Kisah Hikmah "Hunting Scholarship"

KisahTerbaik.Com- Stori nyata ini dituliskan oleh Nur Arifah dengan judul "Hunting Scholarship". Dalam ceritanya ia membagikan sejumlah pengalaman hidup, khususnya di dalam mendapatkan beasiswa yang sangat menginspirasi untuk dibaca.

Begini, Kisahnya...

Semenjak masih duduk di bangku menengah atas, sudah ku susun rapi target untuk masuk ke perguruan tinggi atau istilahnya kampus favorit. Terlebih setelah kenaikan kelas tiga SMA membuatku lebih ekstra untuk mencari informasi pendaftaran di perguruan tinggi.

Meskipun harus tetap fokus dalam menghadapi Ujian Nasional, namun semangat membara untuk melanjutkan kuliah sudah tak terebendung lagi. Tepatnya setelah Ujian Nasional beban terasa ringan, bersitegang empat hari empat malam telah usai. Berhubung aku di sekolah kejuruan, sehingga hanya empat mata pelajaran yang diujikan yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan Kejuruan Akuntansi.

Ada banyak seleksi masuk perguruan tinggi, ada SNMPTN, SBMPTN, PMDK, maupun Ujian Tulis Mandiri. Pada saat yang bersamaan, sekolah mewajibkan untuk mengisi data guna pendaftaran SNMPTN, tahap ini menggunakan akumulasi nilai raport selama lima semester.

Semua siswa siswi bingung untuk menentukan pilihannya. Namun, aku dengan mantap sudah yakin dengan pilihanku. Pendaftaran SNMPTN dilakukan sebelum Ujian Nasional dimulai. Sebelumnya, aku dengan sahabatku telah mengikuti seleksi masuk PKN STAN sekitar satu bulan sebelum Ujian Nasional. Selain kedinasan aku juga mencoba mendaftar seleksi PMDK.

Singkat cerita aku gagal dalam seleksi SNMPTN, PKN STAN, SBMPTN dan PMDK. Pupus sudah harapanku, semua begitu berat harus aku jalani. Dukungan semangat dari orangtua, sahabat dan saudara menjadi sumber semangatku.

Disetiap sepertiga malam tak lupa ku tumpahkan segala harapanku, karena puncak terakhir seorang hamba adalah berdoa. Dengan berbagai informasi yang terupdate, akhirnya ku langkahkan kaki menuju kota pelajar untuk mengikuti seleksi ujian masuk perguruan tinggi negeri. Selama dua hari harus pulang pergi antara Magelang-Yogyakarta, padahal saat itu belum begitu paham rute perjalanan, hanya berbekal goole map di gawai yang kupegang.

Satu bulan cukup lama menunggu, tepat pada 18 Juli 2016 pukul 21.35 WIB aku dengan gemetar membuka web pengumuman kelulusan UMPTKIN. Perasaan bercampur aduk, jika memang gagal harus kuterima untuk yang ke lima kalinya.

Sambil menunggu selesai berputar-putar, karena web nya mungkin agak lambat dibuka. Deg, syukur alhamdulillah aku lulus seleksi di prodi Akuntansi Syari’ah. Setelah sekian lama perjuangan terobati sudah.

Sangat bahagia ketika itu, namun orangtuaku kebetulan ada urusan di luar. Setelah Bapak pulang sekitar setengah jam kemudian, dengan perasaan yang bahagia aku berteriak, “Bapak Adek lolos seleksi di Jogja Pak, jurusan Akuntansi”, Bapak tak kalah bahagia.

Akhirnya Bapak memberi ucapan selamat dan tos five. Memasuki semester satu yang serba baru tak menyurutkan semangatku untuk melangkahkan kaki dan tolabul ‘ilmi di bangku kuliah. Untunglah, aku cepat akrab dengan teman teman baru.

Ku pikir aku harus selektif dalam memilih teman, baik buruknya kawan bisa berpengaruh dalam diri kita, terlebih di lingkungan baru. Dengan berbagai informasi yang ada, ada informasi beasiswa bidikmisi.

Masih terekam jelas dalam ingatan mengenai bidikmisi, guru wali kelas XII SMA sering bercerita tentang bidikmisi. Beasiswa ini sangat dinanti mahasiswa baru sebagai alternatif sekaligus menjadi keringan selama kuliah ditambah mendapatkan ung saku per bulan. Aku pun mendaftar bersama teman temanku.

Seleksi berkas yang cukup menguras tenaga, bagaimana tidak harus kurelakan pulang pergi Magelang-Jogja, karena ada berkas yang harus aku ambil di SMA.

Meskipun perjuangan itu melelahkan, pahit kurasakan, tapi ikhlas ku jalankan. Namun seribu sayang, ketika pengumuman tahap akhir aku dinyatakan gagal. Di prodiku hanya tiga orang yang berhasil lolos.

Melihat perjuangan dan semangatku rasanya seakan sia-sia. Sambil menghibur diri, mau tidak mau harus rela dan memulai perjuangan kembali. Setiap semester aku mencoba mendaftar beasiswa, sayang rezeki itu belum berpihak kepadaku.

Kurang lebih tiga semester lima kali ditolak beasiswa, baik beasiswa berprestasi atau beasiswa kurang mampu. Hingga akhirnya, diawal semester empat ada informasi beasiswa Bank Indonesia. Hal yang cukup melatih kesabaran yakni mengurus lembaran berkas.

Meminta tanda tangan dosen, terkadang dosen sulit ditemui karena sibuk di luar kota. Dengan doa, usaha, ikhtiar dan tawakkal sebulan kemudian pengumuman lolos seleksi berkas. Alhamdulillah aku dinyatakan lolos dan wajib mengikuti tes wawancara seminggu kemudian.

Tak lupa mencari link kakak tingkat yang dulu pernah mendapatkan beasiswa BI. Dengan adanya link (koneksi) membuat kita mudah mencari informasi. Berbekal keyakinan yang kuat, tak lupa meminta doa restu orang tua, dan selalu membaca sholawat.

Memang agak minder ketika banyak mahasiswa yang mengikuti tes wawancara. Keringat dingin pun rasanya tak ingin berhenti. Setelah namaku dipanggil maju ke depan, aku hanya meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa.

Pertanyaan dewan juri secara face to face berhasil ku jawab dengan lancar. Entah hasilnya nanti akan seperti apa, hal yang penting sekarang yakni berdoa. Jika usaha sudah, maka doa menjadi senjata pamungkas.

Jika itu memang layak menjadi rezekiku, maka sampai kapanpun akan menjadi milikku. Seperti judul buku yang pernah ku baca bahwasanya rezeki itu memang misteri. Sesuatu yang tak pernah aku duga, temanku memberi kabar bahwa aku lolos Beasiswa BI.

Kabar baik di hari yang baik yakni hari Jumat. Alhamdulillah Ya Allah. Rasanya ingin sujud syukur. Ternyata doaku selama ini terjawab hari ini, Allah sangat dekat sekali rasanya. Puji syukur terus kuucapkan karena kebetulan pengumuman itu selepas kuliah di sore hari. Ke depan aku tak boleh ujub atau berbangga diri.

Menjadi anggota Gen-BI (Generasi Baru Indonesia) memikul tanggung jawab yang berat. Sebagai komunitas penerima beasiswa BI, anggota GenBI wajib berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan mengikuti segala peraturan dan mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia.

Dalam komunitas ini, bisa mempeluas koneksi di luar kampus. Di Yogyakarta sendiri, hanya tiga kampus penerima beasiswa BI yakni UIN Sunan Kalijaga, UGM dan UNY.

Pelajaran yang bisa aku petik dari perjalanan hunting scholarship begitu banyak nikmat yang Allah Swt berikan, tergantung bagaimana kita mensyukurinya. Seperti dalam firman-Nya, bila kita bersyukur maka nikmatnya akan bertambah, jika kufur maka siksa-Nya amat pedih. Teruslah mencoba hal baru meskipun itu melehkan, karena lelah kita nantinya akan menjadi Lillah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Hikmah "Hunting Scholarship""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel