Kisah Nyata "Pondok Tepi Sungai"

KisahTerbaik.Com- Pondok Tepi Sungai adalah judul dari kisah nyata yang dibagikan oleh Rini Novita Wulandari. Semoga tulisan ini bisa menjadikan wawasan dan menambah pengalaman bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, kisahnya...

Aku dan kelima temanku berencana untuk memasak bersama akhir pekan ini. Kami memutuskan untuk melakukannya di sebuah pondok di dekat sungai milik orang tua Fika. Kami memilih tempat itu karena letaknya yang dekat dengan sungai sehingga kami bisa berenang di sana. Saat hari minggu tiba, kami pun melakukan tugas kami yang telah ditentukan sebelumnya demi terlaksananya acara memasak ini.

Idha dan Fika bertugas untuk membeli bahan-bahan untuk memasak di pasar. Aku dan tiga orang yang lain menunggu di rumah Fika untuk menyiapkan bahan masakan. Kami berencana memasak ikan panggang, tumis buncis, lalapan, serta sambal terasi tentunya. Tidak lupa kami juga membeli minuman kemasan untuk di minum saat di pondok nanti.

Setelah segala persiapan selesai kami segera berangkat menuju pondok. Kami berkendara kesana menggunakan sepeda motor karena harus membawa peralatan masak serta bahan-bahan lainnya. Setibanya di sana, kami harus meninggalkan kendaraan kami di salah satu rumah warga, karena jalan menuju pondok hanya dapat di lakukan dengan berjalan kaki.

Kami berjalan menuju pondok, jalanan yang kami lewati memasuki area hutan karet dan kebun warga. Perjalanan dengan berjalan kaki ini cukup melelahkan hingga sampai di pondok.

Saat itu tiba-tiba Zae berkata bahwa kunci motornya tidak ada. Aku pun memintanya untuk mencari di tasnya lagi dan mengingat dimana dia meletakkannya. Hasilnya nihil, kunci motornya tetap tidak ada.

Zae bilang mungkin ketinggalan di motor dan lupa di ambil. Akhirnya aku pergi menemani Zae untuk mencari kunci motornya. Kami berjalan dengan sedikit tergesa dan tidak santai. Sebenarnya aku sedikit takut dengan jalan yang kami lewati, jalanan sangat sepi dan jauh dari rumah warga. Hal ini membuatku sedikit takut, tapi sebisa mungkin untuk tidak ku tunjukkan. Karena Zae orang yangat mudah takut, akan sulit jika aku menunjukkan ketakutanku padanya.

Nanti dia malah ikutan takut lagi. Setelah sampai di tempat motor, ternyata benar kunci motornya masih ada di tempatnya. Zae pun segera mengambilnya dan kembali ke pondok.

Setelah sampai di pondok, kami segera menyiapkan peralatan memasak. Aku dan Zae bertugas mencari kayu bakar yang digunakan untuk memanggang ikan dan menggoreng tempe serta tahu. Cukup mudah mencari kayu di sini, hanya saja kami lupa membawa obat anti nyamuk sehingga harus rela digigit nyamuk.

Setelah mengumpulkan cukup kayu, kami segera menghidupkan api. Aku baru sadar bahwa kami terbiasa memasak menggunakan kompor gas sehingga kami sedikit kesulitan membuat api. Kami terus mencoba, setelah hampir satu jam, kami berhasil membuat api.

Sungguh sebuah perjuangan, hal ini mebuat kami tertawa sendiri. Tapi, perjuangan tidak hanya sampai disitu, setelah api menyala kami harus menjaga api tersebut agar terus menyala hingga semua bahan makanan selesai dimasak.

Aku bertugas memanggang ikan bersama Zae, kami sedikit kewalahan dengan asap yang berasal dari panggangan. Kami secara bergantian memasak dan menyiapkan makanan. Akhirnya setelah perjuangan yang menguras tenaga, kami dapat makan siang pada jam 3 sore. Sungguh, perut kami saat itu sudah sangat kelaparan.

Ketika menikmati hasil masakan kami, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Rencana untuk berenang kami tunda. Kami saling mengobrol dan bercanda di dalam pondok yang kecil itu. saat hujan sedikit reda, kami memutuskan pergi ke sungai untuk mencuci piring dan peralatan yang di gunakan untuk memasak tadi.

Karena setelah hujan, jalanan sedikit licin dan becek. Dengan hati-hati kami melangkah menuju sungai. Saat itu masih gerimis, tidak lama setelah sampai di sungai hujan kembali turun dengan deras. Kami segera berlari menuju pondok, saat itulah secara serempak kami berhenti berlari saat mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinga. Setelah diam beberapa saat, kami serempak tertawa lebar.

Astaga, temanku Zae buang angin dengan suara yang terdengar jelas di telinga kami. Kami berjalan tergesa menuju pondok sambil masih tertawa. Di dalam pondok kami kembali mengobrol dan bercanda, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Tapi hujan masih deras di luar sana, sedangkan kami di sini mulai bosan dan sedikit takut. Karena hari mulai gelap dan di pondok tidak ada pencahayaan.

Saat itu, aku duduk di samping Zae di dekat pintu yang tertutup, di dalam sangat gelap dan hanya ada cahaya dari layar handphone. Saat itu Zae tiba-tiba menggenggam tangganku dan mendekat kearahku hingga tidak ada jarak. Aku pun bertanya padanya ada apa. Dia bilang dia mendengar sebuah suara. Segera aku terdiam, badanku menegang, teman-teman yang lain juga ikut-ikutan tegang. Zae mulai terisak karena takut sedangkan kami yang juga mulai takut sebisa mungkin menghiburnya.

Kami ingin mengecek keadaan diluar, tapi kami juga takut jika di luar ada orang jahat.

Kami terdiam beberapa lama, hingga suara orang memanggil kembali terdengar. Dengan memberanikan diri, Fika membuka jendela dan mengecek siapa yang ada di luar. Diluar dugaan, ternyata orang tersebuat adalah keluarga Fika, syukurlah kami bisa bernafas lega sekarang. Orang tersebut meminta kami untuk segera pulang karena jika terlalu lama air sungai akan pasang dan hari juga mulai gelap. Kami pun setuju untuk pulang dengan menerobos hujan.

Setelah siap dengan barang bawaan masing-masing, kami mulai berjalan keluar hutan. Di perjalanan kami melewati sebuah kebun, di sana masih ada seorang laki-laki yang memacul. Tiba-tiba kilat menyambar di iringi suara petir yang keras. Kami terpekik dan terdiam di tempat, pria yang sedang memacul juga terkejut dengan kedua tangan terangkat. Kami sedikit terkekeh melihat pemandangan tersebut. Dengan tergesa-gesa kami meneruskan berjalan hingga menuju rumah warga.

Kami berteduh sebentar di pos kamling. Idha yang jarang hujan-hujanan itu mengajak Fika untuk berkeliling rumah warga sebentar. Kami hanya menunggu di pos hingga hujan sedikit reda. Setelah Idha dan Fika kembali, kami segera melanjutkan perjalanan menuju rumah tempat kami meletakkan kendaraan. Setelah tiba, kami segera berangkat menuju rumah Fika.

Sesampainya di rumah Fika, kami semua mengeringkan badan dan berganti pakaian. Dengan meminjam selimut hangat Fika, kami semua duduk di sofa dan berbagi selimut. Kami saling diam, setelah melewati banyak hal yang membuat kami lelah. “Sinetron banget ya, kita hari ini” celetuk Zae.

Seketika kami semua menyetujuinya dan tertawa. Menertawakan kejadian-kejadian yang telah kami alami sembari menunggu hujan reda untuk pulang ke rumah masing-masing.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Pondok Tepi Sungai""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel