Kisah Inspiratif "Terselip Doa Untuk Ibu Tercinta"

KisahTerbaik.Com- Tulisan-tulisan inspiratif ini di susun berdasarkan pada cerita, dengan judul "Terselip Doa Untuk Ibu Tercinta". Adapun nama penulisnya ialah Septika Ratna Setiyaningsih. Semoga adanya kisah ini memberikan cerminan yang mendalam bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisah Inspiratifnya...

Cahaya….Apa itu cahaya? Aku tidak dapat melihat itu semua. Mataku selalu basah setiap waktu hingga tak lagi dapat melihat cahaya. Bahkan sebagian hatiku tertutup kegelapan. Sampai tak bisa merasakan cahaya masuk dalam diriku.

Aku hanya bisa terduduk di dekat jendela kamar. Melihat ke arah luar. Hujan…tetesannya membasahi setiap dedaunan. Suaranya menderu keras. Aroma khas tanah ketika hujan perlahan merasuk ke hidungku. Terbawa angin lembut menebarkan bau tanah basah. Di luar, suara anak-anak tertawa lepas menikmati hujan yang turun. Seperti tidak memiliki beban dalam hidupnya. Sedangkan aku, hanya bisa terkurung di dalam. Di temani perasaan luka yang menyanyat. Seperti di tusuk ribuan jarum. Terasa amat sakit. Bahkan teramat sesak. Besok adalah hari membahagiakan bagi sebagian besar orang. Tetapi tidak untukku. Menikah…

Sebuah pernikahan yang telah diatur orang tuaku. 

“Bu, tolonglah aku tidak ingin menikah terburu-buru seperti ini.” Kataku di suatu pagi.
“Kamu jangan membantah. Usiamu sudah 27 tahun. Sudah matang untuk  menikah. Mau sampai kapan kamu begini terus? Kamu anak tunggal, usiamu pun sudah cukup. Ini demi kebaikan kamu juga. Apa kamu mau menikah di usia 30-an lebih? Apa kata orang nanti?” Jawab Ibuku.
“Bu, aku ingin mengenal calonku dulu. Bagaimana dia, orang seperti apa dia. Aku ingin berteman dulu dan…..”
“Sudah cukup, jangan membantah lagi. Ini demi kebaikan kamu juga. Kalau kamu menikah di usia 30-an ke atas dan akan melahirkan, rentan dengan banyak resiko. Lagipula ayahmu, juga keluarga yang lain melihat calon suamimu ini pria yang baik. Dia pria yang bertanggungjawab dan kelak akan bisa menjagamu.”
“Tapi bu……”
“Sudahlah. Harapan ibu agar kamu hidup dengan baik. Ini semua demi kebaikanmu.” Jawab ibuku menggebu.

Lagi…lagi…dan lagi….semuanya selalu berkaitan dengan harapan orang tua. Semua selalu untuk kebaikanku. Aku hanya bisa menangis tertahan. Tidak bisa lagi membantah setiap kata-kata ibuku. Kenapa selalu mengatasnamakan demi kebaikan? Hatiku sungguh sangat sakit.

Hari yang ditentukanpun telah tiba. Kesibukan mulai merajalela. Banyak orang berlalu lalang dan melaksanakan setiap tugasnya. Ada yang mengurus makanan, make up dan juga souvenir. Semua rumah dihias dengan sangat menawan dan indah. Ada banyak bunga. Dekorasi pelaminan yang cantik. Semua berpadu menjadi satu. Terlihat sangat mempesona. Gelak tawa riang dari sanak saudara begitu membahana. Namun itu semua berbanding terbalik dengan hatiku. Aku tidak dapat merasakan kebahagiaan apapun selain rasa sakit.

“Mas, apa ini tidak terlalu cepat kita menikah? Aku bahkan belum tahu  rumahmu. Belum mengenal orang tuamu?” Tanyaku pada saat itu.
“Sekarang aku ajak kamu ke rumahku. Soal orang tuaku, mereka  mempercayai anaknya dalam memilih pasangan. Jadi tidak akan ada masalah.” Jawab Mas Agil.
“Lagi pula semakin cepat semakin baik. Karena Tuhan itu mempertemukan  jodoh dengan cepat. Jadi buat apa ditunda lagi.” Lanjutnya.

Rasanya duniaku, mimpi, cita-citaku sudah musnah. Aku bahkan tidak pernah tahu, ingin melakukan apa dalam hidup ini. Aku tidak pernah tahu seperti aparasanya punya mimpi dan menentukan masa depan sendiri.

Arah hidup yang aku inginkan. Semuanya telah diatur orang tuaku. Aku sendirian, hanya menangis tertahan di sudut ruangan. Aku tidak punya tempat bercerita semua keluh kesahku. Semua keluargaku hanya perduli soal kebaikan tetapi bukan kebahagiaanku. Aku sangat ingin membahagiakan kedua orang tuaku tetapi dengan caraku sendiri. Tetapi kenapa tidak ada satupun yang memahamiku. Tidak satupun…

“Yah, bolehkah aku ikut les piano? Aku sangat ingin bisa bermain piano.” Tanyaku pada ayah kala itu saat berusia 25 tahun.
“Buat apa? Sekarang bukan saatnya lagi untuk itu.” Jawab ayahku tegas.
Aku terdiam dan menunduk.
“Jangan ikut karate lagi. Apalagi harus ikut lomba. Nanti kalau kena pukul bisa patah tulang. Itu sangat berbahaya.” Kata ibuku saat melarangku ikut ekstra karate. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP.

Aku hanya terdiam dan mengikuti apa yang diinginkan ibuku. Mengikuti kemauan ayah. Aku menyadari semua karena kasih sayang yang teramat besar untuk anak semata wayangnya. Aku juga ingat, orang tuaku selalu memilihkan dimana harus kuliah. Dimana aku bekerja. Semua telah diatur. 

Hingga tidak bisa berkembang sesuai apa yang aku inginkan. Aku hanya tahu, bahwa jika menolak keinginan mereka yang ada hanya mengecewakan. Aku tidak ingin membuat mereka sedih dan kecewa. Impian, keinginan, maupun cita-cita, aku tidak memiliki  itu semua. Tidak pernah tahu apa yang aku inginkan dalam hidupku. Aku pernah bermimpi ingin kuliah diluar negeri. Ingin berusaha dan bekerja keras.

Tetapi orang tuaku mematahkan sendiri semangat dalam hatiku. Aku tahu tidak secerdas anak lain atau sangat pintar. Tetapi ingin berusaha hingga akhir meraih mimpiku. Bahkan jika itu tidak berhasil setidaknya tidak ada penyesalan karena telah berusaha meraih mimpiku. Aku juga manusia yang memiliki hidup sendiri bukan diatur seperti ini.

Kini bertambah satu orang lagi yang tidak tahu apapun soal diriku. Aku bahkan hanya kenal sehari saja dan dua minggu kemudian harus mau menikah dengan orang itu. Karena orang tua dan keluarga yang lainnya sangat mendukung. Selalu mengatakan dia  pria baik yang akan menjaga  ku dan bertanggungjawab terhadap keluarga. Benarkah seperti itu? Aku melihatnya sendiri seperti apa orang yang akan menjagaku seumur hidup.

“Jangan membantah, sekarang kamu sudah memiliki suami. Jangan  seenaknya sendiri. Pergi kemanapun yang kamu suka.” Kata ibuku keras.

Ketika itu aku ingin sekali pergi berlibur bersama teman. Meskipun harus sendiri melakukan perjalanan dan nanti bertemu temanku di suatu tempat. Aku sangat ingin menenangkan diri bahkan meski itu untuk sementara waktu. Orang yang dianggap suamiku berjanji akan membantu membicarakan ini pada ibuku.

Tetapi apa yang aku lihat, dia hanya terdiam dan menunduk saat aku dimarahi habis-habisan oleh ibuku. Apakah orang seperti itu akan menjagaku nantinya? Yang bahkan ketika aku memiliki kenginan dan dimarahi dia hanya diam seperti patung. Meskipun dia hanya menantu, tetapi ketika suami mengijinkan tentu ibu tidak akanbisa berbuat apa-apa. Aku ini sudah dewasa dan tahu caranya menjaga diri.

Tetapi kenyataannya, hanya dianggap anak kecil. Selalu diatur dan semua karena untuk kebaikan. Ibuku takut aku salah langkah yang ada merepotkan orang tua nantinya. Aku hanya ingin diberi kepercayaan dan tanggungjawab sendiri dengan hidupku. Selama inipun aku tidak pernah berbuat aneh-aneh atau hal yang mempermalukan nama keluarga. Aku selalu menjaga kehormatannama keluarga dengan baik.

Berusaha keras membuat mereka bangga dengan diriku. Tetapi itu tetaplah tidak cukup baik di mata orang tuaku. Sudahlah…aku sangat lelah.

Aku menangis mengingat semuanya. Aku menjadi sangat pendiam. Tidak perduli dengan segala hal. Ibuku selalu memarahiku karena terus-terusan mengacuhkan suami sendiri. Rasa sakit itu begitu merasuk dalam hati. Ibuku selalu bilang untuk menerima saja. Karena semua orang menjalani ini. Inilah takdir yang diberikan Tuhan untukku.

Aku harus menerima dengan ikhlas. Hidupku seperti robot dan hatiku semakin sakit. Bukannya luka itu sembuh bahkan bertambah lagi…lagi…dan lagi setiap waktu. Bagaimana bisa mencintai disaat luka di hati makin bertambah dan tidak pernah sembuh? Aku terus-terusan dituntut dengan segala keinginan ibu. Bahkan luka itu bertambah. Ketika ibuku sendiri mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan. 

“Kamu ini kalau dibilang cantik juga tidak. Bahkan kamu tidak sepintar  seperti Agil. Dia sangat pintar dan dewasa. Kamu masih kekanak-kanakan. Ubah sikapmu menjadi dewasa.” Kata ibuku kasar.

Aku terdiam mendengar kalimat ibu yang bagiku sudah sangat menyakitkan. Aku memang tidak cantik juga tidak pintar, bukan berarti tiddak memiliki hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Seorang anak hanya ingin di dengarkan. Bukan hanya sekedar memenuhi permintaan orang tuanya. Tidak ada yang bisa memahamiku. Aku tidak memiliki tempat yang nyaman untuk bercerita keluh kesahku, karena semua selalu sama. Mereka berkata terima saja dan jalani. Jangan membuat orangtuamu sedih dan kecewa.

Air mata terus mengalir deras bak air terjun. Semakin aku mencoba menerima tetapi aku tidak pernah bisa. Hatiku terus menolaknya. Aku ikhlas melakukan semua hal untuk orang tuaku. Tetapi kenapa untuk pernikahan yang sepenting ini harus dipaksa. Aku sendirian, merasa tidak memiliki siapapun sebagai tempatku berbagi. Kini aku seperti tubuh yang tak bernyawa. Berjalan lunglai menembus kegelapan.

Pikiranku tak dapat lagi berfikir. Hatiku begitu sesak, rasanya teramat sakit. Bibirku tak lagi dapat berkata apapun. Aku hanya ingin terus berjalan ke tempat yang tidak berujung. Sendirian menahan kesakitan. Kesepian karena tidak memiliki teman. 

Disana jalan raya begitu ramai. Tetapi aku tidak bisa mendengarkan semua keramaian itu. Semua hening, tidak bisa merasakan apapun sama sekali. Aku mencoba melihat ke langit. Memandangi langit yang luas tanpa batas. Juga awan putih yang berarak menyelimuti birunya angkasa. Berusaha mencari jawaban disana.

Tetapi aku tidak menemukan apapun. Aku menunduk dan hanya menghela nafas. Sedetik kemudian ku langkahkan kakiku menuju daratan yang tak bertepi. Berjalan dengan dipenuhi perasaan sedih, hampa, dan kesepian. 

Tiba-tiba tanpa sadar, ada mobil yang melaju kencang ke arahku. Semua orang disana berteriak keras. Tetapi aku tidak bisa mendengarkan apapun dan….

“Bruakkkkkk!!!” Bunyi tabrakan keras.

Aku terpental jauh. Tubuhku terkulai di aspal yang panas. Banyak darah mengucur dari kepala. Samar-samar aku melihat banyak orang berkeliaran disekelilingku. Sepertinya mereka panik dan meneriakkan sesuatu. Tetapi aku tak dapat mendengarkan apapun selain detakan jantungku yang mulai tidak beraturan. Mataku berkedip beberapa kali, air mataku sedikit demi sedikit keluar.

Di sebuah meja kayu, tergeletak sepucuk surat. Seorang ibu paruh baya mengambilnya. Membuka dengan perlahan. Amplop surat yang bertuliskan doa untuk ibu tercinta. Wanita paruh baya itu membacanya perlahan.

Untuk ibuku yang sangat aku hormati dan sayangi. 

Demi apapun aku sangat menyayangimu bu. Menghormatimu dan ingin menjagamu melebihi nyawaku sendiri.Sebagai seorang anak aku tidaklah sempurna. Tidak selalu bisa menjadi apa yang ibu inginkan.

Aku tahu dengan baik, ibu sangat mendambakan seorang cucu. Aku juga mengerti akan ada saatnya hari itu tiba. Tetapi aku ingin memilih sendiri dengan siapaakan hidup bersama. Biarkan hatiku yang memilih sendiri.

Untuk menikah, kita tidak hanya melihat pasangan kita baik. Tetapi hati kitapun dengan sendirinyalah yang akan memilih. Kapan panggilan hatinya tertuju  pada seseorang. Menikah itu tidak hanya bermodal pria itu baik atau bertanggungjawab.

Bahkan tidak harus dituntut karena usia. Tetapi juga adanya cinta. Itulah pondasi awal adanya pernikahan, baru setelah itu memikirkan hal lainnya. Bagaimana aku bisa mencintai sedangkan hatiku dipaksa untuk itu. Hati tidak bisa dipaksakan. Ibu tidak akan memahami apa itu artinya. Karena ibu terlalu takut aku bersama orang yang salah.

Ibu terlalu takut aku menikah di usia tua. Ibu melakukan semuanya untuk kebaikanku tetapi ibu lupa tentang kebahagiaanku. Aku memiliki banyak mimpi, setidaknya berilah kesempatan untuk meraihnya. Aku tidak ingin menyesal karena tidak berusaha meraih mimpiku sendiri. Seorang anak hanya ingin di dengarkan, diberi kepercayaan, di beri tanggungjawab soal hidupnya sendiri. Anakpun tidak akan melupakan baktinya pada orang tua. Bahkan seorang anak sangat ingin menjadi kebanggaan kedua orang tuanya.

Bahkan sangat ingin orang tuanya berkata di depan semua orang. Bahwa dia bangga memiliki anaknya. Meskipun banyak kekurangan tidak sepandai atau sukses seperti anak lainnya. Bu, tahukah kamu aku hanya ingin ditepuk bahuku dan bilang bangga atas apa yang aku lakukan. Tetapi aku tidak pernah mendapatkan itu. Aku hanya terus dipaksa melakukan hal sesuai keinginan orang tuaku.

Meskipun begitu aku tetap menyayangi kalian, ayah dan juga ibu. Setiap saat aku selalu berdoa kalian akan mendapatkan kebahagiaan dari Tuhan. Meskipun aku tidak bisa memberikan banyak hal dalam hidupku. Seorang anak hanya ingin di dengarkan itu saja. Maaf tidak bisa menjadi anak seperti yang diinginkan ibu. Maaf karena sebagai anak tidak bisa berbakti. Terimakasih karena telah melahirkanku. Terimakasih untuk segala kasih sayang yang tercurah untukku. Terimakasih…..

Aku mengingat di suatu waktu. Saat aku masih kecil aku ditimang penuh kasih sayang. Merasakan kebahagiaan bersama kedua orang tuaku. Terimakasih….

Kemudian semua menjadi gelap. Aku tidak bisa melihat cahaya…

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Terselip Doa Untuk Ibu Tercinta""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel