Kisah Pengalaman "Mimpi atau Ngimpi?"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan ini diberi judul "Mimpi atau Ngimpi?" yang disajikan oleh Diah Khursyana llmu dan Industri Petenakan, Mahasiswi UGM Tahun 2016. Semoga dengan hadirnya tulisan ini bisa memberikan wawasan dan menambah pengatahuan.

Begini, Kisah dan Pengalamannya....

Bicara tentang mimpi, pasti semua orang punya mimpi. Jika ditanya apa mimpimu, pasti jawabannya sangat beragam namun satu tujuan yaitu membahagiakan orang tua. Orang tua adalah alasan terbesar untuk kita bermimpi.

Keluarga adalah lingkungan terdekat yang mampu memberikan semangat untuk kita meraih mimpi. Lingkungan sekolah, bermain, dan lingkungan sekitar pun juga memiliki peran dalam usaha kita meraih mimpi kita. Apa yang terjadi jika lingkungan tak mendukung? Masih berani bermimpikah? Fenomena itu yang saya temukan ketika Etos Road School (ERTS) di daerah Gunung Kidul Yogayakarta.

Kamis, 18 Januari 2018 kami tim erts Gunung Kidul melanjutkan erts ke SMK Ma’arif Playen. Dibenak saya bertanya, “Ini sekolah? Kok sepi?”. Ya menurut saya ini belum layak dijadikan sekolah, karena fasilitas yang serba kekurangan.

Selain itu suasananya tidak seperti sekolahan pada umumnya. Sepi dan tak nampak proses kegiatan belajar mengajar. Padahal kami tiba di sekolah sekitar pukul 09.00 pagi.

Kami pun bergegas ke ruang kepala sekolah untuk meminta izin memulai sosialisasi. “Sudah siap mba buat sosialisasi? Sebentar ya saya panggilkan anak-anaknya”, Ujar seorang guru di ruang itu. 

Pantas saja ruang kelas sepi ternyata murid-murid sedang di kantin. Sekolah ini adalah sekolah satu-satunya kami mengadakan sosialisasi namun kelas kosong tak ada murid satupun. Kami yang menunggu mereka dan saya terkejut ketika melihat mereka, bagaimana tidak.

Mereka sekolah namun tidak memakai seragam yang sama, bahkan memakai baju biasa dan menggunakan sandal, bukan seperti layaknya murid pada umumnya. Kami persiapkan mental untuk menghadapi mereka yang nampak jail dan rusuh karena muridnya laki-laki semua.

Sosialisasi pun dimulai, dan benar kami kualahan menghadapi mereka. Kami berbicara menyampaikan motivasi mereka pun ikut berbicara masing-masing. Lingkungan yang benar-benar tak mendukung untuk tempat belajar. Hanya orang-orang yang kuat yang mampu bertahan di lingkungan seperti itu.

Kami tetap sabar dan tetap melanjutkan sosialisasi karena suasana seperti ini merupakan tantangan tersendiri untuk mempengaruhi mereka akan pendidikan yang setinggi-tingginya.

Siapa yang setelah lulus SMK ingin melanjutkan kuliah?”, Tanya kami
Saya mbak.” Ujar seorang murid

Seketika dia ditertawakan oleh teman-temannya. “Jangan ngimpi, orang tak punya tidak perlu sekolah tinggi-tinggi menghabis-habiskan uang. Tetangga saya ada yang sarjana tapi nganggur.” Lontar seorang murid.

Kami meluruskan pandangan murid itu, biaya masalah pendidikan tentu ada solusinya. Kami terfokus dengan murid yang yakin akan mimpinya untuk kuliah walaupun penuh kekurangan. Dari awal kami sosialisasi dia satu-satunya murid yang memperhatikan informasi yang kami sampaikan.

Dia mengatakan bahwa dia ingin menjadi tentara dan sontak teman-temannya menertawakannya lagi dan mengejeknya, “ngimpi ngimpi ngimpi”. Ejekan tak mematahkan mimpinya, dia fokus menerima informasi yang kami berikan. Tak ada yang sebelumnya datang ke sekolah tersebut dan menyampaikan infomasi mengenai kuliah sehingga dia sangat antusis menyimak.

Ku salut dengannya di lingkungan yang benar-benar tak mendukung, dia dengan berani dan yakin bahwa dia punya mimpi yang jelas ya jadi seorang tentara. Lingkungan tak mendukung pasti akan mempengaruhi perkembangannya.

Dia akan mudah terpengaruh dan terbawa kebiasaan. Itulah fungsi kami kesana yakni untuk mendukung mimpinya dengan berbagi infomasi dan menuntunnya mengapai mimpinya. Tak ada mimpi yang terlampau tinggi, tapi usaha yang tak setinggi mimpi. Usaha tak akan mengkhianati hasil. Yakin dan beraksi maka mimpi-mimpi besar akan terwujud. Banyak kisah yang menarik selama perjalanan kami ERTS di Gunung Kidul.

Kota pelajar katanya namun masih banyak daerah-daerah di DIY yang tidak paham akan pentingnya pendidikan. Kami datang untuk memberantas kesenjangan pendidikan. Dengan sedikit berbagi untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Gunung kidul menginspiasi untuk Indonesia yang berdedikasi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Pengalaman "Mimpi atau Ngimpi?""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel