Kisah Inspiratif "Hallucination"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah inspiratif disusun oleh Hanifah Azkiyatunnisa dengan judul "Hallucination". Dalam cerita ini ia membagikan sebuah pesan yang sangat berharga bagi segenap pembaca semuanya.

Begini, Kisahnya... 

Kicau burung menghiasi sinar fajar yang kembali beraktivitas. Suara jam beker menyebalkan kembali me risau pagi ini. Dengan malas, aku bangkit dari zona kenyamanan kasur. Mengambil handuk, masuk kamar mandi, dan mulai mandi. Tak butuh waktu lama, aku sudah berada di meja makan dengan seragam yang rapi dan mulut penuh roti. 

Oh iya, namaku Yura Pradipta. murid kelas 10 yang bisa disebut pintar. Aku punya segudang rasa malas yang selalu kambuh kapanpun. Selain itu, orang orang juga menyebutku egois. Padahal kurasa, biasa saja dan mereka terlalu berlebihan. Aku adalah anak tunggal yang selalu ter penuhi keinginannya. Ayah dan ibuku tak pernah membiarkan hidupku susah. Segalanya telah terpenuhi. 

Namun entah mengapa, aku selalu merasa sendiri. Temanku juga tak banyak, hanya Rania Olivia lah sahabat yang hingga sekarang setia menemaniku. Teman teman terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan karena aku juga terlalu malas bergaul jadi temanku hanya seadanya saja. Mungkin itu yang membuatku selalu merasa sendiri. Terlebih, sikapku yang katanya egois dan manja ini juga mungkin ada hubungannya mengapa aku selalu sendiri, namun aku tak terlalu memikirkannya.

“Yura, ayah hari ini tidak bisa mengantarmu dulu. Kamu berangkat naik bus saja ya?”
“Yah, ayah. Kenapa?” ucapku sebal.
“Ayah akan berangkat agak siang, Yura” ucap ibu.
“Hm, yasudah lah” ucapku dengan wajah murung.
“Tak apa kan?” tanya ayah.
“Hm” ucapku datar.
“Jangan seperti itu, Yura. Kau harus mulai belajar mandiri dari sekarang. Kalau saja ayah dan ibu tidak bersamamu lagi, kau sudah siap” ucap ayah.
“Ayah ngomong apa sih. Sudahlah, aku berangkat dulu” ucapku sebal dan kemudian berpamitan dengan mereka, namun ayah dan ibu hanya membalasnya dengan senyuman. Namun, aku tak terlalu memikirkannya.

Dengan perasaan tak sepenuhnya senang aku melangkahkan kaki keluar rumah dan mulai menuju ke halte. Aku tak habis pikir mengapa banyak sampah berserakan di halte ini. Sungguh menyebalkan. Untunglah tak lama kemudian bus yang ku tunggu pun dating. Aku menaikinya dan kaget karena di dilamnya ada sangat banyak orang. Sesak dan panas lah yang aku rasakan sekarang. Aku sangat sebal karena ayah tidak bisa mengantarku naik mobil hari ini. 

“Permisi mbak, bisa berdiri? Anak saya mau duduk disini” ucap seorang ibu ibu.
“Loh, kan saya dulu yang duduk disini” ucapku sebal.
“Tapi kaki dia sedang sakit mbak. Tolong ya”

Aku melihat anak itu dengan wajah datar, dan mulai berdiri.

“Terima kasih mbak”
“Hm” ucapku datar.

Aku semakin sebal karena bus yang ku tumpangi tak sampai sampai ke sekolah. Kaki ku sudah sangat pegal, badanku penuh bau asap. Aku sungguh membenci ini semua. Untunglah sekitar 15 menit kemudian bus yang ku tumpangi telah sampai di sekolah. Dan sialnya, gerbang sekolahku sudah tertutup. Terpaksalah, aku menjalani hukuman dibawah teriknya matahari. 

“Yah, bu. Tadi busnya telat dateng jadi saya telat juga” ucapku mengelak.
“Tak ada alasan. Berdiri di lapangan dan homat bendera sampai bel istirahat pertama” ucap Bu Ningsih, guru paling galak yang pernah ku temui.

Peluh keringat membasahi sekujur badanku. Pegal tangan dan kaki sudah tak bisa di ungkapkan dengan kata kata lagi. Sinar mentari juga menambah penyiksaan pagi ini. Sesekali aku melakukan peregangan, namun sialnya Bu Ningsih mengetahuinya dan membentakku dengan sangat keras. 

Banyak anak lalu lalang yang melihatku dan menertawaiku, hari ini sungguh menyebalkan. Untunglah bel istirahat telah berbunyi. Aku segera berlari ke kantin dan menghampiri Rania. Menyeruput es tehnya, segar sekali rasanya.

“Itu punyaku” ucapnya datar.
“Aku minta ya hehe” ucapku sambal terus menyeruput es tehnnya.
“Dihukum Bu Ningsih ya?”
“Iya lah. Mana panas banget lagi, gak mikir ya tuh orang”
“Hush, dia guru. Ga baik ngomongin guru”
“Abis nyebelin banget sih” 
“Haha. Oh iya, tadi kamu dicariin kak Rendy. Katanya ditunggu di taman pas istirahat pertama” 
“Apa!? Serius!?” tak sadar aku berteriak. Dan seluruh pasang mata menatapku sekarang.
“Ssst. Iya aku serius. Temuin gih”
“Oke siap. Makasih Rania” ucapku kemudian berlari ke taman.
“Yaa, semoga berhasil”

Kak Rendy Pangestu, adalah lelaki yang aku sukai dari awal aku bertemu dengannya saat MOS sekolah. Lelaki tinggi, dengan paras tampan dan otak yang pintar. Dia adalah anak kelas 12 yang paling dekat denganku. Banyak rumor yang menyebar kalau aku adalah pacarnya karena kami terlalu dekat, namun aku segera mengelaknya. Aku sudah lama menunggu kepastian yang terus digantung dengan kerinduan dan berharap semoga penantian ini berujung kebahagiaan. 

“Yura?” panggil seorang dari belakangku.
“Eh, Kak Rendy. Tadi nyariin aku kenapa kak?”
“Itu dek, aku mau bilang kalau aku suka sama seseorang” ucapnya.

Deg. Jantungku berdegup kencang. Aku harap ini adalah penantian yang terbayarkan.

“Siapa kak?” ucapku penasaran, namun Kak Rendy hanya membalasnya dengan senyuman dan mengeluarkan sesuatu dari belakang tubuhnya, itu adalah bunga mawar. Ia berlutut didepanku dan mulai berbicara.

“Setelah sekian lama berfikir, mungkin inilah waktu yang tepat. Maaf kalau selama ini aku selalu membuatmu terus menunggu dan menunggu. Aku tahu, itu lelah, namun itu semua akan terbayarkan sekarang. Will you be Mine?” ucapnya.
“Yes, I will kak” ucapku dengan senyum penuh haru dan gembira.

Namun tiba tiba kak Rendy bangkit dan menaruh mawarnya kembali ke balik badannya.

“Makasih ya dek. Aku tadi latihan buat ngungkapin perasaan ke Rania. Aku suka sama dia. Makasih banget ya kamu udah mau bantuin aku selama ini” ucapnya dengan senyuman termanis namun terpahit bagi hatiku.

“O..oh. I.. iya. Sama sama” ucapku penuh rasa kecewa.
“Oke aku duluan ya. Mau cari Rania dulu” ucapnya kemudian pergi meninggalkanku.

Aku pun berjalan dengan lemas ke kelas. Wajah sudah tak bisa mewakilkan ke kecewaanku, hanya air mata lah yang bisa mewakilkannya. Aku pun terduduk lemas disamping jendela dengan pandangan buram karena penuh air mata.

Tak ada satupun yang peduli, mungkin hanya lah berbisik bisik saja, tak ada yang berani bertanya apapun kepadaku. Aku melihat Rania datang diantar oleh Kak Rendy ke dalam kelas. Senyum gembira telah terhias diwajah dua insan itu.  Rania yang menggenggam bunga mawar, dan Kak Rendy terus menerus tersenyum kepadanya. Sungguh tontonan yang sangat indah. Aku hanya bisa terus menggelamkan kedua wajahku didalam tangis hingga bel masuk dan bel pulang.

Tak lama kemudian bel pulang pun tiba. Para murid berhamburan keluar kelas, begitu juga aku. Saat di halte, kulihat Rania dan Kak Rendy pulang Bersama. Tawa bahagia sangat ter pampang di wajah mereka.

Saking bahagianya, Rania tak mengajakku berbicara sama sekali saat dikelas. Ia terus menerus memandangi mawar pemberian Kak Rendy sambil sesekali tersenyum. Aku hanya bisa memendam rasa kecewa tanpa berkata. Bus datang, aku menaikinya dan duduk di samping jendela. Rintik hujan menambah kesan drama dalam hidupku. Berharap pelangi menghiasinya setelah ini, namun ternyata petir menyambar di angkasa.

Gemuruhnya terus terdengar dan mentari kini bersembunyi. Setelah cukup lama berlabuh dalam deras hujan, bus pun berhenti. Aku segera berlari memasukki rumah. Di rumah sangat sepi, aku pun mengecheck handphone, ada pesan dari ibu.

Ternyata ayah dan ibu sedang pergi keluar. Aku pun memutuskan untuk tidur karena hujan diluar sangat deras dan petir terus menyambar. Beberapa saat kemudian aku sudah terlelap dalam tidur dan berusaha melupakan segalanya.

Tiba tiba suara rebut membangunkanku, seperti ada banyak hentakan kaki disekitar kamarku. Hingga ada seorang yang membangunkanku. Kulihat sekilas wajahnya, ia adalah Tanteku, Tante Icha.

“Yura, bangun nak!” ucapnya mebangunkanku.
“Apa sih, te?” tanyaku sebal.
“Ayah sama ibu udah gak ada, Ra!” ucapnya menahan tangis.
“Hah? Gak ada gimana maksudnya?” 
“Mereka udah pergi, Ra. Karena kecelakaan mobil yang mereka tumpangi. Petir menyambar pohon dan menyebabkan pohon itu tumbang menjatuhi mobi ayah dan ibu” jelas tante panjang lebar.
“Apa!!? Tante bohong kan? Tante pasti bohong!” ucapku kemudian berlari keluar kamar. 

Melihat kedua orang tuaku telah terbujur kaku tak bernyawa. Aku memeluk mereka dan hanya tangis yang menguasaiku saat ini. Hujan masih terus mengguyur, semakin deras dan deras. Petir tak mau kalah dengan derasnya hujan, ia terus bergemuruh dan memancarkan cercah cercah sinarnya di langit. 

Banyak orang berlalu lalang menyiapkan pemakaman. Ada Kak Rendy dan juga Rania, mereka menghampiriku dan terus memberikan bela sungkawa, namun aku hanya membalasnya dengan

“Pergi dari sini! Aku sudah tak butuh kalian lagi! Pergi dari hadapanku!!”
“Tapi? Kenapa? Kami salah apa?” jawab Rania.
“Aku bilang pergi ya pergi!!”

Lalu mereka pun pergi meninggalkanku. Akupun masuk ke dalam kamar dengan perasaan hancur, taka da satupun yang berani mendekatiku. Hingga pada akhirnya aku kembali masuk ke kamar dan tenggelam dalam tangis. Perlahan lahan pandanganku kabur dan semuanya gelap. Aku hanya mendengar suara suara aneh. 

“Berhentilah bersikap egois dan manja, dunia tak selamanya berpihak padamu.”
“Hidup itu penuh dengan kemandirian. Bersiap siaplah.”
“Berhentilah membenci seorang hanya karena kau merasa dirugikan.”
“Segala hal yang kau lakukan akan kembali kepadamu juga.”

Dan tiba tiba saja suara itu hilang dan aku terbangun. Saat aku bangun, keadaan menjadi terasa sangat aneh. Rumah kembali sepi, hujan berhenti, petir tak lagi memunculkan dirinya dan pelangi kini menghiasi langit. Tanpa banyak berpikir, aku segera meraih handphone dan menelpon ibu.

“Halo? Ibu!? Ibu dan ayah baik baik saja kan!?”
“Ya, ibu dan ayah baik baik saja. Kami akan segera pulang. Kenapa kau begitu khawatir?”
“Tidak apa. Aku baru saja bermimpi buruk.”
“Yasudah. Sampai nanti ya” lalu ibu pun memutuskan teleponnya.

Ada apa dengan ini semua? Tanyaku dalam hati. Namun aku tak terlalu memikirkannya, karena mungkin itu hanyalah mimpi buruk. Tiba tiba bel rumah berbunyi, ada seseorang didepan rumahku. Dan tampaknya itu adalah Kak Rendy. Tunggu, bukannya tadi dia sedang bersama Rania? Lalu mengapa sekarang di didepan rumahku? Tanpa berpikir panjang aku segera membukakan pintu dan bertanya kepadanya

“Loh? Kak? Bukannya tadi sama Rania?”
“Apa? Ngga kok, tadi aku sendirian. Aku masuk ya” ucapnya kemudian memasukki rumahku.
“Oh, iya” jawabku penuh bingung.

Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah semua itu hanyalah mimpi? Tapi hal yang baru saja aku alami terasa sangat nyata, termasuk gemuruh petir dan derasnya hujan. Tapi, mengapa sekarang malah ada pelangi? Begitu juga dengan Kak Rendy yang seharusnya pergi ke rumah Rania, bukan ke rumahku. Namun aku segera membungkam semua pertanyaa itu.

“Selamat ya kak udah jadian sama Rania” jawabku sambal menyuguhkan segelas teh.
“Hah? Apa? Pacarku kan kamu Yura, kok jadi Rania sih?” jawabnya bingung.             
“Loh? Tapi kok tadi?” belum sempat aku melanjutkan bicaraku Kak Rendy sudah  menyelanya.          
“Haduh udah dek, mungkin itu Cuma halusinasi kamu aja. Yuk kita jalan jalan ke taman” ajaknya
“Hah? Oh, iya” ucapku terbata bata

Tanpa banyak bicara, aku segera mengganti baju dan berjalan di taman bersama Kak Rendy. Ada beribu pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya, namun kurasa ini bukan waktu yang tepat. Lebih baik aku melupakan kejadian tadi dan hanya menganggapnya halusinasi semata.

Sepulang dari taman, sudah ada ayah dan ibu di rumah. Mereka tampak sehat sehat saja dan tidak ada bekas goresan sedikitpun di mobil. Aku kembali membungkam pertanyaanku dan menganggap kejadian tadi hanyalah halusinasi semata.

“Eh, ada nak Rendy. Habis dari mana?” tanya ibu.
“Itu tante, habis dari taman” ucapnya sambil mencium tangan ayah dan ibuku 
“Yaudah, masuk dulu aja” ucap ayahku.
“Iya, om. Makasih” balas kak Rendy yang kemudian masuk ke rumah disusul denganku. 

Jujur, keadaan ini masih sangat membingungkan. Apakah tadi itu hanyalah halusinasi atau mimpi belaka? Tapi, mengapa itu semua tampak nyata? Aku masih penasaran, namun keadaan indah ini membuatku lupa akan kejadian yang baru saja kualami. Keadaan dimana aku sudah benar benar mendapatkan seorang yang aku cintai sedari lama dan keadaan dimana ayah dan ibuku baik baik saja. 

Semakin hari hidupku semakin indah. Teman teman sudah tidak menyebutku egois, padahal aku tak merubah sikapku sama sekali. Mungkin memang benar itu semua karena mereka berlebihan. Rania juga tak merasa mempunyai hubungan khusus dengan Kak Rendy.

Bahkan Rania mengucapkan selamat dan meminta traktiran karena Kak Rendy baru saja menembakku. Berita tentang aku dan Kak Rendy juga sudah tersebar ke seluruh kelas. Teman teman yang biasanya tak peduli kepadaku kini peduli padaku. Aku tak lagi sendiri seperti biasanya. Aku merasa sangat senang dengan hidupku sekarang.

Hingga pada akhirnya hari ulang tahunku tiba, tepatnya pada tanggal 17 Juli. Aku menyelenggarakan sebuah pesta dirumah. Ada banyak teman yang datang, tidak seperti pesta tahun lalu yang hanya dirayakan oleh Rania dan aku saja. 

“Happy Birtdhay to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy happy birthday to you” nyanyian teman teman terdengar ke seluruh penjuru rumahku.
“Ayo tiup lilinnya” ucap Kak Rendy sambil memegang kue ulang tahun dengan lilin diatasnya.

Aku pun segera meniupnya, dan riuh tepuk terdengar disekitarku. Teman teman tertawa gembira bersamaku. Begitu pula dengan ayah dan ibu. Aku tak ingin momen ini berakhir begitu saja. Aku menerima sangat banyak kado di ulang tahun ke 17 ku ini. Semakin hari aku semakin merasa tidak sendiri lagi.

“Ayah, ibu aku ingin merayakan tahun baru dengan pesta kembang api. Boleh ya?” ucapku memohon.
“Apakah tidak terlalu berbahaya?” tanya ayah.
“Iya, nak. Lebih baik jangan, kembang api berbahaya” lanjut ibu.
“Yah, bu. Aku sudah bukan anak TK lagi. Aku bisa menjaga diri” elakku.
“Tapi musibah tak ada yang tahu, nak” ucap ibu.
“Sudahlah, aku tak peduli. Yang penting akum au sebuah pesta kembang api yang megah” ucapku.
“Hm, yasudah kalau begitu ayah turuti” ucap ayah.
“Yay! Makasih ayah, ibu” ucapku gembira.

Hingga pada akhirnya tepat pada akhir tahun baru, aku merayakan sebuah pesta kembang api. Kak Rendy menggenggam erat tanganku malam itu sambil kami menikmati indahnya kembang api. Banyak teman teman yang datang juga termasuk Rania.

Kembang api terus diluncurkan sepanjang malam. Kembang api itu indah, namun tak selamanya indah. Ketika cerah sinarnya telah habis, dia sudah tak berarti lagi. Saat kembang api terakhir diluncurkan, pandanganku terasa sangat buram, kepalaku pusing ber kunang kunang, hingga pada akhirnya aku jatuh ke pelukan Kak Rendy. Sekali lagi, aku mendengar bisikan yang telah lama tak ku dengar.

“Ini saatnya kau menghadapi kemandirian, rubahlah sikapmu.”
“Jangan takut akan kesendirian. Kau punya Tuhan yang selalu menemani.”
“Hadapilah kenyataan, tanpa merasa adanya penyiksaan.”

Aku terbangun dengan aroma yang khas, aroma infus. Terbalut selimut tebal dan alat pendeteksi detak jantung dengan suara yang menyebalkannya itu. Seorang duduk di sebelahku, aku tak tahu wajahnya dengan jelas, namun sepertinya dia tante Icha.

Pikiranku kembali melayang pada kejadian yang kuanggap halusinasi beberapa bulan yang lalu. Apakah kejadian itu adalah nyata dan kesenanganku itu hanyalah halusinasi?

“Loh, Yura? Kamu sudah siuman?” ucap tante Icha
“Tapi, bukannya tadi Yura lagi pesta kembang api akhir tahun? Dan sekarang kok dirumah sakit?” ucapku penuh kebingungan.
“Yura, itu semua hanya mimpi, nak. Kamu pingsan dan koma setelah kejadian wafatnya ayah dan ibumu satu bulan yang lalu. Lagipula, ini belum bulan desember, nak” jelas tante Icha.
“Jadi? Itu semua cuma halusinasi?” ucapku menahan tangis.
“Iya, Yura” ucap tante Icha lirih.

Hari itu aku semakin menyesal telah terbangun dari dunia nyata. Merasa bahwa dunia halusinasi ternyata jauh lebih indah, aku semakin menyesalinya. Hari itu juga aku hanya bisa menangis dan menangis karena merasa bahwa aku benar benar sendiri.

Tak ada lagi kepedulian ayah dan ibu yang bisa kuarasakan sekarang, aku benar benar harus hidup mandiri. Aku menyesal, karena tak mempersiapkannya sedari ayah dan ibu memperingatiku. Aku malah tak peduli dengan apa yang mereka katakana. Namun, aku sadar bahwa penyesalan tak akan berujung kebahagiaan.

Yang bisa kulakukan sekarang adalah membuat hidupku menjadi jauh lebih berguna dari sebelumnya. Aku harus merubah sikapku seperti apa yang ayah dan ibu inginkan. Berusaha untuk tidak khawatir akan kesendirian adalah kunci kemandirian. Percaya bahwa kebahagiaan pasti akan datang kepada orang yang mau bekerja keras, kebahagiaan seperti layaknya dunia halusinasiku.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Responses to "Kisah Inspiratif "Hallucination""

  1. Ceritanya bagus,menginspirasi sekali,semangat terus ^^

    BalasHapus
  2. Kereeen, plot twist-nya dapet. Tadi sempet hampir ketipu hehe. Alurnya sudah cukup bagus. Diksinya unik. Terus semangat berkarya ya kak! XD

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel