Cerita Pendek "Terima Kasih"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerpen ini ditulis oleh Anggie Sekar Mumpuni dengan judul "Terima Kasih". Dalam stori pendek ini ia menggambaran tentang persaudaraan dan kasih sayang. Semoga bisa menjadi kisah terbaik bagi pembaca.

Begini, Cerpennya..

Di sini senang di sana senang di mana mana hatiku senang
Lalalalala lalalala lalalalala

Dubrakkkkk***

“Ahh sakiitt...” lirihku.
“Sakit dimana De? Dimana?” jawab ka Den yang terbagun karenaku.
”Inii ka inii...”
“Kamu kenapa si? Dokterrr Dokkk.” Teriak Ka Den.

Tepat 10 tahun sudah kejadian sial itu terjadi. Tak akan pernah bisa ku lupakan. Kecelakaan yang menghilangkan pendengaranku. Kecelakaan yang mengambil nyawa ibuku. Kecelakaan yang memusnahkan perusahaan ayahku. Kecelakaan yang merubah ka Den. Kecelakaan yang menjadikanku seorang anak pemurung. Aku benci sekali bus yang menabrak mobil keluargaku. Aku benci sekali Lombok. Aku benci diriku sediriii.

Ayahku hampir gila saat Ibu meninggal. Perusahaannya kosong tanpa pemimpin. Seperti sudah sejengkal lagi gulung tikar dan dua tahun setelah ibu meninggal perusahannya benar-benar bangkrut. Lalu? Kakakku selalu menyalahkan aku. Karena aku yang memaksa ayah dan ibu untuk berlibur ke Lombok. Akulah sebab semuanya terjadi dan aku pantas mendapatkan balasan katanya.

“Haha tuli.”
“Cantik cantik tuli.”
“Tuuuu tuliiii.”

Aku memang tak bisa mendengar, ini tuli permanen! Tapi aku tau, akuu tauu mereka tengah membullyku. Aku tau itu. Ibu, Rara butuh ibu. Rara butuh ayah Rara butuh Ka Den. Rara butuh kalian. “Kalian dimanaaa?”

“Lu kenapa” Ujar sahabatku Alam dengan bahasa isyaratnya yang sudah fasih karena ia sengaja pelajari agar bisa berbicara padaku.
“Gapapa Lam.”
“Jangan bohong, kita udah lama berteman ya” tanyanya dengan mimik kesal, hingga spontan ia berdiri. “Kakak lu kasar lagi sama lu? Masih nyalah nyalahin lu? Jawaab Raa.”

“Lagi merenung aja” balasku singkat, Karena aku tau aku akan mendengarkan ocehannya yang membosankan itu lagi.
“Mau sampe kapan gini Ra ? Lu udah 17 tahun tau ga? Udah gede, jangan kaya anak kecil lagi” ujar
Alam, teman sepermainanku yang jauh lebih dewasa dariku.
“Kenapa buang muka? Males dengerin ocehan gua?” Lalu ia duduk kembali dan menghela nafas panjang.
“Hmm gua kesini cuma mau ngasih tau, gua diterima di UGM Ra. Dua bulan lagi gua akan ngampus di Jogja. Gua udah ga bisa stay dibelakang lu terus. Lu harus bangkit!” lanjutnya sambil penepuk pundakku.
“trus?” sambil ku tarik bajunya dengan kecang.
“Gua selalu support lu. Lu udah harus bangkit! Ayah lu, ka Den udah bangkit Ra! Lu kapan? Ayah lu udah jadi atasan walau ga di perusahaan sendiri, ka Den udah bisa ngampus dari hasil bisnisnya sendiri Ra! Gua tau lu ga suka dibanding bandingin. Tapi mau sampe kapan?”
“Lam udah lam udah” balasku sambil menutup kedua telingaku yang tuli ini.

Ucapan terakhinya di Bandung itu membuatku semakin tak ingin bergerak. Membuat semuanya berubah. Tak ada lagi pundak untuk berkeluh. Ayah dan Ka Den selalu sibuk dengan urusannya. Lalu aku? Hanyalah patung kusam yang tak diketahui para penghuni rumah.

Waktu harus terus berjalan, bahkan terkadang ia berlari. Semakin hari aku semakin yakin bahwa aku merasa bukan manusia. Hanya berdiam ditemani buku pemberian Alam. Buku kecil dengan sejuta keluhku. Hingga suatu saat buku itu menghilang dan benar benar hilang.

“Ka Dennn dimana bukuku” teriakku tak bersuara. Aku yakin Ka Den tahu dimana bukuku. Karena ia yang selalu membereskan rumah. Tapi aku terlalu takut untuk menanyakan ini.

Ntah apa yang sudah terjadi, ka Den selalu menerima paket. Ah mungkin bisnisnya sukses. Hmmm sudahlah tetap saja tak akan ada yang berubah. Aku tetap menjadi patung bagi mereka. Atau bahkan benalu.

“Ra?” tanya Ka Den, yang sudah 10 tahun lebih memilih bicara dengan gadgetnya dibanding aku.
“Iya Ka.”
“Maaf kakak sudah membaca bukumu” balasnya dengan singkat.
“Jadi Kakakmu, mengirim tulisanmu ke salah satu penerbit Ra, dan hasilnya kau tau?” sambung ayahku sambil merangkulku.
“Hmm memang apa hasilnya Yah?”

“Ini benar diluar dugaan. Skenario Tuhan memang yang terbaik. Sekarang saya tahu, tak semua yang diam itu tak peduli. Kakak saya buktinya. Karenanya buku ini sudah tembus cetakan ke-empat. Buku hasil coretan saya ini berjudul Si Tuli, saya persembahkan untuk semua orang yang telah ada dalam perjalanan hidup saya. Satu pesan untuk kita semua, saat kalian jatuh, jangan lupa bangkit!

Jangan menunggu tapi jadilah yang ditunggu. Saya Andara Wira terima kasih” ujarku dengan bahasa isyarat saat bedah buku di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Responses to "Cerita Pendek "Terima Kasih""

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel