Kisah Nyata "Kehebatan Sedekah" Yang Tak Terhingga

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan ini menceritakan tentang kehebatan sedekah dari hasil pengalaman hidup yang dijalani oleh Rina Agustini. Adapun untuk judul cerita ini sendiri ialah "Sedekah Berbuah Tak Terhingga". Semoga bisa memberikan inspirasi kepada segenap pembaca.

Begini, Kisah Nyatanya...

Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Bengkulu, Ibukota Provinsi Bengkulu yang terletak di pulau sumatera. Aku berasal dari keluarga yang menengah. Kami tidak terlalu berkecukupan, namun semua itu kami jalani dengan semangat sebagimana keluarga yang lain.

Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan kedua adikku yang juga masih duduk di bangku SMA dan SMP. Rumahku berada sangat jauh dari kampus tempatku belajar. Keterbatasan ekonomi membuat kami harus berjuang keras untuk sekolah.

Karena tidak memiliki kendaraan yang memadai, untuk mencapai kampus, aku harus naik kendaraan umum yang ada di kotaku, kami biasa memanggilnya dengan “angkot”. Untuk mencapai kampus, aku harus menyambung angkot sebanyak 3 kali, alias 2 kali pemberhentian terminal menuju arah selanjutnya.

Jika ditung-hitung lama perjalananku dari rumah menuju kampus hamper 40 menit perjalanan. Belum lagi ditambah harus berjalan kaki menuju gedung kuliah kami yang harus kucapai dengan berjalan kaki dari gerbang kampus selama 15 menit. Jika kampus masuk pukul 08.00 maka pukul 06.30 aku sudah harus berangkat dari rumah jika tidak ingin terlambat.

Hal ini menjadi sesuatu keharusan yang aku mulai biasakan dalam dirikua agar etap disiplin meski
banyak halangan yang menghadang.

Aku tidak memiliki uang jajan tetap seperti teman temanku yang lain. Terkadang jika ibuku memiliki uang aku akan diberikan ongkos sebanyk Rp 12.000,00. Ongkos angkot mahasiswa saat itu sekali naik angkot Rp 1.500,00.

Maka sehari aku akan menghabiskan uang Rp 9.000,00 untuk transportasi saja. Jika tidak ada pengeluaran maka uang belanjaku hari itu bersisa Rp3.000,00. Aku sadar uang itu tidak cukup memenuhi kebutuhan kuliahku.

Itu jika ibu ada uang, jika tidak maka tidak ada yang diberikan kepadaku mengingat orang tuaku hanya pekerja buruh haria kasar yang uapahnya tak menentu dan harus membiayai 3 orang anaknya termasuk diriku yang duduk di perguruan tinggi. Maka sambil kuliah aku mencoba berjualan apapun yang bias kujual diantara teman –temanku, untuk menambah uang jajan dan kebutuhan lainnya.

Suatu hari aku baru pulang dari kuliahku. Aku berada di terminal pemberhentian pertama menuju rumahku. Di kantongku terdapat uang lima ribu rupiah. Kugenggam uang itu agar aman tak terselip maupun terjatuh, karena 5 lembaran pecahan seribuan itu menjadi naywaku agar bias kembali ke rumah hari itu.

Aku tahu bahwa hari ini aku akan menyisakan uang dua ribu rupiah sehingga aku bisa untuk sekadar membeli gorengan 2 buah bakwan untuk menggal perutku yang sudah sangat keroncongan di pukul 17.00 sore itu. Aku menantikan angkot berwarna hijau untuk mengantarku menuju terminal perhentian selanjutnya.

Aku berjalan sedikit demi sedikit ke arah kiri karena angkot tak kunjung lewat. Pandanganku mengarah pada jajaran penjaja gorengan di pinggir jalan yang sudah memberikan aroma yang menusuk lambungku.

Aku semakin berniat mendekati salah satu gerobak gorengan tersebut. Tak sengaja aku melihat seorang gadis berpakaian putih abu-abu berdiri sambil mencari –cari sesuatu miliknya mungkin yang terjatuh.

Hanya ada aku dan dia di sore yang ramai itu untuk menanti lewatnya angkot yang bisa dimasuki penumpang. Aku tak mengenal anak SMA itu. Tapi entah kenapa hatiku terusik melihatnya kebingungan entah apa yang dicarinya. Dengan nada pelan dan sedikit tidak percaya diri aku memberanikan diri bertanya pada gadis itu.

Maaf, lagi cari apa ya, Dek?”
Uang saya jatuh, Mbak
Dimana
Tidak tahu, mungkin di sekitar sini . Tapi sudah saya cari gak ada. Itu ongkos saya mbak. Saya gak bisa pulang kalau uangnya gak ketemu” Ia menceritakan kejadinnya sambil sedikit matanya kulihat sudah berkaca-kaca ingin menangis.
berapa ongkos dari sini menuju rumahmu , Dek
dua ribu rupiah mbak
mbak ada uang dua ribu rupiah untuk mengganti ongkosmu yang hilang“ aku berikan uang sejumlah itu, lalu aku tersenyum untuk menenangkannya

Dia berterima kasih dan pergi bersama angkot yang ia naiki untuk membawanya pulang ke rumahnya. Aku sangat senang bisa membantu meskipun itu uang terakhir yang kumiliki yang bisa kupergunakan untuk membeli gorengan yan sudah kulihat sedari tadi.

Dengan menahan lapar aku memfokuskan pikiranku untuk bersegera pulang. Uang tiga ribu rupiah itu aku genggam erat, takut jika kejadian itu menimpa diriku. Aku bernapas lega saat sampai di gang rumahku.

Aku pulang tanpa menyisakan uang sepeserpun. Bayang –bayang buruk selalu menghinggapi hatiku saat dimana aku tak punya pegangan uang selain yang diberikan ibuku hari itu. Bagaimana jika uangnya jatuh, atau jika uangnya hilang, atau sebagainya. Jika itu terjadi aku harus menghubungi siapa. Secara saat itu aku tak memiliki handphone.

Kejadian itu sudah seminggu berlalu. Akupun sudah sempat melupakannya. Sesuatu terjadi di kampus. Terpilih 20 mahasiswa secara random untuk membantu tugas studi seorang dosen untuk mencapai gelar doktoralnya.

Dua puluh mahasiswa ini akan difasilitasi sebagai tenaga survey lapangan yang tentunya akan diberikan honor yang sepadan. Hal ini menjadi kesempatan langka yang sangat dinantikan mahasiswa di kampusku.

Sedikit tak percaya, namaku berada di salah satunya mahasiswa yag terdaftar di list tersebut. Satu-satunya yang bersal di prodiku. Aku bersyukur dan sangat bahagia menerima tugas ini. Kami dikumpulkan di aula dekanat, lalu menandatangani tramsport survey awal sejumlah Rp 200.000,00 per orang. Aku bertanya Tanya, apakah rezeki ini balasan dari kejadian minggub kemaren.

Angka dua itu berlipat ganda dari yang kuberikan sebelumnya. Itu baru permulaan.setelah survey yang kami lakuka selama 2 minggu terjadwal, kami diberikan transport lagi nyaris satu juta rupiah. Aku makin bersyukur . Hal ini membuatku berdecak kagum kepada Sang Maha Kaya. Betapa mudah baginyamendatangkan rezeki untuk kita dengan bersedekah.

Betapa ratusan kali lipat Ia sanggup membalas hal kecil yang kita lakukan. Itulah mengapa bersedekah sangat dianjurkan dalam keadaan sempit maupun lapang. Aku menjadi bertambah yakin akan kuasanya. Tak akan jatuh miskin orang–orang memberi, dan tak akan berkurang apa-apa yang kita sedekahkan, kecuali itu kembali lagi kepada diri kita.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Kehebatan Sedekah" Yang Tak Terhingga"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel