Kisah Inspiratif "Gitasav Youtuber Muda"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori ini dituliskan oleh Nadia Samiyah dengan judul "Alhamdulilah Jerman: Kisah Inspiratif Gitasav Youtuber Muda sekaligus Pelajar FU Berlin". Dalam ceritanya penulis mengulas secara lengkap yang layak untuk di baca.

Begini, Kisah Inspirasifnya...

30 September 2010, kali pertama menginjakkan kaki di Berlin semua hal yang sudah aku bayangkan di Indonesia tentang Jerman seketika hilang bagai jejak kaki terhapus ombak lautan. Entah mengapa semua hal yang ada disini terasa begitu asing buat aku yang selama ini hidup bersama orang tua. 

Siapa sangka, aku yang selama 18 tahun hidup aman, tenteram dan damai bersama orang tua akan melanjutkan studi di Jerman sebatang kara. Tapi mau bagaimana lagi semua ini keinginan aku sendiri, sempat terbesit dalam otakku untuk memilih kembali ke Indonesia menikmati hangatnya suasana rumah.

Bersantai menikmati weekend bersama keluarga atau menjelajah kemanapun aku ingin tapi lagi-lagi dari sisi hatiku yang lain berkata “Gila Git! Kamu sudah merelakan satu tahunmu untuk menunggu agar bisa kuliah di Jerman dengan umur 18 tahun! Kamu sudah merelakan FSRD ITB demi kuliah di Jerman! Ayolah Git!” ya hanya itu yang bisa membuat aku bertahan di negeri impianku ini, tentunya selain alasan sudah banyak uang yang dikeluarkan kedua orang tuaku hingga aku bisa sampai disini.

Hal pertama yang aku lakukan di Jerman adalah les Bahasa Jerman (lagi), walaupun di Indonesia aku sudah les Bahasa Jerman dari level A1 sampai B2 tetapi sampai disini aku tetap bergantung pada Bahasa Inggris sebagai bahasa keseharianku selain itu aku juga harus tetap mengulang level B2 agar dapat mengikuti ujian dan mendapatkan sertifikat B2.

Sertifikat B2 ini dapat aku gunakan untuk mendaftar student college. Setelah mendapatkan sertifikat B2 aku tidak melanjutkan les Bahasa Jerman ke level selanjutnya seperti level C1 dan sebagainya tetapi aku mengikuti kelas untuk persiapan ujian penerimaan atau Aufnahmeprufung.

Selanjutnya aku melanjutkan ke jenjang student college untuk kelas penyetaraan, karena di Jerman untuk masuk universitas, seseorang harus menempuh 13 tahun berbeda dengan Indonesia yang hanya 12 tahun.

Aku mengikuti ujian penerimaan di beberapa student college seperti Technische Universitat Darmstadt atau TU Darmstadt, Technische Universitat Berlin atau TU Berlin, dan masih banyak lagi yang saking banyaknya sampai kelupaan.

Di TU Darmstadt aku hanya diuji Deutsch atau Bahasa Jerman sedangkan di TU Berlin terdiri dari dua ujian yakni Deutsch dan Matematika. Disana aku mengikuti ujian untuk mengambil T-Kurs atau rumpun teknik dan MIPA.

Dan dengan penuh syukur aku diterima di TU Darmstadt dan TU Berlin, namun karena aku tipikal orang yang malas berpindah tempat akhirnya aku memilih TU Berlin. Di student college aku mempelajari Matematika, Fisika, Kimia dan tentunya Deutsch selama dua semester sekaligus menjalani ujian kelulusan atau FSP, selama disini tantangan hidup yang aku jalani terasa masih normal sampai akhirnya aku melanjutkan ke jenjang universitas tepatnya di Freie Universitat Berlin dengan jurusan Kimia Murni.

Dengan bekal sekolah selama 12 tahun di Indonesia dan dua semester di TU Berlin aku merasa sudah pantas dan saip untuk melanjutkan studiku di FU Berlin, namun seluruh pelajaran yang aku dapatkan habis terhapus dengan dua semester di FU Berlin ini, dititik inilah aku merasa menjadi orang terbodoh yang pernah ada. Bayangkan! Selama dua semester di FU Berlin aku selalu pulang dalam keadaan menangis dan hanya mampu menerima lima hingga sepuluh persen dari dua jam mata kuliah yang diberikan dosen.

Aku bukanlah tipikal orang yang mudah mengeluh, maka jika aku sudah mengeluh itu tandanya hal yang aku hadapi sudah terlalu berat untuk dilalui. Jika orang lain mempersiapkan diri dua minggu sebelum ujian maka aku akan mempersiakan diri dua bulan sebelum ujian, hanya karena aku terlalu takut untuk menghadapi ujian.

Jika kuliah di Indonesia aku hanya perlu mendengarkan penjelasan dosen lalu dapat memahaminya maka kuliah di Jerman aku perlu mempelajarinya sendiri sebelum dan sesudah materi diberikan. Jika di Indonesia aku bisa lulus S1 dengan umur 21 tahun maka sampai umur 24 tahun aku masih berada di jenjang S1.

Kian bertambah semester kian menipis juga jumlah teman sejurusanku yang awalnya kurang lebih 100 orang kini aku dapat menghitungnya dengan satu tanganku. Tak jarang dari teman sejurusanku drop out bahkan orang Jerman asli sekalipun.

Aku juga sering bertemu dengan teman-teman Indonesiaku di Jerman dan mengeluhkan segala hal, dengan tersenyum miris teman-temanku menyahuti dengan menganggap wajar jika semua orang Indonesia yang berkuliah di Jerman merasa sulit untuk bertahan hidup disini.

Dari banyak bertukar pikiran dengan temanku, belajar dari pengalaman, belajar dari lingkungan sekitar aku faham memang tidak mudah untuk belajar di negeri orang.

Lantas, apakah aku menyesal kuliah di Jerman? Tidak, tentu tidak. Aku menikmati hidupku yang penuh dengan kejutan di Jerman, aku menikmati segala ujian yang aku hadapi, aku juga mendapatkan banyak pelajaran hidup dari sini.

Aku merasakan banyak perubahan pada diriku, aku lebih mudah bersyukur karena aku terbiasa gagal, aku lebih mandiri tentunya, dan Alhamdulillah dari hasil evaluasi diri aku mantap berhijab pada tahun 2015.

Aku teringat obrolanku dengan pamanku yang juga lulusan Jerman, “Jika kamu hanya ingin mendapatkan gelar S1 dan mendapatkan karir yang bagus kuliah di Indonesia jauh dari cukup terlebih sekarang banyak perguruan tinggi Indonesia yang masuk peringkat 100 universitas terbaik di dunia, tapi jika kamu ingin memperkaya pengalaman, mendewasakan diri mencoba kuliah di Jerman bukanlah pilihan yang salah. Karena dengan hidup sendiri dan kuliah di Jerman, disitulah kamu bisa mendapat banyak pelajaran hidup yang tidak akan didapatkan dari tempat lain”.

Menurutku, aku mendapatkan lebih banyak pelajaran selama delapan tahun di Jerman dibanding 18 tahunku di Indonesia dan aku yakin dengan bersyukur kita akan merasa lebih lapang dan lebih mudah dalam menghadapi hidup. Tetap berjuang 😊

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Gitasav Youtuber Muda""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel