Kisah Nyata & Misteri "Sahabat Beda Alam"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan yang dihasilkan dari pengalaman nyata ini dituliskan oleh Desty Ramdana dengan judul "Sahabat Beda Alamku". Dalam karya ini ia menuliskan tentang kisah nyata dan misteri yang baik untuk diambil pelajaran bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Semilir angin membawaku mengembara menuju ruang egois yang biasa kusebut rindu. Malam ini beda.

Aku tidak sedang merindukan orang yang kucintai, seperti yang terjadi pada hari tahun lalu.
Aku tidak sedang memikirkan orang yang meninggalkan bekas luka untukku, seperti yang terjadi pada hari bulan lalu.

Dan aku tidak sedang menangisi semua orang yang menyakitiku, seperti yang terjadi kemarin.
Sarah Dwi Putri Cahyani, dialah yang membuatku rindu kali ini.

Sebagian pembacaku pasti sudah tahu siapa sebenarnya Sarah. Dan sebagiannya lagi akan tahu setelah membaca cerita ini.

Seperti ini kira-kira penggambaran terbaik untuknya.

Dia seorang wanita berumur 25 tahun, dia cantik, baik dan dewasa sesuai dengan umurnya. Aku menemukannya sekitar 4 tahun yang lalu, dan sangat tidak sengaja.

Menurut fakta yang akhirnya kuketahui semenjak berteman dengan teman indigoku, aku jadi mengerti, ternyata makhluk halus yang sadar bahwa ada manusia yang dapat melihatnya akan berubah menjadi agresif.

Ada yang ingin berkomunikasi, ada yang ingin mengganggu, ada yang ingin meminta bantuan, ada yang ingin menyampaikan sesuatu, dan ada pula yang sekedar ingin mengenal lalu akhirnya berteman baik. Mungkin Sarah termasuk ingin mengenal lebih jauh dan akhirnya berteman.

Kuingat saat itu dia menangis, tersedu, terisak bahkan tak dapat mengatur nafas dan tangisnya. Aku yang dengan penasaran mendekatinya lalu diam mematung. Dengan tajam dia menatapku, lama, tanpa kata dan itu membuatku sedikit takut. Saat itu aku merasa bersalah telah mengganggunya, hingga kulangkahkan kakiku untuk pergi menjauh dan kembali membiarkannya sendiri.

"Kamu hendak kemana?" tanyanya seketika, ketika kubalikkan badanku hendak menjauh.
Tak kujawab itu, kubalikkan kembali badanku lalu duduk didekatnya, "Kamu kenapa menangis?" tanyaku berusaha bersikap akrab.
Aku ingin kembali ke duniaku yang dulu, tapi takdirku sudah seperti ini,” jawabnya masih dengan terisak.
"Memangnya kamu meninggal gara-gara apa?" tanyaku mencoba mengulik lebih dalam.

Dia menjawab sekaligus mulai bercerita perihal kematiannya dulu. Sungguh aku menangis saat itu, aku seperti memiliki ikatan batin dengannya. Tiba-tiba aku merasa simpati, merasa ingin sekali merangkulnya. Dan akhirnya hari itu menjadi hari yang penuh kesedihan bagi Sarah, juga bagiku. Mulutnya tertata mengungkap fakta demi fakta kematiannya, dan kulihat dari caranya bercerita dia masih ingin hidup, dan masih ingin menjadi sepertiku.

Maaf teman-teman aku tidak bisa menjelaskan, jika kalian bertanya bagaimana Sarah bisa meninggal. Meskipun Sarah telah memberiku lampu hijau untuk membeberkan kisahnya pada beberapa ceritaku, tapi aku menjaga sesuatu yang bagiku bersifat pribadi.

Sejak kejadian itu, aku jadi mengenalnya.

Minggu demi minggu, membuatku terus mengerti betapa indah sosoknya jika saja dia masih hidup.
Bulan demi bulan, membuatku semakin menyayanginya.

Dan tahun demi tahun, membuatku selalu merasa kurang jika dia tak ada.
Kalian tahu hal yang paling membuatku bersyukur mengenai kisah persahabatan? Jawabannya aku bisa mengenal Sarah.

Kalian tahu hal yang paling aku butuhkan dari dulu?

Jawabannya tentu sahabat seperti Sarah.

Dan kalian tahu mengapa ketika sendiri aku masih saja kuat? Jawabannya karena Sarah selalu disisiku, dia selalu berusaha membuatku yakin bahwa selama sosoknya ada itu berarti aku akan selalu baik-baik saja.

Akan kuceritakan sedikit kisahku dengannya semasa aku sekolah, bersiaplah dan simak baik-baik cerita dibawah ini.

Sejak akududuk di bangku SMK dia selalu ikut denganku, jika saja ada indigo diantara orang-orang disekolah mungkin dia akan mengira aku ketempelan padahal sebenarnya itu adalah Sarah.Dia selalu ingin ikut denganku, kemanapun.

Apalagi jika aku sekolah, mungkin karena dia ingin bernostalgia dimasa hidupnya, mengingat dia meninggal dimasa putih abu-abu. Dia melakukan aktivitas selayaknya siswa, dia bangun pagi, dia belajar, dia merasa sedih mendapat nilai rendah dariku.

Oh ya, dia pintar sekali pelajaran matematika. Setiap malam, dia bahkan selalu mengajariku dan tentunya itu paksaan. Jika kalian pernah mendengarku mengatakan menyukai pelajaran horor itu maka aku berbohong, itu semua karena Sarah menyukainya makadari itu aku jadi merasa wajib menyukainya juga. Terbukti, beberapa kali aku ikut olimpiade meskipun tidak menang, haha.

Dia sering memberitahuku jika ada orang yang tak suka denganku, dia juga sering memberitahuku ketika ada orang yang berniat jahat padaku, dan yang mengagetkan dia pernah melarangku bergaul dengan salah satu sahabatku dimasa SMK, alasannya cukup singkat  "dia jahat".

Jujur saat itu aku bahkan berdebat dengannya, lantaran aku tak ingin mendengarkan kata-kata dan saran darinya. Hingga sebuah karma mendatangiku, mantan sahabatku benar-benar orang yang licik. Tak perlu kusebutkan siapa sosoknya, yang pasti dia selalu ingin menjatuhkanku, dengan segala cara dan bahkan dengan cara santet. Dengan ini tak perlu kujelaskan perihal diriku yang selalu sakit.

Sebenarnya aku tak lemah, hanya dipaksa untuk menjadi lemah.

Aku tak bodoh, hanya dibuat menjadi orang paling pelupa.

Dan aku tak sial, tapi terdapat seseorang yang memainkan nasibku.

Motifnya cukup membuatku menggelengkan kepala, hanya karena iri hati.

"Teman, bukankah dulu jika ada kegiatan yang diamanahkan kepsek kepadaku, aku selalu mengikutsertakanmu? Aku selalu berusaha untuk berlaku adil pada sekelilingku, termasuk padamu".

Sarah tahu bahwa aku tak pernah menganggap remeh orang yang baru kukenali, dia bahkan menebak bahwa aku orang yang selalu percaya bahwa semua orang memang memiliki kelebihan dan sikap kepemimpinan yang berbeda. Kubenarkan tebakannya itu karena aku memang selalu merasa seperti itu jika bertemu dengan orang baru.

Sepertinya ceritanya sudah sedikit melenceng, jadi sebaiknya langsung saja kulanjutkan ceritakebaikan Sarah padaku jika sedang di rumah.

Ketika aku dimarahi dirumah, oleh kakekku, oleh nenekku dan oleh mamaku. Orang pertama yang merasa sangat simpati padaku adalah Sarah. Dia bahkan memarahi balik kakekku, dan beruntung sekali kakekku tak melihatnya, haha.

Ketika aku sedang suntuk-suntuknya belajar, dia pasti selalu berkata seperti ini

Aku ingin sekali hidup kembali, karena dulu kuhabiskan hidupku dengan menjadi siswa yang nakal, aku sering bolos sekolah, suka jailin guru, malas belajar padahal sebenarnya pelajaran itu gampang jika memang ada niat untuk belajar, tapi umurku hanya sampai ketika aku kelas 2 SMA. Aku tidak sempat merasakan enaknya merayakan kelulusan, tidak sempat merasakan coret-coret baju. Sekarang, aku ingin sekali menjadi baik tapi takdirku sudah begini. Kamu harus semangat, jika kamu tidak ingin menyesal. Jika kamu tak ingin membantuku, minimal kamu ingat keluargamu dan ingat alasanmu dilahirkan,” seperti itulah ceramah panjang lebarnya kepadaku.

Ketika sedang seperti itu, kulihat bahwa Sarah benar-benar menyayangiku seperti adiknya dan peduli selayaknya saudara.

Ketika aku sedang sedih memikirkan masa laluku yang sampai sekarang belum sepenuhnya kumaafkan, Sarah mendadak menjadi konsultan cinta yang bijak. Dia tidak pernah menyalahkanku atas masa laluku itu, dia juga tidak pernah menyalahkan lelaki yang ada dimasa itu.

Tidak ada yang salah dengan kalian, cuma mungkin kalian terlalu cepat dipertemukan. Kenapa? Karena ego kalian masih labil saat itu, jadi tak ada yang bisa mengendalikan itu dengan baik. Dia tidak jahat, dia meninggalkanmu dan pilih yang lain itu karena menurutnya apa yang dia cari selama ini tidak ada dalam dirimu, jadi apa salahnya mencari itu pada orang baru. Kamu tak ada kurangnya, terdapat banyak lelaki yang ingin menjadi kekasihmu tapi kamu selalu bertahan dengan dia yang menurutmu baik, disitulah letak perbedaan kalian. Intinya, tak pernah ada yang salah dengan orang yang dulunya saling mencintai,”seperti itu katamu, kala itu kuingat aku menatapmu kagum karena jawaban panjang yang benar-benar berarti untukku.

Ketika aku ingin ujian, dia teman belajar dan begadang yang paling setia. Dia mengoceh kiri kanan agar aku tidak mengantuk, agar aku tidak merasa bosan. Pernah sekali, saat itu aku hendak ujian matematika dan memang saat itu aku tengah sakit demam dan tidak dalam keadaan yang benar-benar baik.

Malam sebelum ujian aku hanya tidur dan berharap esoknya akan sembuh, tapi ternyata malah semakin parah. Alhasil hari itu ujianku semuanya diajari oleh Sarah, tanpa kuminta. "Nilaimu tidak boleh rendah disini, kamu harus buktikan bahwa kamu benar-benar menyukai matematika,” katamu saat kucoba mengerjakan soal sebisaku, kataitu kau ucapkan saat aku belum menerima tawaranmu untuk mengerjakan semua soal ujianku.

Ketahuilah teman hari itu aku tidak curang, tapi sedang merasakan keberuntungan.

"Terimakasih, Sarah. Kamu sudah membuatku pusing dengan matematika. Bagaimanapun kamu memaksaku, tetap saja kamulah yang paling pintar, aku hanya menjadi perantara agar kamu kembali merasakan pelajaran yang kamu sukai dari dulu. Dari semua usahamu yang tidak sepenuhnya terwujud, setidaknya kamu berhasil membuatku menyukai matematika, walaupun benar-benar tidak sepenuhnya".

Ketika aku disalahkan oleh sekelilingku, sedikitpun dia tak membelaku, dia hanya diam. Dan kupikir saat itu dia tengah mengajarkanku kedewasaan, melihat caraku mengubah apa yang benar-benar salah dariku. Ketika aku dihina, tentang hal apapun yang dilihat ganjil oleh orang-orang diluar sana, dia masih diam dan melihatku berusaha keras mengontrol diriku sendiri.

Tetapi satu hal yang membuat murkanya muncul yaitu ketika itu sudah menyangkut fisik dan kelebihanku yang bisa melihatnya, dia sangat marah jika orang-orang dengan kejam mencerca fisik dan kelebihan yang kuterima ini. Saking marahnya, dia bahkan sering melukai mereka, dan semua itu baru kuketahui sekarang.

Jika saja otakku mampu mengingat semuanya, maka ceritaku dengannya semasa aku sekolah dulu akan kuurai satu per satu, tapi dayaku hanya bisa mengingat sesingkat ini. Yang pasti masih banyak lagi keseharian yang kulalui bersamanya. Aku bahkan tidak lagi bisa membedakan dia dengan teman-teman nyataku.

Ketika aku mulai sakit-sakitan karena sesuatu yang dikirim temanku, dia mulai jarang terlihat. Bahkan ketika aku menangis memanggilnya, dia juga tak datang. Saat itu pikiranku, dia mungkin tak ingin ikut campur atau bahkan secara tidak langsung menghukumku karena tak mendengar kata-katanya dahulu

"Sarah, maafkan aku. Aku sudah dibutakan oleh kebaikan seseorang itu padaku. Dan karena itu, aku jadi mengabaikan kebaikanmu padaku."

Setiap malam dan setiap kurasakan sakit itu, saat itu juga dia hadir didalamnya. Bercampur menjadi satu, membuatku semakin merasa begitu terasingkan.

Keluarga, teman bahkan mamaku pun tak tahu aku sakit, tak tahu aku memendam rasa sakit yang menurutku tidak semua orang bisa menahannya.

Bertahun-tahun kusembunyikan sakit itu, berpura-pura merasa baik-baik saja didepan semua orang. Berdiri dengan kaki yang bertubi-tubi dihujam agar tumbang.

Tersenyum dengan bibir yang sudah sangat ingin berteriak menguak kebenaran yang dipendamnya.
Melakukan sesuatu seolah tak ada beban, seolah tak ada rasa yang membatasi.

Entahlah bagaimana rasanya, yang pasti saat menjalani kehidupan di waktu itu, aku pernah mencoba mengakhiri hidup beberapa kali. Dan jika bukan karena Sarah, rencana itu mungkin akan berhasil.
Mungkin sebaiknya sakit itu tidak kuceritakan disini, biarlah cerita itu yang hanya aku yang tau dan merasakannya.

Beberapa tahun kedepan, Sarah masih tetap sama kepadaku. Dan kehadirannya juga masih sama, datang ketika aku sedih dan pergi kala aku bahagia.

Tiba pada masa kuliah, masa dimana berbagai macam kekerasan kudapatkan. Masa dimanadia mulai melepasku dalam artian tidak begitu sering mengikutiku lagi.

Tapi tidak melepasku begitu saja, dia mengontrol pertemananku dan pergaulanku. Beberapa orang yang tidak disukainya pun juga kujauhi. Ya, aku tidak lagi ingin menjadi wanita kepala batu.

Pernah kala itu, saat aku tengah parah-parahnya. Bahkan harus bolak-balik untuk berobat, dia selalu sigap berada didekatku. Padahal jika dipikir, dia juga tak bisa membantu apa-apa. Dia yang tak nyata selalu berada disampingku, menggenggam kuat tanganku untuk bersabar dan tangguh. Sedih sekali rasanya saat menulis bagian ini, karena tak satupun teman dunia nyataku berada disisiku saat itu. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing, mereka bahkan tak peduli dengan semua yang terjadi padaku.

Pernah juga kala itu sesuatu tak biasa dilakukan Sarah padaku. Memoriku begitu mengingat, jika tak salah saat itu subuh menuju pagi, sekitar pukul 04:16 tanggal 20 bulan Maret kemarin, Sarah membangunkanku dengan rasa khawatir.

Tangannya kasar mengguncang tubuhku, "Des, ayo bangun," pintanya seolah mendesakku untuk bangun. Baru kali ini Sarah gelisah di jam-jam seperti ini. Ku kucek mataku lalu membalikkan badan menatapnya yang sedang berdiri ditembok, kulihat matanya sembab sepertinya dia menangis sedari aku tidur.

Tadi aku memang memanggilnya untuk mengusir kebosanan yang melandaku.

"Kamu kenapa sih?" bentakku kepadanya, aku memang sedikit marah saat itu.
"Aku rindu," katanya terisak.
"Yang benar saja, ini jam berapa Sarah? Besok saja jika kamu ingin curhat.," kataku menolaknya bercerita.
Yasudah, kamu tidur saja. Kamu harus tahu, aku sangat tidak suka melihatmu tidur nyenyak jika aku sedang rindu,"katanya membuatku tajam menatapnya seolah tak percaya.
"Apa katamu?" tanyaku seketika. 

Dia diam.

“Kamu juga pernah hidup bukan? Pasti kamu mengerti bagaimana rasanya dibangunkan seperti ini,”kataku seraya memperbaiki posisiku hendak tidur kembali.
Dia tetap saja diam, membuatku merasa bersalah. Cukup lama dia diam hingga akhirnya kudengar suaranya, “Maafkan aku, aku hanya terluka karena melindungi tidur nyenyakmu tadi,"katanya dengan nada yang begitu kecil, tapi aku mendengarnya. Seketika kubalikkan badanku mendengar perkataannya barusan, namun wujudnya sudah menghilang.

"Dasar makhluk tidak jelas," kataku kesal.

Kata-katanya barusan menari-nari dikepalaku, membuatku susah untuk tidur kembali. Sungguh, aku mengerti kata-katanya tadi. Jika menggunakan logika, maka dia baru saja melindungiku dari gangguan seseorang, tapi siapa?

Sungguh aku benar-benar dibuatnya pening. Aku jadi memikirkan perkataannya berulang-ulang hingga pagi muncul dengan segala rahasia.

Pagi yang sangat membosankan menurutku. Bagaimana tidak, dari jam 4 tadi aku tidak berhenti memikirkan perkataan Sarah. Jadilah pagiku berantakan kali ini. Kupanggil Sarah untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, namun dia tak juga muncul.

Siang, sore bahkan malam berlalu begitu saja tanpa kutemukan jawaban dari pertanyaan dalam benakku sedari tadi pagi. Jika saja ini soal ujian maka aku pasti sudah selesai menjawabnya, jika saja ini pertanyaan menyangkut jodoh maka jawabanku pasti sudah keluar dari tadi, benar-benar hanya Sarah yang mampu memecahkan segala teka-teki ini, akh awas saja jika kau mengganggu tidurku lagi malam ini.

Kemudian esok mengetuk hariku, akhirnya esok yang kunantikan terbit juga. Kumulai pagi ini dengan mandi, sarapan dan hal apapun yang membuatku senang. Kebetulan hari ini aku berencana untuk pulang kampung, karena libur kuliahku cukup panjang. Kuberitahu tanteku bahwa sebentar sore aku akan pulang.

Siang harinya, aku dan tanteku berencana untuk keluar membeli makanan, lebih tepatnya mungkin bekal untuk kubawa ke kampung.

"Aku ingin ikut," pintanya ketika mendengarku berbicara dengan tanteku. Sumpah aku kaget saat itu, dia tiba-tiba saja muncul.
Tidak usah, kamu dirumah saja aku cuma keluar untuk belanja dengan tanteku. Kalau kamu ikut kutakutkan indigo lain akan mengiramu ingin menjahatiku," kataku kepadanya berharap dia mengerti.
"Tapi aku takut kamu keluar tanpa awasan dariku," katanya lagi berusaha meruntuhkan keputusanku.
"Tidak ada yang akan menyakitiku.
Makhluk itu bisa saja melukaimu setiap waktu, jika aku tidak ikut maka dia akan melakukannya dengan mudah.
"Makhluk apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Makhluk yang dikirim sahabat lamamu," jawabnya diiringi suara ketakutan.
"Kuntilanak kejam itu?" tanyaku.

Sarah mengangguk.

"Tidak, dia sudah pergi," kataku meyakinkan.
"Dia tidak akan pergi, Des" katanya seraya menutup wajahnya. Kembali dibukanya tangannya lalu menatapku sedih, "kamu jangan menyembunyikan apapun dariku, karena aku selalu mengunjungi malammu, sebelum kamu berobat makhluk itu selalu menekanmu kan?"

Aku diam.

"Aku takut dia akan menjadikanmu makhluk sepertiku, aku takut," katanya lagi dengan mimik yang ketakutan, "maka dari itu aku harus mengikutimu mulai hari ini, dia melukaiku begitu parah. Aku yakin kamu bahkan lebih terluka dariku, hanya saja kamu selalu pandai menyembunyikan itu dari sekitarmu. Jangan bermain denganku, aku tahu kamu sakit sekarang."

Kulihat tatapannya dalam, baru kali ini aku dan Sarah mengobrol serius, dan baru kali ini pula aku melihatnya khawatir sekali padaku.Semenjak kami bertemu, disitulah aku pertama kali merasakan persahabatan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Dia sahabat yang baik, bahkan saking baiknya, kebaikannya itu tak lagi dapat kuuraikan satu persatu.

Semua cerita hidupku kutumpahkan padanya, tak ada satupun yang kulewatkan, bahkan kebohonganku juga kuceritakan padanya. Aku sangat mempercayainya, dia adalah orang yang jujur semasa hidupnya, dan suatu keberuntunganbagiku bisa menjadi sahabat sekaligus adiknya.

Menjelang berakhirnya semester 1, Sarah meminta untuk selalu menemaniku. Dia ingin kembali seperti dulu, mengikuti kemana pun aku pergi. Sebenarnya saat itu, aku merasa sedikit tidak nyaman. Aku juga ingin bebas tanpa awasan darinya, disamping itu aku juga merasa tidak enak hati selalu melibatkannya dalam hidupku. 

Hingga tawarannya itu kutolak dengan cara baik-baik, namun ternyata sulit untuk mengajaknya berbicara dari hati ke hati kali ini. Dia tetap pada pendiriannya.

Entahlah dengan cara apa dimerayuku hingga ku iyakan saja kemauannya. Jadilah saat itu dia menjagaku selama 1 bulan penuh dengan syarat tak boleh mengikutiku sampai ke kampus. Karena kutahu, terdapat banyak indigo di kampusku. 

Kulakukan itu hanya untuk menjaga Sarah, hanya untuk melindungi dia dari kata-kata buruk tentangnya yang bukan tidak mungkin akan didengarkannya secara langsung. Aku tidak ingin melukai hatinya sedikitpun, dia sama sepertiku, memiliki perasaan peka dan iba yang amat tinggi.

Hasil dari penjagaannya sebulan, benar-benar nyata. Aku tak lagi kesusahan tidur, kesusahan untuk bangun pagi. Jelas sekali perbedaannya jika dia tak ada, hidupku lumayan berantakan. 

Meskipun begitu aku sama sekali tidak menggantungkan apapun padanya, karena aku sadar alamku dengannya berbeda. Namun satu hal, aku tak pernah menganggapnya seburuk aku mengatakan setan pada makhluk lain yang aku jumpai diluar sana.

Dia bukan setan, bukan pula hantu. Dia manusia yang nyawanya sudah bukan di dunia. Dia juga pernah hidup sepertiku, seperti kalian juga. Dia juga pernah menjalani hari selayaknya manusia. 
Maka dari itu jangan pertanyakan mengapa amarahku memuncak kala seseorang sering menyebutnya hantu, makhluk pembawa sial, atau bahkan kuntilanak. 

Sedikit cerita, kemarin terjadi insiden yang pasti membekas dalam memoriku. Sekelilingku berusaha memisahkanku dengan Sarah, tanpa kutahu letak kesalahannya dimana. Tapi karena aku berusaha dengan keras, semua itu tidak terjadi. 

"Mamah, dan semua teman-temanku, Sarah itu sahabatku. Jangan pernah berpikir untuk memisahkanku dengannya, apapun caranya, jangan. Dia juga pernah menjadi manusia sepertiku. Andaikan kalian melihatnya, kalian pasti kagum. Dia sosok yang cantik, ramah dan cerewet sepertiku. Dia butuh untuk didengarkan, butuh untuk dimengerti dan butuh teman untuk sekedar berbagi cerita. Jadi apapun alasannya, aku tidak ingin dipisahkan, biarkan saja persahabatan ini terjalin dan menurutku selama aku dibuat baik-baik saja olehnya, apa salahnya jika aku tetap berteman?"

Setelah kejadian itu, Sarah jadi sering berpikir keras jika sedang ingin mengunjungiku. Sepertinya dia ketakutan dan juga terluka batin. 

"Sarah, jangan takut. Mereka hanya tidak mengenalmu. Ketahuilah bahwa aku wanita yang penakut. Jika saja kau berbahaya dan menakutkan maka sudah dari dulu kau kutinggalkan. Tenanglah, kejadian kemarin tidak akan terulang lagi, aku janji," kataku saat kucoba menenangkan dia dalam tangisnya. Lihatlah, dia juga menangis, dia juga mempunyai perasaan sama seperti manusia pada umumnya. Jadi jangan menghardiknya seolah dia adalah makhluk terburuk yang pernah ada dalam hidupku.

Bulan-bulan berikutnya Sarah mulai kembali melepasku, kembali memberiku kepercayaan penuh untuk mengatasi masalahku sendiri, dia hanya berpesan sepertiini "Jika kau kesakitan, maka akan kubantu dari jauh. Jika kau ingin bertanya mengenai sesuatu hal, panggil saja aku, tapi jangan pernah bertanya mengenai masa depan padaku. Aku takut mendahului Allah," pesannya pada hari perpisahanku kala itu. 

Banyak sekali perbedaan di semester 2 ini, aku merasa sedikit lebih dewasa dari sebelumnya.Bukti kecilnya, dulu saat marahan dengan sahabatku biasanya aku berkoar didepannya memuntahkan semua kata-kata buruk yang seenaknya saja kuucapkan. Tapi sekarang, aku lebih memilih diam. Aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa, itu karena aku takut melukai hati kawanku. Entahlah bagaimana bisa itu terjadi padaku, pada wanita kepala batu sepertiku. 

Dulu aku pantang untuk meminta maaf atas kesalahanku ataupun kesalahan temanku. Saat itu aku lebih memilih memutus silaturahmi daripada harus merendahkan diri untuk meminta maaf, begitulah diriku dulu. 

Sekarang, tak tahu mengapa kata maaf itu seakan ringan diucapkan oleh mulutku, dan entah mengapa kesalahan orang lain begitu cepat dilupakan oleh ingatanku.

Tak usah bertanya latar belakang dari perubahanku itu, sudah pasti jawabannya karena umurku yang terus bertambah dan juga mungkin karena ajaran dari Sarah. Hanya itu yang berubah dariku, selebihnya masih seperti yang dulu. Cerewet, ramah, SKSD, dan suka bertanya. Mungkin karena itulah aku mempunyai banyak teman, baik dari kalangan seumuranku, kalangan yang tua, kalangan yang muda dan bahkan kalangan ibu-ibu.

Berbicara soal ibu-ibu, aku ingin sedikit menceritakan sesuatu yang sampai saat ini belum terpecahkan.

Ibu Sari, sebut saja seperti itu. Seorang ibu penjual makanan dan minuman di depan lorong. Aku cukup akrab dengannya, juga dengan suaminya yang kerap kusapa Om itu. Ibu Sari mempunyai 3 anak, 2 anak lelaki dan satu anak perempuan.

Awalnya tak ada yang istimewa sebenarnya, hingga tiba dimana anak sulungnya merenggut perhatianku.

Kunamai saja dia Kaka, umurnya masih sangat muda. Belakangan ku ketahui bahwa dia kelahiran tahun 1999, "Mampus lah diriku, aku lebih tua darinya," umpatku dalam hati.

Kaka, dia adalah lelaki yang berhasil membuatku memalingkan wajah dua kali kearahnya hanya karena ingin menatapnya jelas. Dia adalah lelaki yang berhasil membuat mata ini tak berkedip selama kurang lebih 2 menit. Dia adalah lelaki yang berhasil membuatku yakin bahwa pandangan pertama itu benar-benar ada.

Dan dia adalah Kaka, lelaki yang kucintai saat ini.

Walaupun hanya mataku dan matanya yang berbicara, aku selalu bahagia setelah itu terjadi. 

Walaupun mulutku dan mulutnya bungkam, aku selalu merasa bahwa gengsi ini masih mengalahkan perasaan kita.

Dan walaupun kita hanya mempunyai kesempatan untuk saling melempar senyum setiap harinya, percayalah aku bahkan tidak bisa tidur saat pertama kalinya dirinya tersenyum padaku.

Aku tak pernah menjalani kisah seperti ini. Melihat seorang lelaki yang belum kukenali dan langsung mengatakan bahwa dia adalah jodohku. 

Hanya 2 menit saja, hanya sesingkat dan secepat itulah tatapan matanya mengubah segala prinsip kuat dalam hidupku. 

Prinsip bahwa aku tak akan pernah percaya lagi pada lelaki selain ayah, kakak-kakak, adek-adek dan sahabat lelakiku.

Bahwa aku tak akan pernah memberikan hatiku pada lelaki secepat aku memberikan hatiku dulu pada mereka yang dengan mudah menyakitiku. 

Bahwa aku tak akan pernah percaya lagi dengan hubungan yang akan berakhir bahagia. 

Dan bahwa aku tak akan pernah jatuh cinta lagi. 

Semua itu terbantahkan olehmu.

Aku benar-benar jatuh cinta kali ini. Kuucap syukur karena akhirnya aku kembali merasakan perasaan seperti ini. Namun jangan senang dulu, perjuanganku sangat sulit.

Sudah 2 bulan ini aku berjuang sendirian. Usahaku hanya satu, sesering mungkin untuk belanja dirumahnya. Doaku juga pasti, setiap selesai shalat aku pasti menyebut namanya. Usaha dan doaku itu ku serahkan pada-Nya, kulibatkan Allah didalam perjuangan ini. Aku yakin, tak akan ada kekecewaan jika kita mengikutsertakan Allah didalamnya.

Jika usaha dan doaku selama ini belum terjawab, maka aku pantas kan untuk menyerah?

Mungkin jawabannya memang aku harus menyudahi semuanya, jadi tak ada salahnya kan jika aku berhenti?

Disaat galau-galaunya antara berhenti atau lanjut, Sarah datang kepadaku tanpa kuminta. Dan percakapan singkatku dengannya menemani fajar ini terbit dengan rasa sejuknya. 

"Mengapa kau ingin berhenti? Ini baru awal, ini seru loh,"
"Sesuatu yang tidak mendapat respon balik itu tidak baik, Sarah," kataku dengan tegas.
"Kata siapa tidak direspon balik?"
"Semesta membuktikannya padaku," kembali jawabku. 
"Ah itu karena kamu terlalu mudah percaya pada semua sesuatu," balasnya dengan mimik wajah seperti meledekku.
"Ya," jawabku singkat. 
"Apa hatimu sudah berdamai dengan keputusanmu?" tanyanya. 

Aku diam dan menatap lurus kedepan. Tak ada yang bisa kukatakan lagi, Sarah sebenarnya sudah tahu jawabannya hanya saja dia mencoba membuatku mengakuinya secara langsung. 

"Ayo jawab," pintanya mendesak. 
Seketika kutatap dia dengan tajam, "Berhenti !" bentakku.
"Katanya ketika seseorang ditanya dan orang itu menunjukkan sikap sensitif berarti itu benar," katanya dengan santai. 
"Katanya kan?" kutanya balik. 
"Aku sebenarnya tahu Des, tapi menurutku sudah saatnya kamu membenahi hatimu. Apa yang tersimpan di hatimu, itulah yang benar," katanya mulai jujur, "aku ingin sekali memberi tahumu yang sebenarnya, tapi biarkanlah kamu berusaha dengan sendirinya. Kamu perasa yang luar biasa pekanya, kamu punya insting yang kuat, itu kelebihan dalam dirimu yang tak terasah sampai saat ini, dan perihal kamu bisa melihatku itu hanya bonusnya saja,"
"Kamu tahu kan kenapa aku ingin menyudahi?" tanyaku kembali mengulangi pembahasan dari awal. 
Sarah menggelengkan kepalanya. 
"Jika memang berjodoh, maka dia akan datang dengan sendirinya. Tak perlu kutarik, dia akan datang jika memang dia mau."
"Katanya kamu sudah tak ingin melukai hatimu sendiri?" tanyanya kembali seolah memancingku untuk mengingat janjiku dulu padanya.
"Sarah, aku mohon berhenti membuatku pusing pagi ini," kataku dengan sedikit emosi.
"Semuanya mudah Des, kamu hanya perlu menunggu dan tidak berhenti sampai disini saja. Aku tidak mungkin membiarkanmu terluka, jika dia buruk maka akan kukatakan buruk," katanya dengan memegang wajahku untuk menatapnya.
"Kamu kan sudah tahu, berjuang keras diawal akan membuat kita merasa menang dan puas. Setelah itu, setelah kita meraih semuanya, akan terasa biasa saja," jawabku serius.
"Itu hanya terjadi pada beberapa orang saja," balasnya dengan cepat. Aku dengannya seperti orang yang sedang kuis menebak kata dengan cepat.
"Dan aku termasuk dari beberapa orang itu."
"Tidak," bantahnya.
"Kenapa kamu yang ngotot sih?" tanyaku dengan alis yang mengkerut.
"Karena kamu anak sulung, Des."
"Apa hubungannya?" tanyaku semakin heran.
"Anak sulung kan pekerja keras dan tidak mudah menyerah, nah makanya aku tidak percaya kalau kamu ingin menyerah. Jangan mematahkan karakter anak sulung dengan menyerah begitu saja," jelasnya kepadaku. Kuperhatikan matanya, Sarah benar mendukungku kali ini. 
"Kalau begitu beritahu aku perasaan dia yang sebenarnya, aku janji akan berjuang setelah kamu beritahu aku," pintaku. 
"Cari tahu saja sendiri, kamu lebih kuat dariku," katanya dengan menepuk kedua pundakku seperti orang yang baru saja dilantik dalam kepramukaan. 
"Yah, aku kan hanya manusia biasa," kataku dengan memperlihatkan wajah yang kecewa. 
"Begitupun aku, aku juga manusia biasasama sepertimuhanyaberbeda alam saja denganmu," katanya dengan menjulurkan lidahnya. 

Kutatap dia dengan senyum, dia begitu polos di usia yang sudah tidak muda lagi. Dia sebenarnya lebih tua dariku, tapi karena dia meninggal diusia yang masih sangat muda waktu itu, makanya penampakannya sekarang sangat imut dan betul-betul masih seperti anak SMA. 

Begitulah Sarah, sahabat beda alamku. Dia selalu punya cara untuk membuatku bertahan dengan jalan yang sudah ku pilih, dia sangat marah jika aku menyerah tanpa memecahkan dan melalui jalan tersebut. Dia selalu punya cara untuk membuatku kembali menjadi diriku sendiri, selalu mampu membangkitkan kepercayaan diriku, selalu punya cara untuk membuatku mengakui kesalahanku, dan akhirnya meminta maaf.

Penutupnya mungkin tidak begitu manis, mungkinhanya sesederhana ini. Sesederhana pikiranku yangkadang memikirkan jika saja Sarah masih hidup, maka aku tidak mungkin akan sedekat ini. Pikiran ini bukan membenarkan takdirnya, tapi karena takdirnya ini aku merasabahagia karena pada akhirnya aku menemukan sahabat setulus Sarah. Aku hanya berharap Sarah akan tetap seperti ini sampai kapanpun. Sampai aku mendapatkan anak sulungnya ibu Sari, hingga akhirnya menikah dan memberi Sarah keponakan, hehe. 

"Masalah itu dihadapi, ditaklukkan. Bukan di tinggalkan ataupun lari dari masalah itu. Bagaimana kamu bisa tahu perubahan dalam dirimu jika masalah saja belum mampu kau taklukkan.”
Bukan, itu bukan qoutes dariku tapi itu Sarah yang bersabda, hehe. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

47 Responses to "Kisah Nyata & Misteri "Sahabat Beda Alam""

  1. tulisannya bagus, menginspirasi, dan cukup membuat saya merinding karena membayangkan bagaimana jika saya menjadi penulis diatas. Intinya, keseluruhan sudah bagus, semoga bisa dilanjutkan ya ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih hehe siap akan dilanjutkan:)

      Hapus
  2. Lnjtkan critnya des, aku suka, smngt yah😚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inshaa Allah kiki akan dilanjutkan😚

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. Saya sangat Terkesan dengan cerita ini,dan sangat mendukung,Apakah itu sebagai Motivasi atauka pelajaran,dan Menarik untuk dibaca. Lanjutkan Bakat yang terpendam ini sebagai Bahan pelajaran untuk Semua orang👍😇 I like

    BalasHapus
  4. subhanallah. seolah-olah saya sebagai pembaca juga merasakan kejadian demi kejadian yg diceritakan oleh penulis. luar biasa kak dess, di tunggu karya karya karya-karya selanjutnya yaa :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih adik andiummum, semoga kamu juga cepat cepat kembali menulis ya:)

      Hapus
  5. Ceritanya menginspirasi, lanjutkn desty dan semngat terus yah! Sya suka ceritanya😇

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih vivi, nanti dilanjutkan:)

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Ceritanya sangat menginspirasi dan sangat-sangat terkesan. Lanjutkan desty terus bakatnya dan tetap semangat😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, akan terus dilanjutkan:)

      Hapus
  8. Ceritanya bagus dek, di tunggu cerita selanjutnya

    BalasHapus
  9. Keren banget ceritanya. Banyak hal yang bisa di petik dan di jadikan pembelajaran dalam cerita tersebut😊. Sukses trus beb, di tunggu kisah selanjuntnya yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih ya nun, nanti cerita selanjutnya bukan disini hehe

      Hapus
  10. Tulisannya cukup menarik, dgn gaya bahasa sederhana dan mudah dipahami, dan tentunya menginspirasi bagi para pembacanya��

    BalasHapus
  11. Kisahnya menginspirasi des, heheh semangat ya dlam menulis ditunggu kisah berikutnya heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih indri, ini juga ikut-ikutan tunggu kisah selanjutnya, jadi pr lagi kan hehe

      Hapus
  12. Cerita yang sangat menarik 👍👌

    BalasHapus
  13. Keren banget👍ditunggu crita slanjutnya

    BalasHapus
  14. menarik. ditunggu cerita selanjutnya

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. Ceritanya sangat menarik, penulisannya sangat sederhana dan mudah sekali dipahami. Ceritanya sangat bagus, I Like It.Ditunggu cerita selanjutnya Desty dan Semoga sukses terus Desty

    BalasHapus
  17. Terimakasih abdi hehe:)

    BalasHapus
  18. Pengn rsanya punya shabat dri dunia lain juga😊 stidknya dia bisa lebih mngerti dan slalu ada di saat qta butuh dan dia tdk prnh mninggalkan kita sesulit apapun keadaan kitaa..

    BalasHapus
  19. Ceritanya menarik dan bkin merinding, aku sampai nggak bisa tidur karna terbayang kalau aku yg alamin, hiiiiii😫

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih ary, tapi kek alayko kurasa haha

      Hapus
  20. Saya sangat Terkesan dengan cerita ini,dan sangat mendukung,Apakah itu sebagai Motivasi atauka pelajaran,dan Menarik untuk dibaca. Lanjutkan Bakat yang terpendam ini sebagai Bahan pelajaran untuk Semua orang👍😇 I like

    BalasHapus
  21. Cerita yg keren mengandung arti persahabatan walaupun beda alam. Ada usaha dan doa dan tetap percaya jika jodoh sudah allah sediakan 🙏

    Semangat dan sehat selalu des 💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe makasih ya aa, semoga wanitamu yang sekarang adalah jodohmu.
      Makasih sudah dukung dan tetap mau jadi teman dedes hingga detik ini:)

      Hapus
  22. Bagus ceritanya, waktu itu kamu cerita aku rada ga percaya tapi dengan ini akhirnya bisa percaya juga:)

    BalasHapus
  23. *semangat nulis cerpen yaa kakaknya andiumm*

    BalasHapus
  24. Wow daebak😍
    Pengen punya teman kayak sarah juga, tapi takut😔
    Teruslah berkarya👉📘📗📙
    Siapa tuh anak sulung ibu Sari? Kepo jadinya😅😆

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel