Kisah Inspiratif "Nasi Belum Menjadi Bubur"

KisahTerbaik.Com- Stori inspiratif ini dituliskan oleh Andi Nurpagi dengan judul "Nasi Belum Menjadi Bubur". Dalam kisahnya inilah ia memberikan sejumlah pengalaman hidup yang sangat berharga bagi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Terlahir dari keluarga petani dan pedagang disalah satu pelosok desa Kalimantan Timur kabupaten Berau, tidak membuat saya putus semangat dan malu untuk memiliki cita-cita yang besar. Tinggal di pedalaman yang masih hangat dengan hijaunya pepohonan di hutan tidak membuat saya mau untuk kalah semangat dengan orang-orang di kota dalam menuntut ilmu.

Meskipun tak jarang kegagalan yang menghampiri saya membuat lirih dan kesal di dalam hati, tak jarang saya merasa ditertawakan oleh kegagalan yang telah berhasil merenggut sedikit rasa semangat yang saya kumpulkan kembali sedikit demi sedikit.

Perjuangan ini berawal dari keraguan saya untuk melanjutkan kuliah ke kampus terbaik di Indonesia, mengingat sejak SMP saya memang karena sering mendapatkan bantuan beasiswa untuk keluarga kurang mampu.

Ketika saya mendaftar SNMPTN (jalur undangan) pun banyak keraguan saya untuk diterima di impian saya. Hingga tibalah saatnya pengumuan bahwa saya lulus di pilihan pertama di Fakutas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, tentunya senang sekali hingga berkali-kali mengucap syukur kepada Allah SWT.

Masalah biaya kembali menjadi penghambat impian saya untuk dapat berkuliah ke UI, tak hanya untuk biaya kuliah namun biaya transportasi untuk menuju kesana masih belum cukup sepertinya. Benar saja dugaan saya ketika mengabarkan kelulusan saya di kampus impian ini kepada kedua kakak saya yang kebetulan merantau untuk bekerja, mereka menolak dan karena mengkhawatirkan kedua orangtua saya yang hanya tinggal berdua jika saya merantau juga ke Depok ditambah lagi usia orangtua saya ini sudah terbilang tidak muda lagi.

Setelah dua hari pengumuman ini, saya baru berani memberitahu kedua orangtua saya, tidak mudah memang, saya harus menjelaskan secara rinci kepada mereka karena memang pemahaman yang kurang akan hal ini dan memang kedua kakak saya tidak ada yang berkuliah sebelumnya.

Bantuan dan dukungan keluarga untuk meyakinkan orang tua saya akhirnya membuahkan hasil yang baik.

H-3 keberangkatan kami, saya diam-diam menghubungi guru saya di Rawamangun yang kebetulan bersedia mengajari saya sejak kelas 2 SMA secara les online yang tidak sengaja diperkenalkan di Facebook. Awalnya saya tidak kenal dengan bapak ini namun begitu rapih Allah membuat skenarionya untuk saya.

Ibu saya bilang “kalau ke Jakarta mau menginap di mana?” kemudian saya menceritakan semuanya tentang keluarga baru saya di Rawamangun dan kebetulan beliau pun lulusan UI jadi tidak sulit untuk menuju ke UI untuk daftar ulang ketika itu.

Alhamdulillah beliau mau membantu kami selama kami di Ibukota karena memang kami pun belum pernah ke sini sebelumnya dan tidak memiliki keluarga satu pun di sini.

Syukurlah daftar ulang saya berjalan dengan lancar dan semua rangkaian acaranya telah saya ikuti. Ketika bersantai duduk bersama guru saya di rumahnya, beliau bertanya “berapa nak uang kuliahnya?” saya menjawab “3 juta pak, dan alhamdulillah kebetulan orangtua saya menyanggupinya”.

Guru saya ini memberikan saya saran untuk mendaftar Bidikmisi (salah satu beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu) karena mengingat biaya kuliah di fakultas Kedokteran Gigi UI mahal dan harus membeli alat-alat untuk praktikum dan sebagainya.

Saya justru baru tahu kalau ternyata memang kuliah di jurusan saya ini semahal itu karena memang
awalnya saya kurang informasi. Mendengar saran dari beliau saya teringat ketika saya juga disarankan oleh guru saya di sekolah untuk mendaftar Bidikmisi, namun ketika itu saya terlewat waktu pendaftaranya karena memang kurangnya informasi dan sosialisasi dari sekolah, maklum sekolah kami berada di kota kecil jadi untuk mencari informasi secara mandiri pun masih terasa kurang maksimal.

Beberapa bulan kemudian ketika menjalani beberapa rangkaian ospek di kampus, saya dihubungi oleh salah seorang kakak tingkat dan menyarankan saya untuk ikut mendaftar Bidikmisi tahap kedua. Tentunya kabar ini menjadi kabar yang sangat baik untuk saya, dan saya mengabarkan kepada orangtua saya untuk melengkapi beberapa berkas persyaratan.

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa saya diterima pada beasiswa Bidikmisi ini. Alhamdulillah ya Allah rezeki yang engkau berikan begitu berlimpah, setelah lulus SNMPTN (jalur
undangan) kemudian saya lulus juga di Bidikmisi.

Satu semester berlalu, saya menjalani hari-hari kuliah seperti mahasiswa pada umumnya. Kesulitan-kesulitan dalam akademik pun mulai menghantui saya. Saya juga sadar karena memang ketika di SMA saya kurang begitu menyukai pelajaran Biologi (yang justru menjadi materi dasar saat saya kuliah dan akan selalu bertambah kesulitannya), bahkan saya mengulang beberapa mata kuliah untuk mendapatkan predikat lulus di semester itu.

Saya sangat merasa sedih, ingin bercerita ke orangtua pun tak berani saya takut hal ini mnejadi beban mereka.

Sangat kehilangan motivasi semenjak satu semester saya lalui, berat memang. Teman-teman dekat pun belum punya karena saya anak rantau dari desa yang masih kurang bisa menyeimbangi gaya hidup anak-anak ibukota.

Disaat itu pula saya merasa sangat minder, merasa menjadi orang yang paling bodoh, teman- teman saya dapat dengan mudah mencapai predikat lulus bahkan dengan nilai terbaik, kenapa saya tidak bisa? dan saya pun merasa tidak menyukuri nikmat tuhan.

Saya merasa sangat gagal. Baru satu semester saja sudah sangat gagal, bagaimana kedepannya dengan tantangan yang lebih besar?
Saya ingin pulang kampung saja.

Belum bisa menerima keadaan ini, ketika sedang duduk di meja belajar saya tiba-tiba berfikir “Aku sudah tidak bisa merubah nasib lagi, mungkin ini hanya hadiah sementara dari Allah, aku menyerah dan ingin pulang. Aku tidak ingin jadi dokter gigi, cukup gantungkan saja cita- citaku di dalam lemari bukan untuk digantungkan setinggi langit. Pikirku kala itu”

Faktor adaptasi terhadap lingkungan dan cara belajarlah yang ketika itu hampir merenggut cita-cita besarku. Perasaan selalu ingin pulang ke rumah membuat suasana hati pun tak mantap untuk mencerna pelajaran.

Di tambah lagi sehari-hariku terasa sepi tanpa teman bercanda dan bermain seperti biasanya.

Hingga akhirnya aku mendapatkan titik terang dari kekecewaanku ini, melalui sebuah mimpi ketika orangtua dan keluargaku tersenyum bahagia ketika datang ke klinik gigi yang ku dirikan.

Ya, aku yakin ini adalah petunjuk bahwa aku harus bangkit, dan harus tetap semangat. Aku yakin, proses yang kulalui kemarin memang wajar sebagai bentuk adaptasi dan pendewasaan diriku terhadap apa yang sedang ku hadapi.

Hingga kini aku telah memasuki tahun ketiga kuliah. Alhamdulillah lebih terasa ringan, proses belajar pun secara perlahan mulai terasa mudah berkat doa orangtua dan bantuan teman-teman di sekitarku. Bahkan aku sudah dua kali menjadi pembicara dalam memotivasi anak-anak SMA dalam melanjutkan pendidikannya, ketika itu pertama kali di daerah Depok dan untuk kedua kalinya di daerah kelahiranku, Berau dan masih banyak lagi pengalaman berharga yang aku dapatkan.

Seburuk apapun, tetaplah yakin bahwa nasi yang sedang digenggam belumlah tentu menjadi bubur, ketika kita mau berusaha. Hal yang selalu aku tanamkan pada diriku, “bahwa kesuksesan yang datang bukan berasal dari satu kegagalan, namun berasal dari seribu kegagalan dan tetap jadikan tuhan sebagai senjata dirimu”- Semangat pejuang

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Nasi Belum Menjadi Bubur""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel