Kisah Inspiratif "Tiga Ekor Burung"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita inspiratif ini dituliskan oleh Diana Pasaribu dengan judul "Tiga Ekor Burung". Dalam kisahnya ia membagikan sejumlah pengalaman berharga bagi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Mentari tersenyum padaku ketika aku bangun pagi. 3 ekor burung di depan pintu bernyanyi dengan merdu sembari memberi pesan bahwa segala sesuatu tidak perlu dikhawatirkan. Semuanya akan baik-baik saja.

Sebagian besar di antara kalian pasti pernah mendengar cuplikan lagu di atas yang dibawakan oleh pelantun lagu bergenre reggae kelas dunia, Bob Marley. Akulah salah satu penggemarnya. Tapi, kalian harus tahu bahwa aku lebih menyukai versi Maroon 5 dibandingkan Bob Marley, karena temponya lebih cepat dan vokal pada pengisi suara tambahannya lebih “berwarna”.

Yah, kalian pasti mengerti apa yang kumaksud. Selain itu, musik pengiringnya pun tampak lebih bersemangat. Pada lagu Maroon 5, pesan yang terbungkus dalam reffrain terdengar lebih lugas dan kuat karena irama di reffrain terdengar lebih bersemangat. Namun, suara Bob Marley tetaplah juaranya, karena lagu yang dibawakan dengan model genre tetap lebih cocok dinyanyikan oleh Bob Marley, tidak tertandingi oleh yang lain.

Aku mendengar lagu itu dari salah satu acara musik di televisi. Sebelumnya, aku pernah mendengarkan lagu tersebut di salah satu konser Jason Mraz bersama Sungha Jung, dan kebetulan lagu tersebut dinyanyikan setelah lagu “I’m Yours”.

Aku mendengarnya di youtube. Tetapi, ketika aku mendengarnya sekali, aku langsung jatuh cinta pada lagu tersebut. Maka dari itu, ketika aku mendengarnya di televisi, dengan cepat dan sigap mataku tertuju pada bawah layar televisi demi melihat judul lagu tersebut, dan lagu tersebut adalah versi Maroon 5.

Ketika aku hendak mengunduh lagu tersebut setelah aku mengetahui judul lagunya, rupanya adikku sudah terlebih dulu mengunduhnya di komputer jinjing milik kami. Tanpa basa-basi, aku langsung mengambil kabel pendengar suara kemudian mendengarnya di komputer jinjing. Ah, rasanya aku ingin tersenyum sepanjang hari. Raut wajahku mendadak ria ketika mendengarnya.

Lalu, lagu tersebut kupindahkan ke dalam ponselku. Rasanya aku ingin menikmati hari-hariku hanya dengan mendengar lagu ini tanpa lagu-lagu lain. Kujelajahi alam di luar rumah dan kulihat langit biru yang menghampar di atas sana.

Seketika itu pula terbanglah 3 ekor burung di angkasa dengan cicitan merdunya, dan senyuman lepas itu muncul dengan tulus dari bibir kecilku. Entah mengapa aku merasa bahwa hatiku amat tenang melihat keindahan ini. Aku bersyukur atas apapun yang terjadi, dan aku yakin bahwa segala sesuatu akan kembali normal. Semuanya akan baik-baik saja.

***

Lagi, aku kembali berbincang-bincang sendiri di depan cermin dalam mimpiku, kemudian aku tersadar akan mentari yang telah menghangatkan suhu kamarku. Aku pun membuka pintu menuju balkon.

Aku menunggu sesuatu sembari berharap akan langkah-langkahku yang akan kujalani pada hari ini. Namun, yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang setelah aku menjemur diriku selama 12 menit. Aku berbalik dengan raut hampa menuju bilik kamar dan menyatakan bahwa semuanya hanyalah kesia-siaan hidup. Aku telah berpikir bahwa hari ini adalah hari-hari tanpa warna, hari hari dengan beribu masalah yang sudah mengantre di depan pintu. Biasa.

Tanpa mengulur waktu, aku pun bergegas, kemudian berjalan menuju beranda. Hari ini sarapanku seadanya, hanya nasi dan telur. Namun, ada hal yang tak terduga. Telur yang tersedia di piringku berjumlah 3. “Untuk apa sebanyak ini?”, pikirku. Aku pun langsung teringat dengan mimpiku semalam.

3 ekor burung sudah menunggu di depan pintu dan memberi pesan kepadaku
bahwa semuanya akan baik-baik saja.”

Namun, aku tahu persis bahwa telur yang hendak kumakan adalah telur ayam, bukan telur burung apapun. Tetapi, tetap saja ada sesuatu yang mengarahkanku untuk menggali filosofi telur ayam yang hendak kumakan ini. Akupun menghabiskan makananku dengan lahap, kemudian berlari menuju teras karena aku terburu-buru.

Aku tersadar bahwa di sana tergantung 3 buah sarang burung, masing-masing terdapat sepasang burung jantan dan betina. Kemudian, aku mendengar cicitan burung kecil yang baru saja menetas dari cangkang telur.

Masing-masing sarang terdapat 1 buah telur. Artinya, jumlah semua telur adalah 3 butir. Itu sesuai dengan jumlah telur yang baru saja kumakan. Seketika itu juga, pandanganku langsung berubah.

Matahari menyinari ketiga burung kecil itu, dan aku tersenyum bahagia melihat hal ini. Aku sejenak menarik nafas dan menghembuskannya. Aku merasa bahwa ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, anugerah yang patut kusyukuri.

Akhirnya, kumantapkan langkahku dengan menghentakkan kakiku yang sudah terbungkus oleh sepatu pantovel dan berjalan menuju jalan yang telah ditetapkan kepadaku. Jalan itu tidak dapat diubah, bahkan setitikpun.

Tapi aku yakin, ini adalah jalan yang terbaik yang pernah ditetapkan kepadaku. Mulai sekarang, aku tidak akan gentar lagi. Aku yakin, semuanya akan baik-baik saja. 3 burung kecil memberiku pengertian bahwa hari yang baru telah datang, layaknya mereka yang telah mendobrak cangkang-cangkang telur itu untuk melihat dunia yang baru.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Inspiratif "Tiga Ekor Burung""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel