Kisah Inspiratif "Bahagia yang Sederhana"


KisahTerbaik.Com- Tulisan tentang kisah inspiratif dengan judul "bahagia yang sederhana" ini merupoakan cerita yang dikirimkan oleh Febby Curie Kurniawan. Semoga kisah-kisah ini mampu memberikan dorongan yang baik bagi pembaca sekalian.

Begini, kisahnya...

Bahagia yang Sederhana

Apa itu kebahagiaan? perpaduan antara rasa kebebasan berekspresi dan kelegaan dihati sehingga menghasilkan sebuah senyuman di wajah. Makna kebahagiaan untuk setiap manusia berbeda. Dengan memikirkan hal yang membuat kita senang itu juga kebahagiaan bukan?.

Aku

Makna bahagia bagiku ketika aku dapat berekspresi bebas, meluapkan apa yang dirasa hati dan otakku. Kemampuan jari-jariku mungkin tidak seberapa, yang dapat kulakukan hanya membuka laptopku dan menumpahkan ekspresi jiwaku.

Awalnya aku tanpa tujuan dan pada akhirnya kata hatiku yang menuntunku masuk ke dalam dunia “jurnalistik”. Ya! Aku pada akhirnya memilih menempuh pendidikanku di jurnalistik. Salah satu elemen di jurnalistik adalah menulis.

Aku baru menyadari bahwa aku ternyata suka menulis, dengan menulis rasanya aku mampu menuangkan isi hatiku. Namun menulis bukanlah hal yang mudah, tetapi bukanlah hal yang sulit juga. Masakan yang enak membutuhkan resep yang tepat, sama seperti menulis yang memiliki resepnya juga.

Bagiku resep sempurna untuk menulis adalah kesungguhan hati. Ketika kita memiliki kesungguhan maka yakinlah bahwa cerita yang dibuat akan mengalir dengan sendirinya. Menjadi “pembuat cerita” yang memiliki kuasa atas jalan cerita yang kita buat tidaklah sembarangan juga. Aku pun belajar dan
mengikuti perkuliahan yang sesuai dengan passion ku.

Semua hal tidak akan terjadi dengan mudah. Awalnya aku memiliki keraguan apakah benar tujuan jalan pendidikanku? Apakah aku sudah sesuai dengan kemampuanku? Bagaimana jika aku hanya mengecewakan kedua orangtuaku? Begitu banyak ketidakpastian ketika di masa aku harus menentukan jurusan apa yang akan kujalani.

Jujur saja, aku takut untuk mengambil keputusan besar dalam hidupku ini. Aku sering merenungkan dimana bakatku atau mungkin hobi yang bisa menuntunku ke jurusan yang tepat. Rasanya meski sudah kupikirkan matang-matang tetap rasanya aku tidak menemukan jawaban.

Ketika masa kebingungan itu, ada seseorang yang menjadi tumpuan hidup datang kepadaku dan mengingatkan “ Apapun itu jangan lupa untuk berdoa, minta Tuhan berikan jalan yang terbaik”. Sosok itu adalah mamaku, mama selalu mengigatkan untuk selalu berdoa dan meminta yang terbaik dari Tuhan, itu menjadi penguat untukku.

Terkadang aku juga berdiskusi dengan my hero , yang tidak lain papa. Papa yang dulu sempat mengambil perkuliahan memberiku saran dan menjelaskan kurang lebih bagaimana jalan yang nanti kutempuh. Memang saat itu aku hanya bocah SMA yang kurang paham tentangbperkuliahan.

Hari keputusan semakin dekat, muncullah beberapa kandidat pilihan jurusan yang terbesit di pikiranku. Hukum, manajemen, jurnalistik, perhotelan. Setidaknya aku sudah mendapat sedikit gambaran kasar. Pada akhirnya tersisa dua kandidat pilihan, manajemen dan jurnalistik.

Memang kedua orangtuaku sama sekali tidak memaksakan dan memberikan keputusan semua di tanganku. Jujur saja aku takut untuk mengambil keputusan bahkan untuk beberapa kali aku sempat menyuruh papa yang memilihkan jurusan untukku.

Ada bagusnya memang ketika kedua orangtuaku memberi kebebasan, tetapi rasanya di hati bagaikan orang tersesat yang entah tak tau arah dan tujuan. Kalau dilihat-lihat memang sepertinya papa lebih condong untuk aku mengambil manajemen.

Namun hatiku seperti sedikit condong ke arah jurnalistik, tapi memang sih aku lebih ke jurnal karena ingin menghindar dari menghitung angka. Mulai kucari informasi mengenai dunia jurnalistik seperti apa. Ternyata jurnalistik bisa membuka peluang menjadi penulis. Aku tau aku bukanlah seorang penulis profesional, tapi aku sangat senang ketika aku mampu berekspresi melalui tulisanku.

Aku pun berdiskusi kembali bersama papaku, karena jurusan jurnalsitik agak terdengar asing bagi papaku makanya aku menjelaskan kulit luar dari jurusan jurnalistik dan prospek kerja kedepannya. Kulihat wajah papaku, sepertinya papa meragukan pilihanku.

Memang aku juga sempat sedikit ragu, tapi aku berpikir kalau aku saja tidak yakin dengan pilihanku bagaimana orang lain bisa yakin denganku .Aku pun membulatkan niat, siap untuk menerima resiko kedepannya, yang terpikir olehku kalaupun aku mungkin salah di jalan setidaknya aku tidak menyalahkan orang lain karena semua keputusan ada di genggamanku.

Bukan hanya keraguanku saja yang membuat sulit, kerabat dekatku pun juga meragukan pilihan terjun ke jurnalistik ini. Aku paham mereka memandang sebelah mata, aku hanya bisa yakin pada pilihan hatiku dan membuktikan kepada mereka.

Ketika suatu hal telah menjadi kebahagiaan untuk kita, maka secara naluri manusia kita akan berusaha mempertahankannya. Mempertahankan kebahagiaan kita bukanlah hal yang mudah. Bahkan bahagia untuk diri kita pun terkadang harus kita lewati bersama air mata.

Begitu pun denganku, aku memutuskan untuk mempertahankan kebahagiaanku melalui ekspresi tulisan. Aku hanyalah seorang mahasiswa yang bisa menuangkan jiwaku melalui karya tulisan. Aku bukanlah seorang penulis terbaik, tapi aku selalu mengusahakan yang terbaik untuk karya tulisannku. 

Semua kulakukan untuk membuktikan kepada dunia yang memandang sebelah mata tentang kebahagiaan kecilku ini. Setidaknya curahan hatiku dapat meyakinkan orang lain untuk mempertahankan kebahagiaan mereka dan mengejar impian.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Bahagia yang Sederhana""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel