Kisah Nyata "Hujan Darah Berkabut Sampah"

KisahTerbaik.Com- Tulisan tentang kisah nyata tentang kehidupan ini berjudul "Hujan Darah Berkabut Sampah". Penulis cerita adalah Habibi Firmansah. Semoga cerita nyata ini bisa memberikan inspirasi bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

SAMPAHHH !!! BUSUK !!! Sebuah kata yang pantas untuk sebagian orang di negeri ini. Malam ini 23.20 hari Jumat (4 April 2016), akan saya kabarkan sebuah berita duka yang diselimuti sampah-sampah.

Jumat (4 April 2016) pukul 17.45, saya dikabari oleh anak didik les saya bahwa dia ingin belajar bersama untuk memantapkan pelajaran matematikanya. Dia bercerita bahwa kemarin (7/4/2016), dia telah melaksanakan try out terakhir yang diselenggarakan oleh sebuah bimbel yang paling brand tahun-tahun ini. Dengan bencinya dia berkata bahwa try outnya sangat susah dan dia hanya bisa mengerjakan 15 soal dari 40 soal. Dari les selama 3 minggu bersamasaya, dia hanya bisa mengerjakan 15 soal dari bimbel tersebut. Saya terkejut mendengar bahwa dia hanya mengerjakan soal yang berjumlah sedikit itu. Dia berkata bahwa soal-soal di bimbelnya itu tidak seperti biasanya. Dan banyak yang nggak sesuai SKL.

Dan akhirnya saya putuskan bahwa hari ini harus belajar dengan keras dan mati-matian. Yang biasanya belajar Cuma 90 menit tanpa galat, tadi kita belajar sepanjang 3 jam dari pukul 19.00 sampai 22.00. Saya juga ingin bahwa dengan didikan saya, tanpa bimbel yang katanya brand itu, dia bisa melanjutkan ke sekolah yang dicita-citakannya. Setelah dirasa cukup lama, dan mata si anak ini udah memerah, saya putuskan untuk istirahat dahulu dan akan dilanjutkan di pertemuan selanjutnya.

Pukul 22.04 saya bersiap pulang dan berpamit. Sampai gerbang utama perumahan, saya sapa bapak satpamnya dengan senyuman yang biasa saya berikan. Saya mengayuh sepeda pinjaman ini dengan pelan sambil menikmati pemandangan di sekitar jalan kota ini yang penuh dari kuliner dan massa dari pesantren yang cantik serta solihah. Tak terasa sudah sampai ujung jalan dan memulai untuk perjalanan selanjutnya menuju desa selanjutnya yang jalannya relatif turun dengan tajam. Naluri seorang pecinta adrenalin seperti saya, mencoba untuk mencari sensasi dengan mengayuh sepeda dengan cepat dengan keadaan jalanan yang sangat miring kebawah. Angkot-angkot saya lewati, motor-motor saya lecehkan dengan mengarahkan ujung sepeda kekiri dan kekanan. Dan sebentar-sebentar saya mencoba sedikit berteriak saat sepedsaya ini telah mencapai kecepatan yang maksimal. Hal ini membuat puas dan sangat lega dalam melepaskan semua penat yang saya punya. Karena, hari-hari yang saya lewati selama sehari tadi tidaklah menggairahkan diri ini. Dan ketika ada mobil yang semakin kepinggir dan seakan-akan ingin menyerempet saya, hal ini membuat diri semakin tertantang untuk mengayuh sepeda lebih cepat lagi. Seketika sudah didepan mobil itu, sejenak saya tolehkan wajah ini dengan wajah yang penuh ejekan didepan mobil tersebut. Dan ini yang saya rasa sangat mengasyikkan untuk dilsayakan setiap sehabis pulang dari mendidik seorang anak manusia bandel yang berotak cerdas dan licik.

Pukul 22.31, tak terasa sudah sampai tikungan (Yang terdapat pos polisi di samping bahu jalan utama tikungan) untuk belok ke jalanan taman baru yang ramai dikunjungi akhir-akhir ini. Dengan cepat saya menghempaskan pedal sepeda pinjaman ini dan membiarkannya berlalu karena jalanan yang begitu turun. Dan saya begitu jengkel dengan suasana di depan yang agak macet dan sangat berasap. Dan cuaca dari atas sudah mulai menandakan hal yang tidak diinginkan. Titik demi titik mulai berjatuhan secara harmoni mewarnai kayuhan sepedsaya.

Pukul 22.32, saya mencoba mendahului beberapa mobil lewat bahu jalan sebelah kiri dengan hati-hati. Dan setiba di dekat taman tepatnya di depan warung pak siapa namanya nggak tau, ada sekelompok kecil orang (sekitar 5 orang) yang sedang berkumpul mengerumuni sesuatu dengan motor gede yang tergeletak disamping jalan. Dari kejauhan, sebenarnya saya sudah berpikir bahwa ini terjadi sebuah kecelakaan yang tidak terduga.

Saat sampai tepat disamping orang yang berkumpul itu saya langsung menaruh sepeda dengan tergesa-gesa dan langsung melihat apa yang terjadi. Dengan posisi yang tidak enak, langkah pertama yang saya lsayakan adalah mencoba mengamankan jalan seperti yang dilakukan saat pendidikan di kepalangmerahan. Seusai mengamankan motor gede yang disamping bahu jalan itu, saya mencoba mendekat kepada korban yang tergelat dan dikerumuni beberapa orang (5 orang kurang lebih). Saya ingin melihat, barangkali saya kenal dengan orang tersebut. Dan menanyakan apa yang terjadi?. Sebuah katapun tak terucap dari orang-orang disampingnya. Dan saya bertanya lagi, Sudah telpon ambulan kah pak ? dan tidak ada jawaban juga. Dan saya lanjut bertanya, Sudah telpon polisi kah pak?.

Dan akhirnya dijawab oleh seseorang yang berada disamping kepala korban tersebut. “Belum mas, mas coba telpon, saya nggak punya nomernya, mas coba browsing, hp saya mati mas”. Aduh.. gimana nih.. katsaya dalam hati. Sejenak saya melihat kekanan dan kekiri beberapa orang hanya melihat pemandangan kecelakaan ini dengan acuh dan tak peduli. Saya mencoba memberhentikan mobil yang lewat di jalan, mereka pun tak menghiraukan dan bahkan tak melirik samping-samping yang membutuhkan pertolongan.

Dan ada angkot yang sempat berhenti setelah saya beri kode-kode pemberhentian. Setelah berhenti saya bilang pada supir angkotnya bahwa ada kecelakaan dan membutuhkan pertolongan cepat untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Tapi si supir langsung melanjutkan perjalanannya tanpa menjawab permintaan saya. Saya mulai gugup dan semakin tak berdaya untuk membantu korban ini. Walaupun saya tidak mengenalnya, dan saya pun tidak tau bahwa orang ini berwatak bagaimana, saya tidak peduli dan saya merasa bahwa saya bertanggung jawab atas semuanya karena dengan ilmu palang merah yang telah saya miliki, hal ini menjadikan tanggung jawab yang besar dalam implementasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Setelah berusaha tapi tidak membuahkan hasil, saya mencoba mendekat korban dan melihat dengan seksama bagian manakah yang parah dan membutuhkan pertolongan pertama. Dan apa yang saya lihat? saya tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa. Darah bercucuran seperti air tumpah dari botol air mineral. Dengan dibantu cahaya dari motor dan mobil menambah jelas warna merah darah yang mengalir disamping jalan tersebut. Bagian punggung kaki kanan sobek sedalam 5 cm dan patah tulang serta terpisah dari bagian punggung kaki. Hanya telapak kaki yang menopang bagian kaki ini agar tidak lepas dari kaki orang ini. Saya hanya bisa terdiam melihatnya, dan saya merasakan ilmu kepalangmerahan hilang sekejap mata tanpa sisa. Dengan melihat bapak itu yang berteriak “aduuuhhh, ya allaahhhh, aduuhhhhhh, alaaahuaakbar”. Membuat hati saya semakin bergetar tanpa henti dan menambah gugup badan ini. Saya tidak bisa menggerakkan badan, ketika melihat bagian kaki itu. Siapa yang tahan melihat dengan mata kepala sendiri didepanmu ada tulang kaki yang keluar diantara daging segar yang berlumuran darah. 

Kegugupan mulai meningkat, dan saya teringat bahwa saya punya nomer polsek terdekat yang diberikan saat pengenalan pertama masuk kampus. Saya mencoba menelpon polsek dan penerima telpon juga tidak jelas, mungkin karena saya gugup sehingga mereka tidak dapat menangkap kata-katsaya. “Pak.. ada kecelakaan di.... “, katsaya saat menelpon. Entah kenapa saya tidak tahu nama taman itu, padahal udah jelas-jelas itu taman namanya taman baru. Dan telpon saya matikan karena mendadak saya tidak tahu lokasi tempat itu. 

Dan 3 detik kemudian hujan mulai turun, dan sedikit demi sedikit menjadi lebat. Orang disamping korban melepas jaketnya dan menutupi luka bapak tersebut dan dilapisi dengan helm kepunyaan korban. Saya yang membawa payung juga bergegas mengeluarkan payung yang berada dalam tas. Saya mencoba menutupi luka bapak itu dengan hati-hati dengan sebagian tubuh dan tas saya terkena hujan. Saya tak peduli dengan isi tas saya yang ada laptop dan buku penting yang seharusnya wajib dilindungi segenap jiwa demi kelancaran UTS minggu depan. Harta benda sudah tak saya hiraukan karena kepanikan yang saya dapat saat itu.

Bapak ini mulai menggigil dan tak bisa berkata apa-apa. Semua orang menjadi panik dan resah. Polisi dari polsek juga tak kunjung datang. Kami berinisiatif memindah korban ke tempat teduh tepatnya di warung bapak yang gak tau namanya itu yang dari tadi hanya melihat fenomena ini. Tiba-tiba ada polisi muda yang belok ke sebelah warung bapak itu untuk berteduh. Kami mulai memindahkan korban dengan hati-hati menyebrang jalan, tepat didepan warung bapak itu, si bapak menunjukkan tempat berteduh disamping warungnya. Tepatnya di gedung (toko) tempat polisi muda berteduh. Setelah di letakkan korban, korban semakin menggigil dan kritis. Saya mencoba lapor ke polisi muda itu, “Pak ini kecelakaan pak, bapaknnya kritis, apa bapak tidak bisa panggil orang di polsek untuk bawa mobil?”. “Aduh mas, orang di polsek juga belum tentu bisa kesini, kemungkinan nggak kesini”, Jawan polisi muda.

Dan saya mulai tak tertahankan dengan situasi yang seperti ini. Saya mencoba menelpon polsek kembali dengan  menata kata-kata yang jelas. Tapi dengan hujan yang sangat deras si bapak yang menerima telpon berkata bahwa perkataan saya tidak jelas. “Bapak, ini ada kecelakaan di sekitar taman baru, tolong pak, bawa mobil untuk mengangkut korban karena sudah sekarat pak, kakinya patah, darah terus mengalir.” Katsaya. Dan langsung saya matikan hp dan melihat polisi muda yang kebetulan ada disamping jalan dengan meminjam payung saya, mencoba memberhentikan beberapa mobil dan belum bisa berhasil-berhasil. Saya berlari hujan-hujanan menghampiri polisi yang berada di samping jalan, dengan tas saya letakkan di samping toko. “pak, mohon telepon polsek biar bawa mobilnya, korban sudah sekarat pak!”, saya berkata agak tinggi nada. Si polisi muda juga menjawab dengan jawaban yang sama, “Aduh susah mas, nggak bisa jamin kalau kesini”. Dan ketika sekitar 100 meter saya melihat taksi, saya langsung loncat dan memberhentikan taksi ditengah jalan dengan nekat dan tidak tahu resiko apa yang terjadi. Akhirnya taksi berhenti dan polisi mencoba bicara dengan sopir agar mau menolong dan membawa korban kerumah sakit terdekat.

Akhirnya taksi itu mau membantu dan menuju ke gedung tempat korban tergeletak. Saya membuka pintu dan menyuruh beberapa pemuda yang umurnya sekitar 28 tahun untuk mengangkat korban. Tapi respon begitu lambat dan tidak ada yang mengangkat bagian bawah (kaki). Akhirnya saya menuju korban dan mencoba mengangkat bagian kakinya. Dan saya melihat persis apa itu tulang manusia hidup yang diselimuti daging abstrak bentuknya (karena sobek-sobek dan patah). Dengan hati-hati kami masukkan bapak tersebut dengan memposisikan bapak nya bersandar karena kondisi taksi yang sangat sempit.

Dan setelah ditutup pintu taksi, saya mencoba membantu mengamankan jalan untuk menyebrangkan taksi. Taksi pun mulai bernagkat menuju ke atas, ke rumah sakit terdekat. Dan saya menuju ke motor gede itu dan mengamankan didepan warung serta menyerahkan kunci nya ke polisi muda. Saat mencoba mengamankan motor, saya dibantu oleh seorang anak muda yang daritadi diwarung. Dan saya bertanya, “Bagaimana kejadian awal mulanya ?”. Mas itu menjawab, “Itu teh tadi ada anak mabuk sempoyongan naik motor mas, nah dia ugal-ugal an dan nabrak bapak tadi, itu tadi sudah digebukin sama polisi”.

Setelah semua selesai saya mencoba mengayuh kembali sepeda pinjaman ini dengan perasaan yang sangat tidak enak. Masih membayangkan korban menggigil dan sekarat. Masih membayangkan tulang kaki yang muncul keluar. Masih membayangkan darah yang bercucuran. Saya tidak sanggup melihat bila itu orang yang saya kenal... entah apa yang harus saya lsayakan... seandainya saya, kamu, kita, keluarga, dan teman kita yang menjadi korban. Apa kita harus berdiam atau bahkan membiarkan ?

Ini adalah kisah nyata dari apa yang sudah saya alami beberapa minggu yang lalu. saya seorang mahasiswa yang tidak pintar. Saya juga tak dapat melsayakan apa-apa. Saya juga tidak sok suci. Saya juga tidak berpengalaman dalam melsayakan beberapa hal. Tapi dari kisah tadi, saya sadar bahwa di dunia ini moral dan kepekaan kita terhadap lingkungan sangatlah rusak. Mulai dari warga sekitar yang hanya melihat saja fenomena kecelakaan ini, pengguna jalan yang acuh terhadap permintaan bantuan, polisi yang tidak tegas dan bingung dengan apa yang harus dilsayakan, penjaga warung yang tidak mau ditumpangi korban, dan saya sendiri yang tidak mampu menerapkan ilmu kepalangmerahan dikarenakan kegugupan.

Saya sebenarnya sangat salut pada orang yang membantu dalam menemani korban dan menutupi korban dengan jaketnya. Mereka adalah anak yang tidak berpendidikan dan anak jalanan yang masih mempunyai rasa kepekaan terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Walaupun pengalaman yang kurang, mereka sudah berusaha dengan maksimal dalam membantu, rela menemani saya hujan-hujanan mencari kendaraan dengan tanpa baju karena baju yang telah ia gunakan dipakai untuk menutupi kaki si bapak. 

Sebenarnya pendidikan kita jauh lebih tinggi, ilmu kita jauh lebih banyak, dan kemampuan kita lebih profesional dibanding mereka .. tapi kepekaan? rasa ingin membantu ? apakah ada dalam diri kita?

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Hujan Darah Berkabut Sampah""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel