Kisah Inspiratif Payung dan Hujan

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan tentang kisah inspiratif ini dituliskan oleh Nurul dengan judul asli dalam tulisannya ialah "Payung dan Hujan". Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan kepada setiap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Awan kumulus bergerombol membentuk barisan awan menciptakan komulonimbus kecil, hitam, bergelayut di angkasa. Senja masih enggan menapaki cakrawala khatulistiwa. Hiruk-pikuk suasana kota masih terasa dalam keremangan, gelap, di kala hujan menerpa. Hujan lebat akan segera mengguyur, tinggal menunggu hitungan menit, maka berliter-liter air akan tumpah ke muka bumi. Mengguyur siapa saja atau apa saja yang ada dibawahnya.

Banyak orang merutuki hujan di sore hari. Di kala rasa capai telah menggunung dan malangnya mereka harus menunggu sampai hujan reda. Ada yang menunggu di halte bus sambil bercakap-cakap dengan sesama teman satu kantornya ataupun dengan sesama orang yang bernasib sama yaitu merutuki hujan di sore hari dan menunggunya reda.

Hujan memang menyebalkan bagi sebagian banyak orang, namun tidak bagi seorang gadis kecil yang tengah duduk dipinggiran trotoar. Dengan senyum ramah bersahaja, ia menawarkan payung lusuhnya kepada setiap pengguna jalan yang berlalu-lalang, berlarian demi mencari tempat berteduh dari hujan.

Anak kecil itu tersenyum penuh arti saat melihat seseorang yang kerepotan karena hujan telah membuatnya hampir basah kuyup. Dilihatnya orang itu, sepertinya ia amat membutuhkan payung setidaknya untuk melindungi buku-bukunya agar tidak basah.

Dengan langkah cepat ia menghampiri orang itu.

“Kakak, pakailah payung ini.”
“Tidak, terima kasih.”
“Tidak apa-apa pakailah, kak. ”Gadis kecil itu lalu menyodorkan payungnya. Berkali-
kali ia menawarkan payungnya kepada orang itu.
“Sudah kubilang aku tak membutuhkan payung jelekmu itu. Cepatlah pergi dari sini,
aku sedang terburu-buru!”

Ia pergi dengan raut kecewa. Gadis kecil itu berjalan menuju halte bus, menawarkan payungnya kepada orang-orang yang membutuhkan jasanya. Sedari tadi aku mengamati anak itu, timbul rasa kasihanku padanya. Kulambaikan tanganku. Tercetak seulas senyum kecil di wajahnya yang tirus. Ia lalu berlari kecil kearahku. Aku memang membutuhkan payung itu sekarang.

“Adik kecil, bisakah kau mengantarku ke seberang jalan?” Tanyaku, sambil menunjuk
arah.
“Baiklah, dengan senang hati. Mari,kak kuantarkan”. Tangan ringkihnya
menyodorkan payung merah yang warnanya mulai pudar dan mulai rusak karena termakan
usia. Setidaknya aku masih dapat terlindung dari derasnya hujan. Berjam-jam menunggu
hujan membuatku jenuh. Setidaknya sampai aku bertemu anak itu dan aku bisa berlindung
di bawah payungnya. Di seberang jalan sana terlihat sebuah coffee shop yang berdiri cukup
megah, berdesain klasik. Ya, itulah tujuanku.
“Kak, sudah sampai.”
“Terima kasih adik kecil.” Kusodorkan payung itu padanya. Kurogoh dompet
disakuku. Kuberikan satu lembar seratus ribuan padanya. Ia tampak cemas dan gelisah. Aku
kaget akan perubahan mimiknya, bukankah seharusnya ia senang.
“Maaf, aku tidak punya kembalian.” Seraya tangannya merogoh saku baju dan
memperlihatkan pecahan seribuan yang terlihat kumal. Wajahnya tampak kecewa.
“Simpanlah uangmu,” kataku sambil tersenyum. Ia mengerti maksudku.
“Tapi, kak ini terlalu banyak untukku.”
“Tidak ada yang terlalu banyak, ini sebanding untukmu. Bukankah kau telah bekerja
keras hari ini anggap ini sebagai hadiah untukmu.” Kataku sambil melangkah masuk menuju
coffee shop.

Kupilih tempat duduk di tepi jendela. Kulihat anak itu memandangi uang seratus ribuan yang kuberikan dengan wajah polosnya, hingga ia berangsur-angsur hilang dari penglihatanku melanjutkan pekerjaannya sampai hujan reda. Kunikmati hangatnya capucinno yang terasa sangat nikmat, sembari melihat hujan di luar. Kulihat arloji di tangan, seperempat jam lagi jemputanku datang.

Sebenarnya aku tak terlalu membutuhkan payung itu. Dengan atau tanpa payung itu sebenarnya aku tak akan kehujanan. Terkadang kita harus mencari alasan untuk membantu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang penuh semangat dalam menjalani kerasnya kehidupan.

Mereka pantang untuk meminta belas kasihan. Carilah alasan untuk membantu mereka meskipun kau tak terlalu membutuhkan bantuannya. Manusia akan menemukan arti hidup saat ia berarti untuk kehidupan orang lain.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Kisah Inspiratif Payung dan Hujan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel