Kisah Nyata Penuh Hikmah

KisahTerbaik.Com- Hikmah merupakan sebuah kata yang memiliki enam huruf. Kata tersebut memang tak asing bagi kalian dan memiliki kekuatan makna tersendiri yang dapat dijadikan pembelajaran hidup bagi kalian di kemudian hari. Hikmah bisa didapat melalui kisah-kisah orang lain. Salah satunya adalah kisahku melalui tulisan ini. Semoga kalian bisa mendapatkan hikmah dari kisah ini dan bisa menginspirasi kalian.

Begini, Kisahnya..

Hari itu tepat tanggal 2 Juni 2018. Saat itu, aku sedang berada di stasiun Pondok Cina,Depok. Stasiun tersebut masih berada di area kampus Universitas Indonesia (UI). Aku berniat menemani temanku yang ingin melakukan tes wawancara untuk mengikuti kegiatan belajar Bahasa asing di perpustakaan pusat UI.

Aku sudah berada di stasiun tersebut sekitar pukul 10.50. Aku duduk dan bermain handphone (HP) di sekitar area peron 2 sambil menunggu temanku tiba di stasiun Pondok Cina. Lalu, aku berjalan menuju ke peron 1 untuk mengisi baterai HP ku yang mulai habis baterainya hingga baterai HP ku hampir terisi penuh. Aku sibuk dengan HP ku dan menanyakan kabar dari temanku sudah sampai di mana.

Tepat pukul 12.05, temanku sudah tiba di stasiun Pondok Cina dan mengajakku beribadah di musola stasiun tersebut. Kami bergegas mengambil air wudhu dan menjalankan ibadah solat zuhur. Kami langsung mengambil mukena dan menaruh tas kami tepat di belakang kami solat. Jujur, saat itu hatiku terasa gelisah saat melakukan solat.

Hati terasa mengganjal seperti ada yang tidak beres saat itu. Tak tahu apa yang sedang kualami saat itu. Sesudah solat, aku mengambil tas dan ingin menaruh mukena di tas. Namun, aku merasakan keanehan yang terjadi pada tasku.

Awalnya, aku menaruh tas tepat di belakang aku solat. Namun, tasku sudah tidak berada di belakang aku solat. Aku mencari-cari tasku dan menemukan resleting tas sudah terbuka. Padahal, aku ingat sekali.

Setelah aku mengambil mukena di tas, aku langsung menutup resleting tas. Kemudian, aku menaruh mukena dan langsung mengecek kondisi barang barang bawaan aku. Ternyata, dompet dan tas aku sudah menghilang tak tahu di mana.

Aku langsung panik dan mengecek kembali semua isi tas aku. Setelah itu, aku langsung mengatakan kepada temanku bahwa dompet dan HP ku tidak ada di tasku. Lalu, temanku mengecek isi tas nya. 

Ternyata, temanku juga mengalami hal yang sama denganku. Dompet dan HP hilang. Dompet dan HP nya juga tidak ada di tas nya. Kami langsung panik dan langsung bergegas ke ruang petugas keamanan.

Kami menginfokan barang kami yang hilang di musola stasiun itu. Namun, petugas tidak bisa membantu apa-apa karena HP kami tidak mengaktifkan GPS dan data kami. Akhirnya, kami langsung pulang ke rumah temanku menuju Cawang Otista dan turun di stasiun Duren Kalibata.  Kemudian, kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum.

Tiba di rumah temanku, temanku langsung menginfokan kejadian yang kami alami kepada keluarga nya. Keluarga nya langsung terkejut dan tak menyangka kejadian ini menimpa kami. kami juga menceritakan bahwa barang bawaan kami yang diambil oleh pencuri itu adalah dompet yang berisi KTP, KTM dan ATM kami serta HP.

Akhirnya kami menelepon pihak bank untuk memblokir ATM yang ada di dompet kami. Setelah itu, kami melaporkan kejadian ini ke Polsek Cawang untuk meminta surat kehilangan agar kami dapat mengurus surat surat berharga yang hilang seperti KTP, KTM dan ATM kami. Namun, kami gagal meminta surat tersebut karena kami tidak membawa berkas yang ingin diurus untuk meminta surat kehilangan tersebut.

Lalu, kami pulang ke rumah temanku. Kemudian, kami menghubungi teman teman yang lain di
media sosial tentang kejadian ini dan kami juga menginfokan untuk tidak menghubungi kami lagi menggunakan nomor HP yang sudah diambil oleh pencopet.

Setelah itu, kami keluar rumah dan beribadah di masjid. Kemudian, temanku kembali menuju ke polsek untuk meminta surat kehilangan sedangkan aku harus pulang untuk menginfokan kejadian hari ini di rumah.

Sesampai di rumah, aku langsung menangis dan mengadu ke orang tuaku. Mama terkejut dan papa langsung memarahi aku. Papa sangat emosi dengan perilaku aku yang sangat ceroboh.

Memang, aku sadar. Aku tak mesti melakukan apa yang aku lakukan pada kejadian itu. Aku seharusnya menaruh tas tepat di depan aku sujud dan tidak menaruh di belakang aku sujud.

Dahulu sebelum aku mengalami hal ini, aku selalu meletakkan tas aku di depan aku sujud bukan di belakang. Namun, aku tak mengerti mengapa pada hari itu aku meletakkan tas aku di belakang aku sujud. Aku hanya berpikir bahwa tindakan aku tidak menjadi masalah.

Ternyata pikiran aku pun salah. Aku lupa bahwa saat itu aku berada di Depok yang dikenal melalui cerita dari teman-temanku di media sosial rawan kriminal. Aku pun tak menyadarinya.

Sepanjang malam, aku pun mengurung diri dan terus bersedih karena tak menyangka kejadian ini bakal menimpa diriku. Aku berusaha untuk menenangkan diri namun apa daya masih susah sekali. Aku hanya bisa merenung atas tindakan apa saja yang salah dan mesti diperbaiki.

Sebelum aku berangkat ke stasiun Pondok Cina, aku sempat merasakan ada yang mengganjal di hatiku tetapi aku tak tahu apa yang akan kualami hari ini. Ternyata, kejadian hari itu adalah jawaban yang sempat kurisaukan.

Keesokan hari nya, hari itu adalah hari aku berkumpul dengan teman-teman lamaku sewaktu SD untuk berbuka puasa bersama di rumah teman ku di Duren Sawit. Aku sudah berjanji untuk datang di acara itu.

Aku sempat ragu untuk datang ke acara itu sejak malam kemarin. Aku takut diriku masih memikirkan kejadian kemarin dan menangis di hadapan teman- temanku. Aku berusaha menahan semua kesedihan di hadapan teman-temanku.

Hari itu, aku mendatangi rumah temanku dan meminta informasi soal acara itu. Aku sedikit menceritakan kejadian kemarin yang menjadi penyebab mengapa aku meminta kepastian jadwal acara tersebut dan tak bisa menghubungi temanku.

Lalu, aku bergegas menuju kantor Polsek Duren Sawit untuk mengurus surat kehilangan. Kemudian, aku mendatangi rumah RT/RW dan mengurus KTP yang hilang diambil oleh pencuri tersebut. Setelah urusanku sudah selesai, aku kembali pulang dan beristirahat sejenak sambil menunggu waktu berkumpul dengan teman lamaku sewaktu SD.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi berkumpul dengan teman setelah dibujuk mamaku karena mamaku tak ingin aku terlarut dalam kesedihan atas kejadian itu walaupun papa sempat tak mengizinkan aku pergi berkumpul dengan teman.

Namun, akhirnya papa menyetujui hal itu. 2 hari setelah kejadian itu, aku mengurus KTP yang hilang di dompet tersebut. Untungnya, aku bisa mendapatkan kembali KTP yang sempat hilang dan diurus cepat sekitar 30 menit.

Semula, aku mendapatkan informasi dari orang lain bahwa mengurus KTP yang hilang tersebut membutuhkan waktu yang lama. Alhamdulillah, hal tersebut salah karena KTP yang ada di dompetku adalah KTP yang belum menggunakan elektronik sehingga aku bisa mendapatkan KTP dengan cepat.  Sore harinya, kakakku datang ke rumah dan memberi nasihat kepada aku. Kakakku sudah mengetahui kejadian yang menimpa diriku beberapa jam setelah kejadian itu berlangsung.

Tiba di rumah, kakakku langsung menanyakan kepada aku. “kamu selama ini sering sedekah ga sama orang yang sudah tua tapi masih semangat bekerja pantang minta-minta atau ngemis di jalanan?”, kata kakakku. Aku hanya menjawab lesu dan mengangguk perlahan-lahan.

Pantesan aja, itu artinya kamu lagi ditegor sama allah hik. Kamu tau ga. Duit yang kamu punya selama ini belum bersih di mata allah. Duit yang kamu punya dari beasiswa itu masih dianggap kotor, karena kamu belum sedekahin ke orang-orang yang membutuhkan terutama orang-orang yang sudah tua tapi pantang ngemis atau minta-minta hik. Coba deh kamu beli sesuatu gitu kalo liat mereka menjual sesuatu contoh kaya tadi aku beli kerupuk sama nenek tua deket parkiran mobil tadi hik. Ga usah banyak-banyak. Kamu lebihin uangnya dan ga usah minta kembalian uang nya. Aku ga bermaksud riya ya dik. Aku dari dulu sampai sekarang, aku selalu sedekah hik. Hasilnya, Alhamdulillah aku merasakan manfaatnya hik”,jelasnya kakakku.

Kakakku sempat menghentikan penjelasannya karena anaknya ingin meminta diambilkan sesuatu kepada kakakku.

Kemudian, kakakku menjelaskan lagi kepadaku tentang pengalamannya setelah anaknya sempat meminta diambilkan sesuatu kepada kakakku. “Contohnya, dulu kamu inget ga dompet aku ketinggalan di bandara? Itu kan banyak orang lalu lalang dan selalu rame kan hik? Dompet aku ketinggalan di toilet tapi ada orang yang baik hati dan jujur ngembaliin dompet ke aku hik. Padahal aku baru inget kalo dompet aku ketinggalan itu pas di rumah hik. Akhirnya besoknya aku balik ke bandara dan dapet lagi itu dompet. Terus aku pernah barang aku ketinggalan juga di pom bensin sama kantin teknik UI ujung ujungnya dibalikin lagi hik sama orang yang jujur. Dulu, aku hanya bisa berdoa, kalo emang masih rezekinya semoga bisa kembali lagi kalo ga ikhlaskanlah hamba Ya allah. Alhamdulillah, barang yang ketinggalan itu aku dapetin lagi. Itu salah satu kekuatan sedekah juga hik. Belum lagi, orang yang kamu sedekahin itu ngedoain kamu yang baik-baik kaya semoga rezekinya bertambah. Pokoknya orang yang kamu sedekahin doanya pasti dikabulin sama Allah hik.Justru dengan sedekah, ga membuat kamu miskin kok malah justru makin berlimpah hik. Rezeki ga cuma duit bertambah hik. Banyak bentuknya. Sedekah itu juga menolak bala atau bencana hik. Sedekah ya minimal 2,5% dari harta yang kamu milikin. Kamu emang ga kerja hik, tapi kamu kan sebenernya punya penghasilan dari beasiswa hik. Ya kamu sisihin 2,5% dari uang beasiswa mu itu. Ya sedikit sedikit aja hik dan random (acak) asal jangan perhitungan kalo sedekah. Kalo kamu ga sedekah, ya mau ga mau kamu kaya kemaren sedekahnya ke pencopet. Masa sedekah sama pencopet. Hahaha”, jelas kakakku sambil tertawa.

Hati terasa tertampar setelah mendengar semua perkataan kakakku. Malam itu juga, hati masih begitu sedih dan kembali mengingat teman-temanku saat masih bisa mengobrol bersama di grup obrolan media sosial.

Andai masih bisa menggenggam HP ku, aku masih bisa berhubungan dan bersenda gurau bersama teman-teman di grup obrolan media sosial, bisa melihat video lucu di media sosial dan kegiatan berselancar di internet dengan HP ku. Namun, sekarang masih bisa berharap. Aku berharap aku bisa mendapatkan pengganti dari HP ku yang hilang dengan lebih baik. Semoga harapan aku terkabul. Aamiin.

Terima kasih kepada pencopet yang sudah mengambil barang-barangku dan telah memberikan hikmah terbesar dari sekian perjalanan hidupku lainnya. -Penulis Cerita Nofiati Hikmayah_

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata Penuh Hikmah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel