Kisah Inspiratif "Sembuh"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah inspiratif ini dituliskan oleh Azizah Atmayani dengan judul "Sembuh". Dalam ceritanya ia menggambar tentang makna kehidupan bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisah Inspiratifnya...

Aku pusing memikirkannya. Tagihan pembayaran kontrakan semakin tinggi, bahkan yang bulan ini saja belum lunas. Semua gajiku kugunakan untuk membayar hutang-hutang lama, dimana aku sangat memerlukan uang saat itu.

Helaan napas terdengar sembari mengusap wajah gusar. Kulihat lagi pengeluaran bulan ini yang semakin bengkak. Aku heran, padahal aku sudah cukup sangat hemat. Tapi kenapa tetap saja ada pengeluaran? Bahkan pengeluarannya gak kira-kira.

Seratus ribu…
Lima puluh ribu…
Seratus ribu lagi…
Lima puluh ribu lagi..

Semuanya kugunakan untuk membeli kuota, mie instan, sayur dan lauk-lauk untuk satu hari. Pantas saja…dalam kurun dua minggu aku bisa membeli kuota lima puluh ribu. Gajiku dalam sebulan tak dapat menutup kekurangan ini.

Lelah.
Rasanya mau bunuh diri saja.

Kulihat jam menunjukkan pukul 7 pagi. Aku harus segera pergi ke tempat kerja karena sebentar lagi aku akan menggantikan shift malam. Baju dan celana putih yang kugantung di belakang pintu kukenakan, lalu memakai jaket berbahan jeans dan menaiki motor gigi yang mulai pudar kulitnya. 

Bahkan nama motor tersebut hampir tak terlihat.

Ini adalah pemberian ayahku dulu. Kugunakan motor ini untuk kuliah, kerja dan jalan- jalan. Membayar servisnya saja sudah membuatku pening, makanya aku jarang membawanya kecuali jika sudah kutemukan kerusakan.

Hidup di kota perantauan memang berat, apalagi jauh dari orangtua. Seharusnya setelah menyelesaikan studiku di Sekolah Tinggi Kesehatan jurusan Keperawatan, aku langsung kembali ke kampung halamanku untuk bekerja disana. Namun aku sudah mendapatkan pekerjaan disini, mau tak mau aku akan kembali jika aku mendapatkan jatah libur yang lama.

Sebenarnya aku sudah merindukan orangtuaku, merindukan adikku, keluargaku disana. Tapi mau bagaimana? Kita hanya dapat berkomunikasi melalui ponsel. Mendengar suara dan tawa, tahu bahwa mereka baik-baik saja padahal sedang merindukan anak tertuanya.

PIPP!

Suara itu mengagetkanku. Kulihat lampu lalu lintas yang bewarna hijau, segera aku membawa motorku menuju jalan raya. Jalanan yang penuh dengan kendaraan itu kutatap dengan datar. Aku lelah hidup seperti ini.

Sesampainya di RSUD dr. A. Rachim, kuparkirkan motorku tak jauh dari gedung administrasi rumah sakit dan masuk ke gedung perawatan. Seperti biasa, bau obat menyeruak memasuki indera penciuman. Aku sudah terbiasa mencium bau seperti ini yang sudah menjadi bagian hidupku.

Mulai minggu ini aku ditempatkan ke ruang penyakit dalam pria. Kulihat kebanyakan orang-orangtua yang sudah berumur di atas 30 tahun yang dirawat disini. Perawatannya pun perlu keahlian khusus, mengingat mereka adalah orangtua.

“Nih, bang Handi.” Tia, perawat perempuan yang juga bertugas disini memberiku sebuah suntikan bewarna putih bening. Diluarnya tertempel label obat disana bertuliskan toramine.
“Tolong ya, bed 3.”

Kulihat suntikan tersebut yang lengkap dengan nama pasien dan nomor bed disana lalu bertanya, “Jam berapa nih?”
“Jam 8, bang!”

Saat kutolehkan kepalaku pada jam dinding, kulihat jarum panjang yang mengarah ke angka 11 dan jarum pendek ke angka 8. Kubawa suntikan tersebut menuju pasien dengan bed 3 bernama Pak Tono.

“Permisi.”

Aku memasuki sebuah kamar dengan nomor tiga yang tertempel di pintu kamar. Kulihat seorang bapak tua yang kuperkirakan berumur sekitar lima puluh tahun. Aku belum memastikan karena belum melihat buku status pasien.

“Pak Tono, kita kasih obat dulu ya.”
“Iya, mas.”

Aku membuka penutup suntikan lalu memasukkan obat tersebut melalui jarum infus. Kulihat Pak Tono yang merasa nyeri, membuatku bertanya, “Sakit, pak?”
Ia mengangguk. “Sakit, sih. Tapi gak papa, biar saya sembuh.”

Di saat itu aku terenyuh mendengarnya. Seorang bapak-bapak tua saja berniat sembuh dari penyakitnya. Kenapa aku yang baru mendapat masalah sepele langsung ingin mengakhirinya?

“Sudah, ya pak.,” ucapku sambil tersenyum. “Obatnya jangan lupa diminum ya.”
“Siap, mas ganteng!”

Aku terkekeh mendengar pujian dari bapak tua itu. Saat aku melangkahkan kaki keluar kamar, aku kembali merenungkan kata-kata Pak Tono barusan. Meskipun sakit saat dimasukkan obat, tapi ia membiarkannya asal ia sembuh.

Aku? Saat masalah datang aku malah ingin mengakhirinya. Aku menggeleng pelan. Aku tidak boleh menyerah pada keadaan. Masih ada keluargaku yang menunggu di kampung!.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Sembuh""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel