Kisah Nyata "Indah Pada Waktunya"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah singkat ini ditulis oleh Mita Kurnia Yawika dengan judul "Indah Pada Waktunya". Dalam cerita ini ia membagikan pengalaman hidup yang berarati bagi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Kisah ini tidak pernah terdengar mudah. Karena ini bukanlah kisah biasa, ini adalah kisah dari sebuah kehidupan yang nyata. Aku adalah gadis yang luar biasa biasa. Tak terlihat hal yang mencolok atau aura mempesona yang terpancar dari diriku. Aku cukup yakin akan hal itu.

Kurasa. Aku bukanlah seorang penulis handal. Sejak aku SMA, aku tidak benar-benar menghasilkan sebuah tulisan. Ketika aku merasa memiliki ide yang berlimpah, aku akan membuat catatan kecil tentang hal itu secara acak. Aku sering memberikan komentar pada temanku yang sangat sibuk dalam menyusun novel pertamanya dulu. Luar biasa. Aku ingin menjadi sepertinya. Dulu. Hanya komentar saja.

Namun, semua terasa sangat tertata. Semua berawal pada saat aku masuk kuliah. Tuhan selalu memiliki jalan yang terbaik untuk hambanya. Beasiswa Bidik Misi ku ditolak karena survei tempat tinggal yang tidak lolos.

Aku akui, hal itulah yang paling menakutkanku sejak mengajukan beasiswa Bidik Misi. Aku memiliki rumah yang besar, tetapi bukan sepenuhnya hasil dari kerja keras orang tuaku. Tempat tinggal itu merupakan warisan dari kakekku yang dulu cukup berada. Dulu. Dan semua itu menghancurkan harapanku untuk menempuh ilmu dan tetap meringankan beban kedua orang tuaku. 

Studiku kacau, hatiku gundah, dan apatisme muncul dalam diriku pada birokrasi universitas. Pada suatu ketika, aku bertemu dengan seorang lelaki. Pertemuan kami bukanlah hal yang tidak disengaja, namun ada kuasa Tuhan di sana. Aku beretmu dengannya dengan status orang asing tak dikenal yang mendapat tawaran akan suatu pengalaman yang menantang.

Menjadi seorang reporter majalah fakultas. Reporter? Menulis? Aku tidak pernah membayangkan dengan gamblang bagaimana caraku untuk mencapai mimpiku pada saat di bangku SMA dulu. Namun sekarang, Tuhan seperti memberiku tanda bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memulai semuanya. Dan aku pun menandatangani kontrak tak tertulis di dalam hati bahwa aku akan berguru padanya.

Dengannya aku lebih ditempa. Kata-kata menyakitkan yang tak pernah dan tak ingin kudengar selalu meluncur deras dari setiap perkataanya. Layaknya orang yang ingin balas dendam, ia selalu menaburi garam dilukaku yang belum sepenuhnya pulih.

Namun, bersamanya aku mendapat suatu kekuatan. Mimpi tak akan pernah tercapai jika kau tak bangkit. Kau tak akan mampu mencapainya sendiri. Maka diperlukan kemampuan untuk mengenali dan memahami lingkungan untuk dapat mencapainya.

Dengannya aku menemukan kekuatan yang sangat luar biasa. Kekuatan untuk berjuang, kekuatan untuk belajar, dan kekuatan untuk berkembang. Dengannya aku tak akan pernah puas, berbincang layaknya suatu hal yang perlu untuk disempatkan. Tanpa mengeluh, kepekaan mengantarkan dirinya untuk memahami dan menghiburku.

Ia selalu berkata, jika kau akan menjadi orang besar, jangan melupakan aku ya?. Jujur, aku tak pernah yakin apakah aku mampu melupakan orang yang sudah sangat berjasa dan selalu mendukungku di setiap kesempatan. Jawabanya akan selalu tidak. Aku tak mampu melupakannya. Dan aku harap begitupun sebaliknya.

Walaupun aku bukanlah murid yang penurut. Aku cukup yakin akan hal itu. Menjadi seorang reporter membuatku bertemu dengan orang-orang hebat dan panutan ulung yang selalu memotivasiku untuk terus berjuang.

Aku tidak akan berhenti di sini, dengan berbagai kekurangan dan kelebihanku, aku akan tetap berusaha dan itu yang sedang kulakukan sampai sekarang. Pencabutan beasiswa Bidik Misiku sudah tidak memberi bekas yang berarti di hati. Malah, pemikiranku semakin terbuka pada kesempatan-kesempatan yang lain.

Akhir-akhir ini, aku terlibat beberapa proyek perlombaan seperti Seleksi NUDC tingkat fakultas, Pemilihan Mawapres tingkat fakultas, dan lomba eksternal. Hal ini cukup membanggakan, karena aku mendapat pengalaman yang sangat luar biasa dari proyek-proyek tersebut. Yang paling terpenting dan merupakan tujuan utama dari pencapaianku adalah kebanggaan dan kebahagiaan kedua orang tuaku atas apa yang telah aku usahakan.

Aku ingin membuktikan bahwa di sini akupun berjuang. Aku berjuang untuk memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan. Ini bukanlah langkah yang mudah bagi mereka, maka di sini, aku ingin memberikan motivasi kecil yang akan mendorong mereka untuk terus bertahan dan berusaha untukku.

Aku tidak akan berhenti untuk memperjuangkan mereka, layaknya apa yang mereka lakukan padaku. Pelukan ibu dan ucapan syukur ayah adalah hadiah terindah dari semua jerih payah yang lakukan di perantauan.

Betapa terharunya aku melihat ayah dan ibuku saling berebut melihat tulisan pertamaku di majalah fakultas, bagaimana terharunya mereka melihat sertifikat kemenanganku di lomba debat bahasa inggris yang kuikuti. Semua hal itu adalah suatu candu yang ingin terus kulihat, terus kurasa, dan terus kudapatkan.

Akhirnya, kesempatan yang ditunggu telah datang. Dua macam beasiswa tersedia di Fakultas Ekonomi tempatku menuntut ilmu. Beasiswa itu terdiri dari Beasiswa Bank Indonesia dan Beasiswa PPA. Beasiswa BI adalah beasiswa impianku.

Aku ingin menjadi generasi muda yang aktif, kreatif, dan berwawasan. Dan menurutku, melalui Beasiswa BI, aku dapat meraihnya, dengan bonus kebahagian orang tuaku tentunya. Namun, aku tak pernah menutup pemikiran akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Yang pasti, tujuanku adalah berusaha yang terbaik, entah dapat atau tidak dapat, dapat BI ataupun PPA, aku tidak masalah, karena apapun yang aku lakukan merupakan sesuatu yang diidamkan oleh ibuku, dan aku akan tetap membuatnya bahagia apapun yang terjadi.

Karena aku mengikuti perlombaan ditingkat fakultas, aku berhak untuk mendapatkan beasiswa PPA dengan berbagai persyaratan yang ada. Di sisi lain, aku masih memiliki harapan untuk mendapatkan beasiswa BI.

Aku tetap memasukkan permohonanku di beasiswa ini. Alhamdulillah, tidak lama kemudian aku lolos ke tahap selanjutnya yaitu tes wawancara. Penampilan terbaik telah aku persiapkan. Kebetulan aku masuk di tim terkahir yang tempat wawancaranya berada di lantai tiga. Aku mendapat urutan ketiga.

Ketika giliranku untuk masuk, aku sempat gugup, tetapi gambaran kedua orangtuau tiba-tiba terlintas dan keyakinan itu pun kembali. Dengan mantap, ku langkahkan kaki ini masuk ke dalam ruang wawancara.

Terdapat dua orang yang mewawancaraiku. Satu orang memiliki postur yang jenjang, berkaca mata, dan tanpa senyum. Yang satu, sedikit lebih ramah, sedikit lebih besar, dan berkaca mata. Setelah memperkenalkan diri dan menjawab berbagai pertanyaan umum seputar apa yang aku cantumkan di formulir, muncullah pertanyaan yang sangat tak terduga.

di sini kamu menulis di formulir bahwa kamu memiliki hobi menulis. Benarkah itu?
benar, pak. Di kampus, saya menjadi salah satu reporter majalah fakultas. Beberapa tulisan saya juga sempat masuk di majalah universitas. Selain saya menulis berita, saya juga suka menulis sastra seperti cerpen.”
apakah kamu membawa contoh tulisan yang kamu buat sendiri?
mohon maaf pak, saya tidak membawanya. Tapi saya sudah ikut berkontribusi selama 3 edisi di majalah tersebut. Awalnya memang saya tidak bisa menulis berita. Namun karena saya mendapat bimbingan dan belajar dari pengalaman, kemampuan dalam menulis berita sedikit demi sedikit menjadi lebih baik. Namun, bisa di bilang sampai sekarang pun saya masih belum ahli dalam bidang tersebut. Saya masih terus belajar, pak” ujarku mantap.

Sembari aku menjelaskan, bapak tersebut mengambil foto formulirku. Setelahnya, ia menjelaskan “wah.. saya suka jika ada yang suka menulis seperti ini. Karena saya juga masih suka menulis walaupun sudah bekerja di BI. Tulisan saya sering masuk di media cetak. Sebenarnya saya pernah menjadi koordinator departemen informasi dan komunikasi di Jakarta. Tetapi, sampai sekarang saya masih aktif menulis,” jelasnya.

“Ini saya tadi sudah foto formulirmu. Saya ingin mengajarimu cara menulis tulisan yang berbeda dengan yang sedang kamu pelajari sekarang. Supaya bisa lebih luas lagi nanti kemampuanmu. Rumah saya deket sini kok. Jadi kalau mau mengajak diskusi atau apa, tinggal janjian di mana gitu yang deket-deket” tambahnya.

Deg. Tak ada kata-kata apapun yang dapat aku pilih untuk menggambarkan betapa bahagianya aku. Ketika aku berjalan keluar dari ruang wawancara, aku sempat berpikir bahwa tidak menjadi persoalan lagi apakah aku diterima atau tidak, asalkan aku bisa menuntut ilmu kepada beliau dan memiliki ketrampilan yang lebih di bidang yang aku sukai, yaitu menulis. Deg. Detik itu juga aku baru sadar. Beliau hanya mengambil foto formulirku saja. Aku tidak tahu nama beliau. Aku tidak memiliki kontak beliau. Bagus.

Masa menunggu pengumuman adalah masa yang paling menegangkan. Entah ini suatu hal baik atau hal yang kurang baik ketika pengumuman beasiswa PPA lebih dulu diumumkan. Aku lolos. Aku mengucapkan syukur dan segera menghubungi ibu.

Walau hanya melalui telepon, aku bisa merasakan atmosfer kebahagiaan dari suara ibu. Aku senang. Tetapi hal itu tidak bertahan lama. Dua hari berikutnya aku mendapat kabar bahwa ternyata bagi penerima beasiswa PPA yang mengajukan beasiswa BI harus melakukan konfirmasi, apakah ia memilih beasiswa PPA atau tetap menunggu pengumuman beasiswa BI.

Jika tidak melakukan konfirmasi, maka ia dianggap memilih beasiswa PPA dan otomatis pengajuan beasiswa BI akan di-reset. Batas konfirmasi adalah kemarin. Deg. Aku sudah tidak memiliki harapan. aku tidak tahu, apakah aku harus sedih atau bahagia. Di sisi lain, aku mendapat beasiswa yang sangat diinginkan oleh ibuku. Di sisi lain, aku masih ingin mendapat beasiswa BI dan menuntut ilmu kepada bapak itu. Bagaimana ini? Kegundahanku hanya berlangsung beberapa jam saja. Biarlah. Ini adalah jalan yang terbaik yang dikirimkan Tuhan olehku.

Sebaik-baiknya harapan dan rencanaku, tak kan sebaik rencana dan kehendak Tuhan. Aku yakin akan hal itu. Dan keyakinan itu membuatku tenang. Aku sudah sedikit melupakan kekecewaanku. Waktu berlalu dengan lambat. Di sore hari yang sangat biasa-biasa saja, aku dipanggil oleh seorang temanku.

Mit
Ya?
pengumuman BI sudah keluar

Deg.

halah, sudah nggak mungkin. Toh kita sudah milih beasiswa PPA juga
iya sih. Ya udah nanti aku lihatin yaa
Iya” jawabku singkat.

Entah kenapa, walaupun tahu akan menyakitkan, namun aku tetap ingin melihat pengumumannya. Dengan perlahan aku mengetuk link pengumuman di layar smartphoneku. Headline dari pengumuman itu adalah DAFTAR NAMA PENERIMA BEASISWA BI 2017.

Betapa senangnya siapapun yang mendapat kesempatan ini. Aku lihat satu persatu namanya. Banyak juga dari jurusan lain. Lalu ku gilir sampai baris terkahir. Deg. Di baris paling terakhir nomor urut 20, aku melihat dengan jelas tertulis MITA KURNIA YAWIKA JURUSAN AKUNTANSI. Deg. Deg. Deg.

Apa ini? Bukankah sudah jelas diinformasikan bahwa pengajuan beasiswa BI-ku di- reset? Bagaimana bisa namaku tercantum di pengumuman ini? Aku segera menghubungi temanku yang juga diterima di beasiswa BI dan beasiswa PPA. Ia pun segera konfirmasi ke bidang tiga kemahasiswaan fakultas. Dan kabar yang luar biasa datang dari pesan yang ia kirim kepadaku.

Nggak papa Mit. Ternyata data penerima beasiswa PPA belum dikirim ke Kemenristekdikti. Jadi kita tetap bisa memilih beasiswa BI dan otomatis beasiswa PPA kita tidak diambil.

Deg. Alhamdulillah! Tidak ada kabar apapun yang dapat membuatku bahagia selain kabar tersebut. Aku segera menghubungi ibu dan aku yakin sepertinya rumahku akan roboh jika kebahagiaan ayah dan ibu dapat terlihat dan mengandung massa. Aku tidak pernah berhenti mengucap syukur atas rencana Tuhan yang luar biasa indah ini.

Hari ini aku melakukan pengukuhan penerima beasiswa BI di wilayah Jawa Timur. Betapa beruntungnya aku yang dipilih untuk mewakili universitas dalam penyematan tanda sebagai bukti dikukuhnya kami semua sebagai anggota Genbi (Generari Baru Indonesia), kumpulan pemuda-pemuda berprestasi, berintegritas tinggi, dan memiliki mimpi.

Ini adalah awal dari mimpiku. Langkah awal untuk menyatakan semuanya. Tetapi di mana bapak itu? Entah. Tetapi aku yakin, akan selalu ada jalan Tuhan yang menjembatani semuanya. Aku yakin akan hal itu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Indah Pada Waktunya""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel