Kisah Misteri "Camp di Gunung Puntang"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah misteri ini ditulis dari hasil pengalaman nyata Novi Nur Damayanti dengan penulis Pupah Pauziah, judul kisahnya "Camp di Gunung Puntang". Dalam stori nya ia membagikan hal-hal yang dianggap mistis ketika berada di gunung.

Begini, Kisahnya...

Namaku Novi, aku adalah murid SMA di salah satu sekolah swasta di kota Cimahi. Aku juga adalah siswi yang aktif dalam berorganisasi maupun ekskul kesenian. Saat ini aku duduk di bangku kelas XII. Aku punya kisah yang menarik yang pernah kualami, maka dari itu aku ingin berbagi kisahku selama berada dalam camp di Gunung Puntang.

Hari itu, aku bersama anggota Kesenian melakukan sebuah camp yang di dalamnya bertujuan untuk melantik para siswa/siswi. Aku yang sebagai senior tentu bertugas sebagai panitia, dan aku tergabung dalam panitia DU (Dapur Umum) tentu tugasnya adalh menyiapkan makanan dan tugas lainnya yang berhubungan dengan dapur. Lokasi penempatannya adalah di tepi jurang, sedikit jauh dari tempat camp. Panitia DU ini beranggotakan vina, ayundari, dan tentunya aku sendiri.

Hari Jum’at, tepat di malam Sabtu salah satu panitia di DU bernama Vina melihat sesosok bayangan besar yang tidak ia ketahui itu makhluk jenis apa. Aku tahu bagaimana ketakutannya melihat sosok seperti itu, menakutkan dan menyeramkan.

Meski pun hanya sebatas bayangan besar dan hitam, bisa dipastikan itu bukanlah makhluk yang berasal dari dunia kita. Makhluk seperti itu tentunya datang dari dunia yang berbeda dengan kita. Entah maksud mengganggu atau meminta tolong kita tidak pernah tahu tujuan makhluk ghaib tersebut.

Saking terkejutnya, Vina merasa tak mampu menahan diri sehingga dirinya pingsan. Sedikit ngeri atas kejadian di malam pertama camp saat itu. Aku juga tidak menyangka akan ada korban dari hal mengerikan itu.

Langsung saja Vina dibawa ke camp UKS. Tersisalah aku dan Ayundari. Salah satu temanku yang bernama Ayundari itu berkata, “Nov, aku ke DU dulu. Mau bikin energ*n buat adik kelas.” Ia melenggang pergi sendirian di kegelapan malam yang mencekam menuju DU yang lokasinya tepat di tepi jurang. Aku tahu, itu tindakan yang sangat berani untuk melakukannya di sebuah hutan tepat pada malam hari.

Kebetulan saat itu juga aku ingin mencuci piring di WC umum yang ada disana. Kami pergi bersama dan terpisah jauh. Aku mencuci piring dengan santai dan tenang di kegelapan malam. Berhubung aku terpisah dengan Ayundari, aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya.

Yang aku tahu adalah setelah dia bercerita padaku mengenai kejadian yang dia alami di DU. Katanya, dia sempat dijaili sosok yang tak ia tahu. Ia berpikir bahwa dirinya dijaili temannya. Namun setelah beberapa lama, dirnya kerasukan makhluk tak kasat mata.

Ia mengamuk dengan tak jelas membuat seluruh peserta pelantikan ricuh, hal ini membuat kondisi pada malam itu tak kondusif. Beberapa panitia laki-laki maupun perempuan berbondong menolong menyadarkannya dari jeritan tak jelas namun pilu untuk di dengar, Ayundari segera di bawa ke camp UKS.

Aku yang menjadi partnernya di malam itu menyesal karena tak dapat menemaninya. Tak berapa lama kemudian, ia pingsan begitu saja. Membuat semua orang panik untuk yang kedua kalinya setelah kejadian yang menimpa Vina.

Akhirnya hanya aku seorang yang tersisa di bagian DU.

Setelah malam itu terjadi, keadaan kembali seperti semula dengan normal, teman-temanku pun sudah lebih baik dari sebelumnya. Dan aku yang menyelesaikan semua keperluan di bagian DU. Tak ada yang terjadi saat aku melaksanakan semua tugasku di DU, seberapa penasarannya aku tetap saja taka da kemunculan yang berarti.

Namun, hanya suara bisikan-bisikan tak jelas yang aku abaikan, beruntung taka da hal berarti yang terjadi. Malam itu aku memasak dengan sendirian tanpa bantuan siapapun, bertemankan sebuah cahaya dari ponselku aku dengan tenang memasak untuk semua peserta pelantikan.

Sesudahnya, aku makan sendiri disaat semua orang telah terlelap dan menuju alam mimpi. Aku kemudian masuk tenda saat waktu telah menunjukkan untuk beristirahat di malam hari. Aku mulai memasuki tenda, berhubung tenda yang di pasang adalah tenda besar, maka semua orang di gabung untuk beristirahat disana.

Aku memilih tidur di samping Fachri, temanku sedari SMP. Namun, bukan kenyamanan yang kudapati, malah suara berisik bunyi pasukan baris-berbaris terdengar dengan jelas di telingaku saat tubuhku telah ku baringkan dan ku pejamkan mataku.

Aku keluar, melihat keadaan di luar, namun hasilnya semua tenda tertutup dan semua orang sudah tertidur. Aku kembali, kemudian memejamkan kembali mataku. Suara itu terdengar lagi. Kali ini, aku mendengar suara lantang komandan pasukan malam-malam itu dengan bahasa yang tak ku mengerti, namun aku berpikir bahwa bahasa yang digunakannya adalah bahasa Belanda.

Entahlah, aku tak terllau tahu dengan pasti Awalnya aku mengabaikan, namun semakin lama, semakin lama aku penasaran. Kemudian aku bangunkan Fachri dan bertanya kepadanya yang saat itu tengah tidur di sampingku.

“Fai, kamu dengar suara pasukan baris-berbaris, gak?” tanyaku. Aku harap Fachri mendengarnya juga. Karena aku terlalu takut jika saja hanya aku yang mendengarnya. Karena rasanya terlalu aneh, di jam hampiur tengah malam seperti ini masih ada yang melakukan hal gila seperti itu.

Maksudku, mereka mengganggu orang-orang yang akan beristirahat setelah berbagai macam kegiatan dilakukan pada siang hari.

“Hah? Enggak lah, Nov. salah dengar kali.” Tuhkan, ketakutan yang kualami benar adanya.
“Serius, Fai? Masa kamu gak mendengarnya?”
“Dua rius malah, ngaco banget sih. Mana ada malam-malam kayak begini ngelakuin hal bodoh kayak begitu, halusinasi kali.” Ucapnya mengelak. Aku abaikan kejadian barusan, untuk ke sekian kalinya aku menutup mata, suara teriakan yang begitu lantang dank eras memekakan telingaku, aku terbangun begitu saja. Bersamaan dengan itu, Fachri terbangunu kembali dan bertanya padaku,

“Kenapa, Nov?” tanyanya.
“Aku.. tadi,” apa aku harus menceritakannya? Tidak. Aku rasa jawaban Fachri akan sama dengan jawaban sebelumnya. “Enggak, Fai. Cuman kaget aja, takut ada binatang liar.” Namun dalam hati dan pikiranku terus penasaran dengan semua hal yang terjadi padaku.

Hingga semua pikiran itu larut dalam benakku sampai aku tak sadar bahwa diriku tertidur. Setelahnya aku terbangun di pagi hari, tepat pukul tiga pagi. Aku bangun dengan masih berbaring, dan melihat ke sekitarku hanya ada Fachri seorang yang menemaniku tidur.

Ku pikir, Fachri sudah terbangun, maka dari itu aku mengajaknya mengobrol, menceritakan keanehan yang kualami, namun setelah panjang lebar aku berbicara padanya, Fachri malah tertidur kembali.

“Nov, buruan keluar!” tunggu. Suara itu begitu taka sing ditelingaku, itu suara itu… begitu mirip dengan suara…

Fachri?

Apa? Apa aku tak salah dengar? Bagaimana bisa? Fachri yang saat ini berada di sampingku dengan begitu nyenyaknya tertidur bisa memanggilku dari luar? Apa yang terjadi? Apa Fachri keluar tanpa sepengetahuanku? Pikiran it uterus berkecamuk dalam benakku.

Perasaanku tak menentu, ku beranikan diriku untuk melihat ke arah di sampingku tempat Fachri tidur, dengan tiba-tiba sleeping bag milik Fachri yang ia gunakan untuk tidur bangun dengan sendirinya.

Sungguh aku terkejut, sejenak aku tak bisa mengatakan apapun, hingga dnegan suara lantang aku berteriak membuat semua orang yang berada diluar terkesiap dan mulai menolongku. Setelah kejadian itu, aku tak tahu apa pun lagi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

5 Responses to "Kisah Misteri "Camp di Gunung Puntang""

  1. Meski belum pernah ngalamin secara langsung hal kaya gitu tapi saya bacanya seperti merasa seperti orang yang mengalami hal itu, hiii serem pas akhirnya

    BalasHapus
  2. Menurut saya ceritanya bagus dan alurnya mudah dipahami, tapi saya merasa kurang penasaran di awal cerita, tetapi di akhir ceritanya semakin memuncak, dan menimbulkan rasa penasaran dan takut.

    BalasHapus
  3. Cerita nya sangat menarik, saya suka. Mudah dipahami dan tidak terlihat di buat-buat.. bagus sih menurut saya

    BalasHapus
  4. Bagusss kisahnya, soal latar sama alur ceritanya yang buat merinding....

    BalasHapus
  5. Serem banget.. ga kebayang kalau jadi novi

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel