Kisah Inspiratif "Nyata" Tentang Garam yang Begitu Nikmat

Ini untukmu candra, hehe
KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan dari hasil cerita pengalaman inspiratif ini berjudul "Garam yang Begitu Nikmat", karya dari Soni Afriansyah. Dalam cerita ini ia menuliskan pengalaman hidup yang semoga bisa memberikan motivasi kepada segenap pembaca.

Begini, Kisah Inspiratifnya...

Matahari begitu terik hingga membuat mengkilap kulitku. Ku dayung sedikit demi sedikit perahu tongkang yang sudah lepas haluannya menuju daratan. Harapanku terlalu besar, sama seperti mimpiku.

Banjir musim hujan kali ini, kuharap aku akan banyak dapat ikan betok dengan menjaringnya memakai pukat harimau tapi malah ku dapat hanya peluh saja. Langkahku hanya gontai sebari menuju kerumah dengan paras sedikit kecewa sambal memegangi perut yang keroncongan.

Begitu sulit hidup yang aku alami, besok Senin aku harus membeli buku catatan baru akan tetapi aku tidak punya uang. Bukan hanya itu saja, aku harus kerja sambilan menjadi pemulung serta nelayan amatiran saat banjir datang.

Hobiku mencari ikan sejak kecil apalagi jika banjir melanda di desaku. Orang banyak memanggilku dengan sebutan bujang pemancing. Tak apalah, bagiku hidupku begitu bodoh jika harus menanggapi kenyataan yang emang itu fakta yang sebagian orang merasa malu dengan itu.

Belum sampai rumah lagi, aku sudah mendapatkan musibah, jempol kakiku tercucuk beling yang membuat aku langsung terduduk segera, padahal rumah ku tinggal 10 meter lagi, tapi aku relakan diriku untuk mengobati luka itu dengan getah batang keladi, sambil ku duduk di bawah pohon jambu.
Aku pun mendengar kata Uwakku yang lumpuh sejak gadis "Manalah Soni nih,
belum pulang juga?"  Katanya yang sayup kudengar.

Akupun meneteskan air mata sambil memegangi batang keladi yang kudekapkan ke jempol kakiku. Aku dibawa oleh mesin waktu. Ku teringat saat candaku bersama dengan Candra di perahu tongkang saat memancing.

“Son, kau yakin tidak burung camar itu bisa terbang sampai ribuan kilo? Tanyanya sambil mengumpan pancing.
“Ehmmm, menurut ku pasti bisa lah, sama seperti diriku yang punya mimpi ini, suatu saat aku pasti bisa terbang bebas seperti burung itu, aku berkelana ke negeri- negeri yang tak aku kenal” Jawabku dengan penuh percaya diri.

“Alah, kau kan bukan burung camar, tapi burung ayam-ayam, hahaha" ejeknya lagi sambil menjatuhkan umpannya ke air
"Dasar bujang ketan, lihatlah ya! Aku buktikan 10 tahun lagi" balasku lagi dengan setengah marah dan ku cabut teratai di air, lalu ku lemparkan ke mukanya.

Alhasil perahu kami oleng-oleng dan untungnya tidak karam. Kamipun saling tertawa.

Akupun dilempar lagi ke masa sekarang oleh mesin waktu. Darah berhenti mengalir dari jempolku. Lalu kulanjutkan langkahku hingga sampai rumah. Aku pun langsung duduk dihadapan tudung saji dan kukatakan pada Uwakku bahwa aku tidak dapat ikan sama sekali. Lalu Uwakku berkata "ya udah tidak apa-apa, mungkin belum rezeki dan kali ini kita cuman bisa makan nasi dengan garam".

Aku hanya menunduk dan air mata ku tahan keluar hingga membuat mataku merah. Hidup ini begitu keras, bahkan tanpa perjuangan aku tidak akan hidup. Kadang aku merasa Tuhan tidak adil denganku. Kenapa kawan-kawan ku harus hidup enak sedangkan aku seperti ini.

Aku akhirnya mengeluarkan air mata juga, sehingga membuat Uwakku juga ikutan menangis. Aku menyuap nasi sambil mengelap air mata.

"Hidup itu perlu bersyukur, karena diluar sana masih banyak yang belum seberuntung kita, contoh nya masih banyak yang kekurangan gizi dan tidak makan sama sekali" Uwakku sedikit menghibur
"Hemm, lalu sampai kapan kita begini ?" Tanyaku.

Belum sempat Uwakku menjawab, kawan ku Candra berteriak dari luar rumah bahwa ada tukang besi. Aku mengelap air mata dan kutinggalkan nasi dan garam itu sejenak. Kupisahkan paku yang lengket dengan besi berani lalu menuju ke tukang besi.

Ku jual besi dan paku-paku bekas yang kukumpulkan seminggu yang lalu. Senyuman ku mulai sedikit kembali sebab ada uang buat beli buku catatan baru besok. Ku ucapkan syukur dan kembali pulang ke rumah untuk melanjutkan makan.

Kemudian nikmat Allah datang lagi berupa opor ayam yang disedekahkan oleh tetanggaku. Alhasil, aku bergegas makan dan senyum lepas. Namun, aku habiskan nasi yang berlaukkan garam terlebih dahulu. Hal itu mengundang tanya Uwakku.

“Biarlah wak, saya habiskan nasi berlaukkan garam ini dahulu, baru nanti berlaukkan opor ayam, sama seperti hidupku, ku habiskan masa susahku baru kurasakan masa senangku “ Tegasku

Telago Limo, Maret 2008

Kisah insipiratif inilah teman yang membawa saya berani terus maju kedepan. Tak perlu takut dengan tantangan, Terus melangkah, Hingga satu persatu mimpi yang saya inginkan terwujud. Salah satunya perbincanganku bersama candra dahulu di perahu tongkang, kubuktikan dengan terbangnya aku ke Malaysia. Hidup adalah perjuangan!. Jadi perjuangkanlah Mimpimu Kawan!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

30 Responses to "Kisah Inspiratif "Nyata" Tentang Garam yang Begitu Nikmat"

  1. Silahkan di komentarkan kawan kawan semuanya

    BalasHapus
  2. Masyaa Allah kisah yang memotivasi. Membuka mata ini bahwa perjuangan itu harus diwujudkan, bukan hanya di angan-angan saja. Sukses selalu kawan 😊💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehhe, terimakasih ...harus itu... seberapa kuat tantangan nya ...harus tegar menghadapi nya

      Hapus
  3. Keren bg, ini kisaha nyata kah? 😢

    BalasHapus
  4. Setiap manusia pasti perna mengalami fase-fase ujian didalam hidupnya.kita harus ridho terhadap apa yang Allah takdir.kisahmu membuat ku mengenang kisahku dimasa lalu. Jujur aku juga perna berada diposisimu saat itu.kamu akan menikmati manisnya perjuanganmu dikemudian hari. Keterbatasan materi bukan menjadi penghalang untuk mewujudkan cita-cita dan impianmu. Tetap semangat sony,good Luck.

    BalasHapus
    Balasan
    1. I don't know , Allah make me like his want. But that I know , Allah certain have the best plan for our life. Run the world and Greet Tomorrow

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Indeed, each person have story about His journey. Keep fighting and look forward your vision.

      Hapus
    4. yes soni hope In every struggle we God always accompany the previous thanks.

      Hapus
  5. Basically, I can say nothing. But Someday when I am down, I'll remember your story. Thanks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeah...we must to look forward, and we down, fast to stand up and run the world Greet Tomorrow.

      Hapus
  6. "Komentari di kolom komentar ya ndri"
    -Soni

    BalasHapus
  7. Mantap..
    Kisahnya sangat menginspirasi
    Sukses selalu son

    BalasHapus
  8. Kisah yang begitu menggugah dan pesan motivasi yang begitu ngena.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel