Kisah Nyata "Impian Anak Desa"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah nyata ini dituliskan oleh Aswan dengan judul "Impian Anak Desa". Kisah nyata ini memberikan banyak makna dan arti dalam kehidupan yang dijalaninya. Semoga demikian pula pembaca akan mendapatkan inspirasi yang berharga.

Begini, Kisah Nyata tentang Impian Anak Desa.

Aku berasal dari desa Amparita. Jaraknya hanya sekitar 8 kilometer dari ibu kota Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Dari desa inilah aku lahir dan dibesarkan. Aku adalah anak ke- dua dari tiga orang jumlah bersaudara yang berasal dari keluarga yang sederhana, bapakku bekerja sebagai pengarap sawah dan ibuku bekerja mengurus urusan rumah tangga, dari hasil kerja keras orang tuaku itu dapat memenuhi kebutuhan keluarga.

Dengan semangat dan keringat orang tua Aku dan Adikku masih dapat melanjutkan sekolah namun itu tidak berpihak pada kakakku, ia tidak dapat melanjutkan sekolahnya di jenjang SMA karena biaya yang tidak memungkinkan lagi, ia mengakhiri sekolahnya karena ia tidak mau melihat adik-adiknya putus sekolah dan ingin mencari pekerjaan untuk meringankan beban orang tua dan membantu membiayai sekolah aku dan adikku, dengan itu aku dan adikku masih bisa melanjutkan sekolah.

Pada saat umurku 17 tahun saat itu aku sedang duduk di bangku SMA kelas tiga, Aku mulai memikirkan langkah yang harus Aku pilih kedepannya dan pada awal semester aku sangat fokus untuk mengumpulkan uang untuk melanjutkan pendidikan.

Setelah Aku tamat dan saat itu uang yang saya tabung dari SD digunakan untuk keperluan sekolah aku dan adikku, serta membantu orang tua jika terdapat kesulitan keuangan karena penghasilan seorang pengarap sawah tidak menentu dan akan hanya tiba saat musim panen tiba, dengan demikian Aku memutuskan untuk menjadi buruh tukang batu setelah pulang sekolah dan hari libur.

Setelah pulang sekolah Aku bergegas ke rumah untuk ganti pakaian lalu melanjutkan ke tempat lokasi tukang batu, setelah di lokasi Aku langsung mengambil gerobak untuk mengangkat pasir dan mengaduk pasir dengan semen hingga menjadi bahan campuran, disitulah Aku menemukan teman kerja yang sangat antusias dalam bekerja, dan sempat ia berkata “kamu harus sekolah dan jangan seperti saya yang hanya bekerja sebagai tukang batu“, dan Aku pun tersenyum dan berkata “itulah yang mendasari saya bekerja disini, Aku ingin melanjutkan sekolah dengan tanpa membebani orang tua” kemudian dia berkata “ apakah kamu tidak malu bekerja sebagai buruh tukang batu ? “, Aku menjawab “ buat apa malu dengan pekerjaan ini ? dan Aku hanya malu jika tidak dapat melanjutkan sekolahku”.

Semester satu telah berlalu dan saat itu Aku masih bisa mempertahankan juara kelas, dan saat itu siswa sangat sibuk belajar dengan menghadapi ujian nasional dan bimbingan belajar dalam menghadapi SBMPTN, namun disisi lain aku sibuk dalam mencari uang untuk melanjutkan pendidikan di tingkat universitas.

Saat tiba pendaftaran SNMPTN Aku masih ragu untuk mendaftar karena Aku masih mempertimbangkan mengenai biaya kuliah namun atas dorongan orang tua dan guru aku mendaftar SNMPTN meskipun biaya masih menjadi kendala pada saat itu, namun saat itu juga nenek menyarankan untuk berhenti sekolah dan tidak perlu kuliah, cukup untuk bekerja saja karena tradisi di kampungku pendidikan tidak sangat diminati, namun tradisi itulah yang saya ingin ubah dikampung.

Dan melalui pendidikan aku akan memperbaiki nasib keluarga dari garis kemiskinan, meskipun itu sangat sulit untuk diwujudkan tapi impian itulah yang mendorong saya, karena kata soekarno “bermimpilah setinggi langit jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang”.

Saat itu Aku memutuskan untuk memilih jurusan hukum pada pilihan pertama di Universitas Hasanuddin, karena aku menganggap hukum sekarang tidak sesuai dengan tujuannya yaitu keadilan, kepastian, dan kemanfaatan, melalui jurusan ilmu hukum aku ingin menjadikan hukum sesuai dengan supremasi aturan dan sistem yang sebenarnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, pengumuman SNMPTN telah tiba saat itu Aku bergegas ke warnet untuk melihat pengumuman, dalam pengumuman tersebut tertulis “selamat, Anda dinyatakan lulus SNMPTN program studi dimana Anda diterima pada SNMPTN adalah PTN Universitas Hasanuddin program studi ilmu hukum”, melihat tulisan tersebut Aku terharu dengan meneteskan air mata dan pertanyaan yang muncul dipikiranku adalah apakah Aku mampu kuliah di makassar?, apakah ini tidak membebankan orang tua ?, namun pertanyaan itu Aku simpan di benakku dan selalu ada di pikiranku, setelah melihat pengumuman Aku bergegas menuju ke rumah, di rumah kulihat seorang lelaki tua yang terbaring lemah di atas kasur dan ditemani oleh seorang istri disampingnya, dia adalah orang tuaku, dengan melihat situasi itu Aku langsung menghampirinya dan memberitahu bahwa saya lulus di Universitas Hasanuddin dengan jurusan hukum, mendengar itu bapakku langsung bangun dari tempat tidurnya dengan senyuman yang bahagia, ia berkata “syukurlah nak pada Tuhan karena ia telah memberikan kesempatan untuk kuliah di UNHAS, tapi sekarang nak yang menjadi kendala bapak ialah tidak mempunyai uang untuk membiayai kuliahmu terutama keberangkatan ke makassar karena panen masih lama dan kondisi bapak tidak memungkinkan”.

Dengan ungkapan itu Aku langsung merespon dengan wajah yang menyakinkan “tenanglah pak, Aku masih mempunyai uang tabungan yang cukup untuk berangkat ke Makassar”, dengan demikian orangtuaku mengizinkan saya untuk kuliah dengan pesan ”ingatlah nak kita ini dari kampung dan dari kalangan bawah”.

Sesampainya di makassar, Aku numpang di kos teman karena di Makassar tidak mempunyai keluarga, dan saat itu Aku pertama kali berkunjung di kota ini sehingga Aku sangat terkejut dengan melihat pembangunan dan bangunan-bangunan yang mewah dan ditambah dengan lampu-lampu yang indah pada malam hari.

Saat itu yang menjadi kelalaian aku adalah kurangnya informasi mengenai beasisiswa bidikmisi sehingga dulu aku tidak mendaftar melalui sekolah dan online, setelah mengetahui itu Aku langsung menghadap ke kemahasiswaan apakah masih bisa mendaftar bidikmisi melalui pihak kampus, dengan itu ia memberikan formulir pendaftaran dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, dan persyaratan itu terpenuhi hingga saya dicalonkan sebagai penerima beasiswa bidikmisi, saat itu uang tabungan yang Aku bawa semakin menipis sehingga waktu makan tidak teratur, kadang satu kali makan dalam sehari bahkan tidak makan dalam sehari, sehingga Aku berpikir untuk mengakhiri kuliahku dan kembali ke kampung halaman menjadi buruh tukang batu, sehingga saya berpikir untuk pulang kampung karena tidak mampu lagi menanggung biaya kuliah.

Saat dengan kondisi seperti itu, Aku menanti jawaban dari beasiswa bidikmisi itu, kalau saja tidak mendapat beasiswa itu, kecil harapan untuk kuliah, bahkan tidak ada peluang untuk melanjutkan kuliah karena orang tuaku tidak sanggup lagi membiayai kuliahku, tapi Tuhan ternyata berkata lain karena saat pengumuman beasiswa bidikmisi tertulis ”selamat anda terdaftar sebagai penerima beasiswa bidikmisi”, mengetahui hal itu Aku sangat bersyukur dan kembali bangkit untuk meraih impianku yang sempat tertunda dan terhalangi, kabar gembira ini langsung Aku mengabari orang tua di kampung ia sangat bersyukur dan doa yang ia penjatkan tiap hari telah terkabulkan oleh Tuhan dan berpesan “belajarlah dengan baik dan jangan sia-siakan bidikmisi yang merupakan uang negara”. 

Bidikmisi membuat impianku kembali menjadi bangkit dan melalui dana dari beasiswa bidikmisi inilah aku masih bisa kuliah serta masih bisa membeli beberapa buku, terimah kasih bidikmisi, terimah kasih Indonesia, jayalah selalu. Semakin besar sesuatu yang kita terima, maka semakin besar pula sesuatu yang harus kita berikan untuk membalasnya sebagai wujud rasa syukur.

Mahasiswa bidikmisi harus membuat negara menjadi bangga dengan melalui berbagai prestasi dan Aku bangga menjadi bagian dari beasiswa bidikmisi 2016. Bagi yang ingin bermimpi, bermimpilah setinggi keinginan anda. Bermimpi itu gratis! siapapun berhak memimpikan apapun, bermimpilah setinggi-tingginya tidak peduli apakah berasal dari kelurga berpendidikan tinggi ataukah dari keluarga yang buta huruf, karena mimpi untuk menjadi terdidik bukan terbentuk dari hubungan darah tetapi dari sebuah perubahan, namun orang tuaku tidak buta tentang makna pendidikan, meskipun ibuku hanya tamat SD dan bapakku tamat SLTA, ia tetap sadar tentang hakikat pendidikan yang tujuannya adalah untuk berubah dan membuat manusia tidak takut dengan perubahan.

Sesungguhnya mimpi tentang cita-cita tidak mengenal orang kampung atau kota, mimpi hanya mengenal orang yang berani berpetualang tentang apa yang diimpikan, Aku pun bermimpi tentang perubahan hidupku untuk mengangkat diriku dan orang-orang terdekatku dari kubangan penderitaan.

Melalui beasiswa bidikmisi inilah Aku mulai mengejar impian yang sempat terputus dan impianku untuk menjadi penegak hukum di Indonesia dan tiap langkah Aku selalu mengingat kedua orang tuaku, karena tanpa izin restu dan doanya Aku mungkin tidak bisa kuliah, terimah kasih bidikmisi kau telah memberikan jalan untuk meraih impian dan semoga kita selalu bersama hingga aku menjadi seorang sarjana yang akan bermanfaat bagi nusa dan bangsa, dan tidak ada alasan lagi bagi masyarakat Indonesia untuk tidak melanjutkan pendidikan.

Adapun kutipan yang mampu diterapakan ialah “kita tak mampu mengubah arah angin, tetapi yakinlah kita bisa mengubah bentangan layar supaya perahu tetap menuju ke arah pelabuhan harapan” semangat berjuang, salam bidikmisi!, salam prestasi tanpa batas, bersama bidikmisi wujudkan mimpi meraih prestasi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Impian Anak Desa""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel