Kisah Inspiratif "30 Detik Menjemput Mimpi"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori inspiratif ini ditulis oleh Haitul Hailiyah dengan judul "30 Detik Menjemput Mimpi". Dalam kisah ini ia membagikan pengalaman saudaranya (kakak) yang semoga bisa sumber bacaan menarik.

Begini, Kisahnya..

Wahyu dan Harun merupakan kakak saya yang sangat memberikan inspirasi dan sekaligus memberikan keyakinan akan the power of dream dalam kehidupan. Enam belas tahun lalu adalah hari terberat yang pernah ada dalam hidup mereka. Dua orang anak laki laki yang hidup dalam kemiskinan, tinggal di desa kecil tepatnya di desa pakel Kabupaten Banyuwangi dengan rumah terbuat dari dinding anyaman bambu dan masih beralas tanah.

Dua orang anak laki laki tersebut tinggal bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuannya bernama Ida. Mereka sangat mencintai keluarganya lebih dari apapun, tak pernah sepatah katapun mereka membantah kedua orang tuanya. baginya orang tua adalah jantung kehidupannya.

Orangtua nya pun sangat mencintai lebih dari apapun, terbukti dengan bagaimana kedua orang tua mereka berusaha. Ibu mereka hari demi hari sebagai penjual gorengan keliling dan ayahnya sebagai kuli angkat batu demi sesuap nasi dan menyekolahkan anak-anaknya.

Wahyu dan Harun merasa sangat berdosa besar jika harus melawan orang tua apalagi menyakiti ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segalah keterbatasan. Karena itu mereka berjanji pada diri mereka sendiri tidak akan pernah sedikit pun berani melaan dan menyakiti ibunya yang sudah tua dan bungkuk.

Wahyu dan Harun tidak pernah malu jika sang Ayah dan Ibu mengantarkannya ke sekolah dengan pakaian lusuh, kusut dan penuh tambalan, bahkan dengan penuh kebanggaan terlihat dari mereka karena masih memiliki seorang ibu yang sangat mencintainya sejak mereka menghirup udara dunia. 

Demi membahagaikan kedua orang tuanya mereka belajar sungguh-sungguh, dan selalu menjadi
juara kelas bahkan sesekali juara umum. Baginya mungkin hanya dengan prestasi sekolah yang bisa membahagiakan kedua orang tuanya, hanya itu yang bisa mereka berikan kepada orang tua, karena dengan itu juga mereka sedikit mendapat keringanan dalam biaya sekolah.

Kadang jika kedua orang tuanya sakit mereka menggantikan pekerjaan secara bergantian Baginya dengan berusaha dan bekerja keraslah keinginannya akan terwujud. Semua pernak-pernik hidupnya berjalan seperti biasa hingga suatu yang paling mereka takutkan menimpanya.

Ya, sesuatu yang sangat mereka takutkan adalah kehilangan kedua orang tua yang sangat mereka cintai, yang sangat mereka sayangi. Baginya musibah terbesar dalam hidupnya adalah harus kehilangan kedua orang tua di usianya yang masih muda, di saat ia akan menamatkan SD.

Mereka ingin sekali kedua orang tuanya melihat mereka menjadi siswa terbaik se-Kabupaten dengan nilai yang tinggi dan masuk sekolah menengah pertama favorit di Banyuwangi, karena Pemda Banyuwangi memberikan bea siswa penuh bagi 10 orang yang mampu mendapat nilai penuh dalam UN, yaitu semua nilai 10.

Dan itu tinggal menunggu beberapa hari lagi setelah pengumuman kelulusan Sekolah Dasar. Namun takdir berkata lain, seakan-akan menantang harapan serta keinginannya itu, yang bahkan berusaha menyurutkan dan menghancurkan semangat mereka untuk sekolah dan melanjutkan ke SMP favorit. 

Karena satu-satunya alasan selama ini mereka belajar sungguh-sungguh hanyalah untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya sebagai balasan atas jasa-jasa orang tua yang sudah membanting tulang, berpeluh keringat, terbakar terik matahari.

Dengan semangat dan motivasi yang tinggi akhirnya Wahyu dan Harun diterimah di SMP favorit dengan beasiswa full dari pemda.

Wahyu dan Harun merupakan anak laki-laki dengan segudang mimpi dan selalu percaya akan the power of dream dalam kehidupan. Hari- harinya selalu dihiasi dengan coretan target yang mereka tulis dilembaran kertas dan mereka tempel di dinding kamarnya.

Tidak sedikit dari teman mereka tidak terkecuali saya sebagai adik menertawakan akan hal itu. Wahyu dan harun tidak memperdulikan ejekan teman-teman tentang target mimpi tersebut. Wahyu dan Harun selalu percaya cepat atau lambat target mimpi tersebut akan terwujud.

Target mimpi tersebut juga sebagai motivasi untuk membanggakkan kedua orang tua. Dengan semangat dan motivasi yang tinggi target mereka yang k-20 yaitu bersekolah di SMAN favorit dengan beasiswa akhirnya terwujud.

Prestasi yang banyak mereka torehkan di sekolah tersebut membuat bangga kedua orang tuanya. Tidak puas dengan hal itu Wahyu dan Harun terus mewujudkan target target mimpi yang mereka tulis.

Tepat pada target ke 100 yang mereka tulis yaitu wahyu dengan targetnya ingin mengikuti LKTIN di ITB serta Harun dengan targetnya berprestasi hingga ke negeri China terus berusaha mereka wujudkan apapun hambatan yang ada meski se kokoh tembok China. Namun, impian tersebut sempat terhenti ketika mereka akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Biaya kuliah yang sangat mahal merupakan salah satu faktor yang membuat mimpi mereka sedikit terhambat. Selain itu, pekerjaan orang tua mereka ayahnya sebagai kuli angkat batu dan Ibu nya sebagai penjual gorengan keliling tidaklah mampu secara ekonomi untuk membiayai ke jenjang perguruan tinggi.

Sehinga orang tua mereka menyarankan untuk menuda kuliah. Namun, tekad serta motivasi membuat mereka mencari cara untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Berbekal sertifikat prestasi dan nilai rapor yang sangat baik. Akhirnya mereka mendaftar beasiswa Bidikmisi.

Bidikmisi merupakan beasiswa full dari pemerintah untuk jenjang S1. Satu minggu kemudian hasil seleksi masuk perguruan tinggi diumumkan.Wahyu yang mendaftar di Jurusan Teknik Pertanian serta Harun mendaftar di Jurusan Teknik Elektro Universitas Jember akhirnya diterima di perguruan tinggi tersebut melalui jalur beasiswa bidikmisi.

Hasil tersebut membuat kedua orang tua bangga serta terharu akan perjuangan mereka untuk menggapai mimpinya.

Target mimpi ke-100 yang mereka tulis akan semakin dekat terwujud dengan beasiswa mereka dapatkan. Namun, pada suatu ketika ayah mereka yang berprofesi sebagai kuli angkat batu terkena musibah yaitu kaki ayahnya terkena jatuhan batu yang diangkutnya dan membuat tulang telapak kaki
kanannya patah. Sehingga, membuat ayahnya tidak bisa berjalan.

Kondisi ini membuat mereka sedih dan sekaligus bingung, mengingat ayah mereka membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan operasi agar kakinya bisa berjalan lagi. Biaya yang dibutuhkan mencapai 10 juta membuat Wahyu dan Harun berusaha mendapatkan biaya tersebut
agar ayahnya bisa dioperasi mengingat pendapatan ibunya sebagai penjual gorengan kelilig tidak cukup.

Selain itu, tabungan mereka berjumlah Rp. 5 juta yang mereka kumpulakn dari uang saku mereka semenjak SD juga belum cukup untuk biaya operasi ayahnya. Kebingungan campur rasa takut terus mengikuti Wahyu dan Harun.

Sehingga, membuat tahun pertama kuliah mereka di Unversitas Jember terasa begitu berat dengan ujian yang menimpannya. Namun, mereka selalu percaya bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya.

Ketegaran hati dan motivasi tinggi yang dimiliki Wahyu dan Harun akhirnya sedikit menemui titik terang. Event LKTIN yang mereka ikuti di tahun pertama kuliah mebuahkan hasil yang mengantarkan merekan sebagai juara 2 LKTI tingkat Nasional itu dan mendapatkan uang total Rp.5 juta.

Hadiah tersebut dapat membantu kekurangan biaya operasi ayahnya. Mereka selalu percaya bahwa usaha tidak akan menghianati hasil dan hal ini sudah mereka buktikan di event nasional tersebut. Rasa syukur dipanjatkan oleh keluarga ini sehinga ayah mereka dapat dioperasi.

Wahyu yang memiliki target impian berprestasi di universitas ternama di Bandung yaitu ITB serta Harun yang meiliki target mimpi ingin berprestasi di China kembali diuji di tahun kedua mereka kuliah di Unvivesitas Jember. Mereka yang sudah kos di Jember mendapat kabar Ibu nya sakit dan membutuhkan biaya untuk rawat inap di rumah sakit.

Mendengar kabar ini Wahyu dan Harun segera pulang ke Banyuwangi. Uang beasiswa yang mereka tabung dan rencananya digunakan untuk mengikuti event yang kurang 1 minggu mereka gunakan unuk biaya rawat inap ibu nya d rumah sakit.

Mereka selalu percaya jika kita ikhlas membantu orang tua maka Allah akan membalas dengan reeki yang berlebih. Deadline event yang diikuti mereka kurang 2 hari namun mereka tak kunjung mendapatkan uang.

Sudah pinjam uang kesana kemari akan tetapi tidak dapat juga Terpaksa mereka menggadaikan sepeda yang dimilikinya ke kantor pegadaian. Mimpi mereka semakin dekat. Namun, hingga hari terakhir biaya pendaftaran wahyu yang kurang Rp 200.000 serta Harun yang masih kurang Rp. 500.000.

Sedangkan deadline event keduanya pukul 16.00 WIB Kun Fayakun, jika Allah menghendaki sesuatu terjadi maka terjadilah itulah kalimat yang cocok untuk Wahyu dan Harun menjelang detik-detik deadline event yang diikuti.

Tepat pukul 15.00 WIB Harun mendapatkan telefon dari panitia event essay online yang mereka ikuti. Dalam telefon tersebut mengabarkan kalau karya essay yang mereka kirim mendapat juara 3 dan berhak mendaptkan total hadiah Rp. 3 Juta.

Dan hadiah tersebut segera ditransfer ke ATM mereka. Wahyu dan Harun segera ke ATM untuk mengambil hadiah tersebut dan segera mentransfer ke panitia event di Bandung dan di China. Menjelang 30 menit dari deadline angkot yang dinaiki mereka dari mesin ATM ke lokasi kosannya mendadak macet.

Sehingga membuat mereka terpaksa jalan kaki sejauh 3 km. Sesampai di kosan waktu pengumpulan paper tinggal 10 menit. Namun ujian kembali menghampiri mereka. Sesaat hendak mengirim file papernya mendadak pulsa listrik di kosannya mati yang membuat Wifi dikosannya juga ikut mati. 

Kondisi ini membuat Wahyu lari pergi ke minimarket deket kosannya buat beli pulsa listrik dan ketika listrik sudah hidup waktu penumpulan paper kurang 50 detik. Akhirnya tepat pada detik ke 30 mereka berdua sudah mengirim karya nya ke email panitia event yang mereka ikuti.

Dua minggu kemudian pengumuman event yang di Bandung dan China, akhirnya diumumkam. Dari pengumuman tersebut menunjukkan ke dua nya masuk dalam babak final. Biaya full funded yang diberikan oleh panitia event di Bandung dan di China meringankan beban mereka untuk pergi kesana. 

Semangat kerasnya bagaikan tembok China membuat Harun sebagai best paper di negara tersebut. Sementara Wahyu mendapatkan juara 2 LKTIN di Bandung. Hasil ini membuat kedua orang tuanya serta kampus mereka bangga akan perjuang Wahyu dan Harun.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "30 Detik Menjemput Mimpi""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel