Kisah Misteri "Teman di Luar Nalar"

KisahTerbaik.Com- Pengalaman mistis yang dibagikan oleh Hela Azzahra ini, berjudul "Teman di Luar Nalar". Dalam tulisannya ia menceritakan sosok teman yang pernah memaanggilnya dan dianggapnya tidak ada di dunia nyata. Semoga cerita ini mampu membawa pembaca pada rasa penasaran.

Begini, Kisahnya..

Ya, malam ini mau makan apa? Beli dari sekarang saja sebelum senja. Nanti malam mama mau pergi sama bapakmu ke pengajian seperti biasa.
Terserah saja,ma.

Malam Senin. Jadwalku sendiri. Ya, sendiri. Semua keluarga ku akan pergi ke acara pengajian keluarga yang rutin dilaksanankan tiap minggunya kecuali aku. Bukan aku tidak mau mencari akhirat ataupun terlalu mementingkan dunia.

Karena situasi dan kondisi dimana pengajian diadakan pada malam hari dan hingga larut malam sedangkan besoknya aku harus sekolah. Hal itu tentunya dilarang keras oleh orang tua. Ditambah lagi aku adalah tipikal seseorang berimun lemah yang membuatku tidak bisa merasakan capek berlebih.

Seperti biasa aku ditinggal lagi malam ini. Aku memang tinggal di rumah sendiri. Meskipun begitu, aku tetap harus menjaga mataku agar tetap terbuka karena tidur sendirian di rumah yang besar itu tetap menakutkan. Aku bermain handphone untuk membuat aku terus terjaga dengan musik sebagai pengiring dan earphone sebagai penghubung.

Aku terlalu lelah untuk menunggu orang tuaku datang larut malam. Perlahan-lahan mataku mulai menutup untuk pergi menuju ke alam mimpi.

Ya. Yaya..
Suara mama. Apa mama udah datang?”,ucapku di dalam hati.

Aku memutuskan untuk bangun karena mendengar suara mama. Biasanya, mama juga membawa makanan. Ketika aku tersadar, aku merasa aneh. Kedua telingaku tertutupi earphone yang berisikan musik dengan volume tinggi. Lalu, bagaimana caranya aku mendengar suara mama?

Aku menolehkan kepalaku ke samping untuk melihat ke arah pintu kamarku sekaligus memastikan apakah benar mama yang datang. Ketika ku menoleh ke samping, bukannya pintu yang ku lihat. Itu adalah kepala seseorang yang tetutupi oleh rambut panjangnya. Orang itu tidak melihatkan wajah dan tubuhnya.

Siapa orang ini? Mama tidak berambut panjang.”, tanyaku pada diri sendiri.

Aku sadar. Orang itu. Orang yang menampakkan diri itu bukan dari alamku. Aku kembali menoleh ke samping. Orang itu menghilang dan terlihat pintu kamarku. Mama belum pulang. Aku membuka handphoneku untuk melihat jam.

Waktu baru menunjukkan pukul 22.30 WIB, dan 3 menit yang lalu adalah waktu terakhir aku membuka handphone yang kemudian aku terlelap. Aku sadar tadi itu aku tidak tertidur dan apa yang ku lihat adalah nyata.

Aura disekitarku berubah menjadi lebih mencekam. Biasanya aku hanya merasakan aura ini ketika menonton film horor yang penuh dengan hantu-hantu rekayasa. Aku takut karena ini kali pertamanya aku melihat sesuatu dari alam yang berbeda.

Aku memutuskan untuk tidur tanpa harus menunggu orang tua ku datang.

Pagi tiba dengan mentari yang tersenyum lebar. Namun, hal itu berbeda denganku yang kini malah terbaring lemah di atas kasur karena demam yang datang secara tiba-tiba. Aku berpikir mungkin ini karena aku kelelahan.

Ketika sarapan tengah berlangsung, aku menceritakan kepada kedua orang tuaku tentang apa yang ku alami sendiri di tengah malam yang sunyi. Orang tua ku terlihat khawatir. Mereka bilang demamku bukan hanya karena kecapekkan.

Demamku juga datang karena hal lain. Aku penasaran, tetapi orang tuaku tidak memberitahu apa yang dimaksud dengan hal lain itu.

Sore harinya, orang tuaku membawa ku ke rumah seseorang yang terkenal bisa memberi air yang dibaca dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan insya allah bisa menjadi obat.

Orang itu memijit kakiku dari lutut hingga ujung ibu jariku. Ditengah-tengah orang itu memijitku, aku merasakan nyeri dan sangat sakit. Orang itu tak mengindahkannya dan tetap memijit kakiku berulang-ulang kali. Setelah selesai ia memijit kakiku, ia mengambil sebotol air dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.

Keteguran, Pak. Dia hanya ingin berteman saja sama kamu. Tadi malam cuma melihat saja kan? Kamu tidak digampar atau yang lainnya?
Tidak,Pak”, sahutku.
Syukurlah. Kalau sempat kamu digampar atau diapa-apain bakal pingsan kamunya. Apalagi kamu sendiri tadi malam.”

Setelah selesai berbincang-bincang, aku pulang ke rumah. Sampainya di rumah, orang tuaku mengatakan bahwa keteguran lah penyebab demam lainnya. Aku berusaha mengerti meskipun itu tidak ada hubungannya dengan medis.

Namun, berkat kejadian itu kamarku jadi penuh dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dari keluargaku khususnya orang tua ku yang khawatir hal seperti itu akan terulang lagi. Selain itu, aku juga tidak diperbolehkan lagi menonton film horor.

Orang tuaku bilang jika kita sering menonton mereka, mereka tambah suka karena manusia percaya dengan mereka. Dan mereka akan memunculkan diri untuk menambah kepercayaan tersebut. Setidaknya, dengan tidak menonton film horor bisa menurunkan resiko penyakit jantungan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Misteri "Teman di Luar Nalar""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel