Kisah Komitmen Perjuangan Hamid Fahmy Zarkasy Tokoh Oksidentalis Indonesia

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori ini dituliskan oleh Mohammad Auliyaur Rosyid dengan judul "Komitmen Perjuangan Hamid Fahmy Zarkasy Tokoh Oksidentalis Indonesia". Dalam cerita ini ia membagikan sejumlah pengalaman dari tokoh inspiratif.

Begini, Kisahnya...

Jika kalian tidak mengenal orang tersebut mungkin kalian bisa mengenal pesantren modern Gontor. ya, beliau adalah satu guru pengajar disana. Tepatnya di Jl. Raya Siman Km. 6, Siman-Ponorogo, Universitas Darussalam Gontor. beliau adalah putra KH. Imam Zarkasyi, salah satu dari tiga pendiri pesantren Gontor.

Pencarian jati dirinya dimulai dengan menamatkan Kulliyah Muallimin Indonesia, kemudian melanjutkan studinya di ISID (sekarang UNIDA) kampus yang akan menjadi perjuangannya kelak. Tapi dahaga keilmuannya masih terlalu besar. Akhirnya beliau melanjutkan studi S2-nya di University of Punjab, Lahore (1986) di bidang pendidikan.

Tapi intuisinya berkata bahwa ia harus menekuni bidang pemikiran Islam, hingga akhirnya beliau melanjutkan di Universty of Brimingham United Kindom (1998). Tidak cukup sampai disitu, beliau kemudian mengikuti kata hatinya untuk melanjutkan studi s3-nya di Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) dalam bidang yang sama. Begitulah kisah hidup seorang Hamid Fahmy Zarkasyi.

Salah satu cerita yang paling saya ingat tentang beliau ketika dia mengalami masa-masa kehilangan ketenangan batinnya. Studinya di Inggris membuatnya terombang-ambing diantara identitas keislamannya atau menjadi seperti Barat.

Dan suatu ketika beliau menemukan sebuah buku karya dari Syed Naquib Alattas (pendiri ISTAC). Entah, waktu itu saya tidak berani bertanya tentang judul bukunya. Tapi yang pasti buku itu telah mengubah sikap dan pandangan keislamannya selama di Inggris.

Tidak sampai disitu ia kemudia mencari tahu siapa penulisnya dan dimana dia hidup. Membaca berbagai karya-karyanya dan Tak ayal studinya ke Malaysia adalah semata untuk berguru kepada Syed naquib.

Dimata para pujangga hati Hamid muda seperti Laila yang jatuh cinta pada Qais. Jika Laila mengenal sang Qais dari surat-suratnya begitupun Hamid muda, ia mengenal Syed Naquib dari karyanya.

Studinya di Malaysia akhirnya membentuk sikap dan pandangannya sampai sekarang. Komitmennya untuk mengcounter pemikiran-pemikiran Barat dapat dibuktikan dengan kiprahnya di Indonesia. Hamid Fahmy Zarkasy beserta teman-temannya mulai mendirikan INSIST (Institute for Study of Islami Thought and Civilazation).

Lembaga yang mengkaji pemikiran-pemikiran Barat dari perspektif Islam. Disana beliau menjabat sebagai direktur. Selain itu beliau juga mendirikan CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies) di UNIDA Gontor.

Hamid Fahmy juga mendirikan PKU (Program Kaderisasi Ulama) yang bekerjasama dengan MUI Pusat. Baik di CIOS maupun PKU aroma kritik terhadap pemikiran Barat (Orientalisme) sangat kental. Ia juga diangkat sebagai Pimpinan Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Sebuah organisasi yang menghimpun berbagai tokoh ormas Islam di Indonesia.

Pernah suatu ketika beliau bercerita tentang kekesalan teman-temannya sewaktu di Inggris. Mereka menyayangkan perubahan yang terjadi pada diri gus Hamid. Tidak seperti di Inggris yang menyukai pemikiran-pemikiran Orientalis, sekarang dia malah mengkritiknya habis- habisan. Bahkan salah satu dosennya pernah menyinggungnya “Dia (Gus Hamid) kacang yang lupa pada kulitnya”.

Tetapi dengan tenang beliau membalas sindiran tersebut, “ya, saya kacang yang lupa pada kulitnya, tapi anda adalah kulit yang lupa pada Tuhannya”.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Komitmen Perjuangan Hamid Fahmy Zarkasy Tokoh Oksidentalis Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel