Kisah Nyata "Cinta di Relung Rasa Malu"

KisahTerbaik.Com- Ceritanya nyata tengan cinta ini dituliskan oleh Wirda Nur Aulia dengan judul "Cinta di Relung Rasa Malu". Dalam kisah ini ia membagikan berbagai pengalaman dan cobaan hidup yang bisa dambil instisari bagi segenap pembaca.

Begini, Kisah Nyatanya...

Nama nya Dara Rahmawati. Dia hidup bersama ayah, ibu, dan kakak nya. Dari kecil dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Ayahnya sangat sayang kepadanya, kasih sayangnya sangat terlihat saat dirinya masih kecil dulu. Dulu ibu nya sering memarahinya karena Dia selalu meminta sesuatu yang aneh, namun ayahnya selalu membuat perasaannya lebih tenang. 

Dara Por

Tetapi, saat ini setelah umurku 15 tahun aku sangat jauh dengan ayahku, bahkan aku sangat canggung mengatakan keinginanku kepadanya. Ayahku bersifat pendiam, humoris, dan tegas. Saat ini aku sering menceritakan kegiatan ku sehari-hari kepada kakak ku, karena dia selalu merespon positif kepada ku, tapi ada satu hal yang tidak ku ceritakan kepada kakak ku, yaitu soal cinta. Percintaan ku dari dulu memang sangat tidak jelas, yaa entahlah,,, karena menurut orang-orang itu disebut cinta monyet. Tapi aku pernah loh, merelakan seseorang yang aku suka untuk sahabatku sendiri, yaa kira-kira 1 tahun yang lalu.

Saat ini, aku harus menyiapkan mental ku, karena aku akan bertemu dengan teman baru, sekolah baru, dan guru baru. Sekolah baruku ini bernama SMA Tunas Bangsa. Aku memilih sekolah itu karena beberapa hal pertama aku suka sekolah nya karena salah satu SMA favorit di kota ku dan kedua aku berharap aku bertemu dengan temanku yang dulu hilang, rasanya aku ingin bernolstagia dengan teman-teman ku dulu, tapi entahlah mereka masih ingatku atau tidak. Jujur selama aku menyiapkan mental ini, aku selalu mengikuti perjalanan teman-teman lama ku di sosial media, siapa tahu mereka juga sekolah di sanakan?.

Hari ini adalah hari wawancara ku di SMA Tunas Bangsa, aku dan teman SMP ku datang lebih awal. Saat aku masuk kedalam SMA itu, aku langsung mencari ruangan wawancara ku. Pada saat itu aku menemuakan ruangan 15, yaaa dan ada juga namaku di daftar nama itu, saat aku melihat namaku, urutannya ke 40, iya sudah kuduga,,, . Waktu terus berputar tepat pukul 12 siang aku masuk ke dalam kelas melakukan tes wawancara. 

Saat aku sedang menunggu teman-teman ku wawancara, aku duduk di teras sambil membayangkan aku sekolah di tempat yang luas ini, bersama teman baru ku. Tiba-tiba, ada segerombolan dari sekolah lain melewati diriku yang sedang duduk, dalam hati “siapa ini? Sombong sekali, pasti mereka pintar-pintar, aduh bagaimana ini?”.

Saat aku melihat orang-orang itu, aku merasa banyak wajah yang tak asing, yang pernah aku lihat sebelumnya, tetapi aku tidak tahu siapa itu?. Saat wawancara selesai, kami pulang. Namun sepanjang jalan, aku memikirkan siapa orang-orang tadi, aku sangat penasaran.

Hmmm... dan hari ini adalah hari masa orientasi siswa, katanya angkatan aku ini adalah angkatan terakhir yang akan melaksanakan masa orientasi siswa, dan akan digantikan dengan masa pengenalan siswa.

Tapi, selama aku maelakukan MOS di sekolah ini aku merasakan masa ini sukses bagi aku, dan masa ini adalah masa yang paling menyenangkan di SMA tanpa ada MOS aku rasa kurang manis. Untung aku pernah merasakan masa MOS ini apalagi teman sekelasku adalah orang-orang baik, pokoknya baik.

Namun setelah masa MOS ini selesai aku dibingungkan dengan pilihan ekstrakulikuler yang begitu banyak, tapi saat itu juga aku mencari ekstrakulikuler yang berbau menggambar, dan akihrnya aku menemukannya. Di ekstra ini aku menemukan jati diri ku, rasanya hidup ku hampa tanpa warna. 

Berbagai masalah pun muncul di SMA seperti guru yang tidak bersahabat dengan ku, pelajaran yang paling tidak dimengerti dan teman yang sulit dipahami. Tapi, untungnya teman kelas ku baik. Sebenernya kelas 10 itu gurunya baik-baik. Tapi, katanya banyak guru yang kurang di pahami karakternya di kelas 11, dan 12. Lagi-lagi aku harus menyiapkan mental untuk menhadapinya. 

Setelah manis-manisnya melakukan kegiatan kelas 10, akhirnya aku memasuki babak penjurusan di kelas 11, hal ini yang membuat aku sangat dilema. Karena jujur saja dari kecil cita-cita ku adalah sebagai dokter, yang menuntut aku untuk masuk jurusan IPA, tapi di sisi lain aku tidak mengerti soal ulangan fisika & kimia tahun ini, dan yang membuat aku dilema lagi adalah nilai rata-rata dan jumlah nilai IPA & IPS ku sama besar. Aku mulai meneliti hal ini dari sudut pandang lain, dan akhirnya aku memilih IPS sebagai pilihanku.

Banyak orang-orang yang tidak percaya dengan pilihanku ini, tapi inilah takdir ku yang aku pilih, dan setiap orang tak harus sama, banyak teman dekat ku yang memilih jurusan IPA. Dan ini masalah baru ku lagi, karena aku harus bisa menyesuainkan diri dengan teman-teman yang berbeda ideologi. 

Di sini aku berpijak, aku memahami banyak karakter manusia, dan aku memahami banyak permasalahan yang harus aku cari solusinya. Dari sini juga aku banyak menemukan teman-teman yang pintar dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya. Ada yang pintar berhitung, presentasi, pintar menari, pintar menggambar, pintar berdebat, pintar berjualan, pintar berakting, bahkan  pintar berolahraga.

Saat aku menjalani kegiatan sekolah, ada satu orang anak namanya Gilang, dia sangat nakal, bahkan dia sering melakukan pelanggaran sekolah dan akhirnya ditegur pihak BP, tetapi dia sangat cerdas dan pintar.

Ada juga seorang anak namanya Malik dia ganteng bangeeeet banyak perempuan-perempuan yang nyantol deh, pokoknya dia itu kayak playboy gitu, tapi lumayan pinter sih, tapi kadang-kadang dia tuh suka banget ngerendahin orang-orang yang biasa aja gitu. Ada juga temen aku perempuan namanya Fani, dia itu orangnya biasa aja, pokonya serba biasa deh, yaaa dia itu suka bgt direndahin sama banyak orang, tapi entah hatinya itu terbuat dari apa ya? Kuat banget, kebal. Sebenernya banyak orang-orang yang membuat aku belajar dari kebaikan mereka, dan aku juga pelajari keburukan mereka. 

Aku sendiri semenjak SMA, aku mulai belajar agama yang sesungguhnya, karena semenjak aku SD, SMP aku sangat lalai menjalankan ibadah ku, dan selama ini aku dianugrahi teman-teman yang luar biasa, karena aku berteman dengan orang yang anti pacaran, akhirnya sampai saat ini aku masih jomblo dan aku belum pernah punya mantan.

Iya kita jomblo, tapi harus gaul. Dari kecil aku sekelas dengan laki-laki, tapi aku masih jomblo? Ya, itu bukan berarti tidak laku atau bukan berarti aku tidak menyukai laki-laki yaaa, tapi itu karena dalam agama ku tidak ada pacaran, iyaaaa itulah pendirianku. Tapi, ada juga laki-laki yang aku kagumkan (banyak). Tapi menjadi seorang  wanita itu menunggu, tapi bisa juga tidak menunggu, seperti Khodijah kepada Rosulullah.

Ada juga sesuatu yang janggal selama aku di SMA. Ada seorang laki-laki, dia selalu memperhatikan ku, aku tahu dia, tapi entah maksud dia itu apa, tapi seperti ada yang aneh dari dia. Tingkah lakunya aneh, Pokoknya aneh. Dia selalu mengikuti aku kemana pun aku pergi, bahkan ada satu kejadian dia menolongku ku dari ancaman teman-teman satu kelas ku. Dia itu bagaikan malaikat yang selalu menolong ku, dan aku tak tahu maksudnya apa.

Saat aku mulai kelas 12, aku mulai belajar serius karena aku ingin masa depan ku cerah, dengan nilai UN yang baik, dan masuk perguruan tinggi negeri. Semenjak aku kelas 10 aku belum tahu banyak tentang perguruan tinggi negeri apalagi yang ada di provinsi ku sendiri, yang aku tahu hanya UGM dan UI. Saat aku kelas 12, aku mulai mengerti cara masuk PTN favorit. Banyak juga sosialisasi-sosialisasi yang kutemui.

Dulu cita-cita ku sebagai dokter, akhirnya aku banting setir karena jurusanku saat ini adalah IPS. Dengan masuknya aku ke jurusan IPS bukan berarti aku kehilangan cita-cita yang mulia, di jurusan IPS banyak profesi-profesi yang mendukung, seperti guru,pengusaha, akuntan, presenter, Hakim, duta besar bahkan jadi presiden. 

Aku belajar dengan tekun semua waktu ku korbankan untuk belajar, kadang orang miskin bisa jadi sukses karena beasiswa, dan orang kaya bisa jadi sukses karena uangnya. Tapi apalah daya ku orang yang biasa-biasa saja? Aku hanya mengandalkan usaha dan do’a. Dalam hidupku aku ingin sukses dunia dan akhirat.

Saat ini aku ingin masuk Universitas negeri jurusan apapun, karena dulu ibuku menyuruhku untuk masuk Universitas negeri, akhirnya dengan usaha belajarku dan do’a ibu dan ayahku , akhirnya aku masuk Universitas favorit di kota Bandung. Teman-teman ku yang lain banyak juga yang mendapatkan universitas favorit di Indonesia ada yang di yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Aku sangat bersyukur aku bisa kuliah di tempat itu. Dan aku mulai melakukan kegiatan kuliah bulan September.

Aku membuat rencana studi dengan waktu maksimal 4 tahun, karena aku ingin melakukan kuliah kurang lebih 3 tahun saja, dan 1 tahun lagi aku gunakan untuk melakukan kuliah tambahan agar menjadi seorang guru. 

Setelah 2 tahun berlalu, aku masuk tahap akhir. Aku bisa masuk kelas akselerasi dengan waktu 3 tahun, dan di tahun ini aku harus membuat skripsi. So, aku butuh banyak banget buku referensi. Banyak orang yang menyarankan untuk pergi ke kota-kota besar untuk mendapatkan buku-buku referensi yang bagus. Kota yang akan aku kunjungi adalah Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. Hmm... untungnya aku mempunyai banyak kenalan di kota-kota itu, jadi aku tidak susah payah untuk mencari penginapan. Kota yang pertama aku kunjungi adalah Yogyakarta.

Pagi hari di Yogyakarta, aku baru sampai dengan teman baik ku Rani, dia sahabat ku, dia juga yang mengajari ku banyak hal tentang agama. Jadi penampilan ku saat ini berbeda dengan dulu yang suka buka tutup. Sekarang aku mulai memakai jilbab panjang dan sesekali aku memakai masker. Sebenarnya alasan ku memakai masker supaya aku bisa menutupi ras malu ku terhadap orang banyak.

“Akhirnya kita sampai di kota kelahiran aku ”
“Ayo kita pergi ke toko bukunya!”
“Dara,,, kita kan baru sampai, kita harus kerumah aku dulu, aku lelah”
“Iya, iya, tapi jangan lupa ya, aku ke sini kan mau cari buku.”
“oke”
sambil membawa koper dan berjalan
“Rani,,, hmmm di sini ada laki-laki sholeh + ganteng tidak?”
“heee kamu yahh,, tugas seorang wanita itu...”
“menunggu” (memotong pembicaraan Rani) Rani hanya mengangguk

Aku dan Rani langsung naik beca ke rumahnya. Sesampai di rumah Rani aku disuguhkan banyak makanan khas Yogyakarta, aku mandi, istirahat, dan makan. Setelah pukul 1 siang aku pergi ke toko buku itu, kebetulan saat itu Rani terkena demam. Akhirnya aku pergi sendiri ke ke toko, sambil membawa alamat yang diberikan Rani dan uang yang cukup, aku pergi dengan beca ke alamat yang dituju. 

Saat di jalan raya, beca itu berhenti dan menunjukkan tangannya ke ke arah alamat itu dan kira-kira 100 m ada sebuah toko yang dikelilingi toko-toko yang sangat ramai. Awalnya aku takut berada di tengah kota orang sendirian, tetapi bibi ku pernah bilang jika ada di kota orang kita tidak boleh merasa kebingungan karena itu bisa menjadi sasaran orang jahat.

Aku memasuki sebuah toko yang sangat sepi namun, ada satu dua orang yang membeli di sana, dengan ribuan buku yang berada di rak-rak sempit. Aku langsung membawa keranjang dan mulai mencari buku yang aku perlukan.

Aku rasa aku tidak perlu lagi ke kota orang untuk mencari berbagai buku yang aku inginkan, karena di sini semuanya sudah ada. Saat aku sudah mendapatkan beberapa buku, dan aku rasa cukup. Aku pergi lagi ke toko lain untuk berbelanja barang-barang yang aku perlukan. Saat aku sedang berjalan di pinggiran kota, aku tak sengaja menabrak seseorang, dan semua barang ku jatuh berantakan. Saat aku berusaha mengambilnya, aku melihat orang yang aku tabrak dan ternyata yang aku tabrak adalah Gilang,,,,

“Maaf, maaf mas..”
“iya mbak, saya juga minta maaf ya mbak” (sambil merapihkan buku-buku ku)
Subhanallah ini Gilang?, dia beda ya sekarang,, 
“Mbak,,?”
“Oh iya, makasih dan saya juga minta maaf ya mas.”(aku langsung pergi)

Gilang merasa aneh dan dia rasa dia mengenali suara ku. Untung saja aku memakai masker, jadi dia tak mngenali ku. Tetapi aku yakin dia merasakan keanehan ku.

Gilang Por

Aku rasa aku kenal suara itu, tapi siapa ya?. Aah entahlah, aku harus siap-siap buka toko. Aku masuk ke toko dan aku mulai membereskan barang-barang toko. Oh iya, sebenarnya setelah lulus SMA aku kuliah di Yogya dan seiring aku kuliah, aku kerja di toko buku kecil-kecilan, iyaa sebenarnya toko ini sangat besar.

Eh, tapi orang yang aku tabrak tadi seperti sudah beli buku, dan aku baca buku itu,,, sepertinya dia seorang mahasiwi tapi siapa ya? Aku sangat penasaran dengannya. Saat aku membuka tas ku di dalamnya ada buku gadis itu yang tertukar dengan buku harian ku, ooooh tidak. Pasti buku ini penting, kalau buku ini penting pasti dia balik lagi ke toko buku itu. Aku harus tunggu dia di toko itu, siapa tahu dia balik lagi.

Dara por

Huftt,, akhirnya aku sampai juga di rumah Rani. Tadi Gilang kan? Akhirnya aku bisa liat wajah-wajah teman ku lagi. Oh iya, tadi bukunya bagus-bagus deh. Saat aku mengeluarkan buku-buku ku, dan aku lihat ada buku harian, itu? Buku Gilang?, aduh ketuker lagi.

Buku aku yang ketuker, aduh,,, itu kan buku yang paling mahal. Kalau aku tuker lagi, aku harus tuker kemana? Aku tidak tahu rumah Gilang, lagi pula aku malu mengembalikan kepadanya. Ya sudah, aku beli lagi ke toko itu. Saat aku pergi, tokonya masih sama jarang pembeli.

Gilang Por

Aku harus balikin buku ini. Tapi, kok ada kertas, itu punya siapa ya? “dari Tuan bos, gilang kamu harus jaga toko sekarang! Saya mau pergi, saya akan balik besok, oke...”. Aduh, ini bos pergi lagi, ya sudah aku titip saja buku ini ke penjaga toko buku itu.

Dara Por

Saat aku ingin membeli buku yang aku inginkan. Ada seorang pria yang memanggilku dan dia memberikan buku ku yang tertukar dengan buku harian Gilang. Ternyata Gilang menitipkan bukunya kepada penjaga toko ini, untung saja dia menitipkannya. Jadi aku tidak usah bertemu dengannya lagi. Sifat malu ku ini memang masih ada, sampai aku tidak mau bertemu dengannya. Andai saja ada laki-laki soleh yang selalu memikirkan aku. Astaghfirullah... apa-apaan Dara. Aku sudah mendapatkan buku-buku ku, dan aku harus pulang sesuai rencana ku. Aku terpaksa pulang sendiri.

Aku pulang ke rumah ibu dan ayahku. Setelah 1 bulan aku berlibur, aku pergi ke Bandung untuk mengurus skripsi ku, di sana aku pergi ke kampus pusat untuk mengurusnya. Aku menginap di kosan Rani, hari-hari ku sangat penat dan membosankan dengan semua tugas kuliah ku. Lalu aku dan Rani pergi ke alun-alun Bandung untuk menghilangkan kepenatan ku.

Sesampainya di sana aku bercanda ria dengan Rani. Lalu setelah itu kami pergi ke taman. Di sana kami makan bersama, saat aku akan membeli minum di sebrang jalan tak sengaja aku berjumpa dengan Malik. Dia kuliah juga di Bandung kami berbincang-bincang dan aku mengajaknya beremu dengan Rani. Saat aku dan Malik akan menghampiri Rani, dari kejauhan ada orang yang sedang marah-marah. Lalu kami menghampiri orang-orang itu, dan ternyata orang itu Rani.

“Rani ada apa ini?”
“Ini Dar, aku kan ketemu anak ini lagi nangis di jalanan, terus aku ajak dia ketempat lebih aman, eh ada laki-laki ini langsung marah-marah, dan dia tuduh aku penculik.”
 “Gilang?”
“kamu kenal Dar?”
“Iya, aku kenal,,, dia Gilang temen SMA aku. Oh iya,,, Ini Malik temen SMA aku juga, Gilang & Malik ini sahabatan, iya kan?”
“Iya, aku dan Malik sahabatan, hmmm,,, maaf ya Rani, maafin aku juga yaa Dara.”
“Udah, udah,, semuanya kan udah beres, jadi Gilang ini kesini sama aku, kebetulan dia lagi liburan di tempat kakaknya, dan ini keponakannya.”

Lalu kami berbincang-bincang di alun-alun Bandung. Dan aku bermain dengan keponakan Gilang kami bermain hanya berdua, sedangkan mereka bertiga terus saja membicarakan perkuliahan mereka. Dari kejauhan sesekali Gilang memandangku dengan penuh harapan, dan bergantian Malik pun begitu.

Lama kelamaan Sesil tertidur di pangkuan ku. Dengan rasa bersalah, Gilang menggendong Sesil yang tertidur, dan di taruh di dekat Rani. Aku, Malik, dan Gilang bergegas ke dalam masjid untuk solat ashar, sedangkan Rani di luar menjaga Sesil. Setelah sholat aku reflek memakai masker, aku keluar masjid, dan berjalan menuju teras. Dari kejauhan Gilang melihat ku berjalan, dia merasa dia pernah meliahat ku seperti ini. Aku tidak menyadari bahwa Gilang pernah melihatku di Yogyakarta dulu. Saat aku mulai sadar, aku terus saja menghindari Gilang, karena aku takut dia menanyakan sesuatu. Saat ada kesempatan kami untuk bicara, Gilang mulai bicara padaku

“Dara, aku tahu kamu dulu yang tertukar buku harian dengan ku kan?”, akhirnya dia menanyakan hal itu, 
“Iya, lalu?”, 
“Kenapa kamu tidak mengenaliku saat itu?, kamu tahukan itu aku?”, karena tadi saja kamu mengenaliku.”, 
“Apakah kamu wartawan?, sehingga aku bingung banyak sekali pertanyaan yang kamu lontarkan.  Jujur saja, dulu ketika aku SMA aku tahu aku tidak punya rasa malu, tetapi itu dulu. Sekarang aku punya ras itu, salah satu nya ketika aku di yogyakarta Gilang, aku malu, aku malu karena seorang wanita tidak pantas untuk menatap seorang laki-laki.”, 
“Tapi, kenapa? Tadi kamu tidak menghindar ketika kamu bertemu dengan Malik?, apakah aku mempunyai salah padamu?, apakah rasa malu mu sudah hilang?”
“Iya baik, akan ku jelaskan, aku tidak menghindar dari Malik karena pertama aku merasa dia adalah teman baik aku, apabila aku menghindarinya akan merasa tidak sopan, kedua karena aku tidak mempunyai perasaan yang lebih kepadanya, aku masih punya rasa malu, aku masih menundukan kepala ku saat aku berbicara kepada Malik. Tetapi saat aku bertemu kamu di Yogyakarta dulu, aku akui aku salah dan itu karena aku punya perasaan lebih kepada mu Gilang yang entah mengapa itu bisa terjadi? Aku tidak tahu untuk menghalanginya, ketika itu aku harus pergi, karena pada saat itu aku tidak bersama orang lain.”

Emosi ku mulai memuncak saat itu, dan semua kata-kata yang ada di fikiran ku mulai keluar dari mulutku. Aku tahu ini adalah hal yang sangat salah, tidak seharusnya seorang wanita bicara seperti ini, tetapi Gilang selalu bertanya kepada ku. Tak kami sadari, Rani dan Malik melihat kami dengan sangat jelas. Akhirnya, Rani mengajak ku untuk pulang, kami pulang ke kosan. Lalu keesokannya Rani, Malik, dan Gilang bertemu di taman dekat kampus.

Gilang Por

Setelah aku bertemu Dara kemarin, hari ini aku, Malik, dan Rani bertemu di taman dekat kampus. Aku ingin meluruskan masalah ku dengan Dara. 

“Kemana Dara?”
“Dara, lagi ngurus skripsinya di kampus.”
“Oh, jadi gini Ran, kami kesini ingin menjelaskan masalah Dara dengan Gilang, agar kamu bisa membantu kami.”
“Baik, memangnya apa?”

Permasalahan kami selesai, semoga Dara cepat menyusun skripsinya dan dia sukses dalam berkarir. Akhirnya, kami hidup dengan damai.

Dara Por

Akhirnya, studi ku selesai juga. Aku bisa jadi guru, pahlawan tanpa jasa. Ibu ku selalu menanyakan jodohku. Iya beginilah menjadi seorang wanita selalu memperbaiki diri, dan selalu berdo’a. Niat seorang wanita memperbaiki diri bukan karena ingin punya jodoh baik begitu pun sebaliknya seorang laki-laki, tapi niatnya harus karena Allah. Tapi gak ada salahnya juga kalau kita ikhtiar untuk ta’aruf. Rani sahabat yang paling mendukungku, dia membuat daftar atau jadwal ta’aruf ku dengan laki-laki 

“sholeh” tapi, jika masih bukan jodoh,  apa boleh buat?.
Waktu wisuda pun tinggal mengitung bulan kira-kira 2 bulan lagi. Tiba-tiba
Drrt,,Drrrt....
“Hallo,, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam,,”
“iya kak, ada apa?, tumben nih kakak telpon?”
“Jadi, gini Dar, ada sesuatu yang harus di sampaikan kepada mu secara langsung, jadi diusahakan kamu harus pulang ke rumah, kira-kira kamu bisanya kapan?”
“Emang ada apa sih kak? Kabar baik atau buruk?”
“Ini kabar baik, kamu bisanya kapan?”
“Hmmm,, sebenernya 1 bulan ini aku libur, iyaa 2 bulan lagi kan aku wisuda.”
“Terus, kamu mau kapan pulangnya.”
“Hmmm, kalo penting banget sih aku besok pulang.”
“Ini berita penting Dara.”
“Oke deh, tapi tak ada apa-apa kan ka?”
“Tidak, di sini baik-baik saja. iya sudah, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam...”

Akhirnya aku pulang, aku merasa khawatir dengan kabar apa yang akan mereka katakan kepadaku rasanya aku ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Sesampainya di rumah aku bertanya kepada kakak ku dan semua orang di rumah ku, tetapi tak ada satu orang pun yang mau mengatakan kabar itu. Saat aku di kamar, kakak ku mengetuk pintu kamar ku. 

“kak sebenernya ada apa sih?”
“Kamu bakalan tahu besok”
Kakak ku keluar lagi, persaan ku campur aduk. Saat adzan subuh berkumandang aku mulai melakukan aktivitas seperti biasanya. Dan tiba-tiba sepupuku datang ke kamarku, dengan membawa peralatan make up dan baju gaun yang indah, aku mulai bertanya-tanya.
“Disti ada apa ini?”
“memangnya tidak ada yang memberitahu mu soal ini?”
“Tidak ada.”
“Oke karena aku saudara mu yang baik hati aku akan memberitahu mu. Jadi kira-kira nanti jam 9 pagi, akan ada seorang pria dan keluarganya akan mengkhitbah mu.”
“Apa? Khitbah? Mengapa keluargaku tidak memberitahu ku? Ini bukan khitbah, ini dijodohkan namanya.”
“huuuus,,, ini khitbah Dara.”
“Tapi, siapa laki-laki itu? Kita belum ta’arufan, kita belum bertemu dan lain sebagainya.”
“Siapa bilang, dia itu sudah kenal sama kamu, kamu juga sudah kenal dengannya, bahkan kalian pernah bertemu.”
“iya, tapi siapa?”
“Kejutan, nanti juga kamu tahu.”
“Apakah dia soleh? Ganteng?kaya?”
“Semuanya ada pokoknya,,,”

Aku sangat penasaran, hati ku berdetak kencang. Yang aku harapkan semoga dia baik itu saja sudah cukup bagiku. Saat aku mulai melangkah keluar kamar, aku merasakan dingin di tangan ku. Saat ku tatap wajah orang-orang di sekitar ku banyak sekali kebahagiaan di mata nya. Tapi entah dengan ku, aku harus bagaimana.

Disti selalu membisikan padaku “Kau tak akan menyesal” entah itu nyata atau hanya sekedar penenang. Saat aku mulai memasuki ruang tamu aku menundukan kepala ku dan memejamkan mata ku dan Disti menyuruhku untuk duduk. Saat ku buka mata ku sungguh “Nikmat Tuhan Mu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan Wahai Dara?”. Aku bahagia bukan kepalang karena di depan ku ada seorang laki-laki yang sedang duduk dengan gagah dengan peci hitamnya sambil tersenyum pada ku.  Saat itu juga keluarga kami menetapkan sebuah hari bahagia kami berdua. 

Aku Dara Rahmawati dan Muhammad Gilang Prasetya resmi menjadi suami istri pada tanggal 1 Juni 2016. Akhirnya yang ku tunggu-tunggu menjadi kenyataan.

Pertemuan mereka berawal dari SMA dan benih-benih cinta mereka mulai ada ketika bertemu di Yogyakarta, tapi Cinta sebenarnya mulai saat ini. Dara yang dulunya manja kepada orang tuanya, dia harus rela meninggalkan orang tuanya demi kepatuhannya kepada yang maha kuasa. Gilang yang dulunya nakal, harus rela berjuang demi kepatuhannya kepada tuhannya. Takdir setiap manusia itu berbeda.

Semua orang itu berbeda, dan akan memiliki cerita berbeda pula. Semua manusia akan diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya, tapi jangan menunggu untuk melakukan hal yang lebih baik. Jodoh itu sudah ada yang mengatur, ada yang bertemu di sekolah, di jalan raya, di rumah sakit, di kantor polisi, di rumah bahkan dipertemukan oleh orang lain. Jadi jangan takut kehilangan jodohmu. Sekarang hanya ada dua kemungkinan pertama kamu akan bertemu jodoh mu pasangan mu, atau kamu akan bertemu jodohmu kematian.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Kisah Nyata "Cinta di Relung Rasa Malu""

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Ini adalah kisah nyata dari kisah hidup seseorang dengan sentuhan fikiran saya agar cerita ini lebih nyata.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel