Kisah Nyata "Ada Jalan Dibalik Setiap Persoalan"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita nyata ini berjudul "Ada Jalan Dibalik Setiap Persoalan" yang ditulis oleh Sintya Oktapiany Sumbayak. Dalam kisahnya ia membagikan barbagai pengalaman hidup yang bisa dijadikan pelajaran untuk segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Saya seorang Mahasiswi Semester 2 di Universitas Sam Ratulangi, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Ini adalah kisah Ku dan Keluargaku...

Saya terlahir dari seorang keluarga yang pas-pasan, saya memiliki seorang Abang (Kakak laki-laki) yang sekarang juga menempuh kuliah di salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah. Aku bersyukur kepada Tuhan ku diberikan orang tua yang luar biasa buat hidupku terkhusus Ibuku yang menjadi penyemangat dan inspirasiku hingga saat ini.

Ibuku bekerja sebagai seorang pedagang kecil-kecilan yang dibuat didalam rumah dan ayahku seorang pekerja bengkel. Kebutuhan kami selama ini berharap pada keuntungan dari jualan ibuku, karena pekerjaan ayahku tidak selalu menetap terkadang didalam 2 bulan ayahku hanya mendapat 1 pelanggan di bengkelnya dan jika untung 1 bulan dapat 2 pelanggan, bahakan terkadang dalam beberapa bulan ayahku sama sekali tidak mendapatkan pelanggan.

Keluargaku juga tidak seharmonis kebanyakan keluarga lain, sering terjadi pertengkaran di dalam keluargaku khususnya antara Ayah dan Ibuku. Pertengkaran sering terjadi karena ayahku yang notabenenya adalah seorang kepala keluarga terkadang tidak mengerti terhadap kondisi ekonomi keluarga kami, sedangkan ibuku setiap hari berjuang dari subuh hingga malam hanya untuk memperjuangkan kami anak-anaknya agar bisa kuliah.

Bahkan ibuku selalu mencari pekerjaan tambahan, karena jika hanya mengandalkan keuntungan hasil jualan ibuku, itu hanya cukup untuk kebutuhan makan kami sehari-hari.

Disaat aku mulai duduk dibangku kelas 3 SMA ibuku mulai merasa cemas karena keinginanku yang juga ingin kuliah di luar Pulau Sumatera. Ibuku merasa tidak mampu jika menguliahkan kedua anaknya jika hanya mengandalkan hasil jualan warung.

Sebenarnya aku juga tidak rela meninggalakan ibuku untuk berjuang sendirian menerpa teriknya matahari dan badainya hujan, karena selama ini aku merupakan tangan kanan ibuku yang bisa diandalkan oleh ibuku.

Karena biasanya setelah aku pulang sekolah aku bertugas untuk menjaga warung dan ibuku pergi untuk mencari pekerjaan tambahan.

Setiap sorenya aku bertugas untuk mengupas kentang (secara manual) milik langganan ibuku (3-10 kg/hari) aku gak tau seberapa hitam tanganku setiap hari karena mengupas kentang tersebut, yang terkadang aku juga malu jika kesekolah tangan ku masih terlihat bekas hitam tersebut.

Setelah itu, aku mengantar pesanan belanjaan ke rumah-rumah langganan ibuku. Aku baru mulai belajar jika ayahku sudah pulang kerumah untuk mengganti jadwal menjaga warung, terkadang aku juga langsung tidur tanpa belajar karena aktivitas ku yang sangat padat ditambah les sore disekolah. Aku memaksimalkan pelajaran ku di sekolah maupun di les.

Dirumah aku keseringan hanya untuk mengerjakan tugas dari guruku (PR). Hal tersebut menjadi rutinitas hari-hari ku. Aku juga selalu berusaha mewujudkan mimpiku agar bisa kuliah diluar Pulau Sumatera dengan mendaftar Beasiswa Bidik Misi yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang mampu secara finansial.

Pada saatnya tiba berbagai macam jalur penerimaan Mahasiswa baru aku mengikuti berbagai tes mulai dari SNMPTN, Kementrian Keuangan yang merupakan salah satu mimpiku sejak awal masuk SMA, Sekolah Penerbangan, Sekolah Pariwisata, dan SBMPTN. Setelah pengumuman aku dinyatakan Gagal di tes SNMPTN dan Kementrian Keuangan karena kesalahan yang aku perbuat.

Tapi aku dinyatakan Lulus dalam Sekolah Penerbangan namun karena biaya pendidikan yang mahal aku memutuskan untuk tidak mengikuti tahap lanjutan. Selanjutnya aku mengikuti Tes Sekolah Pariwisata yang ada di Medan yang merupakan saran dari ibuku, selama aku mengikuti tes tersebut aku juga menunggu hasil ujian SBMPTN dan tiba hari terakhirku untuk tes di Sekolah Pariwisata, pengumuman hasil SBMPTN sudah keluar dan aku dinyatakan Lulus di Pilihan kedua dengan program Beasiswa Bidikmisi.

Aku tidak melanjutkan tahap terakhirku di Sekolah Pariwisata dan aku pulang untuk memberitahu kepada ibuku, namun setelah aku memberitahu kepada ibuku raut wajah ibuku tidak begitu senang dengan kelulusan itu, karena memikirkan jauhnya jarak antara Sumatera dengan Sulawesi.

Ibuku juga mulai memikirkan bagaimana akan mebiayai kehidupan kedua anaknya yang jauh dari nya. Karena untuk mebiayai kehidupan abangku saja ibuku terkadang merasa tidak sanggup. Namun dengan adanya bantuan Beasiswa tersebut ibuku terbantu untuk tidak mebayar uang kuliahku dan kos-kosanku, ibuku hanya memikirkan biaya kebutuhan sehari-hari ku.

Dan aku selalu percaya kepada Tuhan-ku yang sangat luar biasa pakai ibuku dan ayahku untuk menyekolahkan kami sampai pada saat ini, aku selalu hanya berpegang kepada kepercayaanku dan bekerja keras karena setiap kebutuhan pasti akan terpenuhi jika ada tindakan, usaha, dan kepercayaan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Ada Jalan Dibalik Setiap Persoalan""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel