Kisah Nyata "Pejuang SBMPTN"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah nyata ini ditulis oleh Oktavia safitri dengan judul "Pejuang SBMPTN". Semoga cerita inspiratif ini bisa memberikan bacaan berharga bagi segenap pembaca semuanya.

Begini, Kisah Nyatanya

Sebelum aku bercerita panjang lebar mengenai kisahku masuk kuliah melewati jalur SBMPTN, ada baiknya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Ratna Cantika dan aku adalah seorang siswi disalah satu SMK swasta di Pekanbaru.  Program keahlian yang aku ambil adalah program keahlian farmasi.

Oke, kita langsung saja masuk ke topik pembahasan.

Cerita ini dimulai saat aku upacara bendera hari senin pagi disekolahku. Saat pembina upacara memberikan amanat tentang jalur masuk kuliah, aku yang tadinya termenung langsung tersentak dan memperhartikan tiap kata yang disampaikan pembina upacara.

Beliau menjelaskan tentang jalur-jalur apa saja yang bisa dimasuki oleh kami para siswa siswi kelas 12 agar bisa masuk keperguruan tinggi yang kami inginkan. Namun dari penjelasan panjang yang disampaikan oleh pembina upacara, inti yang aku tangkap dari amanat itu adalah bahwa ada salah satu jalur masuk perguruan tingi yang diperantarai oleh sekolah. Sehingga kami hanya perlu memberikan nilai rapor lalu nantinya sekolah yang mendaftarkan. Jalur tersebut adalah jalur SNMPTN ( seleksi nasional masuk perguruan tinggin negeri). 

Upacara telah selesai dan kami memasuki kelas masing-masing. Dikelas aku dan beberapa temanku sempat membahas kembali apa yang telah disampaikan oleh pembina upacara tadi dan berencana ingin mengikutinya.

Tapi jujur sebenarnya aku masih ragu apakah aku akan melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi atau bekerja terlebih dahulu. Ya wajar saja terbesit dibenakku untuk bekerja terlebih dahulu. Hal ini mengingat aku sekolah di SMK yang notabennya dicetak untuk siap bekerja setelah lulus. Ini membuatku sedikit bingung.

Beberapa hari kemudian aku banyak melihat teman temanku yang membawa rapornya dan memfotocopinya untuk diberikan kepada buk Yessi. Buk Yessi adalah guru yang menghendel siswa siswi yang ingin mendaftar SNMPTN disekolahku. melihat banyaknya teman temanku yang mengikuti jalur ini, aku lalu berfikir untuk mencobanya saja.

Toh...caranya gampang, kita tinggal memberikan fotocopian rapor saja tanpa harus membayar biaya pendaftaran atau administrasi lainnya dan tanpa tes pula. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti jalur ini. Aku juga berfikir bahwa jikalau pada jalur ini aku lolos berarti ini rejekiku dan takdirku untuk kuliah. Namun jika aku tidak lulus, berarti ini takdirku untuk bekerja terlebih dahulu. 

Hari demi hari berlalu hingga tiba waktu pengumuman jalur SNMPTN dengan tak sabaran aku membukanya namun terganggu masalah jaringan karena banyaknya yang membuka situs itu. Akupun mencobanya berulang kali.

Namun sayangnya aku tidak lolos. Aku sedikit sedih namun aku berfikir kalau ini adalah hal yang wajar. Aku seorang siswi SMK dan harus bersaing dengan siswa SMA yang memang dicetak untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi bukan siswi SMK sepertiku yang memeng dicetak untuk langsung bekerja. Jadi ya....aku tidak begitu kecewa dengan hasilnya.

Selain jalur SNMPTN, untuk provinsi ternyata ada jalur khusus namanya PBUD. Ini sebenarnya hampir sama dengan jalur SNMPTN yaitu melalui seleksi nilai rapor namun hanya tingkat provinsi saja dan hanya untuk putra putri daerah, selain itu  juga PBUD ini hanya untuk universitas negeri yang ada diprovinsi itu saja.

Misalnya aku yang dari Pekanbaru, berarti hanya bisa memilih di universitas yang ada di Riau saja. Yaitu Universitas Riau dan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Qasim saja. Begitulah kira-kira yang saya tau.

Berhubung saja tidak mengikuti jalur ini jadi sayapun juga kurang paham. Jika kalian bertanya mengapa aku tidak mengikuti jalur ini, padahal jika dipikir pikir saingannnya tentu akan semakin berkurang. Hanya tikat provinsi saja sedangkan SNMPTN tingkat nasional.

Seperti yang telah saya katakan diawal, bahwa saya sendiri masih ragu untuk melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi. Lagi pula untuk mengikuti jalur PBUD kita harus membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 250.000,- . jadi saya juga pikir pikir jika ingin mengikuti jalur itu. Uang segitu lumayan juga bagi saya. Kalau tidak loloskan sayang juga, pikir saya pada waktu itu. Selain itu ya sebernarnya saya juga ragu akan lolos megingat persaingan dengan anak SMA juga pasti akan sulit. 

Sekarang kita tinggalkan cerita SNMPTN dan PBUD. Kita akan masuk kecerita berikutnya. Salah satu jalur masuk perguruan tinggi negeri yang menggunakan tes tertulis yaitu jalur SBMPTN.  Jalur yang membuat saya biasa berkuliah dan berada pada semester 5 saat ini.

Sama seperti pemikiran saya diawal yaitu jalur ini pasti akan sulit juga persaingannya. Sebenarnya aku sudah mengatakan kepada kedua orangtuaku bahwa aku sudah memustuskan untuk bekerja saja terlebih dahulu.

Karena aku yakin aku tidak mungkin lolos. Jalur ini adalah jalur yang tersulit. Semua peserta harus mengikuti tes tertulis dan pastinya materinya tidak akan aku pahami. Materi materi yang ada diujian SBMPTN adalah materi materi pelajaran anak SMA bukan materi kejuruan yang aku pelajari disekolah.

Lagi pula selama aku sekolah aku tidak pernah mengikuti bimbingan belajar seperti kebanyakan anak anak yang mengikuti SBMPTN. Tidak seperti mereka yang berjuang belajar mati matian belajar lewat BIMBEL.

Selain itu juga aku tak pernah tau bagaimana bentuk bentuk soalnya dan seberapa jauh passing gradeku. Tidak seperti anak anak lainnya yang penuh persiapan bahkan telah berulang kali mengikuti try out SBMPTN dan juga telah mengetahui gambaran berapa passing grade yang mereka punya. Namun orangtuaku atau lebih tepatnya ayahku berkeinginan keras agar aku mencoba jalur yang satu ini. Sedangkan ibuku hanya memgembalikan keputusannya kepadaku terserah apa yang aku mau saja.

Beberapa hari sebelum jalur SBMPTN ditutup ayahku kembali menanyakan tentang jalur ini kepadaku. Beliau terus saja mendorongku untuk mencoba dan mencoba. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk mencobanya. Ya.....sekedar untuk menyenangkan hati ayahku walaupun aku yakin aku tidak akan lolos. Mana mungkin tanpa persiapan yang matang bisa lolos. Aku berangkat kebank untuk membayar pendaftarannya lalu sepulang dari bank aku bergegas melakukan pendaftaran.

Dan aku mengambil IPC. Bukannya sok pintar tapi jujur aku tidak tau sama sekali. Aku baru menyadarinya setelah aku kuliah dan sudah mulai pintar sedikit (hehe). Aku tidak tau bahwa jika IPC berarti aku harus ujian sebanyak 3 kali. Berbeda jika aku hanya mengambil saintek saja atau soshum saja yang ujiannya hanya 2 kali. Bahkan pada saat itu akupun tidak tau apa itu IPC, apa itu saintek dan apa itu soshum. Yang jelas aku hanya asal pilih saja.

Menjelang tes SBMPTN aku sempat menghubungi teman SMP ku dulu. Kebetulan di bersekolah disalah satu SMA negeri yang favorit. Dan kebetulan juga dia mengikuti BIMBEL dan juga sudah sering mengikuti try out SBMPTN.

Akupun bertanya tanya kepadanya. Dan jelas saja dia mengatakan padaku bahwa soalnya sulit sulit. Dia menyarankanku untuk membeli buku persiapan SBMPTN dan mempelajarinya. Walaupun dia katakan tidak akan mudah belajar sendiri dan dengan waktu yang sangat singkat.

Setelah bertanya tanya dengannya akupun memutuskan untuk membeli buku persiapan SBMPTN yang berisi kumpulan soal soal tahun tahun sebelumnya. Dan jeng........baru saja aku membuka hal pertamanya mataku sudah sakit melihat rumitnya soal tersebut. Otakku tak mengerti sedikitpun pertanyan pertanyaan yang ada dibuku itu. Dan akhirnya akupun menutupnya dan tak pernah lagi membukanya hingga tiba hari pelaksaan tes tertulis SBMPTN tersebut tiba.

Hari ini hari selasa tepat jadwal pelaksaan ujian tes tertulis SBMPTN 2016. Aku sudah siap dan telah berada diperjalanan namun sepanjang jalan aku melihat semua orang berpakaian hitam putih. Aku sungguh terkejut karena aku memakai pakaian bebas.

Aku sudah melihat dikartu SBMPTN dan dikatakan jelas disana mengenakan pakaian bebas dan rapi. Namun melihat orang orang menggunakan pakaian hitam putih akupun canggung dan berbalik kerumah. Dirumah aku terdiam karena aku tak mempunyai baju putih. Aku katakan pada orangtuaku bahwa aku tidak jadi ikut.

Aku tidak mau berpakain lain sendiri. “Malu” ucapku. Lalu ibuku mengatakan untuk menggunakan baju putih sekolah saja. Akhirnya akupun setuju lalu berangkat kembali. Setiba diruang ujian aku pun duduk dan menunggu pengawas datang. Tak berapa lama pengawas datang dan membacakan aturan ujian lalu membagian soal ujian. Saat menerima lembar ujian dan soal ujian, aku langsung mengisinya.

Aku buka soal perlahan dan oke.....ini sulit sekali. Lantas  akupun membuka lembar berikutnya dan lembar berikutnya dan lembar berikutnya. Aku mengerjakan soal soal yang menurutku mudah saja. Sedangkan soal yang sulit tidak aku isi sama sekali. Bahkan soal yang aku ragu-ragu pun aku tidak aku kerjakan juga.

Aku hanya mengisi soal yang aku benar benar yakin saja jawabannya. Karena aku sudah perhitungkan. Jika benar aku mendapat point 4, jika tidak menjawab aku dapat point 0, dan jika salah aku dapat point -1. Disini aku berikan saran untuk kalian yang basicnya sama denganku. Jika kalian hanya mempunyai persiapan yang sikit jangan mencoba coba untuk menjawab soal yang kalian tidak tau atau kalain ragi ragu. Karena itu hanya akan mengurangi point kalian saja. Lebih baik kalian dapat nilai 0 daripada  minus (-). Namun jika kalian sudah siaap lahir dan batin ya dicoba saja. 

Finally dihari pengumuman akupun lolos. Dan kali ini aku benar-benar tak menyangkanya. Aku akhirnya bisa kuliah diperguruan tinggi negeri. Well inti dari semua cerita panjang ini adalah kalian ngak usah takut untuk mencoba. Ngak usah berpikiran negatif dulu. Yang penting itu jangan kalah sebelum berperang. Jadi semangat buat kalian para “PEJUANG SBMPTN SELANJUTNYA “

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Pejuang SBMPTN""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel