Kisah Nyata "Bersabarlah, Semuanya Akan Indah Pada Waktu yang Tepat"

KisahTerbaik.Com- Kisah nyata yang dituliskan oleh Rini Novita Wulandari inio berjudul "Bersabarlah, Semuanya Akan Indah Pada Waktu yang Tepat" dengan gaya bahasa yang apik, penulis mencoba memberikan gamabaran tentang manisnya kesabaran.

Begini, Kisahnya..

Aku adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri. Selama menempuh pendidikan, aku mengikuti sebuah klub yang ada pada kampus ku. Klub itu adalah klub bela diri Taekwondo. Aku begitu terkesan dengan penampilan dari kakak-kakak tingkatku yang menjelaskan tentang klub itu. 

Mereka juga menampilkan sebuah penampilan yang sangat keren. Saat melihat penampilan mereka, aku langsung bertekad untuk mengikuti klub tersebut.

Setelah mendaftar, aku menghadiri latihan pertama proses pengenalan dan pembelejaran. Aku sangat antusias melihat banyaknya mahasiswa baru yang mendaftar pada klub itu. Pada latihan itu, kami melakukan pemasan terlebih dahulu dan saat itu pula aku sadar bahwa tubuhku benar-benar kaku. 

Jujur saja, aku merupakan seorang wanita yang sangat malas berolahraga.

Ketika di sekolah menengah atas aku hanya berolahraga jika ada jam pelajaran olahraga saja. Akupun begitu malu sekaligus iri dengan kakak-kakak tingkat serata mahasiswa baru yang dapat mengikuti gerakan pemanasan dengan baik. Tubuh mereka sangat lentur dan tidak kaku. Apalagi saat mereka melakukan gerakan split. Split adalah gerakan yang sangat ingin bisa ku lakukan.

Melihat orang yang bisa melakukannya dengan mudah terkadang membuat ku berpikir apakah memang semudah itu melakukannya? Tentu saja jawabannya tidak sama sekali!. Aku merasakan sakit di kakiku ketika melakukan gerakan tersebut.

Setelah latihan pertama hari itu aku bertekad untuk bisa melakukan gerakan pemanasan dengan baik dan tidak kaku lagi. Aku memutuskan untuk melakukan setiap gerakan pemanasan dipagi hari dan dilanjutkan dengan jogging ringan keliling komplek kos ku. Aku juga melakukannya disore hari sebelum mandi dan sebelum tidur tentunya.

Pada latihan kedua ku, hasilnya mulai terlihat. Walupun tidak sebaik kakak tingkat ku tapi aku sudah lebih baik daripada latihan pertama. Kemudian aku melanjutkan latihan teknik- teknik bela diri Taekwondo, dimulai dari tendangan dan pukulan dasar.

Setelah hampir satu bulan berlatih, aku kembali sadar dengan kenyataan bahwa kemampuanku sangat tertinggal dari teman-teman yang lain. Tendanganku sangat lemah dan tidak akurat. Aku pun mulai mencari cara bagaimana caranya untuk memperbaiki kelemahanku ini.

Seiring berjalannya waktu aku masih belum bisa mengejar ketertinggalanku. Tapi, pelatihku mengatakan bahwa akan ada kejuaraan yang akan di adakan oleh kampus tetangga dan kami diminta untuk mengikutinya.

Kata beliau untuk menambah pengalaman, soal kalah dan menang itu tidak usah dipikirkan. Aku tertarik untuk mengikuti kejuaraan itu, tapi mengingat kemampuanku yang tak seberapa membuat ku cemas.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Apa salahnya untuk mencoba bukan? Selama tidak merugikan orang lain dan aku bersungguh-sungguh dalam melakukannya, mengapa tidak?.

Aku mulai melakukan penimbangan berat badan untuk menentukan kelas aku akan bertanding. Berat badanku saat itu adalah 46 kg dan ada seorang kakak tingkatku juga yang berat badannya sama denganku namanya Karima. Karena untuk setiap kelas hanya boleh ada satu perwakilan, kami diminta untuk latihan tanding dan siapa yang menang maka dia yang akan mengikuti kejuaraan tersebut mewakili kampus.

Kami pun melakukan latihan tanding, aku sangat gugup dengan latihan ini. Selain kemampuanku yang tak seberapa ini dibandingkan dengan kak Karima yang sudah sabuk biru, aku bukanlah apa-apa. Mentalku juga di uji disini, karena banyak yang mendukung kak Karima dan memberinya semangat sedangkan tidak ada seorangpun yang mendukungku.

Aku menghela nafas berkali-kali untuk menghilangkan rasa gugupku dan akhirnya aku tetap kalah dari kak Karima. Tapi aku senang, karena setidaknya aku kalah dengan menghasilkan poin. Saat melawan kak Karima, aku sempat menyerang bagian kepalanya dan boom tepat sasaran. Dari hasil latihan tanding tentu saja kak Karima yang berhak untuk mengikuti kejuaraan, akan tetapi Tuhan berbaik hati kepadaku karena kak Karima tidak bisa mengikuti kejuaran.

Akhirnya aku yang akan mengikuti kejuaraan itu. Tapi aku tidak bisa senang dulu, aku memang terpilih ikut kejuaraan tersebut akan tetapi mengingat hasil latihan tandingku dengan kak Karima membuat ku kembali berpikir bahwa aku harus lebih banyak berlatih untuk bisa menang di kejuaraan nanti.

Aku terus berlatih, walaupun beberapa orang meremehkan kemampuanku yang memang tak seberapa dan tidak mempunyai pengalaman. Tapi aku terus berusaha dan mencoba untuk tidak menyerah. Aku pernah baca sebuah kalimat yang berbunyi “Jika kamu merasa banyak orang yang membencimu, kamu harus ingat bahwa tidak sedikit juga yang menyukaimu”.

Seperti kalimat tersebut, aku percaya bahwa memang tidak mungkin membuat semua orang menyukaiku tapi setidaknya aku tahu bahwa masih ada orang yang menuyukaiku dan percaya padaku. Karena itu, aku akan terus berusaha agar tak mengecewakan orang-orang yang percaya padaku.

Setelah berusaha dan berlatih, akhirnya hari pertandingan tiba. Aku sangat gugup menunggu giliran ku untuk bertanding. Sembari menunggu aku mulai mengamati teman-temanku yang juga ikut bertanding serta peserta lainnya.

Atmosfer di lapangan penuh dengan tekanan. Aku melihat mereka saling menendang dan memukul, saling mencari celah untuk menghasilkan poin. Hingga tiba guiliranku yang berdiri dilapangan tersebut. Aku mulai merasa tidak fokus dengan teriakan-teriakan penonton yang menyemangati lawanku. Aku mencoba untuk tenang, disaat seperti ini ketenangan adalah yang terpenting. Karena dengan tenang aku bisa memikirkan strategi yang tepat untuk menghadapi musuhku.

Tiga menit berada di lapangan yang terbagi menjadi dua ronde sungguh sangat melelahkan dibandingkan berlari satu jam. Di lapangan aku harus terus berpikir dan mencari celah untuk mendapatkan poin, di satu sisi aku juga harus mengatur pernapasan dan stamina. Sungguh pertandingan yang menguras tenaga. Di ronde pertama, aku ketinggalan poin karena terus terkena tendangan musuh.

Di ronde kedua aku mulai mengejar poin, seperti ceritaku diawal aku lebih sering melakukan pemanasan dan jogging. Ternyata itu sangat berguna untukku, karena sering melakukan pemanasan badanku jadi lentur sehingga membuat jangkauan tendanganku semakin jauh dan karena sering jogging aku dapat mengontrol pernapasanku dengan baik.

Aku terus mengincar bagian kepala musuhku karena itu memiliki poin yang tinggi sehingga diriku bisa mengejar poin. Pada akhirnya, aku memenangkan perlombaan tersebut hingga final dan memenangkan medali emas di kelasku bertanding.

Seperti prinsip yang sangat ku percaya bahwa “hasil tidak pernah mengkhianati usaha”. Ya, hasil yang diterima selalu sebanding dengan usaha yang dilakukan. Tentu saja berdoa juga harus dilakukan, akan tetapi berdoa juga harus sesuai dengan sejauh mana usaha yang telah kita lakukan. 

Aku ingat seorang dosen di kelasku pernah berkata “saya adalah pembimbing sebuah klub, ketika itu mahasiswa saya meminta doa kepada saya agar mereka menang dalam perlombaan. Saya mengatakan kepada mahasiswa itu, berapa persen kau yakin kamu akan menang? Dan dari berapa persen itu, apa saja yang telah kamu lakukan pada yang mampu membuat kamu menang?. Jadi, jika kita berdoa juga harus sebanding dengan usaha yang telah kita lakukan”.

Aku sangat tersentuh dengan perkataan beliau, sangat sering aku berdoa kepada Tuhan tapi usaha yang kulakukan tidak sebanding dengan hal yang kuminta didalam doa. Jadi, selama kita terus berusaha dan tidak menyerah kita akan menemukan sebuah kebahagian pada akhirnya. Bersabarlah, semua akan indah pada waktu yang tepat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Bersabarlah, Semuanya Akan Indah Pada Waktu yang Tepat""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel