Cerita Inspiratif "Dari Seorang Bapak Untuk Anaknya"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah inpiratif ini dituliskan oleh Lusia Magdalenis dengan judul "Dari Seorang Bapak Untuk Anaknya". Dalam cerita nyata ini ia menuliskan tentang kehebatan orangtuanya. Semoga bisa menjadi cerminan bagi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Aku sangat ingat, kala itu aku menangis ditengah kamar petak kecil dengan pintu yang terkunci. Meronta – ronta memanggil “mama”, tubuh mungil ini hanya duduk menangis diatas plesteran lantai sambil menunggu pertolongan tiba. “Pyarrr” kaca kamar dipecahkan oleh seorang laki–laki, aku langsung digendongnya sembari ia memohon pada gadis mungil ini agar meredakan tangisnya.

Aku juga ingat mamahku kala itu diluar kamar, kepalanya luka karena benturan tembok. Ternyata ia habis didorong lelaki ini. Aku hanya gadis kecil kala itu, anak berumur 2,5 tahun. Tak mungkin ambil sikap, dan tak ambil pusing. Aku hanya mengerjakan apa yang sepatutnya anak kecil kerjakan.

Lelaki itu, dia bapaku. Setiap saat ketika ada waktu, dia menceritakan kembali kisah itu. Mengajakku kembali pada suasananya, menjelaskan agar tak ada salah paham. Aku, lagi–lagi tak bosan, karna aku tahu kejadian itu adalah bukti cintanya padaku.

Sampai pada saat ini aku akan menceritakannya kembali, untuk selalu menghargai cinta yang ia berikan.

Fitalis adalah bapaku, seorang pemuda asal flores. Sehabis lulus STM ia memutuskan merantau ke kota Paris Van Java. Anak piatu ini pergi dengan kondisi keuangan sangat minim, hanya mengandalkan alamat saudara yang sudah lebih dahulu merantau.

Hebatnya, zaman dulu orang bisa langsung bertemu dengan bermodal tanya sana sini, tentunya tanpa maps dan share location. Tahun 1993 mencari pekerjaan tidak sesulit di zaman ini. Walau lulusan sekolah timur, ia langsung mendapatkan pekerjaan sesuai jurusannya. Elektronika, sesuai dengan bidang yang sangat ia gemari.

Hanya sebagai buruh pun, ia sangat bersyukur. Mengingat daerah timur dulu minim listrik, adanya sekolah elektronika merupakan keajaiban yang terjadi.

Bertemu dengan seorang wanita yang baik, adalah impian semua laki–laki. Bapak dan mamah di pertemukan di kota Bandung. Mengikat janji sehidup semati dalam suka maupun duka di depan Altar Suci.

Mereka membentuk kapal mereka sendiri. Walau dengan segala kesederhanaanya, mereka membentuk bahtera dari kekurangan masing – masing. Jika kamu ragu pernikahan ini akan kacau, biarkan aku menceritakan gejolak kisahnya agar lebih di mengerti.

Tahun 1997, aku diturunkan oleh Tuhan ke bumi untuk ikut mengarungi lautan kehidupan. Kala itu bapak sedang terpuruk, karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Hasil bekerja selama ini, sebenarnya sangatlah cukup untuk hidup kami selama satu tahun kedepan di kota kembang ini, karena bapak sendiri sangat rajin jika soal pekerjaan sehingga ia bisa mengumpulkan pundi – pundi rupiah dengan menjual keterampilannya.

Namun ada jalan lain yang ia pertimbangkan, yaitu membondong keluarga kecilnya ini ke kampung halamannya sementara ia bekerja sebagai petani disana. Tapi hatinya berkata lain, ia mengurungkan niatnya dan memilih mencari pekerjaan lagi di Bandung.

Tekun dalam doa, setiap malam ia meminta sambil menangis pada Yang Kuasa agar diberikan jalannya. Berdoa dan berusaha adalah semboyan yang sangat kokoh tumbuh di hatinya. Ia selalu ingat gadis kecil yang sedang tidur terbaring diatas kasur, mengkhawatirkan masa depan gadis itu jika ternyata jalan yang ia lalui buntu.

Kata orang rezeki tak akan kemana, Tuhan akhirnya menjawab, ia mendapatkan pekerjaan sebagai security, sangat keluar dari jalurnya memang namun aku rasa saat itu Tuhan memilih bapakku untuk menjalaninya. Kadang hal terduga dapat terjadi, tapi mungkin itu memang jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk kita lalui.

Bos bapak saat itu memang dikenal galak dan mulutnya sangat kasar. Hampir khilaf, suatu siang bapak terkena cercaan sang bos, dengan kalap mata dia hampir menghabisi bos yang selama ini mempekerjakannya, namun aku yakin dalam kasus ini posisi bapak tidaklah salah.

Ketika matanya gelap dan hampir dikuasai emosi, terngiang di kepalanya tangisku dan wajahku, seorang anak bayi yang baru berumur 1 minggu. Sesaat hatinya luluh lalu mengurungkan niatnya, dan memilih keluar dari pekerjaannya karena ia rasa itu lebih baik daripada bertahan disana dan selalu terjebak emosi.

Kamu perlu tau, sampai detik ini di usiaku 21 tahun bapak tak pernah sedikitpun membentakku atau memukulku, ketika aku salah ia hanya menasehatiku dan membuatku luluh lalu merenung. Memang ia terlihat keras kepada orang lain, namun sungguh hatinya sangat lembut ketika ia menyayangi seseorang.

Aku tak akan pernah tega untuk menyakitinya. Mendapatkan kembali pekerjaan di tempat berbeda namun dengan posisi yang sama, bapak mulai membangun mimpinya. Memang bapak bukan orang yang begitu ambisius, mengejar segalanya untuk mendapatkan materi namun ia mengejar segalanya untuk memastikan masa depanku juga anak–anaknya yang lain dapat terjamin.

Jika di ingat-ingat ia pernah bertengkar dengan mamahku karena ia sangat rajin bekerja, sering lembur dan ia sangat berhemat sehingga membuat mamah sangat curiga padanya kalau bapak berselingkuh.

Apalagi uang yang bapak berikan sangatlah cukup untuk kebutuhan dapur tidak ada lebih. Jika kamu mau tahu, sampai saat ini bapak yang mengatur keuangan rumah, dan mamah hanya mendapatkan uang jatah dapur. Memang bapak sangat pandai dalam mengatur keuangan.

Kala itu anaknya hanya ada aku. Mamahku kabur ke kampung halamannya di Jogya karna tidak bisa mengikuti prinsip bapak yang berhemat. Lucu memang, tapi itulah yang sungguh terjadi. Jika kamu senang menonton drama – drama romantis mungkin kamu tahu apa yang bapakku lakukan, namun tidak persis sama.

Bapak menyusul mamah ke Yogja, meminta mamahku kembali jika ia mau. Namun mamah masih marah dan ingin merubah prinsip hemat milik bapak, memang mamah agak boros dan agak loyal. Namun ternyata bapak ambil sikap lain “Jika kamu tak mau ikut denganku tidak apa, biar anak ini aku yang bawa. Aku tak mau anak ini dididik dengan prinsip yang kamu miliki” katanya pada mamahku. Bapak sering bilang “Yang penting itu kalian (anak – anaknya)” dan membuatku hampir meneteskan air mata setiap kali mengingatnya.

Akhirnya mamahku harus mengalahkan ego nya dan kembali ke Bandung untuk menuliskan kembali kelanjutan dari kisah keluarga kami. Untunglah, aku sangat bersyukur untuk itu. Bertahun – tahun setelah kejadian itu mimpi bapak pun mulai terwujud, membeli tanah dan membangun rumah sebagai tempat bernaung kami setelah sebelumnya hanya tinggal di kontrakan kecil 1 petak.

Sungguh! Bapak hebat!!

Beranjak besar aku diberikan adik – adik kecil yang akan menemaniku. Namun aku rasa aku berbeda dari anak lainnya. Aku sangat paham kondisi keluarga walau aku hanya seorang anak kecil.

Aku tak pernah tega melihat bapak begitu bekerja keras untuk memberikan kehidupan kepada kami. Aku selalu berusaha meminimalisir kebutuhan sekolah jika aku bisa, mungkin ini juga didikan bapak dan cerita yang ia berikan sedari aku kecil.

Dimulai dari uang jajan yang bisa dibilang lebih rendah dari teman – temanku yang lain padahal bisa dikatakan posisi perekonomian keluarga temanku dan keluargaku sebanding, namun aku menerima apa yang ayahku sanggup berikan padaku, aku tak akan protes.

Aku baru diberi handphone kelas dua SMP, ketika teman – temanku yang lain diberikan sejak kelas lima SD. Aku sangat bersyukur, kala itu mamah yang melihat kebutuhanku akan perangkat tersebut dan meminta bapakku membelinya, memang mamah sangat pengertian walau aku tak pernah meminta.

Aku bukan anak yang sempurna dan sangat tidak percaya diri. Aku paham ini disebabkan oleh diriku yang terlalu sadar akan perekonomian keluarga dan menyebabkan aku tak begitu sanggup menghadapi pergaulan.

Kala itu juga aku ikut berjualan pulsa dan memakai keuntungannya sebagai biaya- biaya fotocopy dan kebutuhan sekolah lainnya. Suatu hari aku menolak mengikuti les persiapan UN yang ditawarkan bapak ketika aku SMP , namun itu menjadi suatu hal yang tidak akan pernah aku sesali sampai saat ini, karena aku berfikir uangnya bisa disimpan saja untuk aku melanjutkan pendidikan.

Dan tentu saja aku bisa lulus UN tanpa perlu bantuan. Aku diterima disebuah sekolah kejuruan di kota Bandung, sebuah sekolah Analisis Kimia dengan biaya sekolah yang bisa dikatakan terjangkau untuk kami walau jarak sekolah ke rumah lebih dari 10 kilometer.

Kamu harus tahu bahwa disana pergaulannya sangat baik kala itu. Di sekolah itu, membuat diriku berubah sepenuhnya. Tak ada gengsi, tak ada bullying, tak ada kasta. Aku mulai menanam kepercayaan diri, sembari membantu beban orangtua.

Kalau boleh jujur, kala itu teman–temanku beberapa mengikuti beasiswa tidak mampu namun bapakku menolak mengikutinya, karena ia rasa masih banyak orang lain yang butuh selain aku, “Tenang, bapak masih sanggup”.

Bukan gengsi yang ia tunjukan, karna disana semua orang diperlakukan sama dan tak ada perbedaannya, apalagi yang aku takutkan? Namun aku sangat kagum dengan bapak, selain aku ada 2 orang anak lagi yang harus ia biayai sekolahnya dan ia masih bilang sanggup? Dimana lagi aku menemukan pria seperti itu? Sepertinya tak ada.

Lagi pula setelah bekerja 18 tahun di tempat yang sama dan mamahku ikut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kelontongan, kondisi keuangan kami kian membaik. Aku sangat bersyukur atas keputusan yang aku ambil selama ini, serius tidak pernah ada yang aku sesali.

Kini usiaku 21 tahun, bapak semakin tua. Namun ia tetap semangat bekerja di posisi yang sama dan perusahaan yang sama. Pukul tiga pagi ia sudah bangun untuk mengantarkan mamah ke pasar. Pukul enam pagi ia dirumah mempersiapkan diri berkerja, pukul tujuh pagi ia berangkat kerja sambil mengantar adikku ke SD. Lalu pukul enam sore ia baru pulang bekerja sembari membawa belanjaan dari grosiran.

Kulihat sangat lelah karena dalam sehari ia bisa berkelana ke tempat – tempat berbeda, tapi ia tetap semangat membangun masa depan anak – anaknya. Aku hanya bisa membantu sedikit saja dengan merantau sehabis lulus SMK.

Bapak memang memaksaku untuk kuliah dan menyanggupi biaya kuliah, namun aku memilih untuk bekerja. Tentu saja aku tetap melanjutkan pendidikanku dengan kuliah kelas karyawan, sungguh jalan ini membantuku. Aku bisa terus membantu orangtua ku tapi tetap melanjutkan pendidikanku, agar harapanku juga bapaku tercapai “Kamu harus melebihi bapak, jangan sama kaya bapak” itulah yang selalu ia katakan.

Bapakku insiprasiku. Mungkin bukan kisah terhebat yang bisa disiarkan ke seluruh bumi, menjadi inspirasi banyak orang dan jadi motivator dunia. Namun ini kisah terhebat yang digambarkan secara nyata di depan seorang anak. Hingga saat ini juli 2018 adalah saat aku menulis kisah ini, dan begitu menggebu – gebu menggambarkan dirinya untuk jadi inspirasiku sampai saat ini. Menjangkau hal yang tak mungkin demi orang yang aku sayangi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerita Inspiratif "Dari Seorang Bapak Untuk Anaknya""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel