Kisah Inspiratif "Pulau Panjang dan Wanita Perindu"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah inspiratif ini berjudul "Pulau Panjang dan Wanita Perindu" yang ditulis oleh Hayati. Dalam stori ini ia membagikan sejumlah cerita yang dapat menjadi inspirasi bagi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Pada batas waktu kita selalu diuji pada rasa yang membuat hati tak karuan, ada yang bilang sakit jika merasakannya, perih, dan ingin menjauh dari rasa itu karena tidak tahu pada detik keberapa dan dimana rasa itu hilang, mereka menamai itu dengan rindu.

Ketika infocus terpasang dengan rapih, kemudian video buah karya dari team pubdekdok berhasil membuat wajah bahagia, ada tawa yang terselip, hingga siap untuk merasakan rindu. Bukankah kita ditakdirkan berpisah dan harusnya kita sadar pada awal permulaan perkenalan kita akan mengalami hal itu bukan? Mari kita menanam rindu! Hinga pada skenario ke berapa Tuhan menakdirkan kita untuk bersama.

Iri mengaliri diri, ketika banyak tampilan foto yang begitu bahagianya berbagi pada anak-anak kecil, memberikan motivasi, mimpi pada mereka. Iri pula ketika banyak wajah yang ceria menanam mangrove di tepian laut Pulau Panjang, berkuyup ria sambil menancapkan tumbuhan gagah itu agar pulau ini bisa terjaga dari amukan ombak.

TBM pun berhasil membuat diriku iri, bagaimana lemari buku yang sederhana itu beriskan 200 buku hasil sumbangan dari kawan-kawan peserta PENGMAS lintas berpuluh Sekolah seluruh Indonesia.

Ya video sungguh membuat diriku iri tak berujung. Inginku berkisah pada tiga orang wanita di ujung dermaga sana, yang menyatukan Pulau Panjang dan Bojenogoro. Maka Simaklah rentetan huruf ini, apakah berhasil membuat diri kalian iri pada sosok 3 wanita yang menemaniku 3 hari lamanya. Mereka adalah wanita tangguh, yang berhasil memendam rindu kepada orang yang dicintainya.

“Bu, kok nggak ada remaja di sini?”
“Pada di daratan Nong, kalau mau SMA harus nyebrang” jawabnya sambil meracik bumbu dengan wajah sendu.

Ya, hari-hariku di pengabdian masyarakat tidak jauh dari berbagai jenis bumbu, sayur- mayur, penggorengan, panci, tungku, dan senjata masak lainya. Bersama Niken kawan seperjuanganku, pada hari ke-2 akhirnya kami bisa membantu mereka secara langsung tidak lagi hanya menelpon “bu hari ini menunya ini yaa..” bisa fokus di hari selanjutnya, karena jumlah panitia bertambah walau merasa heran sudah membungkus 90 makanan tapi tetap saja kurang, ternyata pendistribusiannya yang salah dan tak tepat (untuk teman-teman peserta dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf).

Awalnya kami mengira mereka adalah Ibu-Ibu yang jutek, ternyata salah itu adalah wajah pembawaan yang mungkin ada beberapa orang yang merasa mereka menyeramkan, padahal hati mereka sangat lembut tak karuan.

“Iya nong Ibu sendirian di sini!” semakin lama sang Ibu semakin terbuka dan menceritakan tentang keluarganya.

Kalau kau datang kemari, sulit untuk menemukan remaja. Karena mereka sedang berada di kota Serang-Cilegon demi menuntut ilmu di bangku SMA. Tidak ada pilihan selain ngekos atau mondok. Karena transportasi berupa kapal sungguh tidak memungkinkan.

Kapal paling pagi saja pukul 09.00 WIB. ‘kenapa tidak mencharter saja’ rasanya berat kawan! Karena dengan mencharter sama saja telah mengeluarkan uang yang cukup besar, Rp.500.000,-.

Jadi, entah sampai kapan para wanita, Ibu-Ibu harus memandam rindu pada anak- anaknya yang beranjak ABG, kepada suami yang menjadi TKI di Arab Saudi. Hal yang menyakitkan bagi seorang wanita bukankah menunggu rindu itu hilang?

Pada hari pertama, sulit untuk menemukan ukiran senyum dari ketiga wanita itu, hingga pada akhirnya hari ke-2 ada seorang panitia berlaku seperti anak kecil, datang ke dermaga siap membantu sambil berkata ‘good morning bu!’ dan serempak mereka tersenyum sumringah dengan gigi putihnya. 

Berpedekate menanyakan keadaan kabar, siapa anaknya, bagaimana kehidupannya, bagaimana persiapan persalinannya. Ada seorang ibu yang sedang hamil 8 bulan, dengan perutnya yang sebesar itu sang ibu tidak merasa lelah dan bersemangat membantu kami ‘terimakasih bu!’

Sebagai seorang wanita, memahami betul apa yang dirasakan mereka. Tatkala senja hadir, dan motor siap mengantar kami ke tempat penginapan di Kampung Peres sambil membawa berbungkus-bungkus makan malam, ketiga ibu secara bergantian mengatakan ‘udah Nis, Ken di sini aja! Supaya rame rumah ibunya’ ucap ibu sambil tersenyum penuh harap. Setiap akan beranjak pasti ibu selalu berkata demikian.

“Sabtu jangan pulang ya! Di sini aja, tinggal bareng ibu!” seketika haru memasuki raga kami. Bagaimana sungguh rindu itu terasa dalam. Hingga mereka menganggap kami sebagai anaknya.

Merekalah para perindu, hingga entah kapan kita saling kembali menyatu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Pulau Panjang dan Wanita Perindu""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel