Kisah Inspiratif "Empat Bulan Avontur sang Volunter"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tullisan cerita inspiratif ini ditulis oleh Azhari Nurjaida dengan judul "Empat Bulan Avontur sang Volunter". Dalam kisahnya ia membagikan pengalaman berharga bagi setiap pembaca.

Begini, Kisah Inspiratifnya....

Sejak kecil atau lebih tepatnya remaja, aku memiliki impian untuk menjadi seorang relawan. Entah itu guru, dokter, perawat, atau apa pun, yang penting bekerja secara sukarela. Aku sering melihat acara-acara di televisi dan membaca koran yang membahas tentang para relawan hebat yang bekerja dengan hati, tanpa henti, untuk memberi inspirasi kepada korban bencana alam atau dalam rangka kegiatan kemanusiaan lainnya. Di mataku, mereka adalah pahlawan yang sangat luar biasa.

Aku masih ingat, pada suatu hari di mana matahari hampir tenggelam di ufuk barat, aku mengungkapkan cita-cita di depan orang tuaku saat kami sekeluarga--aku, Ayah, Ibu, dan adik laki-lakiku--sedang menonton serial televisi kesukaan kami.

Saat itu aku berkata, "Yah, Bu, aku ingin menjadi relawan."

Ibu sedikit tersentak. Aku bisa melihatnya. Ibu pasti khawatir, takut terjadi apa-apa bila aku menjadi relawan. Apalagi, relawan biasanya ditempatkan di tempat terpencil atau wilayah yang sedang bermasalah--walau tidak sepenuhnya begitu. "Kamu yakin?"

Aku mengangguk mantap.

Ibu terdiam sejenak, lantas tersenyum. Aku masih ingat senyumannya, sangat tulus. "Itu pekerjaan mulia, ibu selalu mendukungmu."

Aku tersenyum, senang, walau aku tahu Ibu masih menyimpan kekhawatiran yang besar dibalik mata teduhnya.

"Tidak ingin jadi dokter?" Ayah bertanya. Aku tahu betul, Ayah sangat ingin anaknya menjadi seorang dokter sukses.

"Aku ingin menjadi seorang dokter relawan, Yah," ucapku meyakinkan, "yang pergi ke tempat di mana orang-orang membutuhkan bantuanku. Itu impianku selama ini."

Ayah akhirnya mengembuskan napas pelan. "Ya sudah. Ayah akan berusaha mendukung apa pun keputusanmu."

Dari situlah aku tersenyum lebar. Mimpi yang selama ini baru kutatap di langit-langit kamar, akan kuusahakan untuk digenggam erat-erat.

Beragam usaha dan doa telah kupanjatkan. Berbagai tantangan, hambatan, dan ujian telah berhasil aku lalui. Entah itu karena biaya kuliah yang belum mencukupi, meyakinkan Ayah dan Ibu bahwa aku tidak akan menyesal dengan pilihan ini, atau sekadar menengkari hal kecil dengan Adik yang terpaut jarak sepuluh tahun denganku.

Sekarang, aku sudah berhasil menjadi seorang dokter volunter. Sudah satu tahun lebih tujuh bulan aku bertahan pada profesi ini. Pekerjaan yang sudah lama kunanti, akhirnya bisa dipeluk dengan sepenuh hati.

Aku tahu betul, ada saat di mana seseorang berada pada titik terendahnya. Aku kira, aku sudah melewati titik itu ketika kuliah kedokteranku sempat terhenti karena biaya yang terbatas kala itu, yang membuatku bersusah payah mencari uang ke sana ke mari. Akan tetapi, aku salah ....

Satu tahun yang lalu, tanggal dua puluh tiga, adalah hari ulang tahun Adik. Dia laki-laki. Usianya berselisih sepuluh tahun denganku. Ketika kami berada dalam satu ruangan, kami selalu adu mulut, cekcok, apa pun kita perdebatkan dan tidak ada yang mau kalah. Lucunya, saat hari ulang tahun, entah itu ulang tahunku atau Adik, kami tiba-tiba berubah menjadi pasangan kakak-adik yang baik, menjadi bro-sist goals banyak orang. Itu adalah alasan kenapa aku sangat menantikan hari ulang tahun kami.

Aku mencari sinyal ke sana-sini, tidak sabar menelepon orang tuaku di pulau seberang. Aku sedang ditugaskan di sebuah kampung yang terkena bencana longsor yang cukup besar, sedang ramai diperbincangkan berita televisi. Sangat sulit mencari jaringan di tempat ini.

"Apa kabar, Nak? Bagaimana kabar orang-orang di sana?"

Aku tersenyum. Akhirnya tersambung. Itu suara Ayah, orang yang sempat menolak mimpiku dan sekarang selalu mendoakan yang terbaik untukku. "Alhamdulillah, Yah. Semuanya lancar. Kabar semuanya bagaimana di sana?"

Ayah tertawa. "Alhamdulillah, semuanya senang. Kan, sekarang Adik bertambah umur."

"Aku ingin bicara dengan Adik."

"Tunggu sebentar. Sedang cuci muka, baru bangun dia." Terdengar olehku, ayah berteriak memanggil Adik.

"Kak, cepat pulang!!" Suara berat itu kini berganti dengan suara cempreng khas Adik.

"Hei, kau sudah besar sekarang. Hahahaha."

"Saat pulang, jangan lupa bawa hadiah."

"Kakak pulang dua minggu lagi. Sabarlah."

"Jangan lama-lama. Kak, sekarang aku mau ke toko buku!"

"Jangan bercanda."

"Serius! Aku ingin rajin baca buku. Sekarang sudah besar."

Aku terkejut sekaligus menahan haru. Adikku ini sejak dulu sangat alergi dengan buku. Buku pelajaran sekolah saja hanya dibaca bila disuruh ibu guru, selebihnya tidak.

"Nanti kakak belikan buku kalau begitu."

"Yang banyak, Kak!"

"Iya--"

Telepon terputus. Jaringannya hilang. Aku mengembuskan napas pelan. Saat berusaha menelepon kembali, seseorang memanggilku. Oh, dia sahabatku. Sahabatku semenjak kami bersama-sama memulai pengabdian sebagai relawan. Dia bilang, sekarang saatnya sarapan bersama masyarakat sekitar. Mau tak mau, aku pun berjalan mengikutinya, melupakan sejenak obrolan dengan keluarga yang selalu kurindukan.

Hari itu berjalan baik, malah terasa lebih baik. Malam hari, setelah seluruh pekerjaan selesai, aku kembali menelepon keluargaku, akan tetapi jaringan masih saja tak mendukung. Aku pun memutuskan untuk tidur dan berniat menelepon mereka besok pagi. Aku sungguh tak sabar mendengar celoteh Adik mengenai buku yang sudah ia beli.

Besok harinya, saat aku hendak menelepon keluargaku, ponselku lebih dulu berbunyi. Dari nomor yang tidak aku kenal. Aku ragu, namun akhirnya kuputuskan untuk menjawab telepon itu.

"Halo? Dengan siapa ini?"

Dengan bunyi yang terputus-putus, orang di seberang telepon pun menjelaskan maksud dirinya meneleponku dan saat itulah aku merasa ... duniaku hancur. Kakiku lemas, membuatku terduduk di tanah lembap. Bibirku bergetar. Air mataku bersiap untuk meluncur. Kau tahu? Itu telepon dari rumah sakit. Orang itu telah membawa kabar duka. Duka yang lebih dalam dari samudera. Membuatku merasa jatuh ke dalam jurang yang gelap dengan sedikit oksigen yang membuatku sesak.

Ayah, Ibu, dan Adik sudah tak ada. Mereka terlibat kecelakaan mobil kemarin. Pihak rumah sakit tak tahu pasti, tapi aku pikir mereka sedang pergi--atau kembali—dari toko buku, membeli hadiah untuk Adik yang berulang tahun. Tak menunggu lama, air mataku mengalir dengan sangat deras. Sungguh, aku tak pernah menangis sedahsyat ini sebelumnya. Aku tak pernah membayangkan hari itu akan terjadi--siapa pula yang bisa dan ingin membayangkan hari seperti itu datang menghampiri. Aku baru berbicara dengan mereka kemarin dan sekarang ... aku tak bisa melakukannya lagi. Semenjak peristiwa itu, aku membenci pekerjaanku, aku benci jadi relawan.

Relawan. Menjadi seorang relawan telah merenggut nyawa Ayah, Ibu, dan Adik. Itu yang tersirat dalam pikiranku. Aku tak henti-henti menyalahkan diri. Aku kehilangan waktu berharga bersama mereka karena aku menjadi relawan. Aku kehilangan semua yang aku cintai saat aku menjadi relawan. Ketika itu aku berpikir, lebih baik berada di mobil itu saat kejadian agar aku mati juga bersama mereka. Aku tidak perlu susah payah menanggung rasa sakit ini bila ada di sana bersama mereka. Bukannya di tempat ini, membantu dan menemani orang-orang yang sebelumnya tidak sama sekali kukenal. Selama ini aku sudah jauh dari keluarga, terpisah jarak ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya. Dan kali ini, berapa kilometer jarak yang memisahkanku dengan mereka? Ini semua memang salahku. Salahku menjadi seorang relawan.

Bulan-bulan itu adalah masa tersulit yang pernah kurasakan. Satu bulan semenjak kabar tersebut sampai di telinga, aku tak lagi seperti dulu. Tak semangat bekerja, lebih banyak termenung. Untungnya, semua teman dan sahabatku paham, aku masih dalam keadaan berkabung. Tentunya, tak mudah menerima kenyataan yang sangat pahit seperti ini. Apalagi, bukan hanya satu orang yang pergi, tapi semua yang berarti.

Bulan kedua, temanku menyarankan agar aku rehat sejenak, pergi ke kampung halaman. Namun, aku menolak. Pulang ke rumah akan membuatku semakin gila, karena setiap sudut tempat di sana bisa mengingatkanku dengan kenangan-kenangan bersama orang-orang yang aku cintai itu. Ada yang menyarankan liburan, tapi aku sama sekali tak berminat untuk berlibur, tak ada motivasi.
Bulan ketiga, puncak-puncaknya aku frustrasi. Aku kehilangan selera makan, tak mau pergi ke mana-mana. Sebenarnya, aku bingung. Semenjak kabar duka yang membuatku membenci relawan, seharusnya aku langsung saja mengundurkan diri dari pekerjaan itu. Tapi, anehnya, sudah tiga bulan aku bertahan pada pekerjaan ini. Setiap terbesit pikiran hendak mundur, aku seperti ditahan oleh sesuatu yang sangat kuat, sehingga niat itu aku urungkan lagi dan lagi.

Di akhir bulan ketiga, sahabatku sudah tak tahan melihatku seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup—memang begitu kenyataannya. Ia setiap hari datang ke ruanganku—kadang datang bersama beberapa anak-, memaksaku untuk ikut bersamanya menemani anak-anak bermain—dulu, aku adalah orang paling bersemangat dalam hal ini. Sebenarnya, sekarang pun aku sangat ingin menerima ajakannya, bermain dan belajar bersama anak-anak, daripada terus menatap kesedihan yang hanya membuatku lelah. Namun, lagi-lagi aku menolak. Mungkin egoku terlalu besar. Aku selalu merasa sudah berada di titik terendah. Titik di mana aku tak mungkin bisa membangun secercah harapan. Titik di mana aku terperosok ke tempat yang tak dapat dijangkau orang-orang. Titik di mana aku merasa apa pun yang kulakukan tidak akan membantuku keluar dari jurang gelap ini. Titik di mana ... hatiku sudah membeku—atau mungkin sengaja kucegah agar tak mencair.

Bulan ke-empat, aku sudah tak tahan. Lelah meratapi nasib, capek menyalahkan diri sendiri selama tiga bulan. Hei, tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar. Saat sahabatku datang ke ruanganku—kegiatan rutin yang ia lakukan sebelum sarapan--, aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Sahabatku itu senang bukan main. Aku mulai menjalani rutinitas kembali dengan kinerja yang tidak terlalu buruk--selama tiga bulan terakhir, aku mengerjakannya dengan sangat buruk. Aku mengikuti program pemberian vaksin, memberi sosialisasi pada masyarakat, dan melakukan kegiatan lainnya. Aku mulai membangun lagi semangat yang sempat runtuh, namun aku tidak yakin kalau senyum—tulus—ku bisa ditanam kembali.

Bulan ke-empat, tanggal lima belas. Aku masih terlelap sampai seseorang membangunkanku saat itu. Aku mengerjap-ngerjap, menatap seorang anak laki-laki yang lucu—mengingatkanku pada Adik.

"Ada apa? Apa ada masalah?" tanyaku. "Sakit?"

Anak itu menggeleng. Ia menarik lenganku.

"Eh?" Aku terlonjak. "Tunggu sebentar." Aku masih menguap.

Aku pun berjalan gontai mengikuti anak itu. Sampai akhirnya ...

"KEJUTAN! SELAMAT ULANG TAHUN!!"

Mataku yang semula masih terkantuk-kantuk kini melebar. Di seberang, aku bisa melihat sahabatku berdiri sambil memegang sebuah kue kecil, anak-anak lincah yang masing-masing menggenggam sebuah balon, dan teman-teman relawanku yang lain. Air mataku perlahan menitik. Aku menangkupkan tangan ke wajah. Menangis tersedu. Rasa haru menyelimuti. Aku tak ingat hari ulang tahunku. Aku hanya memikirkan hal yang tidak ada gunanya sama sekali selama beberapa bulan ini.

Sahabatku menghampiri lalu memberi pelukan. Aku bisa merasakan satu butir air mata mengalir di pipinya. Dia mempersilakanku duduk, mempersembahkan sebuah penampilan dari anak-anak dan rekan-rekanku yang lain. Dia sendiri duduk di sampingku, menemani.

Aku tersenyum kecil—akhirnya. Aku tersenyum dan sesekali tertawa melihat anak-anak yang sedang bernyanyi. Di sela tampilan, sahabatku berkata, "Kau pasti tahu, kebanyakan dari mereka—anak-anak itu—memiliki cerita hidup yang pedih, padahal mereka masih anak-anak. Mereka sejatinya sudah merasakan pahit getir kehidupan. Akan tetapi, lihatlah, mereka bernyanyi seolah hidup mereka selalu sejahtera, tanpa cobaan setitik pun."

Aku tahu. Aku tahu itu. Anak-anak itu mungkin memiliki nasib yang lebih malang dari diriku. Tapi, kau tak merasakan apa yang kurasakan, Sahabat. Berkata itu memang tidak sulit, tapi melakukannya tak pernah semudah itu.

"Aku memang tidak tahu rasanya kehilangan seperti yang kaurasakan. Tapi aku berusaha mengerti. Untuk memahami seseorang, kita tak melulu harus dan bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan, bukan?." Sahabatku menggenggam tanganku dengan erat. "Kau mungkin kehilangan keluargamu, tapi tahukah? Jika kau membuka mata lebar-lebar, membiarkan jutaan harapan memasuki dirimu, kau akan melihatnya. Kau akan melihat kami. Ya, kami. Perhatikanlah. Mungkin selama ini kau hanya menatap kami sebagai rekan kerja atau pasien atau apalah itu. Tapi sekarang, kau akan melihat kami sebagai keluarga. Harus. Kami semua. Hei, kamu mungkin kehilangan satu, tapi masih ada ribuan di sini yang mendukungmu. Kita semua—sekali lagi—adalah keluarga."

Butuh waktu beberapa detik untuk meresapi semua ucapannya. Aku terdiam. Benar. Itu semua benar. Aku kembali keluarkan tangis. Aku memeluk sahabatku erat-erat. Aku ... aku tidak akan pernah kehilangan keluarga yang selalu menyayangi dan mencintaiku. Aku memiliki sahabat, teman-teman, dan yang lainnya. Ayah, Ibu, dan Adik juga tidak serta-merta pergi dari kehidupanku. Mereka ... selalu singgah di hatiku dan tak akan pernah melupakanku.

Bulan-bulan itu adalah proses. Proses bangkit dari titik yang lebih rendah ke titik di atasnya. Aku tidak bisa mengatakan bahwa itu semua adalah titik paling rendah, karena aku tak tahu peristiwa apa yang akan menyambutku di depan sana. Siapa tahu, ujian lebih besar telah menanti untuk dilalui.

Sekarang, sudah satu tahun lebih tujuh bulan aku menjelma menjadi seorang relawan. Kali ini, aku mengerti. Sebagai seorang relawan, aku bukan hanya berusaha untuk membantu banyak orang tanpa pandang materi, tapi juga mendapatkan beragam inspirasi. Dari merekalah--para penduduk setempat, anak-anak, teman-teman--, aku mendapat banyak hikmah dan pelajaran yang sangat berarti.

Aku kembali bekerja dengan sepenuh hati. Sekarang, senyumku tak lagi pudar. Semangat terus berkobar. Aku cekatan membantu orang-orang yang sakit dan terluka. Aku bergembira saat mengajarkan anak-anak berhitung dan membaca. Aku menjadi orang paling cerewet ketika bercengkerama dengan teman-teman.

Ya, semua orang memang memiliki titiknya masing-masing. Kau melihat seseorang berada di titik tertinggi, membuatmu kagum dan berkata, "Enak sekali hidupnya, sedangkan hidupku bla bla bla.". Tapi coba lihat, titik yang ia tempuh sebelumnya. Dia berada di titik yang lebih rendah dari titikmu saat ini, bisa dibilang sangat rendah. Dan ajaibnya, orang itu berhasil naik hingga titiknya sekarang. Jadi, kau tak bisa mengatakan bahwa orang itu memiliki kehidupan yang serba menyenangkan, serba mudah, tak ada secuil pun coretan kelam dalam lembaran hidupnya. Kau juga tidak bisa bersua bahwa hidupmu serba menyedihkan, kekurangan, tak ada seremeh pun kebahagiaan yang terpancar. Saat ini, kau hanya belum mencoba untuk naik. Cobalah! Proses akan selalu menyenangkan jika kau menikmatinya.

Aku sendiri sudah mencoba. Empat bulan ini adalah avonturku--perjalanan melewati titik-titik yang sulit sebagai seorang volunter. Dan syukur, aku berhasil. Sekali lagi, Kawan, jangan biarkan rasa putus asa dan kesedihan menguasaimu! Kau yang harus menguasai mereka, enyahkan, dan ganti menjadi jiwa pantang menyerah, tangguh, dan dipenuhi harapan baru yang bermanfaat bagi dirimu dan orang-orang di sekitarmu!

Semoga selalu bahagia:)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Empat Bulan Avontur sang Volunter""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel