Kisah Nyata "Jangan Merasa Miskin untuk Mengenyam Pendidikan"

KisahTerbaik.Com- Susunan cerita nyata ini ditulis oleh Sa'adah dengan judul dalam ceritanya ialah "Jangan Merasa Miskin untuk Mengenyam Pendidikan". Semoga kisah singkat ini memberikan inspirasi dan membuka wawasan bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Bu, seragam dari sekolah sudah ada. Harganya 300 ribu. Saya beli ga?
Bu, buku paket sudah keluar. Semuanya jadi 500 ribu. Saya beli ga?
Bu, teman-teman saya sudah pakai seragam dan punya buku paket. Saya bagaimana?

Kira-kira seperti itu pertanyaan yang sering saya ajukan kepada Ibu saya ketika memasuki sekolah baru maupun semester baru. Saya mengenyam sekolah negeri dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang katanya merupakan sekolah unggulan karena perlu seleksi jika masuk sekolah tersebut dan murah karena tidak serumit administrasi di sekolah swasta. 

Namun bagi kedua orangtua saya sama saja, tetap mengeluarkan uang dalam jumlah banyak karena buku gratis yang diberikan dari pemerintah seringnya kurang dimaksimalkan oleh para guru di sekolah, dalam pembelajaran lebih banyak menggunakan buku yang ditawarkan oleh sekolah untuk dibeli siswa-siswanya.

Sebagai seorang anak saya bukan tidak pernah mengeluh dalam menjalani pendidikan dengan kondisi keluarga dengan ekonomi rendah, namun saya hanya mengurangi keluhan-keluhan saya kepada orangtua dan mengadu saja kepada Rabb saya, Maha Pendengar.

Hal ini karena pernah sekali saya menguping pembicaraan Ibu saya, ia berusaha untuk menjawab pertanyaan saya, “Bu, seragam dari sekolah sudah ada. Harganya 300 ribu. Saya beli ga?”. Ia berusaha memberikan jawaban yang terbaik untuk saya, dengan bertanya kepada tetangga saya “Ibu ada uang 150 ribu? Saya mau pinjam buat beli seragam teteh” tanpa saya ketahui dan kemudian pulang, kembali kepada saya untuk memberikan jawaban “Teteh beli seragam. Tapi uangnya baru ada setengah. Nanti di sekolah bilang ke yang jaga TU (Tata Usaha) ya, Pak/Bu saya nyicil bayar seragamnya.” Tidak mampu lagi saya membendung air mata, segera saya berlari ke tempat yang sepi untuk menangis dan mengadu kepada Allah.

Ya Rabb, mudahkan semua urusan kedua orangtua saya,
Ringankan beban kedua orangtua saya Ya Rabb.
Ya Rabb, biarkan saya mengenyam pendidikan hingga Perguruan Tinggi secara gratis, benar- benar bebas biaya Ya Rabb, Engkau Maha Kaya ..

Saya pernah merasa malu karena masih mengenakan seragam jenjang sebelumnya di sekolah jenjang baru untuk beberapa bulan karena tidak mampu membeli seragam sekolah, saya pernah merasa malu karena bertemu teman di jalan yang diantar dengan kendaraan sedangkan saya berjalan kaki, saya pernah malu karena selalu meminjam buku paket teman saya untuk saya fotocopy pada lembar yang saya anggap penting.

Hal itu terjadi hingga saya di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun malu tersebut tidak sebanding dengan usaha yang Ibu saya tanggung, ia hanya seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) dan Bapak hanya seorang buruh namun keduanya bekerja keras dalam memenuhi kehidupan saya hingga keperluan pendidikan walaupun hanya semampunya.

Saya selalu berusaha untuk tidak mengecewakan orangtua saya, prestasi saya tidak jauh dari peringkat 3 besar di kelas hingga lulus SMA dengan peringkat 3 dari satu angkatan jurusan saya. Besar keinginan saya untuk melanjutkan mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi.

Saya ingat betul bagaimana keimanan saya memuncak di bulan-bulan terakhir kelulusan jenjang SMA. Saya mengalahkan hawa nafsu saya yang hampir saja terjerumus dengan kumpulan kawan yang mencari link kunci jawaban untuk Ujian Nasional (UN).

Namun saya sadar bahwa cara tersebut fatal, benar-benar salah. Rabb saya aka marah dan semua usaha yang saya lakukan dan keluhan-keluhan yang saya ceritakan pada-Nya akan menjadi percuma. Maka sadarlah saya bahwa yang saya butuhkan hanyalah Allah.

Saya merasa beberapa ibadah sunnah yang saya lakukan semenjak naik ke kelas 3 SMA sangat berdampak pada diri saya, secara tidak langsung Allah mengirim orang-orang baik dalam perjalanan kelulusan saya.

Mulai dari teman yang menginformasikan tentang beberapa kampus negeri dan swasta, guru yang menawarkan saya mengikuti jalur beasiswa hingga penceramah yang memberikan pencerahan kepada saya bahwa menjadi orang yang berpendidikan berarti menjadi hamba Allah yang paling betaqwa.  Karena sejatinya semakin cerdas seseorang maka semakin takut ia kepada Sang Maha. Maka semua ikhtiar atau usaha sudah saya kerahkan termasuk meminta ridho dari orangtua saya.

Tertampar saya ketika mempertanyakan kembali tujuan berpendidikan tinggi, apakah hanya untuk orangtua dalam ajang balas budi? Ternyata tidak sesempit itu, jika ada yang bertanya kembali maka saya akan menekankan bahwa pendidikan itu penting karena ilmu byang akan didapat bukan hanya untuk sebuah gelar dan selembar ijazah.

Namun kebermanfaatan untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar, agar sadar bahwa Allah yang merajai semua. Bahwa ilmu yang kita miliki hanya setetes ujung jari jika dianalogikan celupan jari dari luasnya lautan, begitu jika kita ingin membandingkan dengan ilmu-Nya..

Saya harap saya bisa seperti pohon yang tinggi dan rindang, ilmu yang saya dapat bisa meneduhkan orang-orang sekitar karena sekarang saya diberi kesempatan oleh Rabb saya, untuk duduk di bangku salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Ibu Kota dengan bebas biaya.

Sedikit kebanggaan namun banyak pertanggung jawaban karena sudah banyak yang diberikan Rabb saya melalui negeri ini untuk saya dan saya berharap bisa membalas kasih negeri ini dengan ridho-Nya. Tuhan Yang Maha Mendengar, tidak pernah sama sekali meninggalkan hambanya.

Semua orang berhak mengenyam pendidikan hingga tinggi, jangan merasa miskin ketika kamu tau Tuhanmu Maha Kaya, maka mintalah!

Terlahir dari keluarga dengan ekonomi yang rendah bukanlah sebuah pilihan, mengeluh dan menyerah juga bukan sebuah jawaban. Kehidupan ini bukanlan jalan yang tidak ada rintangan, lurus dan halus. Tetapi jalan yang penuh liku, penuh kerikil dan tidak jarang ada benturan setiap tikungannya. Namun tidak se-seram yang kita bayangkan jika Allah yang selalu kita hadirkan setiap kali kita melangkah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Jangan Merasa Miskin untuk Mengenyam Pendidikan""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel