Kisah Cinta "Sebatas Patok Tenda"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita cinta ini dituliskan oleh Handeya Satiti dengan jduul "Sebatas Patok Tenda". Dalam kisah asramara ini ia menuliskan berbagai pengalamannya yang tidak pernah dilupakan saat mengikuti kegiatan Kepramukaan.

Begini, Kisah Cintanya...

Dengarkanlah suara hati ini,
suara hati yang ingin ku dendangkan.
yang tak mampu untukku sampaikan,
‘kan ku ungkapkan lewat laguku.

Ini cerita aku dan dia; ceritah kami. Dan ini kisah terpanjang sekaligus penutup tahun dua ribu enam
belasku yang warna warni karenanya. Mungkin kisah ku dengan dia berakhir disini; tapi cerita ku
dengan mereka berawal dari sini.

^^

Namaku Hanum Hanania, teman-temanku biasa memanggilku Hanum, Hana atau hanya dengan Han. Aku masih kelas X bangku SMA, SMANSA. SMANSA sekolahku ini merupakan SMA unggulan di kota tempatku menetap sebagai penduduk ini.

Cerita sedikit; dulunya aku pernah menjalin hubungan lebih dari teman dengan seorang kakak kelas semasa SMP dan sekarang dia bersekolah disini. Namun, hubungan itu kandas tepat saat aku masuk SMA. Hubungan itu kami jalin selama kurang lebih 16 bulan, bukan waktu yang sebentar kalau kalian bilang ini hanya cinta monyet.

“Akhirrrrrnyaaaaaa…… pekan akhir semesternya selesai,” seru Aza sambil mendudukkan dirinya di meja guru yang empuk.
“Eh, kalian mau langsung pulang? Lamaan dikit deh, gabut gue di rumah.” celoteh Hela dengan wajah memelas yang minta dicubit.
“Gue iyaiya aja, lagian gue bawa motor, ehe. Hani entar pulang sama aku aja ya.” kataku sambil menoleh ke Hani yang ada disamping ku. Dia membalasnya hanya dengan anggukan. Dia memang pendiam.
“Hann. Hann. Hann.”
“Apaan Nur?” semprot Farhan yang merasa terpanggil di belakang.
“Eh sorry. Bukan Han Lo. Tapi Hanum,” kata Nurul sembari terkekeh.
“Lagian manggil orang setengah-setengah. Ada apa?” balas ku.
“Ada Kemah Bakti. Minat enggak? Kali aja kakak Lo ikut. Tanggal 13 sampai 15”
“Ini tanggal berapa sih?” tanya ku entah pada siapa.
“Tanggal 8, Num.” Tiara inisiatif menjawab.

Dua hari lagi, batinku.

^^

Dari hari itu, Nurul mulai membujukku dengan 1001 cara agar aku mau ikut Kemah Bakti itu. “Hanumm, kami kurang dua orang lagi nih. Ayolah, Hanumm. Yaya? Ikut ya? Ajak Nadia juga boleh,
kelas 9 kemarin dia ikut Jambore Daerah, kan?”

“Hanummm, ayolahhh. Kegiatannya enggak macam-macam, kok.”
“HANUMM!! KAKAK LO ABANG LO YANG DARI SANA IKUT.”

Satu. Dua. Tiga. Aku terdiam sesaat dengan perkataan Nurul. Aku memang sudah lama tidak bertemu dengan dia. Tiga bulan kurang lebih. Setelah empat kali batal nonton. Akhirnya, aku dengan nelangsa menerima permintaan Nurul tadi.

“YEYYY. THANKYOU HANUMM! NIH GUE MASUKIN LO KE GRUP YA BIAR TAHU INFORMASINYA.”

Tak lama dari situ, aku pergi ke kelas Nadia untuk menawarkan apa yang Nurul katakana tadi. Setelah dibalas dengan nada datar, akhirnya dia menerimanya juga dengan nelangsa. Nadia ini teman dekat ku sejak kelas IX SMP, dia tidak tahu hubungan ku dengan kakak yang Nurul sebut tadi. Dia hanya tahu kalau kami hanya sekedar teman dari teman.

^^

“Hiza nih yang ngegambar semut,” pekik Ayu dengan suara cemprengnya, namun memekakkan telinga.
“Gue enggak nyangka Lo bisa gambar seimut ini, Za.” kataku dengan tampang datar.
“Duhh, iyalah. Hiza gituuu.” kata Hiza seakan-akan belagak.
“Perhatian semua. Jadi ini kan bentar lagi mau zuhur, jadi kalian boleh istirahat makan, sholat, mandi pun boleh. Nanti baliknya jam 13.00 ya, paling lama jam 13.15 kakak tunggu, ini kan pas jam 11.55. Enggak mungkin kurang kan satu jam. Yang telat terima konsekuensinya. Sudah, boleh istirahat. Salam Pramuka!” titah Kak Muntaz selaku koordinator pelaksanaan Kemah Bakti ini.

“Salam!! Terima kasih, Kak.” jawab kami kompak.
“Ehhh, ke rumah Rozita kuy. Makan. Boleh kan, Zit?” teriak Puja.
“Boleh aja, kuy lah. Emak gue bikin bakso, sebenernya buat besok sih, tapi enggak apalah.” balas
Rozita. Memang kebetulan besok Maulid Nabi Muhammad SAW. dan disini daerah yang sedikit
terpelosok masih merayakan peringatan layaknya lebaran Idul Fitri.
“Nad, Lo pulang ke rumah?” tanyaku ke Nadia.
“Hm, mau ikut gue apa mereka?” tanyanya to the point.
“Mereka, deh. Bye, Lo hati-hati, ya.”
“Okedeh.”

Dari sini, aku mengenal yang namanya kekeluargaan; pertemanan tanpa sekat berujung persahabatan. Mereka jadi keluargaku selama tiga minggu ini, dan tiga malam kedepan mereka akan menjadi teman tidur ku di atas rumput sambil melihat gemerlap cahaya bintang di bumi perkemahan.

Ketika ini juga, aku mengenal seorang senior yang seperti sahabat. Dia kelas XII sekarang, perempuan.

“Kak, kita belom kenalan, loh. Kenalan kuy.” ajak ku.
“Namaku Hasti, tapi biasanya Zita ni sering manggil ku Cici, jadi ikut mereka aja.”

^^

Siang ini kami berangkat. Nama Bupernya adalah Bumi Perkemahan Tanjung Bunga, aku pernah beberapa kali kesana namun hanya sebagai pengunjung, bukan peserta. Ketika diperjalanan aku teringat kata-kata Nurul bahwa dia ikut.

Jujur saja, niatku ikut kegiatan ini bukan karena dia. Tapi kalau memang kami bisa bertemu disini, semua seperti drama. Setelah 45 menit di perjalanan, kami tiba di lokasi. Kak Muntaz, koordinator kami ke tempat registrasi peserta setelah itu kami diberi perintah untuk menurunkan barang-barang dari truk. Aku dan Nadia bersama menurunkan barang yang bisa kami bawa; semampu kami. Kebetulan tempat kami menurunkan barang dekat dengan tempat registrasi peserta, sesaat ketika aku meletakkan barang aku melihat laki-laki yang selama ini ingin kulihat.

“Fah….m..mi.” desis ku pelan dan dia menoleh ke arah ku.
“Nad. Aku. Enggak. Mimpi. Kan.?” tanya ku tergagap saking tak percaya.
“Fahmi, Num.” jawab Nadia singkat.
“Hanum? Jadi anak Pramuka sekarang?” Fahmi menghampiri ku sekarang.
“Gue duluan, Num.” Nadia pergi.

Muhammad Fahmi. Laki-laki yang tiga bulan lalu bersamaku, teman berceritaku, dan satu bulan lamanya dia hilang seperti ditelan bumi. Dan sekarang kami bertemu, tanpa ada rencana.

“Selamat ulang tahun, ya, Fahm. Maaf baru ngucapin, enggak ada kuota buat ngucapin lewat medsos.” iya, dua hari yang lalu dia bertambah usia, sekarang kami berjalan sebentar mengelilingi area buper sebelum memulai aktivitas mendirikan tenda.
“Makasih, ya. Enggak nyangka bisa ketemu kamu di sini.” katanya.
“Lebay kamu. Udah balik yuk, nanti dicariin yang lain.”

Aku rindu.Batinku bersuara.

^^

Memasuki hari kedua Kemah Bakti, kegiatannya sejauh ini menyenangkan. Semalam ada kegiatan Pentas Seni yang menampilkan kreasi dalam bentuk kesenian dari masing-masing pangkalan yang ikut serta. Pangkalan Smansa menampilkan tari kreasi antara tari tradisional dengan tari kreasi semapur.

Siangnya, kami mengikuti berbagai macam workshop sesuai dengan umpi masing-masing. Kebetulan aku dapat umpi 7 yang jatahnya mengikuti seminar kepemudaan dan workshop kerajinan tangan.

“….mana ada organisasi yang berani menggantungkan bendera negaranya sendiri dileher pemuda pemudinya selain Pramuka.” tegas suara Kakak yang mengisi seminar kepemudaan memecah lamunanku. Aku sependapat dengannya dan itulah alasanku mencintai Pramuka.

Oh mungkinkah rasa cinta ini
akan abadi untuk selamanya?
Rasa ini semakin membelenggu
cinta lokasi di bumi perkemahan.

Ini malam terakhir, besok semuanya sudah selesai. Malam ini akan ada pawai obor dan pelepasan lampion. Pada saat pelepasan lampion tiba-tiba air mataku jatuh dengan sendirinya. Aku sedih jika ingat besok adalah hari terakhir ku melihatnya, itu artinya aku harus menunggu waktu yang cukup lama untuk bisa bertemu dengannya lagi.

“Hanum, jangan nangis. Sini kakak anterin ke abangmu, ya?” kata Kak Cici sambil menggandeng tangan ku untuk bertemu dengan Fahmi.
“Tuh dia. Nanti balik ke tenda, sendiri bisa kan?” tanyanya, akupun hanya mengangguk tanda mengiyakan.
“Duhh, mata tuan putriku sembab. Nanti ketemu lagi, ya.” Fahmi menatapku dalam.
“Cuma wacana, Fahm.” kataku pelan tapi dia mampu mendengar.
“Semoga tidak.”

^^

Sore ini, setelah upacara penutupan, kami bongkar tenda. Rasanya sedih, momentum seperti ini tak akan terulang kembali. Menjadi keluarga kecil selama kurang lebih satu bulan terakhir. Lelah kami rasa bersama. Dan suka, kami bahagia bersama. Bagaimana dengan Fahmi? Ini akan menjadi hari perpisahan ku dengannya. Dan perkemahan ini akan menjadi perkemahanku yang teristimewa.

Disini aku mendapatkan pengalaman yang sangat berarti. Teman-teman yang menyenangkan, senior yang ramah tidak seperti yang lain, dan terspesialnya lagi, disini aku dipertemukan dengan orang yang aku rindukan saat itu. Dan istimewanya lagi, aku melihat bintang jatuh dimalam terakhir tadi. Bagiku, Pramuka menyenangkan.

Jika kalian ingin tahu, apa alasanku mencintai Pramuka. Maka, jadilah seperti kami, kalian akan tahu apa alasannya.

^^

Akankah cintaku sebatas patok tenda?
Tenda terbongkar, sayonara cinta.

Kisah ini, cerita ini, menjadi penutup Desember hujan dua ribu enam belas ku. Persahabatan tanpa sekat kami masih akan tetap terus berjalan. Kami akan tetap bersama dalam duka dan bahagia bersama dalam suka.

Untuk cinta sebatas patok tendaku, apakah aku harus menunggu berbulan-bulan lagi agar bisa bertemu? Dalam hati ini, selalu kusemogakan pertemuan selanjutnya. Kutunggu kau dikegiatan lain.

Ini kisah cintaku. Cinta lokasi di bumi perkemahan. Baret dan kacu yang menjadi saksi bisu. Meskipun cinta ini tak berakhir simpul mati, tapi kisah ini akan ku kenang sampai nanti. Sayonara!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Cinta "Sebatas Patok Tenda""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel