Kisah Nyata "Keajaiban Lagu Pengantar Tidur"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan tentang cerita nyata "Keajaiban Lagu Pengantar Tidur" ini ialah karya dari Rosi Oktiani yang menceritakan pengalaman hidup dan juga inspirasi kepada segenap pembaca.

Begini, Kisah Nyatanya....

Ibu adalah sosok yang “ajaib”. Naluri seorang ibu selalu bisa membawa keajaiban bagi anaknya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut seorang ibu seolah bisa menjadi “mantra” yang luar biasa. Ucapan seorang ibu dapat menjelma menjadi doa yang mampu menembus langit bagai anak panah yang tepat mengenai sasaran.

Saat aku kecil, Ibu selalu menidurkanku dengan cara menepuk-nepuk punggungku sambil bersenandung, menyanyikan lagu pengantar tidur. Jika kebanyakan ibu menyanyikan lagu Nina Bobo, berbeda halnya dengan Ibuku. Ibu lebih senang menyanyikan lagu pengantar tidur khas daerahku, lagu pengantar tidur versi Sunda yang berjudul Ayun Ambing.

Yun ayun ambing
Diayun-ayunku samping
Geura gede geura jangkung
Geura sakola ka Bandung

Itulah lirik lagu Ayun Ambing yang biasa Ibuku nyanyikan. Aku tak tau persis siapa pencipta lagu tersebut dan seperti apa versi lagu aslinya. Yang jelas aku sangat berterima kasih pada pencipta lagu ini, sebab lagu inilah yang telah membawaku pada masa depan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Singkat cerita, aku pun telah menjelma menjadi gadis berusia 18 tahun yang baru lulus dari bangku SMA. Saat itu Ibuku sudah tak pernah lagi menyanyikan lagu pengantar tidur untukku. Namun, justru saat itulah keajaiban lagu pengantar tidur yang dulu Ibu nyanyikan untukku baru bisa kurasakan.

Kala itu, aku memiliki dua rencana untuk melanjutkan pendidikan yakni melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri di Kota Gudeg atau di sekolah kedinasan. Aku pun mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Sambil menunggu pengumuman SNMPTN aku terus melakukan persiapan untuk mendaftar di sekolah kedinasan. Namun, ternyata semua tak sesuai harapan. Aku dinyatakan tidak lolos SNMPTN. Dan di saat yang bersamaan, beredar rumor bahwa sekolah kedinasan tujuanku pun tak membuka pendaftaran pada tahun itu.

Seketika aku merasa harapanku untuk melanjutkan pendidikan kandas begitu saja. Namun, akhirnya aku kembali bangkit dan memutuskan untuk mencoba kembali mendaftar ke perguruan tinggi negeri melalui jalur berbeda, yaitu melalui jalur tes tertulis yang kala itu disebut Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Ajaibnya, tiba-tiba terbesit dalam benakku untuk mendaftar ke salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Tiga pilihan jurusan pada pendaftaran SBMPTN semuanya aku tujukan pada dua perguruan tinggi negeri di Bandung.

Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil lolos masuk ke salah perguruan tinggi negeri di Bandung.

Tak lama setelah pengumuman SBMPTN ternyata ada pengumuman pendaftaran di sekolah kedinasan yang dulu menjadi incaranku. Aku pun mulai goyah, akan melanjutkan di perguruan tinggi yang sudah jelas diterima atau kembali mencoba peruntungan di sekolah kedinasan tersebut. Aku sangat ingat, saat itu Ibuku berkata, “Kamu telah menyisihkan banyak saingan untuk dapat masuk ke perguruan tinggi itu. Kamu telah merebut satu kursi dari mereka. Kalau kamu meninggalkan kursi itu demi kursi lain yang belum pasti akan menjadi milikmu itu artinya kamu telah mendzolimi orang lain.” Perkataan itu, yang akhirnya membuatku sadar betapa pentingnya bersyukur, sebab jika saat itu aku lupa bersyukur mungkin aku sudah melayani nafsuku untuk meninggalkan satu kursi yang sudah pasti menjadi milikku demi kursi lain yang belum tentu akan berpihak padaku.

Inilah yang aku sebut “Keajaiaban Lagu Pengantar Tidur” yang biasa Ibu nyanyikan untukku. Ibu ingin aku melanjutkan pendidikan ke Kota Kembang, bukan ke Kota Gudeg atau ke sekolah kedinasan.

Keinginan ini Ibu selipkan dalam lagu pengantar tidur, “Geura sakola ka Bandung” yang artinya “Segera sekolah ke Bandung”. Benar memang, bahwa ucapan adalah doa. Saat Ibu mengucapkan lirik lagu tersebut, seketika lagu tersebut berubah menjadi doa.

Dan doa seorang Ibu mampu menembus langit bagai anak panah yang tepat mengenai sasaran. Aku sadar, mengapa dulu aku tidak lolos SNMPTN dan sekolah kedinasan incaranku tak kunjung membuka pendaftaran sampai aku dinyatakan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, sebab Allah swt. tengah menyiapkan rencana yang luar biasa untukku. “Manusia boleh berencana, namun sebaik-baiknya rencana adalah rencanaNya”.

Setelah aku menjalani hari-hariku menjadi mahasiswi, Allah swt. seolah-olah membuka satu demi satu kotak hadiah untukku sebagai buah dari kesabaranku. Allah swt. menuntunku mencapai satu demi satu impianku.

Terkadang aku berpikir, mungkin semua hadiah itu takkan aku dapatkan jika dulu aku diterima di SNMPTN atau bahkan meninggalkan kampus ini demi kursi di sekolah yang lain. Intinya, kita harus senantiasa bersyukur dan berpikir positif. Ingat, bahwa sebaik-baik rencana adalah rencanaNya dan selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Keajaiban Lagu Pengantar Tidur""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel