Kisah Nyata Kenangan Bersama Hujan

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan mengenai kisah nyata ini hasil karya dari Reza Taufik Hidayat dengan judul asli dalam tulisannya "Seperti Hujan dan Kenangan". Semoga cerita ini bisa menjadi wawasan dan sumber inspirasi bagi segenap pembaca.

Begini, Kisah Nyatanya...

Dear Hujan,

Tahukah engkau? Ketika saat setetes demi setetes butiran kecil air dari langit jatuh membasahi rambutku, seakan membuatku teringat hal-hal kecil yang dulu pernah kulakukan bersamanya, kulalui setiap detik, menit, jam, hari tertawa lepas bersamanya, tersenyum dengan benar-benar tersenyum berdua dengannya tanpa ada rasa kepura-puraan.

Hingga membuat perasaan kami bersatu saling mencintai, menyayangi, melakukan semua hal apapun itu yang bisa membuat kami tersenyum, bahagia. Dengan saling menjaga, melakukan hobi bersama walaupun terdapat perbedaan yang jelas. Unik memang cinta itu, tidak dapat dilihat pun juga tidak berwujud, tetapi bisa membuat kami saling melengkapi satu sama lain. Walaupun banyak hal yang berbeda antara kami tetapi kami selalu bisa melihat dalam satu pandangan yang sama agar semua perbedaan itu berubah menjadi sebuah kesamaan.

1 tahun berlalu, 2 tahun, 3, 4, 5, hubungan kami masih sangat-sangat harmonis, walaupun sering kali terjadi pertikaian, kecemburuan, egois, tetapi itu semua selalu bisa kami hadapi dengan pengertian antara satu sama lain.

Hingga akhirnya tak terasa kami berdua sama-sama menyelesaikan pendidikan s1 kami. Tetapi setelah itu kami terpisah oleh sebuah jarak, dimana aku diterima untuk melanjutkan pendidikan kejenjang berikutnya diluar negeri. Sedangkan dia memilih untuk tetap tinggal.

Sedih memang saat-saat perpisahan dengannya walaupun cuma 2 tahun. Kami berdua tahu, dengan jarak yang memisahkan kami mampu percaya bahwa cinta siap menunggu, kapanpun itu. Juga dengan sebuah janji, aku berjanji kepadanya, setelah menyelesaikan 2 tahun studiku aku akan kembali dan berkomitmen untuk melanjutkan hubungan kami kejenjang berikutnya.

Satu tahun berlalu, dengan hanya berkomunikasi lewat telepon namun masih bisa membuat kami tertawa, tersenyum, walaupun tidak sesering sebelumnya. Dua tahun berlalu hingga hari dimana aku telah menyelesaikan studiku tiba.

Dengan menjadi 10 wisudawan terbaik, dengan itu membuat aku kembali berkesempatan untuk diterima melanjutkan studiku lagi. Hingga hal itu membuatku lupa dengan janjiku bersamanya 2 tahun sejak kepergianku.

Sulit memang untuk memutuskan semuanya, tetapi aku mencoba untuk memberikan pengertian dengannya dengan berbicara baik-baik dari hati ke hati walaupun hanya lewat telepon untuk menungguku 1 tahun lagi.

Aku tahu kalau dia sulit untuk menerimanya karena mungkin dia takut aku berubah dan melupakannya. Tetapi dengan segala komitmen yang aku berikan membuat dia untuk mampu kuat menunggu satu hal kecil lagi.

Aku kembali fokus dengan studiku tanpa berkomunikasi dengannya satu tahun kurang lebih, dengan tujuan agar bisa cepat-cepat menyelesaikan studiku dan menyelesaikan semuanya. Aku tak tahu bagaimana kabarnya, bagaimana keadaannya, tetapi hatiku selalu percaya bahwa dia masih setia menungguku.

Satu tahunpun berakhir, selesai semua perjuanganku dan bangga akan semuanya yang telah aku lakukan. Dengan senyuman yang lebar, hati yang terasa berdegup sangat kencang tidak seperti biasanya aku siap untuk kembali kepadanya, dengan sebuah kejutan. Aku tidak mengabarinya tentang kedatanganku, karena aku ingin membuat sebuah momen special untuk aku dan dia.

Akhirnya aku sampai ditempat tinggalku dulu saat bersamanya. Aku mempersiapkan semuanya termasuk meminta restu dari kedua orang tuaku dan yap kedua orang tuaku merestuinya. Siang itu dengan niat ingin melamarnya dengan pelan aku menjalankan motorku, tak berapa lama akhirnya sampai juga di rumahnya.

Dengan sebuah sambutan yang hangat dari kedua orang tuanya, kami bercerita panjang lebar mulai dari bagaimana kehidupanku saat studi diluar negeri dan lainnya, kami tertawa bersama, sampai-sampai bingung untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

Tetapi aku mulai bertanya-tanya didalam hatiku kenapa dia tidak ada dirumahnya, lalu aku menanyakan kepada orang tuanya. Mereka menjawab kalau dia sedang pergi keluar bersama temannya, lelaki.

Saat itu aku piker wajar, karena dia mungkin juga butuh hiburan, jadi aku menunda niatku untuk melamarnya. Dalam hatiku berkata “mungkin besok waktunya”. Dengan segala sambutan hangat itu dari kedua orang tuanya aku pamit untuk pulang karena semua tulang tubuhku serasa patah karena mungkin terlalu kelelahan.

Dengan pelan laju motorku aku menyusuri jalan yang sudah lama tidak aku lalui.Secara tak sengaja aku melihatnya (kekasihku) disebuah taman yang dulu pernah kami datangi berdua. Aku hentikan laju motorku, dengan semangat aku berjalan untuk menghampirinya.

Sekitar jarak 10 langkah tak sengaja aku mendengar perbincangan mereka dan lalu teman lelakinya mengatakan sebuah hal yang membuat aku, hatiku serasa hancur berkeping-keping. Yap teman lelakinya mengatakan tentang sebuah keinginan untuk melamarnya dan dia (kekasihku) dengan tersenyum serasa sangat-sangat bahagia menyetujui keinginan itu. Dia tidak melihatku, dia juga tidak tahu kalau aku sudah pulang.

Seketika itu pula aku pergi. Dengan perasaan yang hancur, aku pergi entah kemanapun itu, aku tak tahu kemana akan kutuju, karena aku telah rapuh oleh semuanya.

Senja hari, aku menghentikan laju motorku dipinggir jalan dimana terdapat sebuah sungai didekatnya. Aku berjalan mendekati sungai itu, tak ada seorang pun, yang ada hanya aku dan semua gemericik air yang mengalir.

Aku coba untuk berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan semuanya agar berharap semua itu hilang dan tak terjadi apa-apa. Tetapi semuanya tetaplah sama, itulah kenyataan yang harus aku hadapi walaupun berat. Tiba-tiba langitpun turut bersedih, rintik-rintik hujan mulai turun membasahi rambutku juga tubuhku yang seakan-akan hujan itu merasakan apa yang saat itu akau rasakan. Seketika membuatku sadar bahwa hidup harus terus berjalan, seberat apapun itu harus tetap dilalui.

2 tahun sejak kejadian itu, aku tak tahu bagaimana keadaannya dan aku rasa aku tak perlu tahu, walaupun semuanya masih teringat jelas dibenakku. Aku mencoba untuk selalu tetap tersenyum walaupun itu semua hanya sebuah senyuman kepura-puraan.

Walaupun terasa sangat sulit untuk menjalani hari demi hari kehidupanku tetapi aku mencoba untuk tetap kuat menjalaninya dengan sebuah harapan untuk hari esok yang lebih baik lagi.

“Yap begitulah, Hujan dan Kenangan akan selalu menjadi sebuah relasi, karena keduanya saling keterikatan, saling berhubungan satu sama lain, tidak dapat dihapuskan, dihilangkan ataupun dipisahkan”.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata Kenangan Bersama Hujan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel