bukan hanya itu, saya juga seringkali mengikuti olimpiade matematika walaupun belum pernah menjadi juara.

Tapi saat SD saya tidak pernah berpikir tentang orang lain saat saya berada di posisi tersebut dan yang terpikir oleh diri saya hanyalah saya harus sukses. Lanjut sekolah menengah pertama di salah satu SMP terbaik di Kabupaten Bogor, jiwa wirausaha dan prestasi saya tidak memudar. Satu hal baru , jiwa sosial saya pun mulai tumbuh, mulai sadar bahwa lingkungan saya pun penting dan perlu perhatian.

Saya pun mulai membantu teman saya yang kurang dalam hal akademik dengan melakukan belajar bersama dengan ilmu dan tenaga yang saya punya. Saya merasa selalu lebih memiliki kemampuan akademik yang lebih baik dibandingkan teman-teman yang lain sehingga saat ingin melanjutkan pendidikan, saya mendaftar di salah satu SMK terbaik di Indonesia.

Melalui seleksi yang cukup ketat dengan ribuan pendaftar, finally, saya diterima berkat usaha serta doa dan dukungan orang tua. Disinilah kehidupan asli saya dimulai. Banyak orang atau bahkan orang tua siswa beranggapan bahwa melanjutkan pendidikan ke SMK adalah hal yang salah atau gengsi atau ada yang bilang bahwa tidak dapat meneruskan ke pendidikan tinggi bahkan ada yang beranggapan bahwa lulusan SMK tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dibangdingkan lulusan SMA atau Universitas.

Itu adalah persepsi buruk yang telah menjadi mind-set “jelek” masyarakat terhadap SMK dan itu adalah hal yang tidak benar sama sekali. Melanjutkan pendidikan ke SMK adalah kesempatan terbaik untuk kita memilih melanjutkan kuliah atau bekerja.

Sekolah Menengah Kejuruan – Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor atau mereka memanggilnya “SMAKBO” adalah tempat saya belajar kehidupan yang sebenarnya. Sejak awal memasuki Masa Orientasi Siswa hingga lulus dari sekolah ini banyak sekali ilmu yang saya dapat, dari ilmu akademik, ilmu non akademik, hingga ilmu hidup.

Empat tahun saya belajar kimia disini bukan karena tidak naik kelas tapi memang sekolah ini menganut sistem 4 tahun dalam pembelajarannya demi mewujudkan lulusan yang berkualitas unggul. Saya pun merasa lulusan dari sekolah ini memiliki pengetahuan ilmu kimia yang setara dengan lulusan sarjana.

Mengapa saya berani berbicara seperti ini? Karena saya merasa masih banyak hal yang kurang dan perlu ditingkatkan serta dikaji kembali dari sistem pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi.

Hal inilah yang menjadi motivasi saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. Sudah menjadi mind-set dan tujuan saya untuk bersama-sama teman generasi unggul dalam meningkatkan kualitas generasi-generasi muda yang nantinya dapat mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

Selama di SMAKBO, banyak hal yang sudah saya dapati dari hard skill maupun soft skill. Walau hanya selalu bisa menyandang 10 besar di setiap semesternya, saya tetap bangga terhadap diri saya, karena bukan hanya akademik yang menjadi tujuan saya, tapi masih banyak hal-hal yang ingin saya capai juga.

Dari berjualan keripik talas, sosis bakar, gorengan, minuman, hingga berbisnis kaos konveksi sudah saya lakukan. Belajar di kelas memang hal yang wajib, tapi belajar tentang hidup jauh lebih penting. Tidak banyak prestasi yang bisa saya dapat disini, hanya beberapa sertifikasi profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi, sertifikasi kimia analisis dari PT SUCOFINDO dan sertifikasi teknisi laboratorium oleh VAPRO/BEPRO in Netherlands. Suatu kebanggaan bagi saya bisa ikut bergabung untuk membantu sebuah perusahaan besar (PT Paragon Technology and Innovation) dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan tersebut. Hingga permasalahan tersebut pun menjadi judul laporan magang saya untuk menyelesaikan studi saya disini.

Organisasi pun saya ikuti, 2 tahun lebih saya membantu Persatuan Pelajar dalam mensukseskan visi dan misinya. Dari staff hingga ketua dalam kepanitian pun pernah saya jalani. Belajar komunikasi menjadi hal penting bagi saya yang mempunyai pilihan untuk melamar pekerjaan atau mengikuti tes SBMPTN.

Jiwa sosial saya pun makin terpupuk disini dan saya memiliki kesimpulan bahwa terus meningkatkan intelektual tanpa diiringi dengan peningkatan jiwa sosial adalah hal bodoh. Teman saya pernah berkata “Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau hanya memperkaya diri sendiri”. Tapi memupuk jiwa sosial dan melupakan prestasi juga bukan hal yang baik, karena pendidikan adalah alat kita untuk
membangun bangsa.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Responses to "Kisah Inspiratif "Aku Generasi Unggul Kebanggaan Bangsa Indonesia""

  1. Saya suka cara pandang anda. Terus lanjutkan dan kembangkan ya mas Adi. Semoga Allah selalu meridhoi. Semangat!

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Disisi lain, saya rasa banyak anak-anak Indonesia yang memiliki kualitas lebih, bahkan sejak kecil, tidak jarang saya menemukan anak yang sudah bisa menghitung perkalian dan pembagian di umur balita, memainkan alat musik dengan handal, usia SD kelas 2 bisa menghafal peninggalan kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Indonesia. Itu salah satu ciri anak cerdas, tapi ketika mereka besar? Kebanyakan dari mereka tidak mengalami kemajuan, kurang motivasi dan kurang didukung oleh keadaan. Saya melihat dari sudut pendidikannya, memang sejauh ini pemerintah sudah mengupayakan semaksimal mungkin untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Tetapi sekali lagi, motivasi dari diri sendiri lebih berpengaruh. Pendidik bukan hanya guru disekolah, bukan hanya orangtua dirumah, tapi pengalaman. Pengalaman orang lain, terutama pengalaman diri sendiri. Cerita Anda salah satu cerita inspiratif yang mungkin dapat di-share- ke anak-anak, bagaimana jiwa entrepreneur, jiwa sosial dan jiwa kepedulian terhadap negara ini perlahan tumbuh. Semoga kelak Indonesia dapat maju, dengan adanya generasi unggul, generasi kita, dan selanjutnya. Aamiiin

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel