Kisah Inspiratif "Sepucuk Surat Rindu Untuk Ayah yang Telah Tiada"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan-tulisan inspiratif ini berjudul "Sepucuk Surat Rindu Untuk Ayah yang Telah Tiada" yang dituliskan oleh Dewi Maharani. Semoga kisah inspiratif ini bisa memberikan wawasan kepada pembaca sekalian.

Begini, Kisah Inspiratifnya...

Terdapat sebuah kisah yang terjadi di sebuah pedesaan, suatu saat bunda yang sangat sayang kepadaku pergi ke Malang selama beberapa hari. Setelah bunda kembali ke rumah akupun merasakan ada hal yang aneh pada bunda, bunda yang semula sayang dan perhatian kepadaku, ketika aku terlambat pulang kerumah dari sekolah bunda selalu menungguku didepan pintu sembari menelponku.

Akan tetapi sejak bunda pulang dari Malang,bunda berubah sikap dan tidak lagi memperhatikan ku ketika aku pulang kerumah terlambat, iapun tak pernah menelponku ketika aku belum sampai dirumah.

Bahkan bunda tidak tidak lagi memberikan satu kata perhatian pun kepadaku ketika aku sampai dirumah, waktu itu aku pulang sekolah biasanya bunda menungguku didepan pintu tetapi bunda tidur dikamarnya dan ketika aku merasa begitu lapar kubuka tudung saji ternyata kosong tanpa ada makanan sesuap pun.

Setelah bunda tahu kalau aku sudah pulang dan tengah membuka tudung saji bunda mengatakan”Kamu sudah dewasa nak, ayo kamu masak sendiri”. Sejak saat itu aku merasakan ada yang benar-benar aneh dengan bunda, dan akupun berpikir bahwa bunda tak lagi menyayangiku seperti dulu, kemudian aku merasa benci kepada bunda.

Waktu itu pula aku tidak pernah sekalipun berbicara kepada bunda bahkan menatap wajahnya saja aku tidak berkenan. Saat itu pula aku berusaha untuk melakukan kegiatan yang tak biasanya aku lakukan dalam kehidupan sehari-hari, aku mencuci pakaian sendiri, memasak sendiri bahkan menyetrika seragam sendiri, dan akupun beranggapan bahwa bunda telah benar-benar tiada dalam kehidupanku. Karena meskipun bunda ada tapi bunda tak lagi mempedulikann keberadaan ku.

Sejak saat itu aku semakin bersikap acuh kepada bunda, berangkat ke sekolah tanpa berpamitan kepadanya dan tanpa bertegur sapa dengannya karena aku benar-benar telah membencinya dan itu semua karena bunda tak lagi mempedulikanku.

Satu minggu kemudian disaat aku hendak berangkat ke sekolah bunda mengatakan kepadaku”Nak, hati-hati ya (sambil mengulurkan tanganya kepadaku)”. Dan akupun tak mendengarkanya bahkan aku langsung pergi dengan menghiraukannya.

Sepulang dari sekolah ku melihat didepan rumah terdapat banyak orang berkerumun, dan salah satu dari tetanggaku menyapaku dan mengatakan bahwa bunda telah meninggal dunia, dan akupun merasa senang karena bunda telah meninggal dunia.

Buat apa aku menangis kalau bunda saja tak pernah peduli kepadaku, dan akupun tidak turut ikut dalam pengurusan jenazah bunda karena aku berpikir bahwa bunda tak pernah mengurusi ku. Sungguh kematian bundaku tidak membawa suatu dampak kesedihan sama sekali bagiku.

Keesokan harinya, aku menemukan sebuah surat yang didalamnya tertulis:

Anakku, kamu harus tahu bahwa dulu waktu bunda pergi ke Malang,sebenanarnya bunda pergi untuk memeriksakan keadaan bunda,karena waktu itu bunda merasakan ada yang aneh dalam hidup bunda, rambut bunda rontok dan seluruh tubuh bunda terasa sakit.

Ketika bunda sudah tidak tahan merasakan rasa sakit itu bunda memberanikan diri untuk berobat ke Malang dan setelah dilakukan pemeriksaan ternyata bunda terkena kanker rahim yang terjadi akibat bunda melahirkan kamu,ya perlu kamu ketahui bahwa dulu waktu bunda melahirkan kamu bunda terpaksa harus lahir dengan operasi karena kamu tidak bisa terlahir dengan sempurna, dan karena bunda ingin kamu terselamatkan bunda rela mati demi kamu nak, tapi Alhamdulillah Tuhan menyelamatkan bunda sehingga bunda bisa melahirkan kamu meskipun ada efek yang harus bunda terima, setelah bunda melahirkan kamu tubuh bunda selalu diliputi dengan rasa sakit yang tidak pernah kamu ketahui.

Anakku, setelah bunda pulang dari Malang bunda semakin merasakan banyak hal yang berbeda dari bunda, bahkan untuk berdiri saja bunda tak mampu sehingga membuat bunda tak lagi menyambutmu didepan pintu ketika kamu pulang sekolah.

Bunda semakin khawatir akan diri bunda, akan tetapi bunda juga khawatir akan dirimu nak, ibu berpikir jika bunda sudah tiada kelak,bagaimana dengan keadaanmu nanti? Kamu masih butuh bunda, bagaimana dengan masa depanmu nanti. Tapi bunda percaya dan yakin bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik buat kamu nak, sepanjang malam bunda selalu memanjatkan doa untuk kehidupanmu nanti.

Sejak saat itulah bunda berpikiran bahwa bunda harus bersikap dingin kepadamu dan bunda menginginkan agar kamu melakukan semua pekerjaan yang tak biasa kamu lakukan dengan sendiri tanpa bunda, dan bunda juga tak peduli lagi kepadamu dengan tujuan agar kamu membenci bunda, dengan demikian sesudah bunda tiada nanti,kamu bisa melakukan apa yang tidak biasa kamu lakukan dan agar kamu tidak diliputi kesedihan karena kamu sudah membenci bunda.

Anakku, meskipun bunda tidak pernah menanyakan kepadamu bagaimana keadaan mu namun, dihati bunda sebenarnya mengkhawatirkan dirimu, setiap kali kamu pulang sekolah sebenarnya bunda ingin menyapamu dan bunda selalu menunggu kehadiranmu, ketika kamu pulang dengan tubuh yang begitu lelah dan dalam keadaan perut lapar, bunda sengaja untuk membiarkanmu masak sendiri karena bunda berharap apabila sesudah bunda tiada nanti kamu bisa mandiri.

Dulu bundalah yang mengerjakan semuanya untukmu, tetapi sesudah bunda tiada nanti,siapa yang akan menjagamu? Bukankah segala sesuatu di kemudian hari harus bergantung pada dirimu sendiri.

Didalam kotak ini ada uang empat ratus ribu yang sengaja bunda simpan, sebetulnya ini adalah uang untuk berobat bunda akan tetapi bunda tidak rela menggunakannya. Bunda sengaja meninggalkan uang ini dengan harapan ketika kamu akan masuk di perguruan tinggi dan sekiranya membutuhkan uang, kamu dapat memanfaatkannya. Sekarang bunda minta maaf kepadamu nak, bunda belum bisa menjadi bunda yang terbaik buat kamu.

Salam cinta anakku tersayang.

Tetesan air mata pun segera menetes dan mengaburkan sepasang mataku dan yang membaca kisah ini. Kasih ibu terhadap anak sungguh tanpa pamrih dan penuh akal dan budi, mana mungkin ada seorang ibu yang tak mengasihi anaknya?

Sejak saat itulah aku merasa bahwa tiada gunalah hidupku selama ini.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Sepucuk Surat Rindu Untuk Ayah yang Telah Tiada""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel