Cerita Nyata "Lemparan Kisah Lalu"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori ini dituliskan oleh Melodia Rezadhini dengan judul "Lemparan Kisah Lalu". Dalam cerita ini ia membagikan tentang salah satu kenangan berharga yang bisa memberikan kesan inspiratif untuk pembaca.

Begini, Kisahnya...

Malam mengingatkanku pada sebuah kenyataan yang telah terjadi akhir waktu ini. Menghempaskanku kedalam kapuk kesalahan bisu tak tau apa-apa. Memaksakan sang tirta dari dalam pelupuk bola hitam untuk keluar dan bebas memunculkan keberadaannya yang seringkali tak pernah keluar.

Angin pun mendukung, menjadikanku yang telah dipeluk selimut tebal bagai kepompong sekarat, tak tau tujuan. Kembali ku raih langit-langit tempat ternyaman dalam umur hidupku saat ini, tak sampai. Persis, seperti aku yang menggapainya, yang perlahan meraihnya, disaat dia pergi menjauh dan tak ingat lagi akan pujaan dari kenangan yang (dulu) diukirnya.

Aku tidak paham lagi akan apa yang dirasa. Saat ini, harmoni lembut melodi ironi pun menggema dalam telinga. Aku mengingatnya lagi, yang bahkan dulu aku tak pernah berpikir untuk sedetik pun untuk mengingatnya. Aku membayangkannya lagi, yang bahkan dulu aku tak pernah berpikir semenit pun untuk membayangkannya. Aku pun tak ingin merindukannya barang seperdetik, namun aku merindukannya. Iya, lemparan kisah lalu.

***

Aku mengalami sekolah dasar.

Melihat dia yang sedang beradu tangan, dorong sana-sini tak karuan, sampai cakar menyakar menyakitkan, membuatku tak tahan dengan apa gerangan yang sedang terjadi dan terlihat saat ini. Dengan bakat tulus nan heroik layaknya seorang anak berumur 7 tahun, diri ini yang terbilang berbadan tinggi dan besar berdiri di tengah keduanya, merentangkan tangan, dan mengucap kalimat pedas, “Gak penting berantem-berantem ngerebutin apa gak jelas. Yang ngalah itu yang lebih kuat dan lebih sabar,” lugas dan tegas ucapku.

Tak tau benar atau tidak, yang kurasa, ini adalah kejadian kecil yang menjadi awal mula penyesalanku terjadi. Dia, mulai melirik sebelah matanya kepadaku.

Bak anak kecil yang pandai mencari perhatian, begitulah perilakunya saat itu kepadaku semenjak kejadian ‘sok heroik’-ku itu terjadi. Tak hirau, merasa terganggu, urung dipikirkan, adalah hal-hal yang menjejali tanggapanku pada sikap cari perhatiannya itu.

Dari bermain petak umpet sepulang sekolah di depan kelas yang berlari-lari mengejarku dan mengaku tak sengaja memelukku, banyak berceloteh padaku saat pelajaran, piket harian kelas bersamaku demi menungguku dan membantuku sampai benar-benar selesai mengepel kelas, mengikutiku ke masjid setiap istirahat tiba, duduk di sekeliling meja dan kursiku di kelas, sampai mengikutiku dan menungguiku, secara diam-diam atau terang-terangan, hingga aku benar-benar dijemput.

Ditambah pula dengan banyaknya sikap bully yang datang kepadaku, tak urung juga dia menjadi teman setia yang menghibur dan menemaniku saat sendiri.

Lumrahkah semua itu untuk seorang anak sekolah dasar berumur 8 tahun yang (katanya) belum mengerti apa itu menaruh hati pada seseorang yang dipuja dan diberi kasih? Pun begitulah pikirku yang polos, hanya mengerti apa itu belajar dan bermain, saat itu.

Semua berjalan sama hingga aku terbilang cukup umur dan ilmu untuk berganti rok biru. Akhir tahun saat itu berjalan berbeda dari dua tahun yang lalu. Aku mulai tahu tujuan dari apa yang terlihat pada perilaku sehari-harinya, olok-olok bercanda teman-teman hingga yang serius memberitahu maksud tersembunyinya padaku, dan aku yang masih saja tak hirau, bahkan ditambah rasa sebal muncul di lubuk hatiku.

Saat itu pula, laki-laki lain berusaha mencari perhatianku, tak sedikitpun kulirik namanya. Banyaknya teman yang mengolok-olok membuatnya juga masih mencari perhatianku dengan memanggil menggunakan nama laki-laki lain. Bagaimana rasa benciku tidak bertambah?

Teman-teman dekatku memang banyak yang sudah mengatakan, “Awas, lho, kalau benci dan sebel nanti lama-lama jadi suka beneran.” Aku membuang kalimat itu, mana bisa diterima logika? Kalau sudah benci, ya benci. Jangan samakan dengan film atau sinetron cinta yang berawaln benci menjadi cinta, tekadku demikian.

Tekadku berkata lain, aku justru membuka hati padanya, yang mencari perhatianku sejak dua tahun yang lalu, disaat aku harus berpisah dengannya.

Aku dan dia lulus dengan nilai memuaskan, dia menjadi peringkat pertama, dengan nilai hampir sempurna lebih tepatnya. Tak disangka, dia bisa sepintar itu. Apalagi aku tahu kalau dia selama ini aneh. Hanya beberapa orang yang berteman dekat dengannya.

Tak lain disebabkan sikap cari perhatiannya yang menyebalkan itu. Aku pun melanjutkan di salah satu SMP terbaik di kotaku, namun tidak dengannya. Dengan nilai hampir sempurna miliknya itu, dia melanjutkan ke pesantren agama islam ternama yang berada di kota yang berbeda denganku, jauh lebih tepatnya. Bukankah menjadi penyesalan ketika sudah membuka hati, namun ditinggal pergi?

Saat-saat terakhir aku bertemu dengannya ia tatap mataku diam-diam. Aku tahu walaupun aku tidak melihatnya. Hal yang cukup aneh bagi seorang anak sekolah dasar memang, tapi begini adanya. Tangis pun muncul padaku ketika datang hari terakhir aku bertemu dengannya. Ia pun berjanji akan terus mengabariku lewat pesan elektronik, begitu juga denganku. Sayangnya, hal ini tak bertahan lama.

***

Aku mengalami sekolah menengah pertama.

Pandangan dan hatiku tertuju pada lelaki lain yang justru lebih menarik perhatianku. Sontak aku melupakan janjiku dengannya. Aku terlalu fokus dan terpesona pada hal tersebut hingga dua tahunku di SMP dihiasi sosok lelaki kebanggan itu.

Tanpa alih perhatianku pada notifikasi pesan elektronik, facebook, SMS, hingga dering telepon dari dia yang butuh kejelasan kabarku. Sekalipun kujawab, jawabannya hanya singkat dan padat, seperlunya.

Masa remaja awal yang cukup sibuk dengan organisasi dan pelajaran menumpuk terkadang membuat tak sempat berpikir seperti itu, alasanku padanya saat itu. Ia pun bisa menerima. Tak bisa dipungkiri pula, seringkali ia mengeluh dan menagih ‘janji’ itu berulang kali, sampai aku kesal dan malas memberi kabar atau menjawab pertanyaan kabar darinya.

Tuhan pasti mendengar doa hambanya yang tersakiti, aku percaya pada hal itu. Tahun ketiga aku duduk di bangku putih biru bagaikan balasan buruk untukku. Lelaki yang selama dua tahun kupertahankan dalam imajinasiku telah sirna bersama perempuan lain. Aku pun sadar, kalau aku memang seharusnya fokus dan memikirkan masa depanku, masa putih abu, yang sudah di depan mata. Ditambah Mama yang saat itu sakit-sakitan dengan lambungnya hingga keluar-masuk rumah sakit beberapa kali. Sejak itu, aku tidak pernah mengingat dia lagi. Barang sekalipun.

***

Aku mengalami sekolah menengah atas.

Awal remajaku sudah berlalu. Bisa dibilang aku berada di tahapan remaja yang lebih matang dari masa putih biru dulu. Dengan nilai memuaskan, aku pun diterima di salah satu SMA terbaik di kotaku. Lagi-lagi terikat dengan banyak kegiatan dan organisasi menjadikanku lebih sibuk dari masa SMP.

Ditambah pelajaran yang pasti bertambah menguras otak. Akan tetapi, awal SMA-ku dimulai dengan notifikasi email darinya yang banyak dan sangat panjang. Aku yang sudah lupa dengan keberadaannya pun langsung membaca pesan panjang itu.

Ia menuliskan bahwa ia mengalami sakit lambung yang parah sehingga memilih keluar dari pesantren agama ternamanya itu dan berpindah ke luar kota, lebih jauh dari kota tempat tinggalku. Kala itu, Dia sempat menemuiku disaat aku sibuk mengurus sebuah program.

Berkata bahwa dia mau maju. Aku tak paham dan aku tak berpikir berat akan hal itu. Sejak itu, aku masih tak hirau dengannya. Perhatianku lebih tersita pada kesibukanku sehari-hari. Aku pun lagi-lagi melupakannya.

Ia, yang sudah tak sempat kupikirkan, muncul lagi di kehidupanku. Kali ini melalui temannya yang menghubungiku langsung dan berhasil membuatku kaget serta panik. Temannya memberitahuku bahwa sekarang dia berada pada masa kritis, berusaha melupakanku namun tidak bisa, mendengar kabar buruk dariku yang belum lama kecelakaan dan harus menjalani operasi, banyak masalah dengan keluarganya, sehingga meluapkannya pada siksaan terhadap dirinya sendiri.

Goresan, sayatan, dan memukul dirinya sendiri. Dia membutuhkanku. Pikiranku terbuka lagi padanya, berhasil membuat tak tenang memikirkan keadaannya, dan bingung akan apa yang harus dilakukan.

Aku mengirimkannya pesan elektronik yang panjang dan lebar, mengingatkannya untuk tidak menyiksa dirinya sendiri. Pikiran berkata demikian, namun hati bertekad lain. Hatiku masih berkata kesal dan sebal. Disaat aku berada pada puncak kesibukan di SMA, datang sebuah kabar yang cukup menyita pikiranku, membuat perhatianku kepadanya hanya bertahan sebentar saja.

Aku menegaskan bahwa keadaan sekarang tidak bisa lagi mendukungku untuk menjadi sama seperti dulu, memberi kabar kepadanya setiap waktu, karena aku sudah punya kesibukan sendiri. Ia pun menurut. Aku tidak tau kabarnya lagi.

***

Memoriku terngiang pada bulan lalu, saat dia berkunjung ke kotaku dan menyempatkan diri untuk menemuiku. Berkunjung ke rumah dan menemui Mama dan Ayah. Sekadar berpapasan dan berbincang satu dua jam berhasil membuatku rindu akan momen itu. Minuman yang dia belikan untukku juga masih tersimpan rapi di kulkas, tak berani kuminum. Uang darinya untuk aku bersenang-senang setelah ujian akhir SMA pun masih tersimpan rapi di dompet. Tak ayal, kenangan bersamanya sangat berharga.

Teringat jelas candaan Mama yang menggodaku dengan namanya dan berhasil membuat bibirku melengkung rapi. Berkali-kali mama mendukung menanggapiku ketika kuceritakan segala sesuatu tentangnya. Aku pun turut bahagia.

Tak lelah aku mengecek notifikasi dari media sosial yang ada di handphone. Tak satupun tertulis namanya. Berkali-kali terbesit pemikiran bahwa dia sudah membuka hati untuk sosok lain. Berkali-kali pula aku menyangkal hal itu karena percaya pada ketetapan hatinya selama 10 tahun lamanya. Sedang kubalas dengan lara.

Mungkin inikah yang dinamakan penyesalan akan lemparan kisah lalu?

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Cerita Nyata "Lemparan Kisah Lalu""

  1. kenapa jadi senyum2 ya bacanya😂

    BalasHapus
  2. Mungkin inikah yang dinamakan penyesalan akan lemparan kisah lalu? setuju:((

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel