Kisah Nyata Keluarga "Pelangi dari Takdir"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian curhatan dan kisah terbaik ini dituliskan oleh Imroatus Solekha dengan judul dalam kisahnya tersebut "Pelangi dari Takdir". Semoga tulisan ini bisa memberikan makna yang berarti kepada setiap pembaca.

Begini, Kisah Nyatanya...

Sebelumnya, ini pertama kalinya saya menceritakan pengalaman saya. Saya sudah lamu memendam semua ini sendirian, karena pada dasarnya saya hanyalah seorang introvert. Mungkin dengan menceritakannya saya akan merasa sedikit lebih lega.

Jadi gini, saya itu sangat merasa tidak dihargai, tidak dianggap ada, tidak merasa dibutuhkan oleh sebagian keluarga saya. Saya masih diberi makan dan dibiayai sekolah saja saya sangat bersyukur. Tapi namanya juga manusia,saya punya titik jenuh tersendiri, saya sudah tak kuat.

Sampai ketika suatu hari tiba, saya menyalahkan segalanya kepada Tuhan, saya sangat kecewa. Saya adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara. Mungkin orang tua saya sangat membenci saya dibanding dengan saudara saya yang lain.

Pasalnya, kedua saudara saya ketika minta apa-apa lama atau tidak pasti terwujud dan saya jika meminta sesuatu itu hanya wacana semata. Saudara saya mendapat uang saku lebih banyak, dibelikan barang-barang yang mereka mau, bahkan saudara saya yang sudah bekerja tetap diberikan uang. 

Sedangkan saya dikasih saku sangat minim itupun tak tentu padahal sekolah saya menetapkan sistem FDS (Full Day School) yang notebennya waktu saya lebih banyak dihabiskan di sekolah. Ibu saya juga jarang masak, jadi saya jarang membawa bekal.

Ketika HP saya rusak, tak ada niatan dari orang tua saya untukmembelikan yang baru atau hanya sekedar menservicenya padahal kebutuhan saya yang paling utama ya itu. Juga tiba pada saat, hmm charger laptop kakak saya mengalami kerusakan, kebetulan habis dipakaioleh saya.

Saya bukan penyebab utama keruakan tersebut, sudah sejak lama charger tersebut bermasalah, bahkan yang selalu mencharger laptop tersebut saya, walaupun yang makai bukansaya, dia selalu minta bantuan saya karena cuma saya yang bisa mencharger laptop tersebut.

Dia marah-marah,ngomel sambilnyakitiin ati. Setiap malam saya selalu nangis sendiri, saya terus berusaha memikirkan cara agar charger tersebut befungsi kembali. Akhirnya saya memutuskan untuk
menservicenya, sebelumnya saya tanya kepada dia, saya meminta untuk masalah pembayaran kami bagi dua, tapi dia malah berkata, “pokoknya saya   tak mau bayarJleb betapa sakitnya hati saya, saya harus bayar pakai apa? Emang saya sudah kerja? Saya terus menangis kala itu, tapi saya menangis dalam diam, hanya air mata yang terus menetes, Tuhan juga tak kunjung membantu.

Saya pun langsung menservice didekat sekolah saya, ketika diambil, katanya harus beli baru dan harganya kurang lebih 300k, darimana saya dapet duit segitu? Untung saja saya ada duit untuk keperluan sekolah saya yang lain dan pas.

Kemudian, dihari-hari berikutnya, ia dengan seenak udelnya makai charger tanpa berterimakasih sedikit pun. Juga, karena saya sendiri yang tak mempunyai kamar, saya harus rela tidur sekasur dengan dia, seringkali di waktu jam tidur sekitar jam 11 keatas, dia menelepon dengan suara yang kencang dan sangat berisik, saya pun sangat-sangat terganggu, namun apa boleh buat, saya tak punya tempat, saya hanya bisa menangis dalam diam dan menunggu dia selesaibaru saya bisa tidur dengan tenang.

Hari-hari kemudian masalah demi masalah terus berdatangan, saya semakin kecewa dengan takdir Tuhan. Kenapa saya harus dilahirkan? Kenapa tidak kalian bunuh saja saya saat saya masih di dalam janin, supaya saya tak pernah nerasakan pahitnya hidup di dunia ini.

Hampir saya tak percaya Tuhan dan juga orang lain. Untung saja, saya masih mempunyai teman yang setidakya menghibur saya sembari melupakan masalah. Saya juga sempat berpikir, untuk apa melakukan kebaikan jikalau nanti pastinya kita masuk neraka dan tak bahagia di dunia? Kekecewaan saya terus berlanjut, sampai tiba pada saat saya sholat dan membaca tafsir quran yang kurang lebih menjelaskan tentang janji Tuhan yang pasti ia akan membalas setiap perbuatan kita, semua akan indah pada waktunya.

Saya sadar, saya harusnya lebih bersyukur, saya masih diberi hidup untuk lebih banyak berbuat baik, sedangkan orang lain bahkan mati-matian untuk mendapatkan hidup. Saya masih bisa makan, dan lain-lain.

Allah akan mengganti sesuatu yang hilang dari kita lebih baik apabila kita ikhlas menerimanya. Terimakasih Tuhan. Allah tak akan mengingkari janji. Lakukan dengan ikhlas dan sabar, insyaAllah semua akan indah pada waktunya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata Keluarga "Pelangi dari Takdir""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel