Kisah Nyata "Hidayah Dibalik Cinta Beda Agama"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita nyata ini berjudul "Hidayah Dibalik Cinta Beda Agama" yang disajikan oleh O. Marpuli Panggabean. Semoga dengan membaca kisah ini setiap orang dapat menemukan pesan tersirat di dalamnya.

Begini, Kisahnya...

Jumat, 04 September 2015 tepatnya pada pukul 20:00 WIB, saya menerima pesan singkat melalui akun BBM saya yang bertuliskan “Semangat adik untuk meraih impiannya kuliah di STAN”. Pesan singkat ini saya terima dari seorang pria bernama Petrus yang menanggapi status BBM saya “GO STAN 2016”.

Berawal dari pesan singkat tersebut, saya dan petrus sering bertukar pikiran melalui telepon, sms ataupun chat. Banyak hal yang membuat ku tertarik padanya, mulai dari kepintarannya, pola pikirnya, kemandiriannya, dan hatinya yang ingin tahu lebih banyak tentang islam.

Dua minggu setelah aku dan Petrus berkenalan, saya menerima kabar bahwa dia lulus D1 Perpajakan PKN STAN. Memasuki minggu pertama perkuliahannya di STAN, tanggal 04 Oktober 2015 Petrus menyatakan perasaannya kepadaku.

Senang dan bingung bercampur jadi satu.

Senang karena aku juga menyukainya tetapi bingung karena aku tidak mau pacaran beda agama.

Dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, saya menerima Petrus menjadi pacar saya. Sebulan dua bulan jadian, semua masih berjalan seperti biasanya.

Hingga pada suatu hari, tiba-tiba aku mendapat satu panggilan dari nomor baru. Seperti biasa, apabila ada nomor baru yang menghubungi saya, saya tidak akan menjawab panggilan itu. Namun, nomor itu selalu saja menghubungi saya sampai berkali-kali.

Akhirnya saya putuskan untuk mengangkat telepon tersebut. Saya sangat kaget setelah mengetahui bahwa yang menghubungi saya adalah sepupu dan tante dari Petrus. Mereka mengatakan bahwa saya telah mempengaruhi Petrus untuk pindah keyakinan karena mereka melihat Petrus sholat subuh secara diam-diam di rumah orangtuanya.

Saya merasa sedang berada di puncak kebingungan, saya tidak pernah mengajak Petrus untuk pindah agama walaupun setiap saya dan Petrus teleponan, kami selalu berdebat tentang agama islam dan agama khatolik, berdebat tentang apa yang membedakan kedua agama tersebut. Akan tetapi, saya tidak pernah tahu bahwa Petrus benar-benar serius ingin mempelajari banyak hal tentang islam.

Saya mendapat banyak makian dari keluarga besarnya. Banyak hal yang mereka katakan untuk merendahkan saya.

Saat itu, Petrus masih kuliah di STAN dan menetapkan hatinya untuk mengucap kalimat syahadat. Akhirnya, dia pun pergi bersama seorang teman dekatnya ke sebuah masjid yang tidak jauh dari tempat kos-kosan mereka.

Di masjid itulah untuk pertama kalinya Petrus mengucap kalimat suci Allah dan mengganti namanya menjadi Ridwan. Saya yang tidak tahu-menahu tentang hal tersebut sangat terkejut setelah mengetahui pihak orangtua dari Ridwan menarik semua fasilitas yang mereka berikan pada Ridwan, sebagai sanksi karena Ridwan telah pindah agama.

Pada hari itu, saya masih duduk di bangku kelas XII yang notabene masih ditanggung penuh oleh kedua orangtua saya. Saya berfikir keras bagaimana caranya agar Ridwan bisa tetap kuliah, bisa tetap makan dengan baik.

Dan akhirnya saya pun meminta bantuan pada teman-teman saya yang juga merupakan teman-teman dari Ridwan. Kami membentuk satu grup yang diberi nama “Fisabilillah”. Saya menceritakan semua kejadian yang telah dialami oleh Ridwan di dalam grup tersebut.

Ahamdulillah, ternyata semua yang saya ceritakan di dalam grup tersebut mendapat respon positif. Saya yang dibantu teman-teman saya membagikan kisah Ridwan ke setiap grup yang ada di akun media sosial kami dan ternyata mendapat sambutan baik.

Dalam satu bulan penuh, kami berhasil mengumpulkan uang 18 juta rupiah untuk Ridwan. Uang tersebut digunakan oleh Ridwan untuk membeli handphone dan memulai bisnisnya pada investasi forex.

Ridwan berhasil menyelesaikan kuliahnya di STAN dan bertugas di penempatan pertama dengan menggunakan uang hasil jerih payahnya sendiri. Ia dapat bertahan dan melanjutkan hidupnya dengan baik, ia melalui semua masalahnya dengan ikhlas dan tanpa putus asa sama sekali.

Sampai pada akhirnya ia resmi diangkat menjadi PNS dan bekerja di kantor pajak.

Tiga tahun sudah saya menjadi kekasihnya, susah senang kita hadapi dan seesaikan bersama. Banyak hal yang dapat saya jadikan pelajaran hidup setelah dengannya, seperti semangatnya untuk tetap berjuang di jalan Allah meskipun banyak hinaan dan cacian yang ia dapatkan, kerja keras dan do’a yang tidak pernah berkesudahan, serta senyumnya yang ia tampakkan kepada semua orang seolah ia hidup tanpa beban.

Allah memberikan kekuatan yang luar biasa padanya, Allah selalu meringankan segala urusannya setelah Allah menguji kesabarannya. Dia berbeda dari pria lain, yang pada umumnya pacaran itu hanyalah status semata, kencan kesana kemari, menghamburkan uang orangtua.

Tahun pertama bersamanya, aku tidak pernah merasa diperlakukan special olehnya. Namun, setelah ia bekerja dan memperoleh penghasilan yang lumayan, Ridwan mulai berani menemuiku sewaktu-waktu ke tempatku kuliah.

Dia bekerja di Tanjung Balai Karimun dan aku kuliah di Yogyakarta. Sesekali dia mengambil cutinya untuk menemuiku di Yogyakarta setelah ia berhasil mengumpulkan uang tabungannya.

Darinya aku belajar bahwa cinta itu bukan melemahkan tetapi menguatkan. Darinya aku belajar, bahwa cinta itu bukan sekedar kata ataupun rasa melainkan sebuah perjuangan dan pengorbanan. Cinta akan menguatkan mu menjalani hidup apabila cinta itu kamu gunakan di jalan yang tepat. 

Ridwan adalah motivasi kedua setelah orangtuaku. Ridwan selalu mendukung prestasiku, apabila orang pacaran pada umumnya menyibukkan diri dengan bertemu setiap hari, kami menyibukkan diri dengan mengejar prestasi.

Alhamdulillah, 2 semester aku kuliah, aku selalu mendapatkan IP 4,00 dan Ridwan, dia merupakan pekerja yang giat dan gigih di kantornya. Ketabahannya dalam menghadapi kedua orangtuanya pun menjadi motivasi untukku, dia selalu menjaga baik hubungannya dengan keluarganya meskipun Ridwan dan orangtuanya sudah berbeda keyakinan.

Dia sangat luar biasa dalam menghadapi semua masalah dalam hidupnya. Dia dapat tetap kuat dengan semua kritikan keluarganya, rayuan untuk memakan daging bagi, dan lain-lain. Tidak jarang orangtuanya memperlakukannya sangat kasar layaknya anak tiri.

Bahkan setelah ia bekerjapun, orangtuanya tanpa perhitungan selalu meminta uang dengan nominal yang sangat besar. Rasa sabar yang ia miliki seakan tanpa batas. Saya sangat bersyukur karena Allah telah menjadikan ku sebagai perantara hidayahnya.

Kesyukuran ku berlebih lagi, karena Ridwan bukan hanya sekadar pindah agama saja, akan tetapi dia benar-benar memahami dan belajar banyak tentang islam. Harapan saya ke depannya, semoga Ridwan tetap istiqomah di jalan Allah dan Allah mempermudah segala urusannya terutama urusan dunia dan akhiratnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Hidayah Dibalik Cinta Beda Agama""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel