Kisah Nyata "Semangat Seorang Anak dari Keluarga Sederhana"

KisahTerbaik.Com- Rangkain tulisan tentang cerita nyata yang inspiratif ini ditulis oleh Dahlia, dengan judul "Semangat Seorang Anak dari Keluarga Sederhana". Dalam kisah ini ia menceritakan pengalaman hidup yang benar-benar terjadi.

Begini, Kisahnya...

Saya terlahir dari keluarga sederhana, yang bahkan bisa dibilang tidak mampu. Ayah saya seorang tukang sapu dan ibu saya seorang penggosok pakaian. Gaji mereka sama, yaitu lima ratus ribu per bulan. Tetapi, dengan gaji mereka yang terbilang kecil itu tak bisa menutup kemungkinan untuk anak-anaknya sekolah ke jenjang yang tinggi (universitas).

Saya dua bersaudara, saya dan kaka saya. Sebenarnya ibu saya memiliki lima orang anak, tetapi anak pertamanya meninggal, kaka saya anak kedua, saya anak keempat, sedangkan anak ketiga dan kelimanya dirawat dan dtitipkan oleh orang lain.

Saya sekolah di salah satu SMP Negeri favorit di Jakarta, begitu juga dengan abang saya yang ketiga dia sekolah di SMA Negeri yang juga favorit di Jakarta, sedangkan kaka saya kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dan menurut informasi dari saudara saya, adik saya yang terakhir mendapat peringkat ke dua di kelasnya.

Waktu kecil, saya tidak pernah diberi susu seperti anak-anak lainnya, terlebih susu yang mahal, hampir tidak pernah. Karena bagaimana untuk beli susu? Untuk makan sehari-hari saja kekurangan. Saya juga tidak duduk di taman kanak-kanan (TK), karena perku bayaran setiap bulannya, jadi saya langsung duduk di bangku sekolah dasar (SD) saat berumur 7 tahun. Kenapa? Biasanya masuk SD umur 6 tahun? Karena saya tidak punya akta kelahiran, jadi saya tidak bisa masuk SD saat umur 6 tahun. Kenapa saya tidak punya akta kelahiran? Karena saya tidak lahir di rumah sakit, melainkan di rumah saya sendiri dan di bantu oleh seorang dukun beranak yang dibayar seratus ribu rupiah. Begitu banyak masalah yang saya dan keluarga hadapi, tetapi kami anggap ini adalah ujian.

Ada orang yang pernah menghina keluarga kami, mungkin karena faktor ekonomi. Tapi ibu saya berkata "Kamu harus jadi sarjana! Kamu harus jadi sarjana! Agar orang tidak menganggap rendah keluarga kita". Kalimat itu terus diucapkan setiap saya hendak berangkat ke sekolah.

Saya sangat sedih jika ibu saya melihat orang-orang yang keluar dari mobil, memakai pakaian yang bagus, dan bisa membeli apa yang mereka inginkan. Saya mengatakan kepada ibu saya "Ibu, sebentar lagi aku akan membuat ibu bangga dengan melihat hasil nilai Ujian Nasionalku yang tinggi". Karena ketekunanku dalam belajar, berdoa, dan berusaha, aku mendapat apa yang aku harapkan, yaitu nilai Ujian Nasionalku adalah 26,80 yang rata-ratanya adalah 89,33 untuk setiap mata pelajaran.

Pada saat pembagian ijazah pun aku dan ibuku di panggil ke depan dan di berikan sertifikat karena nilai Ujian Nasionalku yang tinggi. Teman-temanku yang lain mendapat nilai ujian yang sangat kecil dan lebih kecil dibandingkan denganku.

Lalu ada salah seorang temanku yang mendekatiku dan bertanya "Pakai dukun apa kamu? Masa anak tukang bangunan nilainya tinggi banget!", dia menghinaku dengan kata-katanya.

Aku menjawab "Aku tidak pakai apa-apa selain doa, usaha, dan ikhtiar", tegas jawabku. Dia pun terdiam dab berfikir.

Itulah kisahku, yang ku jelaskan dengan singkat, padat, dan jelas. Semoga bisa memotivasi teman-teman semua yang seumuran denganku atau bahkan yang lebih tua dariku untuk tidak malu dengan pekerjaan orang tua.

Selagi pekerjaan orang tua masih terbilang wajar dan baik walaupun gajinya tidak terlalu besar, tidak apa-apa. Yang terpenting dia adalah orang tua kamu, dia menyayangi kamu, dan dia rela berkorban demi kamu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Semangat Seorang Anak dari Keluarga Sederhana""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel