Kisah Inspiratif Alireza Beiranvand Penepis Tendangan Penalti Ronaldo

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah inspiratif ini disusun oleh Irving Josafat Alexander Silaban dengan judul "Alireza Beiranvand: Dari Seorang Gelandangan menjadi Penepis Tendangan Penalti Cristiano Ronaldo". Semoga cerita bintang olahraga ini bisa memberikan makna yang mendalam bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisah Inspiratifnya...

Hari Selasa tanggal 26 Juni 2018 di Stadion Mordovia Arena di kota Saransk, Rusia. Pada hari itu, sedang berlangsung pertandingan lanjutan Grup B Piala Dunia FIFA 2018 antara tim nasional Iran melawan tim nasional Portugal.

Kedua tim saling bahu membahu menyerang satu sama lain karena kedua tim sama-sama membutuhkan hasil yang maksimal untuk lolos ke babak selanjutnya. Kendati demikian, tim nasional Portugal tetap memegang kendali pertandingan terbukti dengan keunggulan 0-1 di babak pertama berkat gol Ricardo Quaresma pada menit ke 45.

Pertandingan begitu menarik hingga suatu momen penting terjadi. Tim Nasional Portugal mendapatkan hadiah penalti setelah bintang sekaligus kapten Tim Nasional Portugal yaitu Cristiano Ronaldo dilanggar oleh gelandang Tim Nasional Iran yakni Saeid Ezatolahi pada menit ke 53. Tentu saja, eksekusi penalti akan diambil oleh Cristiano Ronaldo.

Saat-saat yang menegangkan pun terjadi. Apabila penalti itu menjadi gol maka peluang Portugal memenangi pertandingan akan semakin besar dan mental Iran akan semakin anjlok begitu juga sebaliknya.

Ancang-ancang diambil oleh Cristiano Ronaldo dan bola ditendang ke arah sisi kiri gawang Iran yang dijaga Alireza Beiranvand. Tak disangka, ternyata Alireza bergerak ke arah yang tepat dan bola seketika dapat diamankan dengan baik oleh sang kiper. Mental Tim Nasional Iran seketika meningkat dan pada akhirnya Iran berhasil membalas gol melalui kaki Karim Ansarifard sehingga skor akhir pertandingan menjadi sama kuat menjadi 1-1.

Meskipun Iran pada akhirnya harus tersingkir dari Piala Dunia FIFA 2018 karena hanya berhasil menempati posisi ke 3 dengan koleksi 4 poin (beda 1 poin dengan Spanyol dan Portugal yang memiliki poin 5), namun 1 poin yang berhasil didapatkan dari Portugal pantas dikenang mengingat sang lawan adalah sang juara Piala Eropa 2016 lalu.

Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, pahlawan sesungguhnya dalam pertandingan itu adalah sang kiper Alireza Beiranvand. Penampilan heroiknya sepanjang pertandingan ditambah penyelamatan penalti membuat namanya seketika menjadi idola baru di Tim Nasional Iran. Namun di balik penampilannya yang begitu luar biasa di laga melawan Portugal tersebut, terselip sebuah kisah inspiratif yang bisa dijadikan motivasi bagi kita.

Perjalanannya menuju panggung sepakbola terbesar di dunia sungguh panjang dan berliku dan dimulai dari sebuah awal yang mustahil sampai akhirnya mendapatkan tempat utama di klub dan di Tim Nasional Iran.

Alireza Beiranvand lahir pada tanggal 21 September di daerah Sarab-e Yas, Lorestan, Iran. Alireza sendiri lahir di sebuah keluarga yang kurang berkecukupan dan nomaden sehingga keluarganya sering berpindah-pindah dari 1 tempat ke tempat lain untuk mencari uang sembari menggembala kambing.

Sejak kecil, sang kiper pun turut membantu keluarganya untuk menggembala kambing-kambing tersebut karena ia adalah anak tertua. Kehidupannya yang sedemikian rumit ini menjadikannya sebagai seorang anak yang sangat mandiri.

Sebagai anak-anak yang masih kecil, sepakbola selalu menjadi pelariannya dari kehidupannya yang begitu keras. Alireza sempat mendapatkan kesempatan berlatih bersama klub lokal di daerah Sarab-e Yas sebagai seorang striker hingga suatu hari, kiper klub tersebut cedera panjang sehingga digantikan posisinya oleh Alireza.

Tak dinyana, Alireza nyaman bermain sebagai kiper sehingga dia seterusnya bermain di posisi itu di klub tersebut. Hingga pada akhirnya, ia melihat bahwa sepakbola adalah sebuah cara untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Sayang, cita-cita Alireza untuk menjadi pemain sepakbola profesional ditentang oleh ayahnya. Sebagaimana orang tua yang masih sangat konservatif, ayah Alireza melihat bahwa sepakbola bukanlah suatu pekerjaan yang bagus.

Bahkan tak jarang, Morteza, nama ayah Beiranvand, memarahi anaknya ketika kedapatan bermain sepakbola. “Ayah saya tidak menyukai sepakbola dan meminta saya mencari pekerjaan lain. Ia bahkan menyobek baju dan sarung tangan saya sehingga saya harus bermain tanpa sarung tangan.” kenang Alireza.

Meskipun sudah dilarang oleh sang ayah, namun tekad kuatnya untuk merubah nasib keluarganya melalui sepakbola membuat Alireza tetap setia bermain sepakbola. Kekecewaannya terhadap sosok sang ayah membuatnya berani meninggalkan kampung halamannya menuju ibukota Iran, Teheran demi menggapai mimpinya menjadi pemain sepakbola profesional. 

Alireza lalu meminjam uang kerabatnya lalu pergi menggunakan bus menuju Teheran. Di dalam perjalanan menuju ibukota, dia bertemu dengan Hossein Feiz yang mengelola tim lokal Naft Tehran. Hossein bersedia membantu Alireza masuk ke skuadnya asalkan membayar uang 200 ribu toman (sekitar 500 ribu rupiah).

Sialnya, Alireza tidak mempunyai uang sebanyak itu. Untungnya, dengan bujuk rayu Alireza, akhirnya sang pelatih memberikan Alireza kesempatan untuk berlatih di tim junior Naft Tehran. Namun tetap saja, Alireza harus membiayai kebutuhannya sendiri selama berada di Teheran. 

Berbagai pekerjaan pun akhirnya ia geluti demi mencukupi kebutuhannya sehari-hari seperti menjadi tukang cuci mobil, buruh di pabrik penjahit, penyapu jalan raya hingga menjadi pelayan di sebuah restoran.

Pada prosesnya, Alireza kesulitan menemukan tempat tinggal yang cocok dengan kondisi keuangannya sehingga dia terkadang memilih tinggal di tempat yang kurang cocok untuk ditinggali seperti di pabrik tempatnya bekerja, bagian luar ruang ibadah klubnya, hingga di pintu luar tempat latihan klubnya.

Ia sebenarnya ditawari untuk menginap di tempat seorang salesman namun ia menolaknya. “Saya tidur di depan pintu klub dan ketika bangun, saya sadar ada beberapa koin yang ditaruh di dekat saya. Mereka mengira saya adalah seorang gelandangan! Ya, tidak masalah karena pada akhirnya saya bisa makan makanan yang sangat enak setelah sekian lama.” kenang Alireza.

Perjalanannya di klub lokal Naft Tehran pun tak berjalan mulus. Pada awalnya ia sempat ditolak sebelum diberi kesempatan. Ia sempat dipecat karena ketahuan berlatih bersama klub lain dan sempat mengalami cedera bahu yang cukup panjang. Dia juga sempat mencoba peruntungan di klub lokal lain bernama Homa FC, Namun Alireza gagal karena pelatih di klub tersebut tak tertarik untuk merekrutnya.

Untungnya, pelatih di Naft Tehran memberinya kesempatan kedua dan ia tak menyia-nyiakannya. Dia tampil luar biasa di tim U-23 Naft Tehran, ia kemudian dipanggil ke tim utama dan tak lama menjadi kiper utama di klub tersebut.

Pada 2011, ia langsung membawa klubnya finis ketiga di Liga Iran (Persian Gulf League) dan meraih tempat di Liga Champions Asia. Pada tahun 2014, dia memperpanjang kontraknya di Naft Tehran. Sampai pada akhirnya di tahun 2016, klub terbesar di Iran yakni Persepolis merekrutnya. Dia tidak membuang kesempatan itu dan langsung tampil moncer di klub barunya dengan memecahkan rekor tak kebobolan terlama di Liga Iran pada tahun 2017 serta membawa Persepolis menjuarai Liga Iran di tahun yang sama dan lolos ke babak fase grup Liga Champions Asia 2018.

Untuk karier di timnas, Alireza sendiri sempat tampil di timnas U-23 Iran pada tahun 2011 hingga 2013. Dia jugasempat masuk dalam seleksi Tim Nasional Iran di Piala Dunia 2014 namun gagal terpilih.

Namun, pada akhirnya, berkat penampilan moncernya di klub membuatnya terpilih langsung menjadi kiper utama Iran menggantikan posisi Alireza Haghigi di Piala Dunia 2018. Pada akhirnya, Piala Dunia 2018 di Rusia merupakan buah dari hasil kerja kerasnya selama ini.

Walaupun gagal membawa Tim Nasional Iran ke babak selanjutnya, namun penampilannya yang baik dengan hanya kebobolan 2 gol di grup yang diisi raksasa Eropa yakni Portugal dan Spanyol serta keberhasilannya menepis tendangan penalti Cristiano Ronaldo membuat dirinya memperoleh tempat tersendiri di hati penggemar sepakbola di seluruh dunia.

Perjuangan Alireza Beiranvand menjadi seorang pesepakbola profesional sudah sepatutnya menjadi acuan bagi kita terutama yang bergelut di bidang sepakbola. Hanya kerja keras dan sikap profesionalitaslah yang akan menjadikan kita menjadi orang yang sukses. Jangan pernah lelah dalam mengejar mimpi untuk meraih cita-cita. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

10 Responses to "Kisah Inspiratif Alireza Beiranvand Penepis Tendangan Penalti Ronaldo"

  1. sungguh menginspirasi😊😊

    BalasHapus
  2. Cerita yang sangat luar biasa

    Terima kasih atas inspirasinya😄😄😄

    BalasHapus
  3. Cerita nya sangat menginspirasi dan membangun semangat orang lain untuk tidak mudah putus asa 😄😄

    Terimakasih sudah membagikan tulisannya 😃

    BalasHapus
  4. Terima kasih atas inspirasinya😊😊

    BalasHapus
  5. Terima kasih atas inspirasinya

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel