Kisah Inspiratif "Hal Kecil yang Bermakna Besar"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita inspiratif ini berjudul "Hal Kecil yang Bermakna Besar" yang ditulis dan disajikan oleh Nurul Farida. Semoga karya ini dapat memberikan wawasan dan juga kesan berharga bagi segenap pembaca semuanya.

Begini, Kisah Inspiratifnya...

Keajaiban hidup akan selalu ada pada mereka yang percaya. Hidup di dunia ini penuh dengan keajaiban. Keajaiban yang tentu datangnya dari Allah Swt. Keajaiban yang membuat bingung semua orang akan keberhasilan maupun kegagalan.

Mungkin bagi sebagian orang, keajaiban hanya di sangkut pautkan dengan keberhasilan dan kesenangan. Tidak pernah ku mendengar seorang yang mengatakan "wah ajaib saya gagal". Padahal kegagalan sejatinya adalah jalan jauh yang harus di tempuh untuk menuju kesuksesan. Jalan jauh yang akan membuat kita lebih bahagia jika sampai pada tujuan.

Sama halnya saat kita ingin pergi ke suatu tempat yang sama dengan dua pilihan jalan yaitu yang satu dekat dan satunya lagi jauh. Pasti pilihannya adalah jalan yang lebih dekat. Padahal dengan melewati jalan yang lebih jauh, kita bisa melihat keindahan alam selama perjalanan atau bahkan keramahan warganya saat kita singgah sebentar. Seperti itulah kegagalan, melelahkan tapi banyak yang di dapat. Namun kebanyakan dari kita lebih menginginkan suatu yang cepat, mudah, dan lancar.

Mungkin karena kita lupa, bahwa hampir semua cerita tentang kesuksesan selalu memiliki kesimpulan yang sama yaitu mereka yang berhasil mewujudkan mimpinya adalah mereka yang terus berusaha bangkit dari kegagalan.

Aku teringat pada masa SMP dulu, saat itu aku kelas IX. Waktu itu di sekolah kami di adakan sosialisasi dari salah satu sekolah menengah atas yang terdapat di kotaku. Ku dengarkan penjelasan pembicara di depan hingga selesai dan saatnya sesi pertanyaan untuk para peserta yang juga akan mendapatkan hadiah bagi penjawab.

Pertanyaan pertama ku biarkan berlalu, begitu juga dengan pertanyaan kedua. Sampai pada pertanyaan ketiga yang di lontarkan. Sudah dua kali dijawab, tapi tak ada yang dapat menjawabnya dengan benar.

Hingga aku pun geregetan sendiri karena aku tahu jawabnya, tetapi tak berani ku mengangkat tangan ini untuk menjawab. Ragu dalam hatiku, takut jika jawabku pun salah. Hingga akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menjawabnya, dan ternyata jawabanku benar.

Padahal itu hanya pertanyaan biasa, tapi aku merasa sangat gugup pada saat itu. Mungkin karena aku adalah anak yang pendiam. Bahkan saat di SMA kami diminta untuk menuliskan kekurangan dan kelebihan teman kami, mayoritas teman-temanku menulis kekuranganku adalah pendiam. Padahal waktu itu aku tidak sependiam saat masih SD atau pun SMP.

Aku pun mendapat hadiahnya, sebuah buku kecil yang berukuran panjang 15 cm dan lebarnya 11 cm. Aku merasa malu saat melihat buku itu, malu karena kegugupanku, dan malu pula pada keberanianku.

Entahlah mengapa, tapi dengan adanya buku itu telah membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku adalah anak yang pemberani. Mungkin buku itu kecil ukurannya, tapi buku itu besar maknanya.

Ada beberapa harapan yang ku tulis pada buku itu dan ternyata ada yang tercapai. Aku sama sekali tak mengangka. Dulu saat menuliskannya itu hanyalah sebuah harapan kecil, harapan yang aku sendiri tak tahu apa bisa ku capai. Mungkin ini adalah salah satu dari banyaknya nikmat Allah yang di amanahkan padaku.

Masa SMP telah ku lalui dan saatnya untuk melanjutkan pada tingkat SMA. Di tingkat inilah aku tumbuh, tumbuh menjadi seorang yang harus lebih baik dari sebelumnya. Di tingkat ini jugalah aku mengembangkan akademikku. Pernah ku ikuti KSM (Kompetisi Sains Madrasah) bidang studi kimia tingkat kota saat duduk di kelas XI semester 1. Saat itu aku belum mendapat apa pun selain pengalaman, dalam kata lain aku tidak menang. Hehe...

Tapi tak apalah, beberapa bulan kedepan sekolah kami akan mengadakan seleksi KSM tingkat sekolah. Aku pun menyambutnya dengan semangat, banyak buku kimia yang ku pindam di perpus saat itu dan ku baca pada waktu luang.

Hari H pun datang, kami mengikuti seleksi ini dengan mengerjakan semua bidang studi. Karena aku adalah anak IPA, jadi bidang studi yang harus dikerjakan adalah kimia, fisika, matematika, dan biologi.

Aku yang sedari awal hanya mempelajari bidang studi kimia, menjadi bingung karena akan ku jawab apa soal bidang studi yang lain. Tapi kata temenku kalau niatnya di kimia, gak usah pikiran yang lain fokus saja sama kimianya.

Mendengar hal itu aku mulai tenang. Setelah soal dibagikan, ku ucapkan doa terlebih dahulu, meminta agar diberi kemudahan dalam mengerjakannya. Setelah itu langsung ku ambil soal dan ku kerjakan dengan semangat. Terserah apa hasilnya, yang penting aku telah berdoa dan berusaha sebaik mungkin.

Hasil seleksi ini akan di umumkan pada hari sumpah pemuda yaitu 28 oktober. Hari demi hari pun berlalu, tak di sangka pengumuman seleksi tinggal menghitung menit. Sayangnya aku tidak menjadi yang terbaik, tetapi aku masuk sepuluh besar KSM tertinggi di bidangku dan akan mengikuti bimbingan.

Namun ternyata aku masuk bidang studi fisika, bukan kimia. Tak apalah salah alamat, yang penting aku harus terus berusaha. Setiap hari sabtu kami harus mengikuti bimbingan sesuai studi seusai sekolah. Ku ikuti terus bimbingan itu, ku tekuni dan terus pelajari bidang studi ku ini. Sebelum KSM, terdapat OSN tingkat kota yang lebih dahulu di adakan.

Kami pun menyambutnya dengan senang, tetapi aku tidak terpilih untuk mengikuti OSN di bidang fisika. Sehingga aku dan beberapa temanku memilih studi lain yang masih kosong peserta yaitu astronomi.

Aneh rasanya dari kimia yang ku ikuti lalu lolos di fisika dan kemudian ikut OSN astronomi, tapi tak apalah aku juga suka dengan astronomi. Dulu saat aku masih di SMP, aku dan temanku suka ke perpus untuk membaca buku ensiklopedia astronomi.

Walau hanya sebatas hobi tapi aku senang mengikuti osn di bidang ini. Mungkin hanya pengalaman yang di dapat, tapi aku sangat senang karena bisa menjadi bagian dari OSN ini dan berkesempatan untuk membaca soal-soalnya yang sama sekali tidak ku mengerti. Hehe..

Hingga akhirnya KSM tingkat kota pun datang, sebelumnya kami di seleksi kembali dan di ambil 3 orang saja untuk mengikutinya. Aku pun salah satu di antaranya. Mungkin ini juga nikmat yang Allah amanahkan kepada ku. Ku kerjakan soal itu sebisaku. Seharusnya lomba itu di ikuti oleh 6 peserta, hanya saja sekolah lain tidak menghadirinya. Di antara kami bertiga ini mungkin kemampuan ku yang paling kurang, tapi tak apalah toh pasti dapat juara. Paling tidak juara 3, karena hanya kami bertiga sajalah yang berkompetisi.

Sebualan pun berlalu, tinggal menghitung hari untuk mendengar hasil. Aku hanya bisa pasrah, ku serahkan semua pada Allah setelah berusaha mengerjakannya. Hari H pun datang, pada jam istirahat kami di kumpulkan di workshop.

Selama perjalanan menuju workshop hatiku tak karuan. Bukan karena sedang jatuh cinta atau bahkan putus cinta. Namun perasaan ini perasaan takut, malu, dan juga sedih. Entah perasaan ini datang dari mana, yang pasti jantungku berdetak kencang. Saat itu aku teringat akan perkataan guruku, pak Ibnu namanya. Dia yang mengenalkan ku pada sebuah hadits kudshi "indadzonni abdi bi (sesungguhnya Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku".. Hadist yang ku jadikan motivasi dalam berprasangka dan berpikir. Saat itu langsung saja aku berdoa "ya Allah berikan yang terbaik untuk ku, ya Allah jangan kau biarkan aku merasa malu menjadi yang terakhir, ya Allah berikanlah hati ini ketenangan. Aamiin."

Akhirnya kami pun memasuki workshop dan duduk diam sambil menunggu pak kepsek dan yang lain datang. Tidak perlu menunggu lama, semuanya telah berkumpul. Pak kepsek, ibu/bapak pembimbing, dan para peresta.

Satu per satu juara bidang studi di bacakan, hingga sampai pada bidang studiku yaitu fisika. Disebut dari sang juara 1 sampai dengan 3, perasaanku makin tak karuan ditambah lagi dengan keringat dingin pada telapak tanganku. Juara satu telah di sebutkan dan ternyata bukan aku. Kini gilirannya juara dua, saat itu aku sudah pasrah. Pasrah atas apa yang ku dapatkan. Aku sangat yakin bahwa bukan aku yang ke dua, mengingat akulah yang paling kurang diantara kami bertiga.

Masih gugup perasaan ini, dan saat di sebut namanya, aku pun menebak dalam hati pasti bukan aku. 

Namun aku dikejutkan dengan nama yang disebut, yaitu namaku dan aku masih tidak menyadarinya. Aku masih belum percaya, ku terus bertanya dalam hatiku "hah saya, yang benar?" saking tidak percayanya.

Mungkin karena ini pengalaman pertamaku dalam memenangkan lomba. Tapi aku sangat bersyukur karena Allah telah mengijabah doa ku beberapa waktu lalu. Alhamdulillah aku mendapatkan sertifikat juara II dan juga uang bimbingan yang tak banyak jumlahnya. Meskipun begitu aku cukup senang.

Allah swt. memang telah menjelaskan dalam QS. Ghafir: 60 "ud'uunii astajib lakum" yang artinya "Mintalah kepada-Ku pasti Aku akan kabulkan", QS. Al-Insyirah: 5-6 "fainna ma'l usri yusro, inna ma'al usri yusro" yang artinya "maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan".

Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan" dan juga dalam QS. Ibrahim:7 yang artinya "... jika kalian bersyukur, maka Aku akan tambah nikmat-Ku". Ayat-ayat inilah yang memotivasi ku untuk terus berusaha, berdoa dan bersyukur.

Aku bukanlah seperti Ajeng dan Dinda yang pintar, bukan juga Nadia dan Nazella yang cantik, bukan juga Sadyah dan Kartika yang sangat ramah, bukan juga Eka dan Lala yang imut dan bukan juga Luluk dan Fira yang manis senyumnya. Aku bukanlah seperti Dwi dan Stya Riski yang ceria, bukan Riadwi yang rendah hati, bukan pula Puji dengan keteguhan hatinya dan bukan pula Riska dengan hafalan Al- Qur'annya. Aku adalah aku, seorang gadis dengan mimpi yang besar.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

8 Responses to "Kisah Inspiratif "Hal Kecil yang Bermakna Besar""

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel