Kisah Inspiratif "Gagal Kok bahagia"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori inspiratif ini dituliskan oleh Andi Nurpagi dengan judul "Gagal Kok bahagia?". Dalam cerita ini ia membagikan pengalaman yang dapat dijadikan cerminan bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya..

Kebahagian yang aku rasakan itu datang setelah aku gagal berkali-kali. Tidak hanya dalam satu waktu, banyak hal. Mulai dari kompetisi akademik maupun non akademik. Sejak akhir tahun Sekolah Dasar aku sudah rutin mengikuti sebuah kompetisi seni bergengsi (maap tidak bisa saya sebutkan dengan spesifik).

Di tahun kedua aku mengikuti kompetisi itu aku mulai berambisi untuk harus bisa menjadi juara 1. Karena jika kita bisa mendapatkan itu akan maju ke tingkat yang lebih tinggi lagi, nasional bahkan internasional. Ya walaupun itu terdengar sedikit egois, namun apa salahnya bercita-cita.

Dari tahun ke tahun, aku selalu berlatih dengan giat, bahkan menargetkan waktu enam bulan untuk berlatih secara mandiri dengan kakak laki-laki saya yang memang kebetulan alumni dari kompetisi ini juga (kebetulan beliau memang dahulunya hampir tiap tahun menjuarai) karena biasanya bimbingan yang diberikan lembaga hanya sebulan sebelum kompetisi dimulai.

Dari tahun ke tahun juga, aku selalu berlatih bersungguh-sungguh dan tentunya selalu mengevaluasi performaku ketika sudah mengikuti lomba tersebut dan alhamdulillah terkadang juga didampingi oleh kakakku.

Berusaha sudah ku lakukan dengan sangat maksimal, berdo’a pun tak lepas serta restu orangtua. Ya namun setelah tujuh tahun aku mengikuti kompetisi tersebut, cita-citaku sejak kecil belum dapat tercapai. Bahkan hingga kategori umurku telah naik satu tingkat.

Banyak rasa ingin menyerah yang selalu menggerogoti pikiran dan hatiku, aku pun pernah memutuskan untuk tidak mengikuti kompetisi itu lagi di tahun kelima, karena kecewa yang terlalu dalam. Aku sangat ingat ketika itu, aku sangat berambisi, mengeluarkan kemampuan sangat maksimal. Namun, aku pun sangat sangat sangat kecewa. Bahkan aku sempat membeci segala hal yang berkaitan dengan itu.

Aku sangat bangga memiliki orang-orang terdekat yang sangat peduli terhadapku. Mereka tidak ingin cita-citaku sedari kecil hanya menjadi angan-angan. Setelah satu tahun aku ‘beristirahat’ dari bayang-bayang kompetisi itu.

Akhirnya di tahun ke enam semangatku kembali, ambisiku kembali lagi, dan aku kembali berlatih lagi tentunya dengan semangat baru. Ambisiku masih sama dengan yang dahulu, harus bisa juara satu.

Bagaimana menurut anda, apakah ditahun ini saya sudah berhasil mencapai itu? Alhamdulillah, Allah mengatakan bahwa aku harus belajar lebih keras lagi.

Kalau dihitung-hitung seharusnya aku sudah menyerah saja. Buktinya enam tahun berlatih namun belum mendapatkan hasil yang maksimal. Ternyata Allah memiliki rencana lain, aku dijatuhkan berkali-kali. . . .

Namun. . .

Alhamdulillah di tahun ke tujuh tepat ketika aku telah menginjak kelas tiga SMA. Aku ingat sekali ketika itu, sebulan sebelum aku Ujian Nasional aku tetap memantapkan hati untuk mengikuti kompetisi itu. Bahkan kedua orangtuaku telah memberikan saran untuk mengikuti kompetisi yang tahun depan saja, karena aku akan menghadapi Ujian Nasional.

Tentunya aku harus membagi waktu dengan bimbingan belajar di sekolah mengenai materi- materi ujian yang tidak mudah. Aku juga harus mengikuti latihan rutin untuk kompetisi tersebut.

Pernah aku merasakan sangat kritis waktu. Aku ingat sekali. Hari itu adalah hari minggu dan besok adalah senin untuk ujian Try Out dan sore Minggu itu aku ada pelatihan rutin untuk kompetisi. Aku merasa pikiranku sangat kacau, dan sempat ditegur oleh pembimbingnya karena aku beberapa kali terlihat tidak dapat fokus.

Dalam situasi serumit itu, aku menyerahkan segala hasilnya kepada Allah. Apapun hasilnya berarti aku masih harus tetap belajar.

Dan ketika pengumuman, masih dengan rasa pesimisku. Alhamdulillah Namaku di panggil sebagai juara satu. Aku benar-benar tidak menyangka, benar-benar bahagia bercampur haru. Penantian tujuh tahun dengan berbagai lika liku perjuangan, akhirnya membuahkan hasil dan cita-citaku telah tercapai.

Oh sungguh bahagia, penantianku selama tujuh tahun.

Setelah mendapatkan predikat juara satu, aku berhasil lolos di tingkat yang selanjutnya, namun hasilnya masih butuh perjuangan yang lebih keras lagi. Namun allah memberikan ku obat kesedihan yang begitu indah. Aku merasa mendapatkan durian runtuh pada tahun itu, tahun 2016.

Allah benar-benar tidak pernah tidur. Aku lolos jalur undangan di kampus impianku di jurusan Kedokteran Gigi. Belum selesai sampai di situ. Aku lagi-lagi mendapat kabar bahagia. Aku mendapatkan beasiswa penuh, sampai lulus bisa berkuliah dengan gratis.

Allahuakbar. Sungguh betubi-tubi rezeki yang diberikan Allah kepada kami.

Kini aku telah memasuki tahun ketiga berkuliah, aku masih tetap rutin mengikuti kompetisi itu. Dua tahun yang lalu aku pun kembali bertemu dengan kegagalan. Di tahun pertama aku hanya bisa sampai pada babak final dengan predikat sebagai empat besar. Di tahun kedua aku pun gagal dan hanya bisa sampai pada babak final juga namun denga predikat sebagai lima besar.

Bagaimana dengan tahun ini?
Apakah saya akan menyudahinya?

Tentu saja tidak. Walaupun cita-cita saya sudah terwujud, pernah menjadi juara satu, namun saya ingin tetap mendapatkan hasil yang terbaik dan hasil yang lebih maksimal serta memperoleh ilmu-ilmu yang bermanfaat. Di tahun ketiga ini insyaAllah aku akan mengikuti kompetisi itu, tentunya ingin mendapatkan hasil terbaik.

Dari pengalaman inilah saya mendapatkan prinsip hidup yaitu “ Tetap semangat, selalu semangat dan lebih semangat”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Gagal Kok bahagia""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel